
Pagi menjelang, lagi-lagi rumah yang besar menjadi sempit karena pergerakan pada balita dan bayi yang tak mau diam.
"Baby Abraham ... pakai seragamnya!" pekik Suster Wati.
Gadis itu harus berlarian mengejar Abraham yang telanjang karena sedang mengejar kupu-kupu.
"Mama ... Aidan mo tutu lasa panas!" teriak bayi satu setengah tahun itu.
"Mama ... tas Agil lusak!"
"Mama sepatu Lika disembunyiin Abi coba!"
"Ma ... lihat dompet Papa nggak?"
"Mama ... Mama ...!" panggil Adelard yang asik duduk di sofa sambil meminum susu dalam botol.
"Abraham, pakai bajunya!" teriak Manya.
"Dompet Papa ada di laci nakas yang dekat aksesoris Mama," lanjutnya.
"Baby, gimana tas kamu nggak rusak kalau kamu balik begitu? Masa yang di luar jadi di dalam?!"
"Baby Abi, kembalikan sepatu Baby Lika Nak!" pintanya.
"Ma pakaikan dasi dong!" pinta Jovan.
Manya memakaikan dasi suaminya.
"Mama ... Aqila pup!" teriak Bhizar.
"Ma ... Aidan judha!" sahut Aidan.
"Suster, tolong dong!" pinta Manya.
"Eundat mawu ... mawu syama Mama aja!" teriak Aidan dan Aqila bersamaan.
"Sama Suster Lena aja ya, kasihan Mama," bujuk Lena.
"Iya sama Suster Diah juga nggak apa-apa kok," ujar Diah juga.
Akhirnya Aidan dan Aqila mau dipegang oleh susternya. Semua anak sudah rapi termasuk Jovan. Mereka sarapan bersama, Manya menyusun bekal, Saskia mengambil bekal-bekal itu dan menaruhnya dalam tas jinjing. Reece datang dan langsung duduk minta makan.
"Moma jalan masat Ma ... padhi atuh jalan salapan," adu bayi itu.
Amertha berdecak kesal. Bukan ia tak pernah masak. Tetapi bayinya hanya ingin makan masakan kakaknya.
"Kenapa Moma yang difitnah sih, kan Baby sendiri yang nggak mau makan masakan Moma?!" sahut wanita itu.
"Spasa pilan beudithu?" sahut Reece tanpa rasa bersalah.
Bayi itu begitu lahap memakan nasi sosis buatan Manya. Jovan minta cium adik iparnya itu.
"Papa Yayah mau kerja, cium dulu dong,"
Reece mencium pria itu, lalu disusul oleh Adelard, Aidan dan Aqila. Manya dan Amertha mencium tujuh balita kembar yang sudah rapi dengan seragamnya.
Jovan mengecup cepat bibir sang istri, hingga membuat wanita itu berdecak.
"Aku pergi dulu sayang," ujarnya.
Praja sudah di sana menunggu. Seven A sudah berangkat dari tadi. Hanya menunggu lima menit mobil yang mengantar tujuh anak kembarnya sudah kembali, dua pria masuk mobil, lalu kendaraan itu pun melaju. Manya melambaikan tangan, lalu ia masuk ke dalam rumah.
Di sana Reece dan tiga keponakannya naik tangga bersama Amertha dan dua suster. Manya akan ke rumah sakit sebentar lagi, ia ada satu jadwal operasi.
Usai mandi, wanita itu naik ke lantai dua di mana arena bermain ada di sana.
"Mom, Aku pergi dulu ya," pamitnya.
"Iya sayang," sahut Amertha.
"Babies!" semua anak berhamburan ke pelukan Manya.
"Mama pergi dulu ya, jaga rumah dan jangan nakal!"
"Biya Mama!" sahut empat bayi.
Manya sekali lagi mencium keempatnya lalu baru ia pergi ke rumah sakit.
Di perusahaan Ramaputra. Pria itu sangat kerepotan dengan setumpuk pekerjaan.
"Tuan!"
"Rud ... kau sudah kembali?!' pekik Ramaputra senang bukan main.
"Iya Tuan," sahut Rudi sambil tersenyum.
"Rudi, cari wakil asisten dan sekretaris pria!" kita akan kerepotan jika hanya bekerja berdua saja," ujar Ramaputra memberi perintah.
"Baik Tuan," sahut Rudi.
