THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
KENYATAAN 2



Ramaputra dan istrinya mendekati ranjang di mana Leticia berbaring lemah. Keduanya mengecup kening sang putri bergantian.


"Sayang ... sembuh sayang ... mommy kangen," bisik Amertha.


"Sayang, Daddy datang sayang, sebentar lagi ulang tahunmu, kau ingin pesta besar di usia menjelang tiga puluh kan?" bisik Ramaputra.


"Daddy mencintaimu, nak!" bisiknya lagi.


"Mommy juga mencintaimu," ujar Amertha.


Keduanya meninggalkan Leticia. Sepasang suami istri itu menatap Irham dan Renita.


"Kalian mau apa?" tanya Ramaputra geram.


"Kami hanya ingin minta maaf pada putri kami," ujar Irham masih kesakitan pada wajahnya.


"Tolong mengerti lah. Aku mengira putriku telah tiada, tapi mengetahui kenyataan jika putriku ternyata masih hidup, aku begitu senang!" isak Renita.


"Tapi hatiku hancur ketika putriku memanggil wanita lain adalah ibunya!" lanjutnya mencurahkan isi hati.


"Aku tau itu Renita!" sahut Amertha.


"Tapi mestinya kau bersabar. Selama dua puluh sembilan tahun yang ia kenal aku adalah ibunya!" lanjutnya.


"Aku bukan wanita egois yang mementingkan diri sendiri! Kau akan tetap ibunya, tapi bersabarlah!" lanjutnya.


"Sekarang aku ingin bertanya denganmu, putriku entah di mana. Jika bertemu, apakah putriku menganggap aku ibunya?" tanya Amertha kini diselingi air mata menetes.


Renita membuang muka tanda tak peduli. Amertha menggeleng dan tersenyum remeh.


"Jangan bebani putriku dengan cerita busukmu agar Leticia membenciku. Perlu kau ingat, darahku ada di setiap aliran darahnya, karena dia menyusu padaku dua tahun full!" tekan Amertha.


Ramaputra mengajak sang istri keluar dan membiarkan pasangan suami istri itu di sana menjaga putrinya.


"Sayang," panggil Amertha.


Ramaputra berhenti. Pria itu menatap sang istri.


"Tadi kau lihat dokter Manya dengan pandangan lain?" tanyanya langsung.


Ramaputra menitikkan air matanya. Bibirnya bergerak tapi tak mengeluarkan suara.


"Sayang ... katakanlah!" paksa wanita itu.


"Kita cari kantin. Aku lapar!" ajak pria itu akhirnya.


Keduanya menuju kantin. Salah seorang perawat mendekati mereka dan mengembalikan rantang yang tadi dibawa oleh Amertha.


"Makasih ya sus,"


"Sama-sama," sahut perawat itu.


Makanan yang mereka pesan datang. Amertha membuka rantangnya dan tercium aroma lezat dari sana.


"Ah, aku mau sayur itu sayang," pinta Ramaputra.


Amertha memberikan sayur sup sosis pada suaminya. Pria itu makan begitu lahap.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk!!"


"Pelan-pelan sayang," ujar Amertha memberi air minum pada suaminya.


"Sayang, kenapa kau tak makan?" tanya Rama pada istrinya.


Rama menyulang nasi dan disuapkan pada istrinya. Amertha menerima itu, akhirnya sisa makanan Rama masuk ke dalam perut sang istri.


"Sayang, kau belum menjawab pertanyaanku," ujar Amertha masih setia menunggu.


"Aku kurang nyaman di sini, sayang. Kita bicarakan di rumah yuk," ajaknya.


Amertha mengangguk setuju. Keduanya memilih kembali ke kamar Leticia. Di sana masih ada Irham dan Renita menunggui putri mereka. Amertha kembali mengecup kening putri susunya. Begitu juga Rama.


"Mommy pulang sebentar ya sayang, nanti mommy kembali," ujarnya.


Keduanya pun pergi tanpa mau melihat sepasang suami istri itu. Renita menangis. Ia benar-benar menyesal dengan apa yang ia perbuat.


"Pa ... Mama nyaris membunuh putri kita," ujarnya tersedu.


"Tenanglah ma ... kita minta maaf pelan-pelan pada Leticia ya," ujar pria itu.


Renita mengangguk. Ia benar-benar berat jika terus menerus bersabar. Wanita itu ingin segera mengambil darah dagingnya, memanjakannya dan menjadikan gadis itu putri raja.


"Bersabarlah demi putri kita," pinta Irham lagi.


