
Satu jam menunggu Rudi tak jua menelepon gadis itu. Ia kembali menghubungi nomor ayahnya itu. Hingga panggilan ke tiga nomor yang ia hubungi mati.
Tak lama nomor panggilan asing menghubungi gadis itu. Leticia ragu mengangkatnya. Ia pun mengusap bulir hijau di layar.
"Halo!" ujarnya hati-hati.
"Halo nona, ini aku Rudi. Maaf nona, saya belum bisa bertemu dengan tuan besar. Beliau terlalu sibuk dengan acara konferensi pers ini!" teriak Rudi dari seberang telepon.
Gadis itu memang hanya mendengar suara Rudi yang kecil karena terlalu bising di sana. Banyak wartawan yang melakukan liputan baik di dalam atau pun di laut mansion Ramaputra.
Leticia melihatnya secara langsung dari layar televisi. Bahkan punggung lebar pria itu terlihat kamera.
"Tuan Rudi Akbar!" panggil salah satu wartawan.
Rudi sampai menutup sambungan teleponnya. Tatapan Leticia terus memandangi layar 35" di dinding kamarnya. Di sana Rudi dikerubuti wartawan. Wajah tampannya tampak kikuk di layar, menerbitkan senyum di bibir gadis itu.
Manik hitam Rudi yang menatap tajam pada wartawan dan ekspresi dingin yang ia pasang membuat para wartawan sedikit mundur untuk bertanya pada pria itu.
"Hidungnya ternyata mancung, bibirnya tipis, berjambang ... janggut tipis itu ...," Leticia menggelengkan kepalanya.
Pesona Rudi tiba-tiba memukaunya. Gadis itu tak lepas dari raut wajah tampan yang disorot kamera. Cara bicara pria itu juga begitu tegas dan irit.
Karena tak banyak informasi yang didapat, para wartawan meninggalkan pria itu. Rudi melihat ponselnya yang mati. Ia menghela napas panjang. Pria itu masuk ke dalam mansion dan mencari keberadaan tuan besarnya.
Ramaputra tengah bercengkrama dengan para kolega yang datang duluan. Di sana ada Manya dan Jovan begitu juga Maira dan Amertha tak lupa Aldebaran.
Istri pria itu dilarang datang oleh Abraham Dinata, pria itu masih tidak mau mengakui Leonita Davidson sebagai ibunya dan Aldebaran tak mempermasalahkan hal itu. Pria itu kini malah melayangkan sebuah gugatan cerai bagi wanita itu.
Pria berusia delapan puluh dua tahun itu tak peduli dengan pengorbanan Leonita yang mengabdikan hidupnya dari usia belasan tahun padanya.
"Mestinya kau menceraikannya dari dulu dad," bisik Abraham senang dengan rencana ayahnya.
"Aku sengaja, menahannya hingga setua itu," jawab Aldebaran santai. "Biar dia tak banyak tingkah."
Abraham membayangkan wanita itu yang kini mungkin hanya menangis sendirian. Ia tak peduli. Pria itu memang dendam dengan ulah Leonita ketika merayu ayahnya yang sudah berumur bahkan wanita itu berani memfoto dirinya di atas ranjang tanpa busana bersama ayahnya ketika menikah. Foto itu yang menjadi ancaman Leonita untuk Aldebaran menuruti kemauannya.
"Dia sudah tua sekarang, jika ia memacari pria, semua media akan menyorotinya dan ia akan hancur seketika," kekeh Aldebaran dengan kilatan mata sadis.
Sungguh penantian panjang ia jalani untuk mewujudkannya. Pria itu benar-benar sabar dan penuh dengan perencanaan matang.
Kini mereka tengah fitting seragam yang didesign oleh salah satu perancang ternama. Bahan dari sutra berkualitas melekat di tubuh Manya yang padat. Potongan dada yang membentuk pas di tempatnya. Membuat ia semakin seksi. Jovan menatap istrinya penuh minat. Seven A diberi baju dari bahan katun 100%. Begitu nyaman dan ringan. Ailika membuang bandana yang dikenakan padanya.
"Duh ... bayi .. bayi ... susah amat sih!" keluh penata busana.
"Jangan paksa anakku memakainya!" tegur Jovan keras dan penuh penekanan.
"I—iya tuan," cicit penata busana itu.
