
Triple A, Liam dan Reece tampak berbincang di teras depan. Para bodyguard hilir mudik menjaga taman dari gangguan apapun.
"Pom Sulyo!' panggil Aqila.
"Saya Nona," sahut pria itu.
"Atuh inin nait bomil pistlit pama pemuana!" sahut batita cantik itu.
Reece, Liam dan triple A langsung naik mobil. Aqila berdecak kesal. Padahal ia yang meminta pengawal itu.
"Sini Nona," ajak Suryo duduk di kemudi dan memangku batita itu.
"Lees bawu pisini!'
"Tuan muda, tadi Nona loh yang minta saya, jadi Nona yang duduk dipangkuan saya!' sahut Suryo.
Reece melipat tangannya. Batita itu ngambek. dengan mengerucutkan bibirnya. Para pengawal lain ikut naik menjaga triple A dan juga Liam. Mobil itu bergerak.
"Atuh ... salan sole-sole bihat tebun yan indah ...."
Aqila menyanyi sesukanya. Mobil itu bergerak mengelilingi kolam renang dan berakhir di taman samping.
"Apa kembali ke depan?" tanya Suryo.
"Biya!" pekik semuanya.
Mobil kembali berjalan, semua bertepuk tangan hingga teras depan rumah kendaraan itu pun berhenti. Maira keluar memanggil semua anak-anak.
"Babies!"
'Iya Moma!' pekik semuanya turun dari mobil.
"Ata' basih peulajan Moma?' tanya Aqila.
"Sudah selesai baby, yuk makan camilan dulu," ajak wanita tua itu.
"Puyut!" panggil triple A.
"Sini Baby!'
Semua bayi duduk di sekitar Aldebaran, mereka meminum susu mereka. Tak ada lagi botol susu, semua minum dalam gelas khusus. Mai dan Tita mulai merambat ke mana-mana.
"Uyut, liburan nanti kita ke Bali yuk!" pinta Abraham.
"Bali?" semua mengangguk.
"Kita liburan pengen lihat pantai dan bermain pasir gitu," lanjut bocah usia enam tahun itu.
"Berapa lama liburnya?" tanya Aldebaran.
"Paling lama seminggu Uyut," jawab Abraham.
"Boleh, kita diskusikan sama orang tua kalian dulu ya," ujar Aldebaran.
Abraham hanya mengangguk lemah. Bayang-bayang liburan di rumah saja sudah ia rasakan terlebih ibu mereka tak suka jika anak-anak keluar.
"Yakin, pasti liburan ini di rumah aja," keluhnya.
"Iya, pasti Mama yang paling ngelarang kita buat jalan-jalan. Alasannya kita terlalu banyak dan sulit mengawasi," sahut Lika.
"Ya emang kita banyak, lagian apa kita nggak bisa jaga diri sendiri. Kita juga kan udah bisa diajari agar tak dekat sama orang asing!" sahut Agil.
"Mama takut kita terlalu asik bermain jadi kita nggak perhatiin orang tua," sahut Abi.
"Ah ... di rumah lagi deh!' decak Bhizar kembali mengeluh.
"Uyut janji kalian pasti liburan!' sahut Aldebaran.
Pria itu jadi tak tega dengan anak-anak yang seperti tak memiliki akses ke dunia luar.
"Beneran yut?" tanya Laina memastikan.
"Benar ... percaya sama uyut!"
Seven A hanya bisa berharap mereka pergi liburan di pergantian tahun ini. Aldebaran langsung menelepon putranya untuk mengatur semua jadwal agar bisa pergi liburan sesuai permintaan cucu-cucunya.
"Oke Dad. Aku akan mengatakan juga pada Ramaputra untuk ikut serta!"
"Bilang, bawa juga Mertua Rudi ikut serta. Kita akan bercengkrama bersama!" titah Aldebaran.
"Oke Dad!" sahut Abraham.
"Apa nggak perlu minta pendapat Jovan dan Manya?" tanyanya di ujung telepon.
"Tidak, Manya pasti banyak alasan agar kita tidak pergi. Jika kita langsung membawa semua anak pergi, dia tentu ikut!" sahut Aldebaran.
Abraham setuju, akhirnya pria itu mulai membooking hotel. Tetapi, ia melihat jika menyewa villa dekat pantai jauh lebih murah dan lebih bebas di banding hotel.
'Sepertinya dekat Seminyak atau geger Nusa dua?"
