THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
LILY



Sore menjelang, entah kenapa pekerjaan yang menumpuk cepat sekali selesai. Dinda sampai mengulang kembali semua berkas yang baru saja selesai dikerjakannya. Jabatannya sebagai wakil CEO sedang suaminya adalah CEO nya sendiri. Wanita itu berdiri dan hendak keluar baru saja sampai pintu sang suami juga masuk ke ruangannya.


"Apa pekerjaanmu selesai?' Dinda mengangguk.


"Apa Mas ada kerjaan lagi?" pria itu menggeleng.


"Apa sebaiknya kita pulang?" pria itu kembali mengangguk.


Akhirnya mereka pulang, Dinda duduk di belakang bersama sang suami. Supir mengantarkan mereka sampai rumah. Sepasang suami istri itu terkejut melihat rumah masih gelap.


"Bi Surti!' teriak Ray.


Ray Suryana adalah seorang pebisnis muda yang sangat berbakat. Ia dan istrinya membangun bisnis bersama ketika menikah, mereka menyatukan dua perusahaan dan kini mengelolanya bersama-sama. Perubahan Dinda jauh lebih besar dibanding perusahaan Ray, saham milik wanita itu juga jauh lebih banyak dibanding milik Ray. Tetapi, wanita itu menurunkan ego dan membuat suaminya menjadi kepala direktur perusahaan milik mereka.


Dinda menyalakan semua lampu, wanita itu benar-benar bingung. Rumah sedikit kotor.


"Bi Surti!" bentak Ray.


"Astaga ... apa jangan-jangan dia menculik putri kita?" tuduh pria itu mulai ketakutan.


Dinda setengah tak percaya. Ray berlari menuju kamar pembantu yang bekerja dengannya seumur putri mereka, tujuh tahun. Semua pakaian lengkap, bahkan tas dan koper masih ada di atas lemari pakaiannya.


Ray masih meyakini jika pembantunya itu menculik putrinya. Ia berlari menuju kamar Lily. Menyalakan lampu.


"Lily!' panggilnya.


Kamar dengan warna hijau dan gambar kodok itu masih rapi dan tak ada yang dicurigai, bahkan semua pakaian putrinya itu masih lengkap. Ray mengambil ponsel di sakunya. Dinda memilih memasak, wanita itu bisa memasak walau masakan sederhana.


"Mi!" panggil sang suami.


"Apa Mas?"


"Mana ponselmu?" tanya pria itu.


"Ini," sang istri menyerahkan ponsel di atas nakas.


"Astaga, kenapa panggilan Bi Sur banyak sekali? Sama dengan di ponselku?"


"Coba kau telepon Mas," pinta Dinda tiba-tiba mulai khawatir.


Ray menghubungi wanita yang selalu menemani putrinya itu. Butuh waktu lama sambungan itu baru diangkat oleh Surti.


"Surti, di mana kamu!" teriaknya langsung ketika sambungan telepon diangkat.


"Tuan ... Non Lily," jawab perempuan itu di sambungan telepon.


"Berengsek ... kau apakan putriku!" teriak Ray sok peduli dengan putrinya.


"Non Lily ada di rumah sakit Tuan ...."


"Apa?"


"Tuan ... Non Lily ...,"


"Diam, aku dan istriku ke sana!" teriak pria itu lalu memutus sambungan telepon.


Surti menangis di sana. Para dokter tengah menangani gadis kecil itu. Alat kejut jantung terus dilakukan pada tubuh kecil tak berdaya yang terlempar ke udara setiap alat itu ditekan di dada Lily.


"Non ... huuuu ... uuuu ... Non Lily ... bertahan sayang!' pinta perempuan paru baya itu.


"Bibi sayang sama Non ... huuuu ... uuuu!' ratapnya pilu.


Perempuan itu terus meminta pada Tuhannya untuk kesembuhan nona mudanya. Ia berjanji akan menyayangi Lily seperti anaknya sendiri.


"Non ... Non Lily ... kasihani Bibi Non ... kembali Non!" pinta perempuan itu histeris.


Beberapa perawat menenangkan wanita itu. Ray dan Dinda tampak berlari menuju ruang ICU di mana putrinya ditangani. Mereka melihat sosok perempuan yang selama ini bersama putrinya terduduk di lantai yang dingin dengan pandangan kosong.


"Bi Sur!" Dinda langsung menghampiri wanita itu.


"Bi mana Lily Bi?" tanyanya.


"Orang tua Lily?" panggil dokter.


"Saya ayahnya!" sahut Ray langsung mendatangi dokter.


Dokter tampak terkejut, lalu akhirnya ia. membuka masker dan penutup kepalanya.


