
Aldebaran menggandeng istrinya mesra. Demira selalu merona setiap kelakuan sang suami. Wanita itu sangat bahagia, malam pertama mereka begitu panas.
"Jika Allah masih memberiku kepercayaan, aku rela hamil Mas," ujarnya lirih.
Aldebaran menggeleng, ia menatap semua anak yang bersiap untuk sekolah.
"Anak kita sudah banyak sayang," ujar pria itu.
"Kakak, Neni nggak bisa pasang tali sepatu," rajuk Neni pada kakaknya.
Senopati menunduk, ia mengikatkan tali sepatu adiknya.
"Makasih Kak," sahut gadis kecil itu.
"Sama-sama Dik," sahut Senopati.
Demira mengangguk, ia sudah punya banyak anak sekarang. Kini semua mencium punggung tangan ayah ibu baru mereka. Aldebaran telah membeli satu bus sedang mengantar anak-anaknya bersama sepuluh pengawal.
"Jaga mereka!" titah Aldebaran tegas.
"Baik Tuan!" sahut Dery membungkuk hormat.
Anak-anak naik bus sedang itu bersama para pengawal. Lalu kendaraan besar itu pun bergerak.
"Kita bersiap sayang, aku akan memboyongmu ke hunian baru kita," ujar pria itu.
Aldebaran memagut bibir manis istrinya. Pagutan lembut dan mesra. Aldebaran kembali merasakan cinta yang telah lama hilang. Ciuman itu lepas setelah kehabisan pasokan oksigen. Napas keduanya menderu. Hidung dan kening mereka bersatu.
"Setelah Manya melahirkan, aku pensiun dari klinik sayang dan fokus mengurus anak-anak kita," ujar wanita itu.
"Lakukan apa yang kau mau sayang, aku akan mendukungmu," ujar Aldebaran.
Demira tersenyum, ia tak menyangka bisa bahagia setelah menerima cepat lamaran pria ini.
Tak lama, kini Demira dibuat tercengang dengan mansion yang akan ditempatinya nanti bersama suami dan dua puluh anaknya.
"Ini rumah?" cicitnya bertanya.
"Iya sayang, ini kamar untuk dua puluh anak kita. Biar mereka mendesign sendiri kamar mereka nanti!" ujar pria itu.
"Ini kamar kita," lanjutnya ketika membuka ruangan paling besar dengan jendela berpintu kaca. Cahaya langsung masuk ruangan itu, mereka menuju balkon menatap hamparan rumput dan kolam renang.
"Kita bisa mengatur, atau kau punya impian sendiri?"
Demira mengalungkan lengannya di leher sang suami. Mengecup bibir pria itu dan langsung disambut pagutan mesra Aldebaran. Keduanya berciuman mesra.
"Terima kasih sayang,' ujar Demira penuh haru.
Maira dan Abraham datang menyambangi ayah dan ibu mereka. Keduanya ingin makan siang bersama di rumah Manya.
"Anak-anak, kalian makan di sini ya!" ujar Jovan menggelar tikar di taman belakang dibantu Praja dan salah satu bodyguard mereka. Ramaputra sudah di sana bersama dua puluh tujuh anaknya. Reece dan Tita senang dengan saudara mereka.
"Sayang, jadi sekarang nggak mau nginep di rumah Mama lagi?" tanya Manya pada Reece.
"Mama, aku punya Kakak banyak jadi ada teman. Ten A saja yang tinggal sama kami!" Amertha langsung mengangguk setuju.
"Mama juga bisa jaga adik-adik!' sahut Manya.
"Sayang, sudah lah!' sahut Jovan menenangkan istrinya.
Akhirnya makan siang dimulai ketika anak-anak Aldebaran sudah datang. Rumah Manya jadi penuh anak-anak dengan celoteh mereka. Amertha sampai gemas dengan tingkah semua anak.
"Mama ... masa tadi Bella mau dicium anak laki-laki loh!" adu Sania.
"Untung Sania tarik tuh anak sampai jatuh!" lanjutnya begitu berani.
"Bagus sayang! kalian harus melindungi satu dan lainnya!" puji Jovan sangat setuju perbuatan adik iparnya itu.
"Papa ... pesawat itu terbang kok nggak ngepakin sayapnya kayak burung?" tanya Seto ingin tau.
"Oh iya ya ... kan bulung telbang itu ngepakin sayap!" sahut Aqila setuju.
"Itu karena pesawat dari besi sayang. Benda itu terbang karena dibantu oleh mesin," jawab Jovan.
