
Amertha dan Ramaputra baru saja pulang dari rumah Manya. Keduanya tampak kelelahan akibat bermain bersama tujuh cucu kembarnya.
"Astaga padahal, aku baru sebentar bersama seven A, kenapa sudah lelah begini?" keluhnya.
Ramaputra terkekeh mendengar keluhan istrinya. Pria itu sangat yakin Manya dan keempat suster pasti kualahan karena mengurusi ketujuh bayi yang sudah lebih cerdas dan kritis. Amertha juga sempat dibuat gemas gara-gara cucu-cucunya menyebut nama salah.
"Pestisida itu nama obat pembasmi hama baby," jawab Manya ketika Abraham bertanya.
Amertha sempat ikut mengerutkan kening waktu itu.
"Moma pilan bawu pawa pestisida temali pesot Mama!" ujar Abraham yang tadi mendengar percakapan moma nya.
Baik Amertha dan Maira bingung. Mereka tak pernah berbicara tentang obat hama itu. Terlebih ingin membawanya besok.
"Apa Leticia datang mom?" tanya Manya pada akhirnya.
Barulah di sana Amertha gemas, bagaimana cucunya mengubah nama orang seenaknya.
"Leticia, baby," ralat Manya.
'Bestipia!" sahut Abi dan Agil bersamaan.
"Butan ... pati Sepisia!" ralat Lika yakin.
"Le-ti-cia!' Manya mengeja nama saudaranya itu.
"Ble-spi-lia!" sahut Bhizar dan Abi.
"Nama mama siapa baby?" tanya Ramaputra yang menjemput istrinya.
"Banya!"
Akhirnya Amertha mengerti jika semua cucunya belum mahir berbicara.
"Kami pulang!"
"Mommy ... daddy!" sambut Leticia dengan senyum indah.
Gadis itu sangat cantik. Ia berhambur ke pelukan kedua orang tua yang mengasuhnya itu. Amertha dan Ramaputra mencium pipi anak gadis mereka.
"Kau cantik sekali sayang," puji Ramaputra.
"Makasih dad," sahut gadis itu.
"Apa mommy dan daddy langsung mau makan malam?"
Ramaputra dan Amertha saling melirik, keduanya tadi sudah makan di rumah putri kandungnya. Keduanya tak bisa melewatkan masakan Manya yang sangat enak.
"Maaf sayang, kami tadi sudah makan," jawab Amertha menyesal.
"Tapi Daddy masih lapar," ujar Ramaputra berbohong.
"Jangan bohong dad. Mana pernah Daddy makan lagi jika sudah makan di luar," sahut Leticia setengah kecewa.
"Maafkan kami sayang," ujar keduanya merasa bersalah.
"Mommy tak bisa melewatkan makan malam di rumah saudaramu," jelas wanita itu.
"Apa sangat enak?" tanya Leticia dengan senyum kecut.
"Tentu sayang, bahkan mommy rasa koki terbaik di restauran mahal milik daddymu kalah dengan masakan saudarimu," jelas Amertha berapi-api.
Wanita itu memuji putri kandungnya, penuh kebanggaan. Leticia tersenyum mendengarnya.
"Apa kau ingin ditemani makan malam sayang?" tanya Ramaputra pada akhirnya.
"Tidak perlu Daddy, aku bisa makan sendiri," jawab gadis itu.
"Kalau begitu setelah makan kau istirahat ya, besok kami mengajakmu ke lokasi pemotretan prewedding Gerrard dan calon istrinya," ujar Ramaputra sekaligus menyuruh putrinya itu.
Leticia makan sendirian di meja makan. Usai makan ia pun langsung masuk kamar. Di sana ia menghapus semua riasannya dengan air mata berderai.
"Percuma aku dandan cantik begini menyambut mereka. Di mata keduanya hanya Manya, Manya saja!" gerutunya kesal.
Gadis itu terisak perlahan. Ia merebahkan diri di kasur tanpa mengganti pakaiannya. Tak lama ia pun tertidur.
Esok pagi, Amertha membangunkan anak gadisnya dan langsung bersiap. Leticia sebenarnya malas untuk ikut.
Gadis itu sangat ingat, dulu kelima sahabat Jovan bahkan termasuk Praja tak ada yang setuju hubungannya dengan Jovan.
Terlebih, Hasan sangat tahu trek record gadis itu. Leticia sedikit takut jika bertemu dengan lima pria itu terlebih Praja yang selalu menatapnya jijik.
"Pakai celana panjang dan baju sedikit tebal sayang, di sana lumayan dingin," suruh sang ibu.
Kini ketiganya ada di mobil dan langsung menuju Haley hill yang berganti menjadi Seven A hill.
