
“Ma, kita ada kegiatan olahlaga belenang di publik pool,” lapor Laina ketika pulang dari sekolah.
“Ini Ma, sulat ijinnya,” lanjutnya.
Seven A memberikan selembar kertas pada ibunya. Ternyata pihak sekolah mengajak semua murid untuk berenang di sebuah kolam renang umum di pinggir kota dengan beberapa biaya, seperti akomodasi pulang pergi, tiket masuk dan juga penyewaan pelampung.
“Biayanya mahal amat!” sahut Manya kesal melihat nominal yang tertera di kertas.
“Ini Ibu gurunya ikut semua nggak?” tanya Manya sinis.
Seven A mengangguk. Tentu saja ikut. Di sana tertulis jika seluruh siswa dan siswi sekolah taman anak-anak Permata Bunda. Biaya 150.000/anak. Memang bukan uang besar di mata Manya, tetapi itu cujup besar di mata para orang tua murid lain yang ia yakin akan sulit.
“Apa ibu guru mengatakan pakai mobil apa nanti berangkatnya?” tanya Manya.
Seven A sling lihat satu dengan lainnya. Lalu kemudian mereka menggeleng. Manya akan mendatngi sekolah besok, acara olah raga ini diadakan tiga hari lagi. Jika Manya melarang seven A untuk tidak ikut tentu mereka akan menurut.
“Nilai kita katanya akan dikulangi kalo nggak ikut, Ma,” cicit Agil memberitahu.
“Siapa yang bilang itu?” tanya Manya gusar.
“Tadi Anton nanya, Pak Gulu olahlaga yang bilang itu,” jawab Abraham sedih.
Manya sangat yakin jika Anton tentu berat menyerahkan kertas itu. Manya kembali membaca kertas berisi pemberitahuan dan persetujuan yang ada di kolom paling bawah. Ada gambar gunting di tepi kertas penanda jika orang tua harus menggunting itu.
“Apa ini? Pemaksaan sekali!” serunya gusar.
Manya membaca sebuah tanda bintang jika seluruh siswa diwajibkan mengikuti kegiatan ini. Wanita itu begitu geram dengan kertas pemberitahuan itu. Di sana tak tertulis jika para guru bertanggung jawab atas murid-murid yang ikut.
“Ada apa sayang?” tanya Amertha.
Maira menggendong Reece dan tengah menciumi pipi gembul bayi mau dua tahun itu. Mereka duduk di sisi kanan dan kiri Manya. Ibu dari sepuluh anak itu memberikan surat dari sekolahan.
“Ya, biar saja. Kan hanya 150.000 rupiah ini,” ujar Amertha santai.
“Mom bukan masalah uangnya. Mommy baca nggak kalau mereka akan bertanggung jawab penuh atas semua anak?” tanya Manya.
“Pastinya, kan mereka ikut semua,” sahut Maira.
“Aku baca jika tiket masuk kolam renang itu hanya sepuluh ribu per anak, jaraknya juga hanya sekali naik angkutan umum. Apa anak-anak diminta membayari semua gurunya dengan biaya segitu?” sahut Manya setengah protes.
“Tadi kata Abraham, Anton ingin tidak ikut, guru itu langsung akan mengurangi nilainya,” lanjutnya menahan kekesalan.
“Saskia, bawa semua anak ganti baju dan cucu tangan mereka ya,” suruh Maira.
Saskia mengangguk, para suster mengajak semua anak-anak masuk dan berganti baju mereka. Manya masih tak suka dengan cara guru memanfaatkan kesenangan mereka tapi mengatasnamakan anak-anak.
"Aku akan ke sekolah Babies besok!" sahut Manya.
"Mami ikut!" sahut Maira.
"Mami punya ide agar para guru nggak ikut dan hanya guru olah raga saja. Di rumah kolam renang bisa diatur kedalamannya. Jika memang tak boleh. Mami akan suruh para pengawal untuk mengawasi anak-anak," sahut Maira memberi ide.
"Sepertinya oke juga. Sekolah ke rumah Mami kan deket, jadi nggak perlu ongkos. Cukup jalan kaki lima belas menit sampai jika lewat jalan belakang!" sahut Manya senang.
"Ya, pasti orang tua anak-anak malah senang karena tidak memberatkan mereka!" lanjutnya.
Amertha mengangguk setuju. Terlebih kolam renang di tempat besannya itu bersih dan pastinya higienis.