Rudi akhirnya mendapatkan tuannya. Ia mengatakan jika Leticia menelepon dirinya.
"Tapi ponsel tuan kehabisan daya," ujar pria itu menyerahkan ponsel tuannya.
"Ya sudah, biarkan saja. Selesai acara aku akan meneleponnya. Terima kasih Rudi," ujar pria itu.
"Kau bisa bersama Praja dan mengambil bajumu untuk acara besok!" titah Ramaputra.
Rudi mengangguk hormat pada atasannya. Pria itu mendapati Praja yang tengah berjalan menuju salah satu ruangan.
"Praja!" pria itu menoleh.
Rudi menyusulnya dan keduanya masuk ruangan bersama beberapa asisten designer yang mengatur pakaian mereka.
Leticia hanya memegang ponselnya yang dari tadi diam. Ia yakin ayahnya telah mengetahui jika dirinya menelepon pria itu.
Gadis itu sangat paham dengan tabiat pria yang ia kenali sebagai ayahnya. Jika sibuk begini, pria itu pasti akan menghubungi dirinya setelah semua acara selesai. Begitu juga dengan wanita yang ia kenali sebagai ibunya.
"Mommy, daddy ... kalian masih ingat aku adalah putri kalian kan?" cicitnya.
Ting! Satu notifikasi pesan singkat masuk di ponsel gadis itu.
Amertha memberinya pesan. Satu gaun cantik dalam foto.
"Ini gaun yang kau minta untuk acara konferensi pers di mansion ayah kandungmu sayang," begitu tulisan wanita itu dengan emoticon love.
"Kau pasti cantik putriku. Aku mencintai dan merindukanmu," tulis wanita itu lagi.
Leticia juga mengenal ibunya itu. Amertha memang suka berkirim pesan ketimbang menelepon. Tapi, wanita itu pasti akan memberikan kabar sesibuk apapun dia. Amertha masih sering mengirimi Leticia pesan singkat untuk menanyakan perkembangan kesehatan dirinya.
"Mommy aku juga merindukanmu," cicit gadis itu.
Leticia mematikan televisi nya. Tak lama empat maid datang dan membantunya bebersih. Renita masuk ke kamar sang putri. Wanita itu selalu menemani suaminya bekerja.
"Kau tau sayang, mama. begitu agar menjauhkan papamu dari para pelakor," ucapnya sambil melirik suaminya sinis.
Irham hanya menggeleng ketika mendengar alasan istrinya itu. Leticia begitu terhibur dengan ulah kedua orang tua. yang baru ia kenal itu. Gadis itu pun kadang mengikuti candaan keduanya.
Irham dan Renita benar-benar menunjukkan rasa cinta mereka yang besar.
"Mommy mu bilang jika dia telah membelikan gaun cantik yang kau inginkan sayang?" Leticia mengangguk.
"Iya ma, tapi mommy kesulitan mendapatkan sepatu yang cocok untuk gaunnya, mommy minta bantuan mama," sahut gadis itu.
"Nanti mama carikan sayang, atau kau mau ikut memilihnya?" tawar wanita itu.
"Apa boleh ma?" tanya Leticia antusias.
"Tentu saja boleh sayang, sekalian mereka tahu jika putri Mama ini sangat cantik luar biasa," ujar wanita itu bangga.
Leticia tersipu mendengarnya. Gadis itu juga merasa bosan di rumah dan kamarnya terus menerus.
"Sekalian kita ke kebun strawberry, kata penjaga sudah mulai panen," sahut Irham.
Leticia tersenyum senang mendengarnya, ia telah melihat foto kebunnya tak sabar ia juga ingin melihat aslinya.
Sedang di mansion Ramaputra. Seven A kini tengah bercakap-cakap antar saudaranya.
"Imi tan bumah moma Leta panyat lolan ya?" ujar Abi pada saudara kembarnya.
"Biya ... tata Mama pita atan polensi pes ladhi!" jawab Bhizar.
"Oh ... seubelti ipu," sahut Lika dan Syah bersamaan.
"Solada Blaham .. pa'a pidat lapa yan ini bipampai tan?" tanya Abi selaku wartawan.
"Pohon baaf letan baltawan pemua ... tami sedan pidat bawu pidandu!" jawab Abraham menolak untuk diwawancarai.
bersambung.
oke lah Abraham ... kami menyerah.
next?