"Kami akan menempatinya sebelum tahun baru!" ujar pria itu dalam sambungan telepon.
"Deon!' panggilnya.
Sosok pria bertubuh tegap datang. Deon merupakan pria kepercayaan Aldebaran, pria itu sudah mengabdi selama dua belas tahun.
"Urus kepergian kita sekeluarga ke Bali. Siapkan pesawat jet pribadi kita untuk pergi ke pulau itu!" titahnya.
"Baik Tuan!" sahut Deon membungkuk hormat.
Pria itu pun menjalankan perintah tuannya. Abraham pun menelepon besannya. Ramaputra sangat antusias dengan ajakan itu.
"Ajak Wijaya dan keluarganya. Kita seru-seruan di sana!" pinta Abraham.
Ramaputra mengiyakan permintaan besannya itu. Ia menelepon Irham Wijaya untuk berlibur bersama di akhir tahun.
"Wah ... seru itu, oke aku akan minta Leticia untuk berbenah dan merangkap data akhir bulan agar bisa liburan bersama!" ujar pria itu di sambungan telepon.
Akhirnya rencana liburan sudah pasti terjadi.
"Rud, ayo kita selesaikan proyek ini agar kita bisa berlibur tahun baru ini!" seru pria itu pada asistennya.
"Baik Tuan!' sahut Rudi dengan senyum lebar.
Mereka berkutat dengan kertas-kertas. Rudi sesekali harus memeriksa bangunan yang tengah berjalan.
"Tuan!" sapa Rina.
Rudi hanya mengangguk lalu memakai helm proyek. Pria itu juga memakai masker dan pelindung lainnya. Rina juga memakai apa yang dikenakan Rudi. Keduanya naik lift proyek.
"Pak, ada kendala di lantai lima!" ujar kepala proyek memberitahu.
"Apa itu?"
"Listrik tidak sampai ke atas!'
"Kerahkan kelistrikan!" ujar Rudi.
"Ini besi kenapa berbeda dari lainnya?" tanya Rina ketika melihat besi coran.
Rudi melihat apa yang dilihat oleh sekretaris Beatrice itu. Diameter besi itu lebih kecil dari yang lain. Tampak kepala konstruksi terdiam. Rudi langsung mencekal kerah baju pria itu.
"Apa kau mau kulempar dari atas sini?" ancamnya.
"Ti-tidak Tuan," cicit pria itu.
"Bondan!" pekik Rudi pada salah satu mandor di sana.
"Saya Pak!" sahut pria itu.
"Kau gantikan dia! Aku akan menyeretnya ke polisi. Ganti semua besi yang tidak layak!"
"Baik Tuan!" sahut Bondan senang.
Pria itu sudah mewanti-wanti atasannya agar bermain bersih. Tetapi kepala proyek tampak enggan, ia hanya ingin mencari kesempatan. Sayang, kecurangannya langsung ketahuan.
Ditariknya kepala proyek ke kantor polisi membuat Ramaputra mendatangi kantor tersebut. Kepolisian langsung membentuk tim khusus untuk menyelidiki atas pencurian dibantu pihak perusahaan Ramaputra.
"Katakan, apa kau sudah mencampur besi itu ke bangunan!" teriak Ramaputra marah.
"Tenang Pak!' pinta polisi menenangkan Ramaputra.
"Bagaimana saya bisa tenang Pak. Berapa kerugian jika harus membongkar semua bangunan!" pekik Ramaputra kesal.
"Kami mengerti Pak. Saya harap pekerja bapak cekatan dan bisa langsung mengganti kerugian itu!"
"Tuan Hardiansyah, saya mendapat laporan jika tidak ada besi yang salah ikut dalam pemasangan bangunan!" lapor Rina.
"Apa kau yakin?" tanya Rudi.
"Yakin Tuan!" sahut Rina pasti. "Ada catatan pembelian besi itu di tiga hari terakhir sebesar lima ton!"
"Kita masih punya besi yang standar sebanyak dua puluh ton! Jadi besi yang tidak seusai itu diperkirakan akan digunakan setelah dua minggu ini," jelas Rina lagi.
Ramaputra lega, ia lolos dari kerugian besar. Pria itu memberi perintah untuk menurunkan semua besi yang tidak sesuai standar.
"Terima kasih Rina, berkat kejelianmu. Kita bebas dari kerugian dan masalah besar!" ujar Ramaputra.
"Sama-sama Tuan," sahut gadis itu.
Bersambung.
Ah ... selamat!
next?