
"Apa mommy?" tanya Leticia tak percaya.
"Iya sayang, ternyata saudaramu menikah dengan putra tunggal dari keluarga Dinata," jawab Amertha dengan wajah gembira.
Tentu wanita itu belum tau hubungan Leticia dengan Jovan sebelumnya. Gadis itu belum memberitahunya.
"Menikah dengan putra Dinata?" cicit gadis itu lirih.
Leticia ingin menangis mendengar hal itu. Ia masih penasaran bagaimana Jovan menikahi putri kandung dari orang tuanya itu.
"Tapi bagaimana bisa, setauku Jovan tak memiliki kekasih?" tanya gadis itu lagi dengan hati yang sangat sakit.
Amertha mengerikan kejadiannya. Wanita itu menjelaskan tentang kecelakaan yang terjadi pada Jovan hingga membuat dia harus menikah dengan Manya.
"Apa ... apa itu sah? Jovan hilang ingatan?" tanyanya lagi.
"Jovan ingat nama panggilannya saja, tapi Manya ingat siapa dirinya. Kata pak ustad yang penting adalah mempelai wanita yang komplit datanya," jawab Ramaputra gamblang.
Leticia hanya diam dan tersenyum kaku. Ia ingin sekali menjerit dan memberitahukan jika dirinyalah kekasih Jovan sesungguhnya.
"Jovan bilang akan mengusut siapapun yang mencelakainya kemarin," ujar Amertha yang membuat Leticia bergetar.
"Mom, mam, Dad, pa ... aku ingin istirahat dulu, apa boleh?"
Melihat wajah Leticia yang pucat tiba-tiba membuat semua panik.
"Sayang, apa perlu mama panggil dokter?" tawar Renita khawatir.
"Tidak perlu ma, aku hanya ingin istirahat sebentar," pintanya setengah memohon.
Renita mengangguk dan menuruti keinginan putrinya. Ia mengantarkan Leticia ke kamar bersama Amertha.
"Kamarmu indah sekali sayang," puji ibu susu gadis itu.
Leticia telah berbaring di ranjangnya. Renita mengecup keningnya. Sedang Amertha mengecup pipi anak gadisnya. Keduanya pun pergi keluar dan menutup pintu.
Setengah mati, Leticia menahan isak tangisnya. Ia benar-benar hancur mendengar kabar pernikahan itu ternyata benar adanya. Bahkan Manya juga pernah ia jumpai dan malah ia kena pukul oleh wanita itu.
"Jovan ... huuuu ... uuu ... aku ... hiks ... hiks ...!"
Leticia tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia terus menangis dan akhirnya terlelap. Amertha dan Ramaputra pamit pulang, mereka masuk ke kamar gadis itu.
"Kenapa dia, seperti habis menangis?" tanya Rama khawatir.
Pria itu mengecup dan menghapus jejak basah di wajah putrinya. Amertha melakukan hal yang sama.
"Baik-baik ya sayang, jaga kesehatanmu. Kami akan datang lagi bulan depan ketika Konsul kesehatan terakhirmu," ujar Amertha.
Keduanya pun meninggalkan Leticia. Gadis itu terbangun setelah dua jam kepulangan kedua orang tuanya.
"Selamat sore sayang, ayo bangun!" titah Renita.
Leticia melenguh manja. Renita terkekeh mendengar nada manja anak gadisnya.
"Ayo sayang," ujar wanita itu menarik tangan sang putri yang menggeliat.
"Setelah mandi kita shopping sayang," ajak Renita yang membuat senyum di wajah Leticia.
Gadis itu sudah lupa dengan berita yang ia dengar tadi pagi dari ayah dan ibunya. Bisa dibilang Leticia memilih melupakan semuanya. Gadis itu berpikir cepat.
"Sebelum Jovan mengetahui semuanya, sebaiknya aku menurut dengan dia yang tak menginginkan diriku," gumamnya dalam hati.
Sedang di ruang kerja Jovan. Praja menyerahkan beberapa berkas. Salah satunya hasil penyelidikan tentang kasus kecelakaan yang menimpanya dua tahun lalu.
"Tuan, Nona Leti ...."
"Sudah cukup Praja!" potong pria itu cepat.
"Aku sudah tau, karena aku sendiri yang mendengar percakapan keduanya ingin mencelakakan aku," lanjutnya.
"Tuan Rendi Irawan, tengah melakukan rehabilitasi, tuan!" ujarnya.
"Sedang Nyonya Leonita kini menjual semua saham untuk menutupi utang kartu kreditnya," lapor pria itu.
Jovan mengangguk. Sedang tentang pamannya yang masih meringkuk di tahanan tak ada yang menjenguk. Istri yang ia cintai menceraikannya dan menikah dengan pria lain.
"Paman Andika Dinata ... kau malah mau menjerumuskan darahmu sendiri dengan membunuhnya dan membela anak yang bukan darah dagingmu," gumamnya pelan.