Pria itu langsung membuka lowongan kerja yang diinginkan atasannya. Hanya beberapa menit saja, lowongan itu sudah banyak yang melamar.
"Tuan ada delapan kandidat yang sesuai kriteria, apa perlu dipanggil dan melakukan wawancara?" tanya Rudi ketika menyeleksi para pelamar.
"Kau urus itu, karena mereka nanti adalah bawahanmu," ujar Ramaputra dengan mata yang fokus pada kertas yang ada di tangannya.
Rudi paham apa yang diinginkan tuannya. Ia meneliti semua background delapan pelamar itu.
"Apa Tuan mau mewawancarai mereka?"
Ramaputra menggeleng. Ia menyerahkan keputusan penuh di tangan asistennya itu.
Waktu berlalu, keduanya kini menuju restauran dekat perusahaan. Rudi telah memesan ruangan vvip untuk tuannya.
"Bagaimana perjalanan kalian?" tanya Ramaputra ketika bokongnya duduk di kursi makan.
"Semua baik Tuan," jawab pria itu dengan semburat merah di pipinya karena malu.
"Hais ... dasar pengantin baru, kau pasti sudah merindukan tubuh istrimu," kekeh Ramaputra meledek bawahannya itu.
"Sangat Tuan, jika tau menikah seenak itu. Dari dulu saya akan memaksa istri saya menikah," sahut Rudi tanpa malu.
Makanan datang, mereka pun menyantapnya. Begitu usai, mereka beranjak dari ruangan itu.
"Tuan Artha!" pria empunya nama menoleh.
"Nona Beatrice!" sahut Ramaputra ramah.
Beatrice termasuk pebisnis wanita tangguh. Perusahaan kecilnya bergerak menuju perusahaan besar. Tangan dingin wanita itu membuat perusahaan ayahnya yang nyaris gulung tikar perlahan bangkit dan jaya.
"Anda makan di sini?" tanya wanita cantik itu.
"Bagaimana jika kita makan bersama!?" ajaknya.
"Maaf Nona, saya baru saja selesai makan," ujar Ramaputra langsung menolak.
"Saya butuh teman Tuan," sahut wanita itu lirih.
Gestur tubuh Beatrice yang seperti kesepian dan butuh teman sangat terlihat. Tapi, Rudi sudah memberi kode agar atasannya untuk pergi.
"Tuan," ajaknya.
"Maaf Nona, saya sudah kenyang. Silahkan anda cari kolega lainnya," ujar Ramaputra langsung.
Dua pria langsung beranjak dari tempat itu. Beatrice menatap punggung lebar Ramaputra. Setiap ia melihat pria itu, ia selalu ingin di dekatnya.
"Ah, kerjasama proyek xx. Aku dan dia harus sering bertemu," gumamnya penuh dengan ide.
Ramaputra seperti kesal sendiri. Ia tak tau apa yang dicari para wanita lajang pada pria-pria beristri.
"Banyak pebisnis muda di luar sana yang jauh lebih sukses. Kenapa masih menggoda suami orang!" gerutunya pelan.
Rudi tak menanggapi. Ia sangat beruntung, tak banyak dilirik oleh para lawan jenis, karena ia telah memagari diri agar tak melirik gadis lain.
Sedang di sekolah, Denta kembali tak masuk sekolah. Salah satu guru mengabarkan hal duka. Salah satu teman mereka itu ada di rumah sakit tengah berjuang untuk sembuh.
"Doakan teman kalian ya, agar Denta cepat sembuh dari sakit demam berdarahnya!" pinta guru memimpin doa.
"Berdoa dimulai!"
Semua menundukkan kepala. Air mata Anton mengalir, ia tulus mendoakan kesembuhan sahabat terbaiknya itu.
"Ya Allah, angkat penyakit sahabatku Denta, buat ia sembuh kembali sepelti semula, aamiin!" doanya dalam hati.
"Nah, kalian boleh pulang. Karena sebentar lagi hari kemerdekaan, sekolah akan mengadakan lomba Siapa yang mau ikut silahkan mendaftar!" ujar guru lagi.
"Seven A, ini ada gobak sodol, kita daftal yuk!" tunjuk Anton pada salah satu lomba.
"Ayuk!" sahut seven A.
"Semoga Denta sudah sembuh dan belmain pas hali kemeldekaan ya!" sahut Anton penuh harap.
"Aamiin!" sahut Seven A yang juga sudah rindu dengan sahabat mereka itu.
Bersambung.
cepat sembuh Denta.
Next?