
Pagi menjelang. Ramaputra telah datang ke rumah putrinya. Seusai janjinya ia akan membawa semua cucunya ke taman safari di Bogor.
"Pagi semuanya!" sahut Rama memberi salam.
"Pagi juga Dad!" sambut Jovan, sedang Manya tersenyum lebar.
"Tumben pagi-pagi Daddy ke mari?" tanya Jovan heran.
"Aku mau jemput seven A untuk pergi jalan-jalan ke taman safari," jawab pria paru baya itu.
Seven A hendak bersorak riang, tetapi jawaban ibunya kembali membuat mereka diam dan menunduk.
"Jangan Dad, jauh, nanti Daddy kecapean di jalan!'
"Ada supir, aku jalan tidak sendirian, ada bodyguard yang siap menjaga anak-anak lagi pula semua Om juga ikut, mereka akan datang sebentar lagi!" sahut Rama tegas.
"Sayang, kenapa aku nggak tau kalo Daddy mau bawa anak-anak ke Taman Safari?" tanya Jovan pada istrinya.
"Aku kira nggak jadi soalnya kan jauh, lagi pula takut ngerepotin," jawaban Manya membuat Ramaputra kesal.
"Siapa yang merasa direpotkan!' gerutunya sebal.
"Mereka cucu-cucuku. Masa tidak tau hewan-hewan?" lanjutnya.
"Kan bisa lihat via internet!" sahut Manya.
"Manya, cukup!" desis Ramaputra pada putrinya.
Tak lama Bernhard dan istrinya datang, lalu Lektor, Hasan, Bima kemudian Gerard dan Denna yang menggendong bayinya ala kanguru.
"Kau mengajak putramu?" tanya Jovan pada saudara misannya itu.
"Iya, tentu ... aku tak mau putraku jadi manusia purba yang tak tau apa-apa," sahut Gerard ketus.
Manya terdiam, seven A sudah berkaca-kaca.
"Papa Yayah Lelat ... pa'a ipu lolan publa?" tanya Abraham.
"Orang purba itu orang jaman dulu yang buta pengetahuan!" jawab Gerard mencibir Manya.
"Suster! Ganti pakaian seven A!" titah Ramaputra.
"Dad,"
"Manya ... apa kau mau aku memarahimu di depan anak-anak?" sentak Ramaputra.
Beruntung para suster telah mengambil para batita ke kamar. Baik Neni, Leni, Retta dan Saskia juga ingin pergi jalan-jalan. Keempat suster itu kasihan melihat tujuh anak yang mereka rawat tak punya akses kemana-mana akibat begitu protektifnya dokter mereka.
"Kamu nggak mau ikut?" tanya Lana pada Manya.
"Anakku masih bayi ... mereka kalau mau asi atau tiba-tiba rewel gimana?"
Lana memutar mata malas. Jovan pun menghela napas panjang. Ketakutan istrinya mungkin imbas akibat ia sendirian mengasuh tujuh bayi diawal memiliki anak.
"Aku ikut!" putus Johan.
"Di sana banyak ruang untuk kau menyusui dan membersihkan bayi-bayimu Manya!' sahut Lektor juga mulai kesal.
"Ayo lah Mama ... apa kau tak kasihan dengan tujuh anakmu itu. Lagi pula triple A sudah lebih dari satu bulan, mereka sudah bisa berinteraksi," bujuk Denna.
"Aku saja membawa Liam bersamaku," lanjutnya.
Tak lama Abraham muncul bersama Maira, istrinya. Pria itu telah menyewa bis kecil untuk mobilisasi mereka.
"Nggak hari Sabtu atau hari Minggu?" Manya masih ingin bernegosiasi.
"Manya ... hari itu kita bisa seharian di jalan dan pasti anak-anak akan rewel!" sahut Maira kini ikutan kesal.
"Babies udah siap!' seru Leni menggandeng Abraham dan Laina.
Retta menggandeng Lika dan Syah. Saskia menggandeng Bhizar dan Abi sedang Neni menggandeng Agil dan mendorong kereta berisi tiga bayi.
"Jika kau bersikukuh. Kau tinggal saja sendirian!" tukas Jovan lalu mengambil alih kereta bayi.
"Sudah bawa semua suster?" tanya Maira.
"Sudah Nyonya, itu di bawah kereta storage susu bisa sampai besok hari, popok kita bisa beli di minimarket di sana juga pakaian semua anak-anak," jawab Saskia.
