THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
SEBUAH KISAH



Malam tiba, mereka tidur di sebuah tenda besar. Api unggun dinyalakan. Aldebaran memang sudah menyiapkan semuanya.


"Nggak bakar jagung sayang?" tawar Aldebaran pada semua anak.


"Kenyang Pa," jawab Aliyah.


Mereka memang semua kekenyangan. Semua makanan enak-enak. Dery mengusap perutnya yang buncit.


"Kak Anwar," panggilnya.


"Ada apa Dek,"


"Alhamdulillah kita kenyang ya setelah ikut Papa," ujar Dery.


"Iya, Alhamdulillah!' sahut Anwar mengusap perutnya yang juga membuncit.


"Dulu makanan-makanan tadi hanya dalam mimpi dan khayalan kita ya," ujar Dery.


Anwar hanya mengangguk. Ia juga sering mengkhayal makanan yang semua ia makan tadi.


"Setiap donatur datang membawa makanan kita sangat senang ya," ujarnya.


"Iya ... kata Papa semua saudara kita juga sudah ada yang ngambil," sahut Dery.


"Alhamdulillah ... kita ketemu sama orang baik," sahut Anwar.


Dery mengangguk setuju. Kini mereka bershalawat atas nabi. Senandung merdu membuat hati semua orang tenang. Aldebaran menerapkan sistem seperti keluarga Dougher Young yang mengganggap semua pengawal adalah keluarga.


"Mereka menyenangkan sekali," ujar salah satu pengawal mengikuti shalawat yang dilantunkan anak-anak.


'Iya, kita jadi seperti di keluarga Nyonya Azizah ya," sahut lainnya.


Aldebaran hanya mendengarkan apa perkataan para pengawal. Tentu saja pasti mereka akan membedakan suasana rumahnya dan kediaman Hugrid Dougher Young itu.


'Pastinya mereka sangat dekat dengan para pengawal. Anak-anak dan adik-adiknya menikah dengan anak-anak para pengawal.


Tak lama suara shalawat berhenti, rupanya semua anak sudah terlelap. Para ibu tidur di dalam rumah. Para ayah masih mengobrol dan akan tidur bersama anak-anak.


Malam larut, Delia yang tidur bersama para saudaranya yang perempuan. Gadis itu gelisah, keningnya mulai berkerut. Keringat dingin keluar, gadis kecil itu mengingat suatu peristiwa di mana kedua orang tuanya mulai berteriak saling memaki satu dengan lainnya. Gadis kecil itu baru berusia tiga tahun. Ia menangis ketakutan, hingga tangan besar ayahnya mengambilnya dan membawa dirinya keluar. Dua hari ia melakukan perjalanan naik turun bus. Hingga ketika ia terbangun dalam keadaan sendirian entah di mana. Semua orang mengerumuninya dan bertanya.


"Bapak ... Bapak," panggilnya lirih.


"Pak ... Bapak di mana?" tanyanya lirih.


Beberapa saudaranya terbangun.


"Del," panggil Alisa.


"Aku panggil Papa dulu," ujar Sasha.


"Jangan ... Papa lagi tidur," larang Nini.


"Tapi kasihan Delia ... Kita selalu nggak bisa menenangkannya. Para ibu panti nggak tau kalo Delia suka mimpi buruk dan akan membuatnya sakit," ujar Sasha.


Gadis kecil itu tak peduli. Ia keluar tenda, Ramdan melihat nona mudanya keluar dengan wajah cemas.


"Nona, ada apa?" tanyanya.


"Mau ke Papa ... Delia mimpi buruk Om," jawab Sasha.


Ramdan masuk dalam tenda. Delia menginggau sambil terisak memanggil ayahnya. Ramdan tersentuh, pria itu meraba kening sang gadis.


"Panas," gumamnya.


Pria itu menggendong Delia yang panas. Memeluknya penuh kasih sayang, menyampirkan selimut ke tubuh sang gadis kecil.


"Bapak .... Bapak!' igau Delia terisak.


"Sayang," ujar pria itu.


Ramaputra tersentak, ia melihat semua putranya yang terlelap. Pria itu kepikiran untuk memeriksa anak perempuannya. Ramaputra keluar tenda dan mendapati salah satu pengawal menggendong putrinya.


"Kenapa dia?" tanyanya khawatir.


"Nona demam Tuan," jawab Ramdan.


Ramaputra langsung mengambil alih putrinya. Tubuh panas terasa.


"Ambil kunci mobil, kita bawa dia ke dokter!" ajak Ramaputra.


Ramdan menjalankan perintah atasannya. Kini mereka berada di mobil dan membawa Delia ke rumah sakit.


"Bapak ... hiks ... Bapak," igau Delia terus dengan tubuh menggigil.


