THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
MELAHIRKAN



Tidak ada yang bisa membendung waktu. Manya sudah waktunya melahirkan, usia kandungannya sudah cukup. Para dokter mulai sibuk menyiapkan ruang operasi untuk wanita itu..


Semua anak berdoa di mansion Ramaputra. Mereka berkumpul dan menunggu kapan tiga adiknya akan lahir ke dunia.


"Masih belum ada kabar ya?" tanya Laina melihat jam di dinding.


"Belum baby," jawab Aliya.


Pram ada digendongan Ramaputra, sang ibu juga akan melahirkan di hari yang sama. Liam dan Aislin pun berada di tangan Maira dan Abraham. Baik Jovan, Praja dan Gerard bersama menunggui istrinya masing-masing.


"Rudi juga kurang ajar sayang," ketus Ramaputra pada istrinya.


"Kenapa lagi dengan anak itu?" tanya Amertha.


"Masa Leti juga melahirkan kita tidak tau kapan hamilnya," lanjut pria itu melapor.


"Astaga Rudi!" geram Amertha.


"Jadi siapa di perusahaan sayang?" tanya wanita itu.


"Untung ada Luki dan Rara, asisten dan sekretaris baruku. Memang mereka baru dua tahun bersama, tetapi keduanya sangat kompak," jawab Ramaputra.


"Bukannya mereka itu selalu ribut ya?" tanya Amertha mengingat siapa kedua orang yang disebut.


"Mereka itu Tom and Jerry," sahut Ramaputra.


"Ya sudah, kita doakan saja dua putri kita di sana baik-baik saja," ujar Amertha.


Ramaputra mengangguk. Hingga waktu makan siang, baik Jovan, Gerard maupun Praja belum juga memberi kabar. Eddie dan Clara sampai menyusul ke rumah sakit.


"Aku akan bawa makanan untuk mereka!" ujar Eddie.


"Ya sudah, kami menunggu di sini," ujar Abraham.


Aldebaran dan sang istri ikut menunggu dan turut berdoa agar semua lancar.


Usai makan siang, semua anak diminta tidur siang. Walau ada penolakan, Amertha tentu tau trik untuk membuat semua anak menurut.


"Nanti Mama Manya marah loh kalau kalian nggak tidur siang!"


Sementara di rumah sakit, Denna melahirkan secara normal dua bayinya. Wanita itu memang sengaja program bayi kembar. Terdengar suara tangisan yang begitu kuat. Lahir bayi laki-laki pertama lalu disusul tiga menit kemudian bayi perempuan.


"Kita mendapatkan bayi sepasang Mom, Dad!" seru Gerard memeluk kedua orang tuanya.


"Selamat Nak. Ini mau makan dulu ya," suruh Clara pada putranya.


"Mana Praja dan Jovan?" tanya wanita itu.


"Mereka masuk menemani istrinya melahirkan Mom," jawab Gerard.


Kini dua bayi sudah disusui. Keduanya terlelap dalam boks. Gerard menatap dua anaknya dengan pandangan bahagia. Clara mencium menantunya.


"Terima kasih sayang,"


Eddie ikut mencium Denna. Tak lama Praja juga sudah mendapat bayi kembarnya yang juga sepasang. Hanya tinggal Manya saja yang belum ada kabar.


"Bayi terlilit ari-ari jadi ada kesulitan untuk mengeluarkannya," jelas dokter ketika keluar ruangan.


Clara dan Eddie masih setia menunggu. Jovan diminta untuk makan tapi pria itu menolak. Ia tak mau meninggalkan sang istri walau sedetik saja.


Tiga jam mereka menunggu akhirnya tiga janin keluar dengan selamat. Manya nyaris kelelahan akibat lamanya tiga bayi itu keluar.


"Sayang ... sayang," Jovan memeluk istrinya perlahan.


"Sayang ... aku tidak apa-apa, coba lihat anak-anak kita?"


Tiga bayi diserahkan, dua perempuan dan satu laki-laki. Kali ini wajah Manya mirip di ketiganya. Wanita itu tersenyum lebar.


"Akhirnya ada juga yang mirip aku,"


Jovan begitu bahagia, ia mengecup dua bayi cantik dan satu bayi tampan itu. Bayi laki-laki yang membuat Manya nyaris kehilangan nyawanya ketika dia hadir mendadak.


"Namanya siapa?" tanya Eddie menggendong salah satu cucunya itu.


"Kalau aku Abila Jovinta Dinata, Adzkiya Mavinta Dinata dan Abian Majhova Dinata," jawab Jovan bangga.


