
"Saya terima nikah dan kawin Leticia Renina Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" sahut Rudi lantang.
Pria itu belum sadar sama sekali, ia masih berada di antara kebingungan. Ia tak yakin menikah dengan wanita bernama sama dengan gadis pujaannya. Hingga ketika penghulu bertanya pada saksi.
"Bagaimana saksi apa Sah?"
"Sah!" sahut Ramaputra dan Jovan tegas.
Rudi menatap Irham yang duduk di depannya. Ia masih tak percaya dengan apa yang dilihat. Sedang Leticia yang dijemput memilih menunduk, gadis itu juga belum sadar jika ia sudah diperistri oleh pria yang mencintai dan dicintainya itu.
"Sayang, cium tangan suamimu," ujar Renita lembut.
Amertha ikut menangis di sana, ia sengaja disembunyikan oleh sang suami. Ia muncul ketika semua akad telah dilaksanakan.
Leticia yang belum mau mengangkat kepalanya, nampak mengamit tangan yang harus ia cium dengan takzim.
"Pandang suamimu, Nak!" pinta Irham menahan tangisnya.
Perlahan dan dengan enggan Leticia mengangkat wajahnya, dua netra saling menatap. Rudi lamat memandang wajah gadis yang sangat cantik di depannya.
"Rudi?"
"Leticia?"
Keduanya terdiam, lalu baru sadar kemudian berpelukan bahagia. Mereka berdua menangis begitu menyayat hati hingga membuat semuanya mengalir air mata. Sang penghulu, juga ikut menangis.
"Sayang ... sayang ... apa benar kau adalah istriku?" tanya Rudi dengan napas putus-putus.
"Iya ... huuuu ... iya sayang ... hiks ... hiks!" tangis Leticia.
"Terima kasih Tuhan ... terima kasih!" teriak pria itu mengucap syukur.
Sungkeman pun digelar. Leticia menangis kembali di paha ayahnya.
"Daddy ... huuuuu ... Daddy ... maafin Leti Daddy!"
"Nak ... Daddy yang minta maaf. Maaf Daddy hampir membunuhmu perlahan," ujar pria itu.
"Mama ... hiks ... hiks Mama!" pekik Leticia.
Renita tak dapat berkata-kata, ia memeluk putrinya erat dan memberikan kecupan kasih sayang. Lalu ketika Rudi berada di depan mertuanya, ia menciumi kaki Irham dan Renita bergantian. Sepasang suami istri itu sampai tak enak hati diperlukan seperti itu.
"Terima kasih Tuan, telah mempercayakan Nona Leticia pada saya!'' ujar pria itu tergugu.
"Panggil aku Daddy, Nak!" pinta pria itu. "Karena kau adalah putraku sekarang!"
"Daddy," panggil Rudi.
Irham memeluk Rudi erat, ia nyaris saja membuat kesalahan jika terus mengedepankan egonya. Terlebih ketika Leticia berpura-pura bahagia beberapa hari lalu.
"Nyo ...."
"Panggil aku Mama!" tekan Renita.
"Mama!" sahut Rudi.
Renita memeluk menantunya, ia bahagia putrinya dicintai oleh pria yang tepat. Wanita itu tau profil Rudi, pria yang kekayaannya di atas sang suami. Tapi bukan itu yang membuat ia bahagia, putrinya adalah segalanya, Leticia.
Kini keduanya bersanding mesra di pelaminan. Keduanya tampak begitu bahagia. Tak lama Jovan mendatangi sepasang pengantin bersama Manya istrinya.
"Kak," Leticia merentangkan tangannya.
Jovan akhirnya memeluknya, biar bagaimanapun, darah Leticia ada bagian dari Manya, karena gadis itu menyusu dua tahun pada Amertha.
"Maafkan aku!" ujarnya lirih.
"Aku sudah memaafkanmu. Bahkan berterima kasih, berkat itu. Aku mendapatkan wanita luar biasa," ujarnya lalu mengurai pelukannya.
Manya tersenyum, ia juga memeluk Leticia. Gadis itu kembali tersedu diperlukan ibu beranak sepuluh itu.
"Semoga bahagia hingga Jannah!" ujarnya.
"Aamiin!" sahut kedua pengantin.
Para kolega dan teman Rudi berdatangan, para wartawan baru tau jika hari ini adalah hari pernikahan antara Rudi dan Leticia. Tak ada yang boleh melakukan wawancara. Semua wartawan hanya boleh mengambil gambar mereka.
Para juru bicara hanya mengatakan jika ini adalah pernikahan bisnis yang biasa dilakukan oleh para pebisnis.
