
"Rud!"
Leticia menghentikan ciuman pria itu. Kening dan hidung keduanya saling menempel, napas pun menderu.
"Nona ... aku mencintaimu," aku Rudi jujur.
Ruangan masih gelap, film masih diputar. Netra Leticia berusaha menangkap pendar mata dari Rudi.
"Kita keluar?" ajak pria itu.
Leticia tak menjawab. Film kini dalam tayangan sangat panas, dua insan saling menyatu di atas ranjang. Terdengar suara mendesah dan erangan keluar dari dua pemain di dalam layar. Leticia melihat karcis yang ia pegang.
"Erotic Love?" gumamnya membaca.
'Pantas!' dumalnya kesal dalam hati.
Gadis itu sangat yakin setiap pojok kursi ada sepasang kekasih tengah mempraktekkan tayangan di layar.
Rudi mengajaknya ke sebuah taman di kota. Mereka bergandengan, jantung keduanya berdetak sangat kencang. Kini mereka duduk di bangku taman bersisian, menatap beberapa keluarga yang juga ada di sana menikmati keindahan taman.
Rudi sama sekali enggan melepas genggamannya. Bahkan dengan berani ia mengecup buku jari nona mudanya. Pria itu benar-benar memberanikan diri. Sedang Leticia malu luar biasa..
"Rud!" peringatnya.
"Nona ... sungguh aku jatuh cinta padamu!" sahut Rudi lagi penuh ketegasan..
"Mau kah kau menikah denganku?" pintanya.
Leticia terdiam. Rudi adalah sosok pria tampan, ia sangat mengenal pria ini semenjak usia belasan tahun.
"Nona, jika kau mengijinkan. Aku akan datang melamarmu sekarang juga!"
Pria itu berdiri lalu menarik tangan gadis itu. Leticia seperti hewan peliharaan yang sangat menurut. Ia ikut langkah Rudi.
"Mobil Nona di mana?" tanya pria itu.
"Di halaman parkir mall," jawabnya.
Mereka menuju ke sana. Rudi masih menggenggam tangan gadis itu. Terkadang ia berhenti hanya untuk mengusap peluh di kening Leticia.
Gadis itu menyerahkan kunci mobil pada Rudi. Tak lama, kendaraan roda empat itu bergerak menuju mansion Wijaya. Rudi benar-benar menebalkan muka dan menguatkan nyalinya.
"Jika ditolak, saya akan berusaha lagi!" tekadnya dalam hati.
Hanya butuh waktu dua puluh menit mereka sampai di hunian mewah itu. Rudi menghela napas berkali-kali. Hari sudah mulai senja. Keduanya pun keluar, lagi-lagi ia menggandeng Leticia.
"Ma, Dad ... aku pulang!" sahut gadis itu lemah.
"Sayang ... kamu su ...," Renita menghentikan ucapannya.
Netranya nyalang melihat anak gadisnya digandeng seorang pria yang tidak ia kenali. Wanita itu lupa dengan sosok Rudi. Irham pun mendekati istrinya. Ia melihat arah pintu.
"Berengsek. Lepaskan putriku!" sentaknya lalu bergegas menuju Rudi dan putrinya. Dengan kasar ia melepas genggaman Rudi dan mendorong kasar pria itu.
Rudi hanya terjajar dua langkah ke belakang. Leticia memekik dan langsung melepaskan diri dari genggaman ayahnya.
"Rud!" panggilnya cemas.
"Aku tidak apa-apa," ujarnya.
"Leticia, apa ini!' bentak Irham marah.
"Perkenalkan Tuan, saya Rudi Hardiansyah, saya ...."
"Saya nggak butuh perkenalan diri kamu!" sentak Irham.
Satu pukulan mengenai pipi Rudi. Leticia menjerit.
"Daddy stop it!"
"Sayang!' peringat Renita.
"Pergi kau dari rumah ini!" teriak Irham pada Rudi.
"Saya mencintai putri anda Tuan, dan saya akan menikahinya!"
"Bangsat!' maki Irham.
Pria itu memukul Rudi lagi. Leticia melindungi pria itu dan menahan laju tangan ayahnya.
"Rud ... kumohon pergilah!" pinta Leticia.
"Nona ... aku mencintaimu!"
"Pergi!" teriak Leticia dengan derai air mata.
"Nona ...,"
"Cukup Rudi ... aku bilang pergi dan bawa cintamu itu!" teriak Leticia lagi.
"No ...."
