THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
KESIBUKAN



Hari berganti seperti biasa keributan pagi hari. Sepasang suami istri dengan sepuluh anak yang masih balita, bahkan tiga diantaranya masih baru satu tahun setengah. Keributan terjadi karena tujuh kakak kembar mereka hendak berangkat sekolah dan sang suami yang hendak berangkat ke kantor.


“Mama, buku Bhizal mana?”


“Mama, kaos kaki Lika enggak ada selebah eh sebelah!”


“Mama ... jam tangan Papa mana?”


“Mama ... Aidan pup!”


“Mama ... ata’ Aplaham matal ... huuwwaaa!!!”


Manya mendapatkan buku yang Bhizar cari, lalu diletakkan di tas salah satu putranya itu. Kemudia, wanita itu mendapatkan jam tangan suaminya di bawah bantal. Manya memebersihkan kotoran Aindan yang berdiri menangis karena pup di celana. Ia juga mendapatkan sebelah kaos kaki putrinya yang cantik itu.


“Kakak Abraham ... jangan ganggu Baby Aqilanya dong,” ujar Manya menasihati.


“Abis gemes Ma!” sahut Abraham yang menjawil pipi gembul adiknya itu.


“Ma, pasangin dasi Papa dong,” pinta Jovan.


Dengan telaten Manya memasang dasi suaminya. Baru selesai, Abi meminta dipasangkan tali sepatunya. Selesai memasang tali sepatu Abi, ia harus membenahi kaos kaki Syah yang dipasang terbalik, bagian tumit ada di atas.


“Bukan gitu Nak!’


“Model balu Mama,” sahut balita itu tanpa dosa.


Akhirnya, semua sudah siap dan rapi, hari ini Manya ada di rumah. Mertua dan ibu kandungnya datang bersamaan bersama adik kandungnya. Reece mencopot sepatunya sembarangan, bayi itu langsung bermain dengan keponakan yang seusianya.


“Om teusil ... bain pempal pola yut!” ajak Adelard.


“Pain bastet?”


“Biya ipu ....”


“Mama ... Lees pelum salapan woh!’ sahutnya. “Pinta matan don!”


“Mama Aidan, Atila pama Adelald judha pelum palapan!” seru triple A.


“Iya Babies,” sahut Manya.


“Kalian nggak cium Papa Yayah dulu?” tanyanya.


Anak-anak langsung berlari ke depan dan mencium Jovan yang sudah memasang wajah cemberut.


“Mamap Papa yayah. Tan pahu peundili, talo padhi hali ipu pita sibut,” sahut Aqila minta dimaklumi.


“Biya papa yayah ... pihat aja ... pemua pelum bipelesin,” sahut Reece melihat sepatunya yang berantakan.


Manya cemberut, empat bayi itu mengaku jika merekalah yang sibuk mengurusi semuanya. Jovan, Maira dan Amertha terkekeh mendengarnya. Usai mencium Jovan, mereka kembali ke dalam dan Reece tidak membenahi sepatunya tadi.


Manya menghela napas panjang, ia merapika sepatu adiknya itu. Maira dan Amertha menepuk bahu wanita itu.


“Itu lah sibuknya seorang ibu,” ujar Maira.


“Dulu hanya Jovan saja, aku harus naik turun tangga. Apa lagi kamu yang sepuluh anak,” lanjutnya.


“Mommy harap. Anakmu hanya itu sayang,” sahut Amertha.


“Maaf Mom ... kami berencana punya anak lagi ketika triple A lima tahun nanti,” cengir Manya.


“Astaga nak, tapi Mami juga seneng, penerus Dinata makin banyak,” ujar Maira terkekeh.


Manya memberi makan semua anak yang tiba-tiba jadi boss. Mereka ingin disuapi.


“Mama tan pihat peundili talo pita seudan sibut?” sahut Adelard sambli melempar bola.


Maira terkekeh melihatnya, Amertha hanya bisa menggeleng dengan senyum lebar. Manya mencebik kesal dengan bayi-bayi yang menggemaskan ini. Sementara di sekolah, seven A belajar dengan giat dan penuh semangat. Bel berbunyi anak-anak berhamburan keluar.


“Sustel!”


Semuanya mendatangi para suster termasuk Anton, balita itu membawa bekalnya. Ia seperti menunggu seseorang, matanya mencari keberadaan Denta. Namun balita bongsor itu tidak kelihatan. Akhirnya Anton memakan bekalnya.


