
Sebuah bangunan tingkat dua dengan luas tanah 400m² dan luas bangunan 290m². Ada tiga kamar mandi dan empat ruangan di atas dan di bawah.
Manya menatap bangunan yang sangat dekat dengan pasar. Ia ingin membelinya, soal harga tentu tak masalah bagi istri dari penguasa kaya itu.
"Bangunan ini bersertifikat SHM, Bu. Ibu bisa cek sendiri di direktorat pertanahan negara," jelas pria pemilik langsung bangunan itu.
"Tadinya saya mau menyewakannya, tetapi saya malas untuk menagih uang sewa tiap tahun, jadi saya memilih menjualnya," lanjutnya.
Manya ditemani oleh Maira dan Amertha. Semua anak-anak ditinggal di rumah.
"Suasana aman, bebas banjir dan jauh dari jalan raya, tapi jalan ini langsung menuju jalan utama!" jelas pria itu menunjukan jalan besar.
Sekolah seven A hanya berjarak 200m, dari pasar dan pemukiman pada berjarak 400m. Sedang dari perkantoran dan instansi seperti rumah sakit, kantor polisi juga pemadam kebakaran berjarak 500m. Cukup dekat, terlebih lingkungan yang cukup strategis memang.
"Kita ambil ini sayang, nanti kamu bisa diskusikan dengan ibu dari teman anak-anak," ujar Maira.
Manya mengangguk setuju. Tak butuh waktu lama, dihadapan notaris. Bangunan itu resmi jadi miliknya.
"Aku juga mau buka klinik di situ Mom," ujarnya.
"Jadi aku akan membagi dua bangunan, jadi aku bisa mengawasi langsung semua anak-anak," lanjutnya menjelaskan.
Manya membeli jajanan pasar yang menjadi kesukaannya. Kue pancong. Wanita itu membeli banyak karena di rumahnya banyak perut-perut gembul yang tak cukup jika hanya makan satu.
Sampai rumah, bukan Manya, Maira atau Amertha yang disambut oleh semua anak-anak. Tetapi kantung kresek yang ada di tangan wanita itu.
"Mama ... pawa pa'a?" tanya Adelard.
"Janan lansun pedan-pedan Baby, tanan tamu pasih totol!" peringat Reece yang kembali berbahasa bayi.
"Dengarkan kata Om Baby, cuci tangan kalian. Nanti kita makan ini!" ujar Manya.
Seven A tentu senang dengan makanan yang jarang mereka makan itu.
"Eh tadi, Lika nyobain balado jengkol bawaannya Rina loh!" ujar Lika memberitahu.
"Makan apa?" tanya Amertha.
"Balado jengkol Moma. Ternyata enak!" jawab Lika sambil mengacungkan jempol.
"Itu bukannya bau ya?" tanya Maira dengan kernyit di dahi.
"Nggak kok. Nggak bau," ujar Lika.
"Coba cium nih ... hah!" Lika mengeluarkan napas dari mulutnya.
Amertha ragu menciumnya. Tapi, benar kata Lika. Tidak bau sama sekali.
"Kok bisa?" tanyanya tak percaya.
"Kata Rina sih, ibunya punya trik sendiri buat ngolahnya," jawab Lika.
"Oh ya Ma. Tadi Tono ngasih kita emping loh, katanya dari ayahnya," lapor Syah.
"Sudah ucapin makasih sayang?" Syah mengangguk.
"Sudah Mama,"
"Ini kerupuk empingnya udah digoreng Nyonya," ujar maid membawa satu toples besar.
Manya membukanya, semua anak mendekat dan mengambil makanan gurih itu.
"Enat, pati tot lada pait ya?" ujar Aidan ketika mengunyah emping.
"Tapi itu enaknya sayang," Manya juga memakannya.
Amertha dan Maira yang tak pernah tau kerupuk emping lalu mencobanya. Dari satu jadi dua. hingga kini di tangan keduanya penuh dengan emping
"Moma janan panyat-panyat!" larang Liam.
"Apa bayi!" sengit Maira gemas pada Liam.
Jovan datang bersamaan dengan Aldebaran, Ramaputra dan Abraham, Rudi dan Praja tentu bersama mereka.
"Ayo makan siang!" ajak Manya.
Semua makan siang bersama, Praja suka emping dan menanyakan beli di mana.
"Ini nggak beli. Temennya Syah yang kasih," jawab Manya.
"Temennya cowo atau cewe?" tanya Praja usil.
"Cewe," jawab Syah.