Seto mengangguk tanda mengerti. Anak-anak begitu riuh saling bercerita. Aldebaran mendapat kabar jika Izzat Dougher Young telah membawa semua adik-adiknya bersama beberapa saudaranya. Mereka dikawal ketat oleh bodyguard terbaik yang ada di Indonesia.
Aldebaran juga merasakan sendiri betapa ketat dan rapinya penjagaan pengawal dari perusahaan SavedLived itu. Bahkan wajah mereka begitu mempesona.
"Ini mie yang dari Itali itu kan? Apa namanya?" tanya Aldo mengangkat spaghetti dengan garpunya.
"Itu pasta, spaghetti," jawab Abraham kecil.
Manya menciumi lima puluh lebih anak-anak. Ia tak merasa kebas menciumi mereka.
"Ih ... kalian menggemaskan banget sih!"
Manya turun dari lantai dua. Demira menyambutnya dan memberi sebuah kecupan sayang. Maira iri, wanita itu menyela menantunya.
"Mom, sayang aku ... dia sudah aku sayang!"
Manya cemberut, Demira terkekeh dibuatnya. Para laki-laki duduk di ruang tengah.
"Bagaimana Dad, apa kemarin malam dilalui dengan baik?" goda Praja sambil menaik-turunkan alisnya.
"Anak sialan!" dumal Aldebaran namun tersenyum.
"Apa jangan-jangan, burung Daddy tertinggal di dalam?"
Plak! Abraham mengaduh sakit, Aldebaran memukul lengannya gemas. Demira melihat itu langsung melotot tajam pada suaminya.
"Kau apakan putraku?"
"Dia meledekku sayang!" sahut Aldebaran membela diri.
"Mommy ... Daddy menyiksaku!" adu Abraham berlebihan.
"Jangan berbohong kau!"
"Aku saksinya Mom!" sahut Ramaputra mendukung drama yang diciptakan besannya.
"Astaga ... kalian!" gerutu Aldebaran kesal.
Mereka semua akhirnya tertawa. Abraham suka suasana saat ini. Demira begitu sayang pada semuanya, Amertha dan Maira berebut perhatian wanita itu begitu juga Manya.
"Grandma ... kau melupakan aku," sahut Saskia.
"Sayang, kemarilah!" Demira merentangkan tangannya.
Saskia langsung memeluk wanita itu. Ia juga ingin bermanja.
Sore menjelang, rumah Manya kembali riuh dengan suara anak-anak. Bukan ribut karena berkelahi. Tetapi Ten A, Reece, Tita, Maiz dan Pram jadi pengganggu kakak mereka. Liam datang bersama Aislin dengan wajah cemberut.
"Kenapa kalian baru datang?" tanya Abraham kesal pada Gerard.
"Maaf Dad, kami tadi mengantar Daddy dan Mommy ke bandara, mereka harus cek out tadi," jawab Gerard.
"Mommy aku mau tinggal sama Lees!" putus Liam.
"Nggak sama Mama?" tanya Manya.
"Sama Mama juga!"
"Ah pokoknya aku tinggal di mana aku mau!" sahut balita itu.
"Ais judha bawu pindhal pama Mama!" sahut Ais.
"Terus Mommy sama Papa ditinggal?" tanya Gerard sedih.
"Papa Yayah tan lada Mommy!' sahut Tita.
Maiz mengangguk setuju. Ia juga akan tinggal bersama kakak iparnya. Para bayi kesepian di rumah tidak punya teman bermain.
Gerard akhirnya membiarkan kedua anaknya bersama Manya, ia percaya dengan istri dari misannya tersebut.
"Kalau aku kangen, tinggal angkut mereka pas tidur!' sahut Gerard santai.
Semua anak berceloteh riang. Beberapa anak ada yang menjadi pendengar dan ada yang jadi pendongeng.
"Mama ... Plam bawu solada Yan panyat!" pinta bayi itu pada Saskia, ibunya.
"Sayang, sabar ya ... nanti adik kamu tiga!" sahut Praja enteng.
Saskia hanya mengamini perkataan suaminya. Melihat anak banyak, ia jadi ingin punya anak banyak.
Seperti Rasulullah SAW menyukai umat Muslim yang banyak anak
Yang artinya: “Ya Allah, limpahkanlah hartanya dan limpahkanlah (jumlah) anaknya. Dan berkahilah apa yang Engkau telah berikan kepadanya.” Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun Alaih).
Bersambung.
Next?