
Tertangkapnya Leonita membuat Abraham berang pada ayahnya. Dari dulu ia sudah mengatakan jika perempuan itu adalah ular tetapi sang ayah malah tetap bertahan.
"Ini bacalah," ujar Aldebaran menyerahkan sebuah surat pada putranya.
Abraham membacanya, ia mengenali tulisan mendiang ibunya. Air mata pria itu mengalir. Maira langsung memeluk suaminya.
"Sayang," panggilnya.
Abraham bergeming. Pria itu masih belum percaya dengan tulisan ibunya.
Dear son ...
Maafkan mama karena telah meninggalkanmu di usia begitu muda, tapi percayalah sayang. Mama selalu ada di sisimu.
Nak, mama tulis ini agar kau tak membenci ayahmu jika nanti beliau menikah kembali, aku yang memintanya agar ayahmu ada yang mengurusi. Percayalah sayang, cinta ayahmu tak berkurang sedikitpun padamu.
Putraku, cahaya hidupku. Maaf mama tak kuat lagi bertahan, penyakit ini terlalu menyiksa mama sayang, maaf lenteraku ... Mama pergi ... jaga dirimu ...
i love you my son.
Your mom.
Giska Abdulah.
Surat sederhana itu berakhir, Abraham menangis dan menciumi kertas yang masih wangi, wangi ibunya. Maira yang tak pernah bertemu dengan mertuanya itu jadi ikut sedih membayangkan hari-hari yang dilewati mendiang ibu mertuanya yang berjuang melawan kanker payudara.
"Son!" panggil Aldebaran yang juga basah matanya.
"Dad," sahutnya masih terisak.
Aldebaran memeluk putranya, ia meminta maaf dengan segala yang terjadi selama ini. Hanya untuk kesenangan pribadi melumpuhkan musuh hingga tak bisa bergerak, tetapi ia menyakiti putranya sendiri.
"Maafkan aku sayang ... maafkan aku," pinta Aldebaran dengan sudah berbisik.
Mereka bertiga ada di ruang kerja Abraham di mansion mereka. Manya dan tujuh anaknya sudah berada di rumahnya sendiri. Kemarin pertunjukan seven A membuat hati lelah menjadi semangat. Bahkan Gerard yang mendapat gadis pilihannya.
"Sudah lah, mamamu sudah bahagia di sana, kita harus sering mendoakannya," ujar Aldebaran menenangkan putranya.
Semuanya mengusap air mata. Maira menciumi wajah suaminya. Ia begitu mencintai pria itu dengan segenap hatinya. Jadi apapun yang terjadi pada. Abraham Maira pasti merasakannya.
"Kita ke rumah Seven A yuk," ajak Aldebaran lagi.
"Oke dad, kita ke sana," ujar Abraham.
Mereka membersihkan diri, agar tak ada kesedihan yang membekas di wajah mereka. Hari ini Manya kabarnya membuat kue banyak.
Sedang di rumah, Jovan berada di ruang kerja bersama empat sahabatnya. Lima pria tampan itu tengah berdiskusi membentuk perusahaan baru.
"Kulihat jika perusahaan software dan Hardware menjamur, tapi untuk chip pengaman seperti yang dimiliki PT Hudoyo Cyber Tech, di sini sangat kurang penyuplainya. Apa kita bentuk kerjasama untuk menyuplai chip pengaman itu di sini?" tanya Hasan memberi saran.
"Tapi untuk menjadi suplai perusahaan itu sangat sulit dan butuh surfai satu tahun agar mereka setuju menyalurkan produk mereka di sini," jawab Bernhard.
"Banyak perusahaan chip yang menyamai perusahaan besar itu. Ada yang bertahan ada yang langsung bankrut. Keamanan dari PT Hudoyo Cyber Tech memang tak ada yang menandingi," sahut Bima kini.
"Aku dengar bukankah mereka juga membuka perusahaan jasa penanganan akunting error?" tanya Jovan.
"Iya, benar. Kenapa?" jawab Lektor kini.
"Kenapa tak buka jasa sama di sini? Bukankah di sini juga banyak perusahaan yang mengalami error progaming terutama bagi akunting yang sering di manipulatif," saran Jovan.
"Wah ... boleh juga, Bukankah Gerard, Hasan dan kau sendiri jago di masalah itu?" sahut Bima.
Bernhard mengangguk begitu juga Lektor. Akhirnya tercetuslah sebuah usaha baru yang bergerak bidang jasa. Memang perusahaan milik dari pebisnis terbesar yang pernah ada itu menjadi inspirasi bagi semua pengusaha pemula. Bahkan keturunan mereka Arraya Pratama menjadi motivator bagi pebisnis.