"Kalau saya Prakasa dan Prajna," ujar Praja tak mau panjang memberi nama anak-anaknya.


Semua senang mendengar nama-nama indah itu. Di rumah langsung bersorak bahagia setelah kelahiran semua anak. Rudi juga memberitahu jika seorang putra telah lahir dan diberi nama Raditya Ardiansyah.


"Kita banyak keturunan sayang," ujar Aldebaran memeluk istrinya.


Demira mengangguk, wanita itu mengelus perutnya yang tak akan lahir seorang pun anak ke dunia. Namun, ia menatap seluruh anak angkatnya.


"Tidak masalah," ujarnya lirih.


"Dad, kita harus menyiapkan pesta penyambutan anak-anak. Apa kita jadikan satu saja ya?" tanya Ramaputra pada Aldebaran.


"Terserah kalian. Aku akan mengikuti saja," ujar Aldebaran.


Berita lahirnya bayi-bayi pengusaha kaya itu menjadi berita paling trending. Setelah keluarga Dougher Young yang seakan memenuhi bumi. Kini giliran keluarga Rougher Dinata yang ikut-ikutan meluncurkan banyak keturunan.


Semua wartawan berkumpul. Praja yang menjadi juru bicara seluruh keluarga tentang kebenaran berita lahirnya semua anak-anak.


"Telah lahir tujuh keturunan dari Downson, Rougher Dinata dan saya sendiri. Kembar sepasang dari Saya dan Tuan Gerard sedang triple dari Tuan Jovan Dinata," jelasnya.


"Kapan akan diperlihatkan ke publik Tuan Praja?" tanya salah satu wartawan.


"Insyaallah tiga minggu ke depan kami akan mengadakan acara selamatan di salah satu hotel milik keluarga Dinata!" jawab Praja.


Kini pria itu pun turun, banyak wartawan masih ingin mengorek keterangan dari mulut pria kepercayaan Dinata itu. Tetapi sayang, tak ada satu pun yang keluar dari mulut Praja. Ketatnya pengawalan membuat mereka kesulitan menembus Praja yang berjalan.


"Gila ... nggak kayak pengawalan tahun lalu. Ini ketat banget!" seru salah satu wartawan..


"Iya lah ... aku dengar jika keluarga Dinata memakai jasa dari perusahaan SavedLived!" sahut lainnya.


"Perusahaan bodyguard terkenal itu?" ujar yang lain lagi.


"Pantesan nggak bisa nembus. Semuanya anti sogok lagi," ujar yang lain.


"Mana mereka nggak ada affair lagi," lanjutnya.


Tiga hari mereka ada di rumah sakit. Kini semua bayi ada di mansion Ramaputra. Tujuh bayi dikerubungi anak-anak.


"Tuh benel kan kata Lees kalo anak Mama akan mirip Mama!" ujar Reece tersenyum ketika melihat tiga ponakannya.


Jovan tentu ingat perkataan adik iparnya itu. Ia mengangguk membenarkan, kali ini wajah Manya hadir di paras ketiga anaknya.


"Triple A lagi ya Pa?" Jovan mengangguk.


"Baby Abil, Baby Kia dan Baby Bian," jawab Jovan lalu menciumi salah satu putranya itu.


Adelard tergelak kegelian. Semua anak menyerbu pria itu gantian Jovan yang tergelak karena digelitiki.


Malam menjelang. Manya baru saja selesai menyusui tiga anak kembarnya. Jovan membantu meletakkan tiga bayi mereka dalam boks. Lalu membawa istrinya ke kamar.


"Terima kasih sayang atas apa yang kau berikan padaku," ujar Jovan lalu merengkuh sang istri.


"Aku juga sayang," ujar Manya.


Keduanya pun terlelap dalam mimpi indah. Sementara itu di tempat lain, Demira memeriksa semua pintu dan jendela. Ia, suami dan anak-anak harus pulang karena semua harus sekolah pagi hari.


Brak! Wanita itu terjengkit kaget. Beberapa pengawal mengejar pelaku pelemparan. Tak butuh waktu lama pelaku dapat tertangkap.


"Siapa kamu!" teriak Deden salah satu pengawal.


"Ampun Tuan ... saya hanya suruhan!" ujar pria itu ketakutan.


"Katakan siapa yang menyuruhmu!" teriak Deden lagi.


"Tuan Diyaksha!"


bersambung.


Eh ... masih lama toh end nya ...


next?