"Darah putih yang menyerang membunuh semua syaraf dan menghentikan kinerja jantung. Maaf, kami sudah berusaha, pasien Lily meninggal dunia!"


Ray dan Dinda terdiam. Sepasang suami istri itu menggeleng kepala tak percaya. Ray mencengkram kerah dokter dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Jangan bercanda kamu Dok!" sentak pria itu marah.


"Selama tujuh jam pasien Lily berjuang, hanya ibu itu yang ada di sampingnya!" tunjuk Dokter pada Surti yang termenung.


"Anda kemana?" tanya sang dokter sinis.


Ray terdiam, Dinda ikut merosot ke lantai rumah sakit yang dingin.


"Lily!" pekiknya.


Kini sepasang suami istri menatap wajah pucat putri mereka. Tampak senyum manis terukir di sana. Dinda menggeleng tak percaya. Baru kemarin Lily, mendatanginya memintanya untuk pergi ke sekolah.


"Lily," panggilnya lirih.


"Ini Mami Nak ... hiks ... hiks!"


"Apa nyonya puas?" tanya Surti berani.


"Apa uang yang Nyonya kumpulkan bisa mengembalikan nyawa Non Lily?" tanya perempuan itu lagi.


Dinda menangis pilu, para dokter hendak mencabut alat-alat yang menempel di dadanya. Dinda melarangnya.


"Aku ingin memeluknya ... huuuuu ... Lily ... ini Mommy Nak ... kamu mau ke mana sayang, Mommy ikut ya ... hiks ... hiks!"


Ray hanya diam, air matanya mengalir deras. Anak perempuan yang jarang ia lihat, bahkan kelahirannya tak membuat ia bahagia. Kedua orang tuanya dan juga sang istri tengah dalam perjalanan. Pria itu yakin jika kemarahan akan diterimanya.


Dinda memilih membaringkan tubuhnya di sisi tubuh Lily yang dingin. Ia mengecup pipi sang putri dengan lembut. Sebuah kecupan yang juga jarang ia berikan pada anak perempuannya.


"Nak ... Mami ikut ya ... please bawa Mami sayang," pinta Dinda sambil meratap.


"Mi ... kalau Mami ikut Lily, Papi gimana Mi?' tanya Ray lirih.


"Ikut Lily yuk Pi. Sepertinya Lily sedang senang bermain di sana ...," jawab Dinda mulai kehilangan akalnya.


Ray ikut merebahkan tubuhnya. Surti menangis melihat dua majikannya sudah kehilangan akal sehatnya.


"Tuan ... Nyonya ... hiks ... hiks ...!''


"Lily ... Mami diajak sayang ... katanya Lily mau jadi kupu-kupu .. hiks ... hiks," ujar Dinda sambil terisak.


"Mami juga mau jadi kupu-kupu sayang ... huuuu ... uuuu!!'


"Sayang ... ini Papi ... Papi juga mau ikut," sahut Ray.


"Papi juga mau jadi kupu-kupu ...."


Para dokter hanya menatap pilu sepasang suami istri itu yang kini menyesali perbuatan mereka. kedua orang tua dari Dinda dan Ray datang. Mereka juga menangis pilu.


"Sayang ... ikhlaskan Lily Nak!' pinta sang ibu.


"Nggak Ma, Lily mau ajak Dinda ikut terbang sama kupu-kupu," sahut Dinda.


"Sayang!" panggil sang ayah mertua.


'Pa ... Ray juga mau ikut Lily," ujar Ray.


Tiiit ... sebuah pergerakan monitor terdengar. Tapi sepertinya mereka larut dalam kesedihan, mata Lily mengerjap, ia menatap dua orang tua yang memeluknya.


"Mi ... Pi?"


"Sayang ... kamu ajak kami kan?" tanya Dinda tak sadar jika putrinya sadar.


Para dokter terkejut bukan main. Dua orang yang memeluk tubuh Lily langsung disingkirkan. Keduanya berteriak dan memberontak.


Plak! Plak! Rena menampar anak dan menantunya kesal. Ray dan Dinda tersadar.


"Kalian gila kehilangan Lily, tapi ketika Lily masih ada kemana kalian?!" bentaknya.


"Ma,"


"Pasien Lily kembali!" pekik Dokter kegirangan.


"Apa?" teriak semuanya.


"Pasien Lily hidup lagi setelah tercatat kematiannya!'' pekik dokter.


Satu jam berlalu, Lily kini tertidur bahagia diapit oleh ayah dan ibunya. Rupanya, Tuhan masih ingin memberi kesempatan pada sepasang suami istri itu untuk lebih memperhatikan anaknya dibanding pekerjaannya.


Bersambung.


Alhamdulillah.


Next?