Butuh waktu setengah jam untuk sampai bukit di mana pengantin berfoto. Semua datang ketika subuh, para fotografer sudah bersiap di sana sejak kemarin dan menyiapkan semuanya.
Foto-foto cantik dan memang berbeda dengan lainnya. Terutama kabut yang masih menyelimuti tempat, menjadikannya pemandangan eksotik dalam foto.
"Woi ... jangan lama-lama nyiumnya!" teriak Hasan memperingati.
Semua kru terkekeh mendengarnya sedang Denna memerah karena malu.
"Kau mencuri ciuman pertamaku," ujarnya lirih.
Gerard menatap calon istrinya. Ia begitu bahagia masih belum menyentuh wanita manapun ke ranjang. Ia selalu mengingat perkataan sang ibu.
"Jangan mempermainkan wanita, jika kau begitu. Sama saja kau mempermainkan aku, ibumu!" tekan Clara.
"Mom, mereka datang telanjang ke depanku! Aku harus bagaimana?!" tanya Gerard frustrasi.
"Langsung lempar atau tampar mereka!' bentak Clara menjawab pertanyaan putranya.
Makanya Gerard dan Jovan sangat lurus dalam pergaulan, walau keempat pria yang lain begitu berengsek.
"Foto selesai ... kita akan tunggu matahari bangkit!" ujar pengarah fotografer.
"Kita naik ke atas ... setuju?!"
"Let's go!" teriak semuanya.
Denna memang pecinta alam dulu ketika ia sekolah keperawatan. Ia aktivis lingkungan makanya gunung adalah tempat favoritnya.
Jovan dan Manya sudah berada di atas bukit, view keemasan begitu cantik. Semua orang terengah-engah ketika sampai dan buru-buru menjepret pengantin.
Gerard benar-benar tak mau melepas dirinya dari memeluk sang kekasih. Bahkan foto-fotonya tak lepas dari tautan bibir pria itu.
"Sudah ... jangan mesum di sini, kasihan tuh yang jomlo!" tegur Jovan.
Manya terkikik geli melihat Lektor, Hasan, Bima, Bernhard dan Praja cemberut.
"Hasan kenapa kau tak menikahi salah satu pacarmu!?" tanya Jovan.
"Ck ... perempuan-perempuan itu mana bisa dijadikan istri?" sahut Hasan balik bertanya.
"Maka pantas kan lah dirimu jadi suami!" celetuk Manya.
Hasan berdecak kesal begitu juga yang lainnya. Hanya Praja yang menggeleng tak setuju.
"Saya sudah siap jadi suami, tapi belum ketemu juga!"
"Kamu kintili suamiku, bagaimana kau punya pacar!" sahut Manya mencibir.
Jovan terkekeh, Praja tak bisa lepas darinya. Mungkin sudah waktunya pria yang juga merupakan paman angkatnya itu memiliki istri.
"Ubah muka datarmu Praj, maka cewek pasti antri!" celetuk Bernhard.
Jovan juga meminta fotografer memotret dirinya dan sang istri di tempat itu. Matahari keemasan mulai bangkit dari perpaduannya.
Foto-foto keluarga dimulai. Kelima pria menatap tajam sosok gadis yang hanya diam dan menunduk. Amertha dan Ramaputra tentu tak mengetahui hal itu, keduanya sibuk berfoto.
"Sayang ... ayo kemari!" panggil Amertha.
Sekeluarga pun berfoto bersama dengan view villa mewah milik Dinata itu.
"Kau sudah sembuh Leti?" tanya Hasan basa-basi.
"Kalian saling kenal?" tanya Ramaputra.
Bima sampai menyenggol paha sahabatnya itu agar tak terlalu banyak bicara.
"Tentu Om, dulu kami adalah teman pesta di satu club langganan," jawab Hasan.
Bernhard, Gerard, Bima dan Praja kesal dengan sahabatnya itu. Terlebih Jovan. Hanya Manya yang biasa saja. Pada bayi tak mau dekat-dekat dengan Leticia.
Manya berjalan melihat pemandangan sekitarnya. Leticia menghampiri.
"Hai!" sapa gadis itu.
"Hai juga!" sahut Manya santai.
"Kau bahagia sekali, pasti kau senang mendapat keluarga yang kaya raya bukan?" tanya Leticia entah apa maksudnya.
"Leti ... walau kita tak ditukar ... aku tetap anak orang kaya ... begitu juga dirimu," sahut Manya.
Leticia terdiam. Manya menghadapkan tubuhnya pada gadis itu. Tinggi badan Manya lebih tinggi di banding Leticia.
"Jangan racuni hatimu sendiri Leticia. Berdamai lah dengan kenyataan yang ada!"
Manya meninggalkan gadis itu yang diam mematung.
bersambung.
mbok ya sadar toh Leti ...
next?