
Seven A sedang memakan bekal mereka, beberapa teman kelas satu ikut bergabung. Mereka juga membawa bekal walau hanya nasi dan telur atau tempe goreng. Uang jajan yang diberikan oleh orang tua, mereka kumpulkan.
"Eh, kamu mau nugget nggak?" tawar Laina pada Dina
"Mau," angguk Dina
Laina memberikan nuggetnya pada temannya. Gadis kecil itu sangat senang, ia tadi hanya bawa bekal nasi yang ditaburi garam saja. Nasinya pun nasi kemarin. Uang dari keuntungan, ia berikan pada ibunya yang langsung dibelikan beras dan minyak juga bahan lainnya. Walau kurang, tapi Dina bersyukur bisa membantu kebutuhan rumah.
"Nanti kita bungkusin paket lagi ya," ajak Abraham.
Semua mengangguk senang, terlebih Dina, Dwi, Angga dan lainnya. Tak terasa bel berbunyi tanda pelajaran berakhir. Denta membawa semua temannya ke sebuah gudang yang disewa oleh ibunya. Seven A sangat senang akan kepedulian ibu dari sahabatnya itu.
"Kok Mama, nggak punya pikiran ini ya?" bisik Lika pada Abi.
"Mama punya pikiran sendiri mungkin," jawab Abi.
"Halo anak-anak, kita makan dulu ya," ujar ibu dari Denta.
Sebuah kotak berisi makanan enak, Denta sangat berterima kasih pada ibunya yang perhatian pada semua temannya. Seven A ikut makan bersama. Pak Sidik juga ikut bersama mereka. Manya tak di rumah, ia sedang ada jadwal operasi, ia juga telah diberitahu jika seven A akan membungkus paket usahanya. Sedang triple A, Reece dan Liam ada di rumah bersama nenek mereka juga Tita dan Maiz.
Usai makan, semua anak sibuk memilih paket dan membungkusnya, ada banyak orang dewasa membantu. Dania, ibu Denta tentu tak mau mengeksploitasi anak-anak. Itu pun hanya sebentar saja, mereka disuruh pulang olehnya.
"Udah banyak, kalian pulang ya,"
"Oke Tante ... makasih ya!" sahut semuanya menurut.
Anak-anak pulang begitu juga Pak Sidik. Seven A begitu senang ikut merasakan lelahnya mencari uang. Tadi Denta bilang jika di waktu mendatang mereka tak perlu lagi membungkus pekerjaan, hanya tinggal terima uang hasil penjualan saja.
Sore menjelang, Manya pulang dengan wajah lelah. Abi yang melihat ibunya kelelahan begitu iba dan langsung menyambutnya.
'Mama cape?" Manya tersentuh mendapat perhatian putranya.
Mata hazel Abi, mengingat Manya pada suaminya. Bukan hanya mata tetapi seluruh wajah sepuluh kembarnya mirip suaminya.
"Mama, duduk dulu minum tehnya," ujar Abi.
Yang lain juga mulai sibuk memperhatikan Manya. Reece memijit bahu kakaknya, Liam mengusap peluhnya sedang Ten A memijit kaki ibu mereka.
"Oh ... kalian manis sekali," ujar Manya tersentuh.
Wanita itu mencium semua anak-anak. Amertha dan Maira ikut tersenyum, dua putrinya tengah merambat kemana-mana.
"Mama mandi dulu ya sayang, nanti kita makan daging iris!"
"Iya Mama!" sahut semua anak.
Sehabis mandi, Manya memasak apa yang tadi dijanjikan. Daging ia campur dengan jamur kuping dan wortel. Malam tiba, semua makan dengan lahap. Masakan Manya memang tidak ada duanya.
"Mama ... boleh nggak besok Laina bawa daging ini agak banyakan untuk bekal?"
"Boleh, memang kenapa sayang?" tanya Manya.
"Tadi ada temen Laina makan cuma sama nasi doang, kasihan Mama," jawab gadis kecil itu.
"Ma ... kenapa sih Mama nggak bikin badan amal untuk membantu teman-teman seperti yang dilakukan oleh Mamanya Denta?" tanya Lika kritis.