Karena penasaran, Anton pun bertanya pada teman sekelas Denta. Rupanya anak itu tidak masuk karena sakit.


“Sakit apa sih?” tanya Anton cemas.


“Nggak tau, kata ibu gulu yang dapat sulatnya kalo Denta nggak masuk kalena sakit,” jawab tenan sekelas balita bongsor itu.


“Coba tau lumahnya ya, aku mau jenguk,” ujar Anton.


“Biasanya kalo olang sakit itu tunggu tiga hali deh balu bisa dijenguk?” ujar temannya itu.


“Iya juga ya. Mudah-mudahan Denta besok udah masuk,” sahut Anton penuh harap.


“Aamiin!” sahut temannya.


“Kami pulang!” sahut Bhizar.


“Loh kok cepat pulangnya?’ tanya Manya heran.


“Gulunya ada lapat Ma,” jawab Bhizar lagi.


Lalu meeka pun ganti baju, lalu bermian bersama tiga adik da om kecil mereka. Empat bayi itui begitu penasaran kenapa kakak atau keponakan kecil Reece itu bisa pulang cepat.


“Ata’ tot pulanna sepat?” tanya Aqila bingung.


“Bu Gulunya ada lapat Baby,” jawab Syah.


“Lapat pa’a Ata’?” tanya Adelard.


“Enggak tau,” jawan Bhizar.


“Moma ... lapat pa’a?” tanyanya pada Maira.


“Rapat itu sesuatu yang didiskusikan. Nah dari rapat itu akan mendapat solusi dari apa yang didiskusikan tadi,” jawab Maira menjelaskan.


“Oh beudithu,” sahut Reece sok tau.


“talo dithu pita bain lapat yut!” ajaknya.


“Pita lapa pa’a?” tanta Adelard.


“Soba lada Iam ... basti lapat pita selu,” sahut Reece lagi.


“Ayo kita main lapat. Bagaimana jika kita lapatkan hasil dali kita belajan selama ini?” Abigail memberi saran.


“Pati pita peulum setolah Ata’!” protes Aidan.


“Kamu belajan apa tadi di lumah?” tanya Abraham.


“Eundat pa’a-pa’ain,” jawab Aqila polos.


"Kalau begitu halus dibicalakan," ujar Syah menanggapi.


"Ata' pita pasih teusil, bawu picala pa'a?" sahut Aqila.


"Iya ya, pelcuma juga, kamu belum tahu apa-apa," ujar Syah lagi.


Akhirnya mereka bermain bersama hingga makan siang tiba. Usai makan mereka pun tidur siang. Sore menjelang baru mereka bangun, semua sudah rapi dan wangi.


"Papa Yayah dan Popa pulang!" seru tiga pria dewasa.


"Papa datan!" pekik Reece antusias.


Bayi itu lebih dulu minta cium oleh tiga pria dewasa yang baru datang. Abraham yang gemas menciuminya sampai Reece protes.


"Popa!" protes bayi itu kesal.


Semua anak dapat cium. Mereka makan malam bersama, sudah makan mereka pun pulang. Reece ingin menginap.


"Lees eundat bawu Pulan!" tolaknya.


"Eh Baby, Mommy nggak bisa bobo kalo nggak ada Reece," rengek Amertha.


"Binep Moma!" saran Adelard.


"Iya Mom, nginep aja," ujar Manya.


"Trus Daddy gimana? Daddy nggak bisa bobo tanpa Moma!" sahut Ramaputra.


"Besok aja ya pas hari Sabtu. Gimana?" tawar Amertha.


"Oteh deh!" sahut Reece.


Akhirnya mereka pulang, anak-anak memilih langsung masuk kamar. Mereka langsung tidur. Manya menciumi semua anak kembarnya satu persatu, begitu juga Jovan.


"Love you all,"


Sementara itu Rudi dan Leticia baru kembali dari bulan madu. Wanita itu membawa banyak oleh-oleh untuk dibagikan pada semua keluarga terutama pada bocil rusuh itu.


"Sayang, menurutmu, mereka akan suka nggak sama apa yang kubawa?" tanya wanita itu.


"Tentu sayang," ujar Rudi.


Mereka begitu lelah dan tidur sambil berpelukan.


bersambung.


next?