THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
MEMILIH MAMA MANYA



Dua Babysiter menunduk di depan Amertha, wanita itu sangat setuju dengan keputusan putrinya. Ia meminta dua perempuan itu pergi dari rumahnya sekarang juga.


"Nyonya ... beri kami kesempatan," pinta salah satu dari mereka.


"Ibu saya sedang sakit," lanjutnya lirih.


"Kau tau kau sangat butuh pekerjaan ini. Tetapi kenapa kau abai!" pekik Amertha kesal.


Gadis itu terus menghapus air matanya. Amertha sebenarnya iba, tetapi dua Babysiter ini sudah mengatai putrinya.


"Bahkan kalian berani mengatai putriku!" lanjutnya makin kesal.


"Aku akan mengembalikan kalian ke balai kerja kalian dengan alasan anak-anakku tidak cocok dengan kalian!" lanjutnya kemudian.


"Jangan menambah-nambah cerita lain jika kau masih mau bekerja!" lanjutnya mengancam.


Amertha mengembalikan keduanya ke panti pembinaan dan pelatihan khusus Babysiter. Wanita itu membayar penuh dua bulan gaji mereka juga membayar pinalti karena tak sampai satu tahun bekerja.


"Terus kau meminta siapa yang mengurusi Tita sayang?' tanya Ramaputra.


"Aku menyuruh Manya mengambil perawat dari rumah sakit, sama seperti pengurus Ten A bahkan Reece juga ikut dirawat di sana kan?" Ramaputra mengangguk.


"Kalau begitu. Biarkan Tita dirawat oleh Leni dan Raya, mereka berdua sangat menyayangi anak-anak kita," ujar Ramaputra memberi usulan.


"Kita tetap menambahnya sayang, Maizah juga bersama mereka kan, dua suster itu akan kewalahan mengurus mereka," jelas Amertha.


"Kau benar, bahkan Liam juga ada di sana. Anak itu sudah membuat dirinya menjadi anak putri kita," sahut Ramaputra sambil terkekeh.


Sementara itu di rumah Manya. Wanita itu sedang menyiapkan makanan untuk makan siang suami, Praja, kedua orang tuanya juga kedua mertuanya. Rumahnya kini menjadi tempat makan bersama, Saskia pun kembali bekerja merawat anak-anak dan membawa putranya serta.


"Dok, bukankah Tuan Ramaputra memiliki sedikit hipertensi?" tanya Saskia mengingatkan.


"Iya, aku sudah menyiasati Sus," jawab Manya tenang.


"Kami pulang!" Jovan masuk.


"Tuan," sapa Saskia.


"Mas," panggil Manya.


Lalu tak lama Ramaputra dan istrinya datang membawa putrinya. Disusul oleh Abraham, Aldebaran dan juga Maira, Maiza berada digendong ayahnya.


'Ayo Dad!" ajak Jovan.


Mereka makan dengan tenang. Usai makan Abhizar mendatangi ibunya sambil menyerahkan surat dari sekolah.


"Ada kegiatan rutin tahunan, kita disuruh nyumbang," ujar bocah itu.


"Oke sayang, besok Mama bayar ke sekolah ya," sahut Manya.


Bhizar mengangguk, Abraham kecil mendekati ayahnya.


"Papa," panggilnya lirih.


"Ada apa Baby?" tanya Jovan sambil mengerutkan keningnya.


"Pa, bisa nggak kasih Pak Sidik bonus?" tanya bocah itu.


"Kasih bonus ke Pak Sidik?" Jovan tak mengerti.


"Anton tadi lihat angka nominal sumbangan yang harus 200 ribu rupiah per anak. Anton sangat berat, Pa," cicit Abraham menjawab.


"Sayang, gaji Pak Sidik besar loh. Anton harus berani menyampaikan surat itu. Kita tak bisa terus menerus menolongnya," ujar Maira memberi pengertian.


Abraham mengangguk, ia pun menunduk dan mengucap terima kasih. Bahunya turun, ia tak bisa membantu sahabatnya itu. Manya sedih melihat kepedulian putranya.


"Dulu, aku juga sendirian menanggung hidup. Makanya aku mengejar beasiswa, jaman dulu tidak ada nominal, jika seikhlasnya maka seikhlasnya bahkan tidak ada pungutan sama sekali," ujar Manya.


Maira terdiam, ia jadi merasa bersalah. Ia lupa jika menantunya juga memiliki nasib sama dengan Anton, bahkan lebih buruk karena tak ada orang tua angkat.


"Baby," panggil Manya.


"Ya Ma," sahut tujuh anak kembarnya.


"Apa kalian punya solusi untuk teman-teman kalian yang tidak beruntung itu. Mama yakin, bukan Anton dan Nita saja kan yang susah?" semua mengangguk.


"Lalu apa solusi kalian?" tanya Manya lagi.