Esok hari, Manya ikut ke sekolah dengan anak-anaknya, Maira ikut Amertha, Abraham, Ramaputra dan juga Jovan ikut ke sekolah. Ternyata di sana banyak wali murid mereka hendak protes dengan biaya yang tertera di kertas terlebih sekarang pertengahan bulan.
"Kita sengaja Bu, biaya itu termasuk asuransi seluruh anak-anak jika terjadi sesuatu," jelas pak guru olahraga.
"Asuransi kepala kau!" sentak seorang bapak berlogat khas Sumatera Utara itu.
"Apanya, di sini nggak ada tulisan biaya termasuk asuransi! Lagian berapa lama kami harus menunggu klaim asuransi itu!" sahut salah satunya.
Pak guru diam, ia tak berkutik diserang ibu-ibu plus bapak-bapak. Sedang anak-anak hanya diam dan menunggu untuk belajar.
"Maaf saya menyela!" sahut Maira tiba-tiba.
"Saya adalah nenek dari Seven A. Ingin menawarkan, sepertinya anak-anak ingin sekali berenang," sahut wanita itu.
"Saya akan mengajak anak-anak berenang di mansion saya," lanjutnya.
"Ingat hanya anak-anak dan guru olahraga saja yang ikut!" tekan wanita itu lagi.
"Terus yang ngawasi siapa?" tanya salah satu wali.
"Akan saya suruh beberapa pengawal yang ikut berenang bersama anak-anak!" sahut Maira.
Para guru akhirnya setuju begitu pula orang tua murid. Mereka lebih percaya anak-anak mereka berenang di hunian nenek dari seven A.
Akhirnya hari itu datang. Semua anak berangkat dari sekolah, seven A juga berangkat bersama teman-teman sekolahnya. Mereka berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Semua berjalan dipinggir. Selama lima belas menit mereka berjalan dan akhirnya sampai ke hunian megah milik Maira.
"Ayo masuk-masuk!" ajak para pengawal.
Semua anak masuk lewat jalan carport dan garasi. Semua mobil sudah disingkirkan dari sana. Mereka pun begitu takjub dengan kolam yang ada di belakang mansion.
"Ini tempat bilas laki-laki dan ini tempat bilas perempuan!" ujar kepala pelayan.
Maira sudah menyiapkan berbagai makanan dan minuman di atas meja untuk semua anak-anak.
Para pengawal sudah memakai baju renang khusus. Anak-anak masuk, Maira juga memiliki pengawal wanita yang didatangkan khusus untuk menangani anak-anak perempuan.
"Ayo, semuanya kita lakukan perenggangan otot ya!" ujar pak guru.
Semua anak mengikuti instruksi guru mereka. Setelah melakukan perenggangan otot. Pak guru mengajarkan bagaimana masuk ke dalam air dengan benar.
"Ayo, Abhizar!" suruh Pak guru.
Bhizar menekuk tubuh ke bawah dan meloncat seperti arahan pak guru olahraga. Semua anak melakukan apa yang diajarkan guru mereka. Para pengawal ikut mengajari. Renang dilakukan selama tiga puluh menit.
"Ayo, sekarang kita lakukan pelemasan ya!" ajak pak guru lagi.
Anak-anak keluar dari kolam ada yang kakinya kram. Mereka sedikit rewel, beruntung para pengawal langsung memberikan pijatan pelan pada kaki-kaki kecil mereka.
"Ayo semua mandi bersih. Sehabis itu makan!" titah Maira.
Semua anak pun masuk kamar bilas dan dibantu para pengawal. Mereka memakai pakaian kering. anak-anak pun berbaris mengantri mengambil makanan. Maira menyuruh mereka minum susu hangat terlebih dahulu.
"Minum susu coklat dulu ya," ujar Maira.
Susu pun habis diminum, lalu merekapun dengan tenang makan. usai makan mereka pun kembali ke luar di sana ternyata sudah ada angkutan umum yang disewa untuk semua anak dan guru olah raga.
"Naik saja, gratis!" ujar Abraham.
Semua pun naik. Para supir menutup pintu agar anak-anak tidak ada yang keluar dari pintu itu ketika angkutan berjalan.
"Makasih ya Kakeknya seven A!" teriak anak-anak dengan senyum lebar dan melambaikan tangan.
"Sama-sama!" sahut Abraham tertular senyum anak-anak.
bersambung.
Next?