
Minggu pagi, anak-anak diajak jalan-jalan keliling taman di tengah kota. Semua anak tentu senang. Ten A meminta ayahnya menelpon om kecil dan juga sepupunya.
"Pom Lees pama Iam Papa!' sahut Aqila mengingatkan.
"Iya Baby,"
Jovan menelepon Gerard untuk membawa Liam. Terdengar teriakan bayi itu memarahi ayahnya karena membawanya pulang. Jovan menertawai sepupu misannya itu.
"Sudah, bujuk dia dengan mengajak ke taman kota. Aku menunggumu!" suruh pria itu.
"Oke!" sahut Gerard.
Jovan memutus sambungan telepon. Semua anak sudah rapi dan bersih. para suster ikut. Ramaputra, Abraham dengan istri mereka juga sudah bersiap.
"Papa pita eundat pate bomil pistlit?' tanya Reece.
"Terlalu jauh Baby. Minggu depan ya, kita beli dua mobil lagi agar semua bisa ikutan naik, oteh?"
"Oteh!" angguk Reece setuju.
Mereka berangkat, Anton dan Nita juga diajak, Abraham yang memintanya. Sidik membawa mobil bersama suster dan anak-anak. Sedang yang lain membawa mobil masing-masing, Praja juga ikut bersama istri dan putranya. Hanya butuh waktu sepuluh menit sampai di taman kota. Para pengawal sudah berjaga-jaga di sana. Semua turun dan mendorong kereta bayi mereka.
"Kita nungguin lainnya ya!" ujar Jovan.
Tak lama Gerard datang bersama istri dan dua anaknya. Denna mendorong kereta bayi Aislin sudah mengoceh tak jelas. Ia terpekik senang dengan banyak orang. Liam ada di kereta dorongnya juga. Bayi itu masih ngambek dengan melipat tangannya di dada.
"Baby ... jangan marah dong sayang. Masa Baby nggak sayang Papa!" rajuk Gerard pada putranya.
"Babisna Papa pawa pulan seumpalanan Iam syih!" ketus Adelard.
"Baby," rajuk Gerard lagi.
"Kan Papa kangen ... hiks!" Gerard berdrama.
"Oteh Papa ... Iam judha tanen," sahut Liam akhirnya.
Mereka pun berjalan-jalan keliling taman. Seven A, Anton dan Nita berlari kecil. Triple A dan Reece tampak kesal. Para ibu tak menurunkan mereka untuk berlari juga.
"Mama pita bawu lali!" sungut Aqila sebal.
Pipinya menggelembung, bibirnya mengerucut. Batita itu benar-benar kesal pada ibunya.
"Baby, kemarin kan baru jatuh," ujar Manya mengingatkan.
"Ya tan basti Atila pisa hati-hati!' sungut batita cantik itu.
Gerard menurunkan Liam. Melihat saudaranya turun Reece membuka sendiri sit belt dan turun dari kereta dorongnya. Triple A pun mengikuti kelakuan om kecil mereka.
"Babies!"
"Sudah biarkan. Kita awasi saja!" ujar Abraham.
Manya akhirnya mengikuti semua bayi bersama para suster. Triple A, Reece dan Liam begitu senang berlari. Manya suka mengingatkan mereka agar tak terlalu kencang berlari.
"Wah ... lada itan!" pekik Liam menoleh penjual ikan hias.
Batita itu hampir tersungkur jika saja, Leni tak sigap menangkap Liam.
"Lihat jalan Baby," peringatnya.
"Hampil datuh!" sahut Liam mengusap dadanya.
"Mas ... lada itan duyun pidat?" tanya Aqila pada tukang jual ikan.
Pria itu tersenyum mendengar pertanyaan anak cantik itu. Ia menyamakan tingginya dengan Aqila.
"Nggak ada, Dik. tapi di sini ada ikan emas, koki, koi dan ikan hias air tawar lainnya," jawab pria itu.
"Eundat lada itan pusaer?" tanya Reece berlaga sok tau.
"Nggak ada ikan mujaer dik," kekeh pria itu.
"Itan salden eundat lada judha?" tanya Aidan dengan mata bulat.
Pria itu tertawa lalu menggeleng. Aldebaran membeli beberapa ikan koi yang menurutnya warna ikan itu cantik.
"Dua saja!" ujar pria itu. "Minta akuarium kecil yang bulat itu ada?"