Amertha dan suami sudah sampai pada mansion mereka. Keduanya langsung menuju kamar. Ramaputra memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Amertha menyiapkan semua perlengkapan sang suami.


Usai memakai bajunya. Rama duduk di sisi istrinya di atas ranjang mereka.


"Sebelum aku mengatakan semuanya. Sebelumnya aku minta maaf padamu sayang," ujar Ramaputra panjang lebar.


Amertha mendengarkan perkataan pria itu. Ia telah memaafkan suaminya selamanya.


"Iya sayang. Aku tak tau apa motifnya. Padahal, dia sendiri yang gila menyintaiku, dan aku juga lebih gila dulu, melandeninya," sesal pria itu.


"Sudah, tak usah kau ungkit itu. Aku tau kenapa kau begitu, karena aku tak bisa melayanimu dengan baik, bukan?"


"Tidak sayang, bukan karena itu. Tapi memang aku berengsek!" ujar pria itu memaki diri sendiri.


"Sudah ah ... kau terlalu bertele-tele!" sela Amertha marah.


Pria itu langsung meminta maaf pada istrinya. Ia juga mengatakan jika Aprilia telah tewas karena kecelakaan.


"Aku tak peduli dengan wanita itu!" seru Amertha marah.


Wanita itu mulai kesal pada suaminya.


"Dokter Manya adalah putri kita sayang!"


Amertha terdiam. Ia menatap suaminya tak percaya. Ramaputra mengangguk membenarkan.


"Jadi ... jadi Dokter Manya Aidila adalah putri kita?" Rama lagi-lagi mengangguk.


"Selama ini aku dekat dengannya dan ternyata dia adalah putriku?!"


"Iya sayang ... putri kita sangat cerdas. Ia menjadi dokter dengan beasiswa penuh!" ujar pria itu.


"Sayang, tapi dia sudah menikah dan memiliki anak kembar tujuh?!"


"Aku juga tau sayang, kau tadi mengatakan itu,"


"Kau tau, putri kita menikah dengan seorang Rougher Dinata!"


"Apa?!"


"Iya sayang, tadi kami berkenalan, aku baru saja berkenalan dengan ibu mertua dari putri kita, Maira Sugandi!"


Sementara di tempat lain Manya bersiap untuk pulang. Abraham menjemput mereka. Maira ikut bersama suaminya. Sementara Manya bersama supir, tujuh anak dan empat suster. Hanya butuh lima belas menit untuk mereka sampai ke mansion mewah itu.


Anak-anak langsung dimandikan oleh para suster. Usai mandi mereka bermain sebentar dan memakan buah.


"Bijal ... padhi atuh pembuhin basien mama woh!" aku Abi jumawa.


"Wah ... tamu bebat Bi, telus tamu ditasih uan pidat?" tanya Bhizar.


"Pidat!" jawab Abi polos.


"Wah ... tamu beustina binta payalan syama basien ipu," sahut Bhizar memberitahu.


"Beusti beditu?"


"Beunel ... taya mama, tan bipayal bumah satit budah pembuhin lolan!" sela Syah.


"Talo bedhitu atuh atan binta daji pama mama," ujar Abi memastikan.


Manya masuk dengan pakaian piyama. Malam ini suaminya pulang nanti agak larut.


"Mama, Abi pinta daji!" Abimanyu menengadahkan tangan kanannya pada sang ibu.


"Hah ... apa?" tanya Manya tak percaya.


"Abi binta daji mama, padhi tan budah bembuhin lolan," sahut bayi tampan itu.


Manya menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Maira masuk bersama suaminya. Melihat salah satu cucu menengadahkan sebelah tangannya.


"Baby, kenapa kau menadahkan tangan seperti itu?" tanya Abraham ingin tahu.


Sepasang suami istri itu duduk di atas karpet tebal, bersama cucu-cucunya.


"Abi pinta daji pama mama, Popa!" jawab bayi cerdas itu.


"Daji?" tanya Abraham tak mengerti.


"Biya daji pulanan, padhi Abi palusan bembuhin lolan," sahutnya.


Abraham mencerna lama perkataan bayi tampan itu. Setelah lama berpikir, ia pun terkekeh.


"Memang kalau Abi dapat gaji, mau dipakai buat apa?" tanya Abraham dengan senyum lebar.


"Mawu pelitan mama badiah popa,"


Jawaban Abi menyentuh hati semua orang.


"Memang Abi tau kapan mama ulang tahun?" Maira kini bertanya.


"Pesot!" jawab semua bayi.


bersambung.


hah ... pesot ipu tapan ya?


next?