Manya masih belum bergerak. Semua bahkan mulai meninggalkan dirinya. Jovan kesal bukan main dengan istrinya yang keras kepala itu.
"Kau benar-benar tak mau ikut?" desisnya lagi.
"Ikut," rengeknya, "tapi rumah sakit?"
"Aku akan menelepon prof. Ridwan jika kau tak masuk hari ini!" sahut Jovan. "Kalau perlu kau resign dari rumah sakit!"
Manya segera mengganti bajunya, ia membawa tas, dompet dan juga ponselnya. Wanita itu setengah berlari keluar dari rumah dan menaiki bus.
Seven A sudah berteriak-teriak karena jadi pergi berjalan-jalan. Tetapi melihat ibunya naik, mereka diam.
"Kenapa kalian diam Babies?" tanya Amertha yang ternyata sudah ada di dalam bus.
"Tatut Mama suluh pita pulun, Moma," cicit Agil.
Manya terdiam. Ia jadi sedih karena kini anak-anak jadi takut padanya.
"Nggak sayang, Mama mau ikut kok," jawab Manya dengan suara bergetar.
"Beunel Ma?" tanya Abraham tak percaya.
Manya mengangguk. Ia menyesal melarang seven A kemarin dan memaksa mereka menurutinya.
"Holeeee!" pekik Seven A bersorak riang.
"Pom Pimpa ... pita padhi pihat pinatan!" seru Abi bertepuk tangan.
Batita itu berada dipangkuan Bima. Pria itu mencium gemas karena namanya jadi berubah di mulut bayi tampan itu.
Manya duduk di sisi suaminya, sedang tiga bayi ada di tempat duduk khusus bersama para suster mereka.
Bus yang disewa merupak bus eksekutif dan memiliki bangku nyaman dan bisa disetel. Ada banyak bantal hingga membuat para bayi bisa dengan tenang tidur dan para orang dewasa tidak terlalu berat memangku mereka.
Jovan merengkuh bahu istrinya yang sibuk menghapus air matanya. Wanita itu merasa seperti ibu tiri yang jahat karena membatasi semua anak-anaknya.
"Sudah lah sayang ... jangan sedih begini," ujar Jovan, "nanti pikir seven A kau setengah hati membiarkan mereka jalan-jalan."
"Maaf, sayang ... aku hanya merasa jadi ibu yang jahat, seperti ibu tiri saja," sahut wanita itu.
Jovan terkekeh. Ia mengecup pucuk kepala istrinya. Manya menyandarkan kepalanya di dada sang suami. Jovan mengatur posisi kursi duduknya.
Tak ada yang tau jika keduanya berciuman mesra.
"Sepertinya lucu juga kalau kita bercinta secara hening di bus ini?' ide mesum Jovan muncul.
"Ih ... nggak mau!" tolak Manya langsung menjauhkan dirinya dari pelukan sang suami.
"Ayolah sayang," bisik Jovan lalu merengkuh tubuh Manya dalam pelukannya.
"Perjalanan hanya dua jam. Mana cukup!" desis Manya berbisik.
"Kita quicky?" ajak Jovan.
Pria itu menempelkan tubuhnya erat pada tubuh sang istri. Bahkan intinya mulai mengeras. Manya membelalak ketika sesuatu menonjol menusuk pinggulnya.
"Sayang," rajuk Jovan berbisik di telinga istrinya.
Manya kegelian, birahinya tiba-tiba terbakar akibat sensasi dan cumbuan kecil sang suami. Jovan memberinya tanda di tengkuk sang istri hingga lenguhan lolos dari mulut Manya.
Hal itu membuat gelisah para pria dewasa di sana terlebih mereka yang duduk memangku para bocil. Gerard yang berada persis di sebelah kursi Jovan kesal dengan tindakan mesum misannya itu.
"Hei berengsek ... hentikan kegiatanmu!" bisiknya kesal
Jovan menoleh dan menjulurkan lidahnya. Manya menutup wajahnya dengan bantal. Miliknya sudah dipenuhi inti suaminya.
"Kau benar-benar berengsek!" umpat Gerard pelan.
Hanya lima belas menit, sepasang suami istri yang mesum di dalam bus sudah mendapat pelepasannya. Jovan membungkam mulut Manya dengan ciuman dalam. Napas keduanya menderu dengan keringat mengucur di kening keduanya.
"Kalian ini benar-benar sialan!" umpat Gerard kesal karena harus menahan laju birahinya.
bersambung.
astaga mereka ngapain sih?... othor polos nih🤣
next?