"Ada Mister!" sahut pria itu semangat.
Ia mengambil benda yang diminta dari gerobak dan memperlihatkan akuarium yang diinginkan Aldebaran.
"Kita isi air dulu ya, biar ada jika ada yang bocor ketauan," ujar pria itu.
Setelah membayar. Mereka beranjak. Seven A, Anton dan Nita sudah duduk di tukang nasi uduk. Mereka sudah makan di sana. Maira mendekatinya.
"Makan apa Baby?" tanya wanita itu.
'Nasi uduk Moma,' jawab seven A kompak.
"Wah enak tuh sepertinya," sahut Gerard.
Kehadiran bule di tempat itu tentu jadi sorotan. Pakaian mewah mereka jadi perhatian semua orang yang ada di sana. Kehadiran para bodyguard sangat membantu. Tak ada yang bisa mendekati mereka karena dihalangi para pengawal itu.
Usai sarapan nasi uduk semua pun kembali pulang ke rumah. Liam tak mau ikut dengan ayah dan ibunya. Bahkan Aislin tak mau digendong oleh Denna karena menempel pada Manya.
"Baby ... yuk, Mama punya coklat loh," rayu Denna pada putrinya.
Akhirnya Aislin mau ikut ibunya. Gerard tak mau kalah, ia membujuk Liam membelikannya mobil-mobilan.
"Tuh, mau truk nggak?" tawarnya menunjuk tukang mainan.
Semua anak laki-laki langsung menuju tukang mainan itu. Bhizar menatap ayahnya.
"Pa boleh?" pintanya dengan penuh harap.
"Ambil sayang," sahut Jovan.
Bhizar langsung mengambil mainan truk tersebut. Hanya Anton dan Nita yang tak bergeming. Sidik tidak membawa uang banyak.
"Anton kalau mau ambil saja, Nak!" perintah Maira.
"Nggak Nyonya ... makasih," sahut bocah itu.
"Ambil saja, sayang. Ayo," suruh Aldebaran.
Anton melihat ayahnya. Sidik sangat tahu jika di rumah tak banyak mainan putranya. Ia mengangguk. Anton senang sekali ia pun mengambil satu truk mainan.
"Nggak ada boneka atau apa ya!" keluh Lika.
"Iya ... banyakan mainan cowok!" sahut Agil.
"Sudah ayo ... pulang, matahari sudah mulai tidak sehat!" ajak Manya.
Mereka pun pulang. Liam tak ikut Manya, karena tadi sudah disuap mobil truk. Sampai rumah anak-anak sudah bermain di belakang bersama truk mereka. Sidik pamit pulang bersama dua anaknya.
"Hati-hati ya Pak!" ujar Jovan.
"Iya Tuan. Makasih sekali lagi," ujar Sidik.
Pria itu menaruh Nita di depan sedang Anton di dudukan di kursi khusus mereka mengenakan helm. Motor itu pun beranjak pergi. Praja juga pamit bersama istri dan putranya.
"Hati-hati!" sahut Jovan lagi.
Praja naik mobilnya bersama Saskia dan putranya. Mobil itu pun bergerak meninggalkan halaman parkir rumah Jovan.
"Senang semuanya?" tanya Maira pada anak-anak.
"Senang!" seru semua anak antusias.
Malam beranjak, Reece terlelap. Kali ini Manya benar-benar tak membolehkan adiknya diajak pulang oleh kedua orang tuanya.
"Biar Tita yang sama Moma!' ujar Manya.
"Ih ... nggak seru kalo nggak ada Reece!" sahut Amertha.
"Ayo sayang, ini sudah terlalu malam, besok aku harus pergi pagi-pagi!' ajak Ramaputra.
Akhirnya Reece tak dibawa pulang. Beruntung Manya tak merampas Tita dan tidur bersamanya. Kini justru Mai yang tak mau diangkut oleh Aldebaran.
"Grandpa, biar Baby Mai di sini!" ujar Jovan.
"Tidak, biar dia mengamuk di dadaku!" tolak Aldebaran.
Mai hanya merengek sebentar dalam dekapan pria gaek itu. Namun selanjutnya bayi itu pun terlelap.
Akhirnya, semua bisa pulang bersama bayi mereka kecuali Reece. Manya mengecup semua anak-anak.
"Cepat besar ya sayang," ujar wanita itu penuh harap.
Bersambung.
Ah ... senangnya kumpul bareng keluarga
next?