"Nak ... ini Papa sayang," ujar Ramaputra mencium pucuk kepala putrinya.


Tubuh Delia masih panas tinggi. Mereka sampai di rumah sakit dan langsung melarikan putrinya ke UGD.


"Putri saya demam!" teriaknya.


Para dokter berdatangan. Mereka langsung menangani tubuh kecil yang terbaring lemah dengan tubuh menggigil. Hanya butuh waktu sepuluh menit, suhu tubuh Delia berangsur normal.


"Alhamdulillah ... pasien sudah melewati masa kritis. Jika saja Tuan tak langsung membawanya, mungkin keselamatan jiwanya terancam," jelas dokter yang membuat Ramaputra sedikit terkejut dan lega.


"Putri anda seperti mengalami satu peristiwa traumatik hebat. Pasien demam tinggi dan mengigau," jelas dokter itu.


"Apa ada obatnya?" tanya Ramaputra.


'Sepertinya, kasih sayang dan cinta agar semua trauma itu hilang dari dalam dirinya," jawab dokter lagi.


Ramaputra mengangguk tanda mengerti. Ponsel pria itu berdering, nama Aldebaran di sana.


"Dad ... aku di rumah sakit," jawabnya ketika Aldebaran bertanya.


"......!"


"Iya Dad. Aku pasti menunggui putriku sampai sembuh," jawab Ramaputra.


Sambungan ponsel terputus. Ramaputra tidur di sisi putrinya. Segenap cinta ia berikan pada gadis kecil yang malang itu.


"Sayang ... aku Papamu sayang ... bukan Bapak yang membuangmu itu," ujar pria itu lirih.


Delia menyusupkan tubuhnya dalam pelukan Ramaputra. Pria itu mencium sayang putrinya.


Pagi menjelang, Delia sudah bisa pulang. Gadis kecil itu dalam gendongan Ramdan. Pengawal itu juga menyalurkan kasih sayang pada gadis kecil itu.


'Ayo sayang!' Ramaputra menjulurkan tangannya.


Delia pindah kegendongan ayah angkatnya. Kini mereka meluncur ke ranch di mana mereka menginap. Semua anak menunggu saudara mereka dengan penuh kecemasan.


"Delia udah sembuh sayang, jadi nggak apa-apa," ujar Aldebaran menenangkan semua anak-anak.


"Assalamualaikum!' sapa Ramaputra dan Ramdan.


"Wa'alaikumusalam!"


"Delia ... kamu udah nggak apa-apa kan?" tanya Alisa.


"Iya ... aku baik-baik saja," jawab Delia masih lemah.


"Papa ... Delia hampir selama tinggal di panti selalu seperti tadi malam," lapor Nini.


"Oh sayang," Amertha mengambil alih bocah cantik itu dari gendongan suaminya.


Maira mengelus punggung gadis kecil itu. Demira juga sedih melihat kondisi salah satu anaknya.


"Kenapa kalian bernasib menyedihkan seperti ini," ujarnya iba.


Kini mereka kembali berkumpul. Tita dan Maiz juga Aislin mencium dan memeluk Delia..


"Ata' ... janan syatit ladhi ya," ujar Tita perhatian.


"Biya ... talo Ata' syatit, pita basti syedih," ujar Maiz.


"Ata' ... mawu mam imih?" tawar Aislin pada roti bakar yang ia makan.


"Tidak ... makasih sayang," ujar gadis kecil itu tersenyum bahagia.


"Del ... kakak harap kamu tidak seperti tadi malam lagi," pinta Azlan.


"Iya Kak, Delia kan nggak mau mimpi seperti itu," sahut gadis kecil itu.


"Sayang, jangan marahi adikmu. Delia mengalami hal yang sulit dalam hidupnya," ujar Demira.


"Iya Ma. Maaf," Demira mengusap kepala putranya.


"Sudah, ayo masuk," ajak wanita itu.


"Mama ... Adi nakal!" adu Lela.


"Adi ... jangan ganggu saudaramu!" peringat Manya.


"Mama ... habis ini boleh ikutan flying fox nggak?" tanya Laina.


"Tidak!' semua orang tua menjawab kompak..


"Okeh!" sahut Laina menurut.


"Kalau begitu Papa yang mau terbang!' ujar Gerard.


"Papa sulan!' pekik Para bayi cemberut.


"Gerard!" peringat Abraham.


"Ck ... nggak usah bilang-bilang. Kita diam-diam aja," bisik Jovan pada misannya.


Dua pria itu benar-benar melakukan apa yang sudah lama mereka inginkan. Dengan para profesional mereka terbang layang.


"Huuwwaaa Papi!" teriak Jovan.


bersambung.


ah ...


next?