"Pergi!" teriak Leticia lagi.
Perlahan Rudi mundur sambil menatap wajah gadisnya. Ia menyerah, gadisnya sendiri yang mengusirnya.
"Aku mencintaimu Leticia Wijaya!" teriak Rudi.
"Pergi! Bawa cintamu yang tak masuk akal itu!" usir gadis itu dengan derai air mata.
"Berkacalah, kau itu hanya ajudan ayah angkatku!" teriak Leticia.
Sungguh hati Rudi sakit mendengar penghinaan dari mulut gadis yang ia cintai. Rudi tetap menatap setia netra basah Leticia. Gadis itu membuang muka.
Rudi pun akhirnya menghilang dari pandangan sang gadis. Leticia menangis tertahan. Ia menutup mulut dan mengigit kuat lengannya hingga berdarah, ia mengusap mata kasar. Irham dan Renita diam melihat putri mereka berusaha keras menenangkan dirinya. Setelah tenang. Ia menatap ayahnya.
"Maafkan yang tadi Daddy, anggap saja aku tadi khilaf," ujarnya masih sesenggukan.
"Leti mau ke kamar dulu ... hiks!'
Gadis itu melangkah pelan. Ia menuju lift dan naik ke atas di mana kamarnya berada. Ketika pintu lift tertutup gadis itu menangis pilu.
Leticia kini berada di dekat jendela kamarnya. Menatap sosok yang masih berdiri. Entah kenapa hari itu tiba-tiba hujan turun. Leticia meratap ketika pria itu masuk dalam taksi yang pasti Rudi pesan.
"Aku juga mencintaimu ... huuuu ... aku juga mencintaimu ... hiks ... hiks!"
Sementara di ruang keluarga. Renita banyak diam begitu juga Irham. Melihat bagaimana Leticia terluka karena mengusir pria pemberani tadi, bahkan menghinanya.
"Mas ...," panggil Renita.
"Jangan bicara apa-apa Renita!" tekan Irham.
Renita pun diam. Ia bangkit dan hendak pergi.
"Mau kemana kau!?" tanya pria itu gusar.
"Aku ingin melihat putriku!"
"Jangan!" larang Irham. "Biarkan dia!"
"Aku tak peduli!" teriak Renita.
"Bagiku kebahagiaan putriku adalah segalanya!" Renita pun pergi meninggalkan Irham yang berteriak.
"Renita!"
"Ah sial!' makinya kasar.
Renita langsung naik ke atas menggunakan lift. Tak lama pintu terbuka dan langsung pada pintu kamar putrinya.
"Nak, apa boleh Mommy masuk?"
Renita berusaha mendengar suara di dalam dengan menempelkan telinga di daun pintu. Tak terdengar apapun. Wanita itu cemas.
"Sayang!" pekiknya.
Leticia tergeletak lemah di lantai. Renita berteriak kencang. Semua maid berhamburan ke atas bahkan Irham juga naik ke atas.
"Sayang, nak ... bangun!" teriak Renita menyadarkan putrinya.
"Nyonya!'
Semua maid membantu majikannya dan membawa Leticia ke ranjangnya. Irham segera menghubungi dokter. Tak lama gadis itu sudah diinfus. Dokter sudah memeriksa keadaannya.
"Apa yang terjadi pada putri saya Dok?" tanya Irham cemas.
"Putri anda mengalami depresi ringan. Ia sepertinya butuh kasih sayang yang sangat luas dari anda terutama dari orang yang ia cintai," jelas Dokter.
"Biarkan dia istirahat dan jangan membebani dia dengan apapun!" lanjut dokter.
"Baik Dok. Terima kasih!" ujar Irham.
Pria itu mengantar dokter keluarga sedang Renita duduk di sisi putrinya yang terbaring lemah.
"Nak ... apa kau mencintai pria tadi?" tanya Renita berbisik.
Ada raut gelisah yang diperlihatkan Leticia. Renita mengecup kening sang putri memberinya kenyamanan.
"Mommy akan menyatukan cinta kalian, mommy janji!" bisiknya lagi.
Sementara di tempat lain. Rudi sudah ada di kamarnya. Pria itu menginap di hotel berbintang. Walau pekerjaannya hanya sebagai asisten pribadi Ramaputra, tetapi kekayaan Rudi tak bisa dianggap sebelah mata.
"Nona ... aku akan berjuang mendapatkanmu!" tekadnya membara.
bersambung.
maju terus Rudi!
next?