"Terima kasih udah ngingetin Mama sayang. Nanti Mama akan bantu teman-teman kalian dengan cara Mama sendiri ya?" sahut Manya.
Lika mengangguk, dalam pikirannya, jika banyak yang membantu seperti Mamanya Denta lakukan. Maka banyak pula anak yang tertolong.
"Rina kemarin bilang kalo masih harus jualan di pasar setelah pulang sekolah sambil jagain adiknya yang baru delapan bulan," ujar Abraham mengingat.
"Iya, uang tiga ratus ribu untuk bayar hutang di warung habis katanya," lanjut Bhizar.
Seven A tampak berdiskusi di ruang tengah sambil mengerjakan PR yang diberikan guru mereka. Manya dengan setia mendengarkan percakapan tujuh anak kembarnya itu. Sedang triple A, Liam dan Reece sudah menguap dan suster membawa mereka untuk gosok gigi dan langsung tidur. Amertha dan Maira ikut mendengarkan percakapan cucu mereka.
"Tapi, kita sudah berusaha kok buat nolong mereka, bahkan Kata Tante Dania, kita nanti hanya terima hasil tiap minggunya," ujar Abraham.
"Eh ... uang kita kan sudah diserahkan ke Mama. Gimana kalo besok dapat uang lagi kita kumpulin terus kita belikan bahan sembako dan kasih ke yang membutuhkan?" sebuah ide mulia tercetus dari mulut Syah.
"Ide yang bagus sih. Tapi apa nggak pingin mengembangkan usaha gitu?" sahut Agil.
"Kata Mama kita nggak boleh loh terlalu memikirkan pekerjaan, kita juga harus fokus sama pelajaran," sahut Abi mengingatkan.
"Aku hanya kasihan saja sama Rina dan Dwi. Padahal Dwi ingin uangnya dibelikan sepatu. tapi ia melihat beras di rumah habis, jadi dia langsung beli sekarung agar cukup satu bulan," ujar Laina sedih.
Manya, Maira dan Amertha terharu. Pikiran mereka tak sejauh bagaimana seven A memikirkan teman-teman sekelasnya yang begitu sangat memprihatikan. Ketiga wanita itu malu kepada ibu dari Denta yang selalu disanjung oleh seven A.
"Kita sepertinya kurang cepat untuk membantu. Apa kita menemui ibu dari sahabat Abraham itu?" tanya Maira.
"Sepertinya ide bagus. Kita bisa mengembangkan usaha anak-anak dan menjangkau banyak anak yang kurang beruntung lainnya.
Pagi menjelang, Jovan pulang siang ini bersama ayah, mertua dan juga kakeknya. Rudi dan Praja tentu turut serta. Seven A sudah rapi dengan seragamnya, kali ini semua ikut serta. Amertha ingin bertemu dengan ibu dari Denta.
Sampai di sekolah, semua masuk kelas. Dania menjabat tangan Manya, Maira dan Amertha. Ketiga wanita itu sangat senang dengan keinginan Maira yang ingin ikut bergabung.
"Sebenarnya, saya adalah pendiri sebuah badan amal untuk orang-orang tak mampu dan anak-anak yang membutuhkan," jawab Dania.
"Kalau begitu kami ingin jadi donaturnya!' ujar Maira tegas.
"Terima kasih Nyonya, memang kebetulan kami butuh donatur. Banyak sekali program yang kami kembangkan di sana. Jika berkenan, Nyonya bisa datang ke balai sosial kami," ujar Dania lalu memberikan kartu namanya.
Amertha mengangguk dan menerima kartu itu. Ia mulai merencanakan agar bisa membantu seperti apa yang dilakukan Dania.
"Ini perusahaan kecil milik anak-anak, semua setuju jika diberi nama Seven A corp.!" Dania menyerahkan satu berkas.
"Jika tak mengerti, Nyonya bisa bertanya pada para suami," lanjutnya.
Ketiga wanita itu mengangguk. Tak terasa sudah waktu pulang. Karena kepedulian Seven A, kini Dania bernapas lega.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa bantu lebih banyak anak lagi!"
bersambung.
Perbuatan kecil yang mampu merubah hidup seseorang adalah ketika kita peduli pada sesama.
Next?