"Bernhard, apa kau ingin mendekati CEO dari PT Tridhoyo SavedAcounting, Bariana Putri Diablo?"
"Kau ingin membuatku mati muda?!" seru pria itu kesal.
"Gila kau Jov, Nona Diablo yang terkenal bar-bar dan jago bela diri itu kau sarankan untuk Bernhard?" desis Hasan tak percaya.
"Mana pantas!" lanjutnya nyinyir.
Bernhard berdecak. Bariana Putri Diablo, begitu terkenal namanya di semua pebisnis muda, selain Arraya Pratama yang seusia mereka.
"Saudaranya itu juga menakutkan, Harun Black Dougher Young, Arion Nakandra Pratama dan Ali Razka Bartazha Dougher Young?"
Semua bergidik ngeri. Nama-nama yang sering mereka dengar berebutan meraih penghargaan bisnis.
"Kalian berdua sangat beruntung mampu bersaing dengan monster bisnis itu," sahut Bima pada Jovan dan Gerard.
"Kalian tau julukan half monterku tak ada bandingannya dengan mereka yang beneran monster," lanjutnya.
"Hei ... sudah-sudah jangan ngomongin kehebatan orang lain. Sekarang kita harus bisa setidaknya menyamai standar mereka!" sela Lektor menyudahi.
Pria itu juga sudah takut sendiri mendengar nama-nama besar itu. Terlebih yang ia dengar adalah usia pebisnis yang dijuluki monster itu masih sangat muda.
Sedang di ruangan lain. Seven A tengah menghitung uang hasil ngamen mereka kemarin. Leni dan Neni membantu mereka sedang Denna dan Retta menyiapkan buah untuk para bayi.
"Peulapa uan na bustel?" tanya Abraham kecil.
"Ada satu juta delapan ratus ribu rupiah dan seratus dolar, baby," jawab Leni.
"Wah ... banat ya!' seru Lika bertepuk tangan.
"Biya ... dali wuwan imi pita pisa beuli banat loti!" sahut Abi antusias.
"Badhaibana jita pita puat beulusahaan?" saran Syah.
"Pemana pisa puat beulusahaan beupelti pa'a" tanya Agil bingung.
Syah menopang dagunya, kening berkerut dan bibir mancus. Neni gemas melihat tingkah sok para bayi. Ia merekam semua atas perintah Manya.
Denna menyiapkan buah-buahan. Ia menyuapi para bayi bersama Retta.
"Bustel nomon don janan piam laja!" tegur Abi yang ikut berpikir.
Keempat suster terkikik geli. Akhirnya mereka juga ikut berpikir mengikuti gaya para bayi. Abraham datang bersama istri dan ayahnya.
"Popa datang babies!" serunya.
Biasanya para bayi akan berteriak senang jika kakek dan nenek mereka datang, tapi para bayi bergeming dan masih sibuk berpikir. Bahkan para suster mereka sedang berpikir.
"Hei ... apa yang kalian lakukan?"
"Sssuuuh ... piam pempa pita sedan beulpitin!" bisik Laina.
"Mi, Pi," sapa Manya.
Kue-kue sudah siap. Para bayi bergeming, mereka sibuk dengan pikiran yang entah apa. Hingga ....
"Kriuuuk!" bunyi perut salah satu bayi berbunyi.
"Mama ... teunapa entau mendoda mimamtuh!' pekik Abi tak tahan.
Semua tertawa mendengar perkataan bayi itu. Jovan dan lima sahabatnya selesai berunding. Mereka pun keruang di mana para bayi berada.
Gerard langsung duduk di sisi Denna dengan menyingkirkan Retta di sana.
"Kalian beneran pacaran?" tanya Aldebaran.
Denna tertunduk dan tersipu, sedang Gerard mengangguk. Pria itu sudah menyatakan perasaannya kemarin.
"Kami baru satu hari delapan jam resmi berpacaran Grandpa," jawabnya.
"Pasalan pa'a Papa yayah Lelat?" tanya Agil sambil mengunyah kuenya.
"Pacaran baby bukan pasaran," sahut pria itu.
"Biya ... batsutna ipu," sahut Agil masih menguyah makanan.
"Baby, kalau makan itu jangan apa?' tegur Manya sang ibu.
"Pelsuala!' sahut semuanya kompak.
Tiba-tiba Gerard mencium pipi Denna hingga membuat Abraham marah bukan main.
"Papa yayah Lelat ... janan biyum Bustel Penna!"
Semua berdecak melihat kenekatan pria itu. Sedang Denna lari dari sisi sang kekasih yang cukup mesum itu.
bersambung.
ah ...
next?