'"Minta satu pertanyaan Tuan!" ujar wartawan memohon.
"Baik, hanya satu ya!" tekan juru bicara.
"Mereka bulan madu ke mana?"
"Ke Bali!" jawab juru bicara.
"Apa kau bahagia sayang?" tanyanya berbisik.
"Ya aku sangat bahagia sayang," jawab Leticia dengan binaran cinta.
"Balo mamat sian pemuana!" suara bayi di atas panggung.
semua menoleh dan mulai sibuk maju ke depan panggung. Para tamu berubah menjadi penonton dadakan.
"Peultenaltan ... atuh Aidan, imi Atila ban imi Adelad!" ujar tiga bayi memperkenalkan diri.
"Atuh itut!" pekik Reece dan Liam naik panggung.
lima bayi lucu dengan baju formal mereka, lalu tujuh bayi bermuka sama berdiri di belakang panggung menunggu giliran.
"Pita bawu papain pi simi?' tanya Liam bingung.
"Peulbanyi!" jawab Aqila yakin.
"Panyi pa'a?" tanya Reece kini.
Lima bayi tampak berdiskusi. Semua penonton gemas sendiri.
''Ayoo nyanyi!" pinta salah satu penonton.
"Tenan pemuana!" sahut Aidan bijak.
Leticia sangat antusias dengan pertunjukan itu. Gadis itu sering dikirimi ibunya video hasil kerusuhan adik dan keponakannya itu.
"Apa sudah menentukan mau buat apa Babies?" tanya Abraham pada lima adiknya yang masih ribut ingin mempertunjukkan apa.
"Pelum Ata'!" jawab lima bayi kompak.
"Kalau begitu, bial Kakak yang kasih peltunjukannya. Bagaimana?" tawar Abraham lagi.
"Oteh Ata'!"
"Pita bain peulsama!" lanjut Abraham.
"Pita eh ... kita akan mempelsembahtan sebuah ladhu untuk semuanya!"
"Musik!' seru Abraham lagi.
Musik pun mulai semua bayi bergoyang begitu juga penonton. Sebuah lagu anak-anak mulai diperdengarkan, para penonton ikut bernyanyi.
"Pada hali mindu kululut ayah ke kota ... naik delman sistimewa tu duduk di muka. Kududuk samping pak kusil yan sedan beukelja ... mengendalai kuda supaya baik jalannya ... hei ... tuktiktdaktiktuktiktaktut ... suala sepatu kuda!"
Semua bertepuk tangan meriah. Para pebisnis yang semua adalah kalangan anak muda begitu senang dengan pertunjukan para balita mereka ingin lagi.
"Nyanyi lagi!"
"Oteh ... Liam akan belnyanyi!' seru Abraham.
Liam, putra dari Gerard dan Denna sudah bergoyang heboh. Ayahnya ada di depan panggung merekam aksi semua balita dengan senyum lebar.
"Doyan bomblet ... doyan pomlet ... sel ... sel ... doyan pomblet ... doyan bomblet!" seru Liam bernyanyi dangdut.
Semua terbahak mendengar nyanyian anak belum tiga tahun itu. Mereka tertawa terbahak begitu juga ayahnya, sedang sang ibu mengelus perutnya yang buncit.
"Sel poha!" teriak Liam sambil terus menggoyang pinggulnya.
"Atuh lah benelan pandut yan atan bendutan puniaaa!" seru Aidan mengganti lagu.
Para pemusik hanya mengikuti bayi bernyanyi. Mereka tersenyum lebar mendengar lagu semua berubah liriknya di mulut para balita. Mereka yakin jika pencipta lagu mendengarkan lagu ini, entah ingin menangis, tertawa atau marah.
"Bewat busit yan tubain tan ... pewat ladhu yan pubanyi tan ... beutelah atuh peusal banti ... atan padhi si laja pandut ... pandut .. pan ... pan ... pandut!"
"Sel poha!" seru Liam lagi.
"Set hopa!" seru Reece ikut-ikutan.
Semua penonton ikut berjoged dangdut, mereka memang pengusaha kaya raya, tetapi tak ada satu pun yang jijik mendengar lagu sejuta umat itu. Semua larut dalam keseruan dan kebahagiaan dalam pernikahan dua insan yang jatuh cinta.
Rudi mengecup pipi istrinya. Rona merah langsung menjalar. Memang ciuman itu bukan yang pertama bagi Leticia, ia sudah mahir memainkan bibir dan lidahnya. Tetapi kali ini ia melakukan itu dengan cinta.
bersambung.
Selamat ya Leticia dan Rudi ... akhirnya kalian menikah.
Othor masih jomblo🤣👍😭
next?