Manya melotot, Praja makin usil, sedang Jovan hanya menggeleng pelan melihat tingkah paman angkatnya itu.
"Papa ... Syah basih teusil ... memana pejat tapan pisa pedain syantit pataw pidat!" celetuk Reece sebal.
Jovan terbahak, Ramaputra nyaris menyemburkan air yang baru diminumnya. Sedang Abraham, Aldebaran dan Rudi tersenyum lebar.
"Peman ni ... Papa Lalja suta aneh!" sahut Adelard menimpali.
Praja gemas bukan main, ia mencium gemas semua anak genius itu. Pram putranya pun tak luput dari ciuman ayahnya.
Anak-anak diminta untuk tidur siang. Para pria masih belum berangkat bekerja. Jovan duduk di sebelah istrinya.
"Jadi kau tadi sudah membeli satu unit bangunan untuk usahamu?" tanya pria itu.
"Iya Mas. Aku tadi langsung lunasin. Lokasinya sangat dekat dengan sekolah dan perkantoran. Sangat strategis untuk anak-anak, jadi tak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka," jawab Manya.
"Aku juga berencana membagi dua bangunan itu dan membuka klinik di sana," lanjutnya.
Aldebaran sangat menyukai program kemanusiaan ini. Pria itu juga mau menjadi salah satu donatur tetap.
"Jangan lupa ijin dinas sosial setempat sayang," Manya mengangguk.
"Nyonya Arifin sedang mengurusnya," jawabnya.
"Jika kau butuh sesuatu, bilang pada Daddy ya," ujar Ramaputra.
"Aku hanya butuh dukungan dari semuanya," jawab Manya.
"Tentu kami mendukungmu sayang!" sahut Abraham meyakinkan.
Sore menjelang, semua anak sudah mandi dan rapi. Tita dan Maiz juga sangat cantik dengan dress biru tanpa lengannya. Manya memberi aksesoris pita di kepala dua adiknya.
"Kalian cantik sekali!" pujinya gemas.
"Mama, ajarin kurang-kurangan sih!" pinta Abi.
Manya langsung mengajari putranya. Rupanya triple A, Reece dan Liam tertarik dengan pelajaran pengurangan itu.
"Jadi Ma, talo pita punya pelmen lima tlus dimatan tida, sisana duwa ya?" tanya Aqila yang cepat tanggap dengan apa yang diajarkan ibunya.
"Uh ... anak Mama pinter banget sih," puji Manya bangga.
"Lees judha pisa talo bedhitu ... itu soal dampil!" ujar Reece remeh sambil menjetik jari kelingkingnya.
"Nih ya ... Lees bunya beulman sujuh, Iam pinta tidha, Aidan binta tuwa ... sisa peulapa beulmen Lees?" tanyanya jumawa.
"Sisa dua!" jawab Syah tepat.
"Salah!" jawab Reece meledek ponakannya.
"Loh kok salah sih Om. Kan permen om tujuh, diminta Liam tiga terus Aidan minta dua. Tujuh kurang tiga ditambah dua jadinya ...," Bhizar berhenti bicara.
Ia seperti salah bicara. Reece berdecak melihat keponakannya yang bingung sendiri dengan jawabannya.
"Ah ... Aku nyerah deh!' jawab Bhizar mengalah.
"Beulmen Om setep sujuh don!" jawab Reece.
"Loh kok gitu?" tanya Abraham bingung.
"Iya, soalna Lees eundat nasih Iam ama Aidan peulmenna!' jawab Reece santai.
"Ih ... om Lees peuwit!' ledek Aidan.
"Butan peuwit lah!" Sanggah Reece.
"Lees suma peulmena nambah pial sadhi panyat, jadi pita pisa matan peulmen sama-sama," jawab Reece bijak.
Manya berdecak, ia gemas sekali dengan adiknya itu. Amertha dan Maira hanya tersenyum mendengar jawaban dari biang kerusuhan itu.
"Kamu itu jawaban dari mana sih?" tanya Manya gemas.
"Suma teupitilan di totat Lees Mama," jawab Reece sambil menunjuk kepalanya.
"Manya ... adikmu ini Mami karungin ya!" sahut Maira gemas bukan main.
"Moma pitil Pom Lees pelas ditalunin!" sahut Aqila tak suka.
Maira menciumi semua anak-anak. Amertha juga ikut mencium mereka. Tita dan Maiz juga tak mau ketinggalan ingin dicium juga.
Bersambung.
Ba bowu semua deh 😍
next?