"Tapi terima kasih, berkat itu aku bertemu dengan istriku sekarang," lanjutnya.
Pagi hari, Amertha datang bersama suaminya ke hunian baru putrinya. Ramaputra tampak puas walau ia ingin putri mereka membeli mansion.
"Aku nggak suka dengan rumah terlalu mewah dad," jawab wanita itu.
"Nggak apa kecil ... lebih hangat," ujar wanita itu lagi.
Sedang tujuh anak kembarnya sudah berjalan dengan kaki mereka. Kini seven A tengah bercocok tanam.
"Aduh ... kenapa dibiarkan kotor seperti itu!" teriak Amertha.
"Tidak apa-apa, mom. Para suster tau apa yang mesti dilakukan anak-anak," sahut Manya.
Amertha hanya menghela napas panjang. Ia hanya takut tanah itu masuk mulut ketujuh bayi yang kini sudah penuh dengan tanah itu.
"Moma ... penata temalin pidat itut?" tanya Alaina.
Bayi cantik itu berjalan dengan berjinjit. Memakai sepatu rumah dan berbunyi.
Bayi itu senang dengan bunyi yang dihasilkan oleh alas kakinya itu. Ia melompat-lompat terdengar lah suara decitan yang memekakkan telinga.
"Babies ... sudah ya, ayo mandi!' titah Manya.
Para suster langsung membersihkan mereka dengan tisu basah. Amertha dan Maira menggandeng bayi yang lain dan memandikan.
"Mom bajumu basah," ujar Manya.
"Iya sayang, mommy nanti pinjam bajumu ya," Manya mengangguk.
Ramaputra sudah ke kantor setelah melihat rumah putrinya itu. Sementara Maira akan datang sebentar lagi.
Sore menjelang. Hunian baru Jovan dan Manya kini hadir dengan kedua orang tua mereka masing-masing berikut Aldebaran.
"Bagaimana keadaan Leticia mom?" tanya Manya hampir melupakan saudaranya itu.
"Dia baik sayang. Bulan depan adalah konsuling terakhirnya. Semoga dia makin baik saja,"
Semua mengamini harapan Amertha. Baik Abraham tak mengungkit jika Leticia pernah menjalin asmara dengan Jovan sebelumnya, begitu juga Maira.
Mereka akhirnya pulang ke mansion masing-masing. Maira dan Abraham begitu juga Aldebaran.
Maira sudah ada di kamarnya. Abraham merebahkan diri di sisi istrinya. Keduanya saling tatap dan kemudian mengecup bibir sebentar.
"Kenapa kau diam tentang hubungan Jovan dan Leticia?" tanya pria itu.
"Papi juga diam aja tuh," sahut Maira santai.
"Papi tak pernah menganggap serius hubungan mereka dulu. Karena Leticia yang tak pernah memperkenalkan putra kita pada kedua orang tuanya," ujar Abraham mengaku.
"Mami juga mana pernah anggap Leticia itu kekasih Jovan," sahut wanita itu.
"Tapi mami membiarkan Leticia memanggilmu mami," ujar Abraham tak habis pikir.
"Mami pernah memintanya memanggil tante, tapi gadis itu bersikukuh memanggil mami, jadi yaa ... gitu deh," jelas Maira panjang lebar.
"Sudah ah ... biarkan masa lalu Jovan hanya kita yang tau, buktinya Manya juga tak mempermasalahkan hal itu kan?"
Abraham mengangguk setuju. Mereka telah memutuskan untuk diam demi kebaikan bersama.
"Tapi Jovan bilang, jika Leticia tak terima dengan semua keputusannya. Ia memiliki kartu truf yang membuat gadis itu masuk penjara," ujar Abraham lagi.
"Semoga Leticia sadar dengan semua kesalahannya," ujar Maira.
Ketika Abraham ingin membuka mulut, wanita itu menyumpalnya dengan bibirnya. Akhirnya keduanya diam dalam ciuman yang hangat.
Sementara di kamar Leticia. Gadis itu menghapus satu-satunya foto dengan Jovan. Sebuah senyum penuh cinta diterbitkan oleh pria itu padanya.
"Aku menyesal ... hiks ... hiks ... aku menyesal sayang ... hiks!"
Foto itu terhapus dari galeri ponsel Leticia. Ia menangis tersedu dengan penyesalan yang dalam.
Andai dia yang bersabar dengan Jovan yang tak mau menyentuhnya sebelum menikah, andai gadis itu tak terbujuk dan malah candu dengan hubungan yang tak mestinya ia lakukan dengan lelaki lain selain suaminya nanti.
Leticia yang kecanduan bercinta bahkan dengan dua pria sekaligus.
"Semoga kau berbahagia sayang ...," doanya tulus.
bersambung.
nah ... gitu dong ...
next?