Seven A berpikir keras, bahkan Liam, triple A juga ikut mengerutkan keningnya. Reece menggeleng, ia sudah mendapat solusi untuk masalah sekecil itu.


"Tenapa talian eundat pilan te tepala setolah untut peumpuat kelinanan untut Anton dan yan lainnya?" usul Reece membuat Manya tercerahkan begitu juga seven A.


"Ah .. Om hebat deh!" puji Bhizar.


Hidung Reece kembang-kempis mendengar pujian itu. Ia melirik remeh pada kakaknya, Manya. Tentu wanita itu gemas melihat pandangan adiknya itu.


"Kau meremehkanku bayi!"


Manya mengangkat tinggi-tinggi adiknya hingga terdengar gelak tawa. Semua anak mengerubungi Manya dan minta diangkat juga, bahkan seven A pun tak mau kalah.


"Kalian berat sayang!" keluh Manya.


"Sini, biar Papa saja yang angkat kalian!" ujar Jovan.


Semua anak mengerumuni keduanya bahkan Pram, Tita dan Maizah juga mau diangkat oleh pria itu.


Ramaputra menatap bangga pada Reece. Walau keusilan dan manja, balita itu memiliki pemikiran cemerlang yang mestinya dimiliki oleh orang dewasa.


"Jadi, besok Mama akan datang ke kepala sekolah, mengusulkan keringanan pada anak murid seperti Anton, Nita dan lainnya ya," mereka mengangguk setuju.


Abraham kecil pun lega, ia bisa membantu sahabatnya walau kini bukan berupa materi. Bahkan ia juga membantu teman-temannya yang lain yang bernasib sama dengan Anton.


Manya kini harus mengurus dua bayi tambahan, untung Saskia sudah kembali bekerja, walau bersama putranya. Wanita itu tak pernah membedakan kasih sayang terhadap semuanya.


"Dok, suster Nana kan juga mau tuh jadi pengasuh anak, terlebih beliau juga dari ahli gizi anak," usul Saskia.


"Suster Nana?" Saskia mengangguk.


"Tapi, aku nggak suka. Dia itu kecentilan, masa aku nyerahin anak-anak ke dia sih!" tolak Manya langsung.


"Atau Suster Dita?" Manya lagi-lagi menggeleng.


"Sudahlah, aku akan bawa Tita dan Mai bersamaku jika bekerja dan menitipkan bersama suster Lilis, hanya beliau yang cocok. Sayang, Suster Lilis nggak mau jadi pengasuh anak karena punya ibu yang mesti ia urus juga," ujar Manya.


Pagi menjelang, Amertha dan Maira kembali menitipkan putri-putri mereka pada Manya. Wanita itu langsung mengambil stroller khusus bekas bayinya. Ia membawa dua bayi itu bersamanya.


"Kau mau bawa kemana?" tanya Jovan.


"Ke ruang praktek ku," jawab Manya polos.


"Aku tak mendapatkan perawat yang cocok untuk dua anak aktif ini," lanjutnya menjelaskan.


Jovan pun akhirnya mengangkat kereta itu dan mengikatnya di kursi depan bersama Praja. Sedang Maira dan Amertha menyerahkan sepenuhnya pengasuhan putri-putri mereka pada anak dan menantunya.


"Apa istrimu itu memang tak bisa mengawasi Maizah?" tanya Aldebaran kesal, "Sampai harus Manya yang menjaga adik iparnya?"


Abraham mengendikkan bahu tanda tak tahu. Sedang Ramaputra hanya menggeleng, kini sang istri sering ikut bersamanya, entah kenapa setelah sekian lama wanita itu tak pernah mau mengintili suaminya.


"Mommy kenapa tumben ikut?" tanyanya.


"Kenapa, apa aku mengganggumu?" tanya wanita itu mulai marah.


Ramaputra menggaruk kepalanya yang gatal. Rudi hanya diam dan membiarkan satpam sah tuannya mengikuti mereka. Ia yakin jika sang nyonya sedang merasa jika suaminya ada yang menggoda.


"Selamat siang, apa Tuan Artha ada?" sebuah suara yang begitu lembut.


"Sedang bersama istrinya Nona Sintya," jawab Rudi sambil mengumpat pada gadis tak tau malu di depannya.


"Oh ... kalau begitu jika istrinya pergi, apa bisa saya bicara pada Tuanmu. Ini penting," pintanya dengan suara begitu merdu mendayu.


"Kemungkinan istrinya akan sampai Tuan pulang Nona!" jawab Rudi menyeringai sinis pada Sintya.


Gadis dengan balutan ketat dan seksi itu hanya mencebik kesal. Ini usaha ketiganya dan selalu gagal. Rudi yang memotong jalan perempuan itu menggoda tuannya.


Bersambung.


Pelakor datang lagi.


Next?