
Roland kini kembali ke perusahaannya akan ada gala lunch yang diselenggarakan perusahaan Abraham sahabat sekaligus rivalnya. Ia sudah memakai setelan formal terbuat dari sutra terbaik dan dijahit tangan oleh perancangnya sendiri.
Rolando sangat tampan, pria blasteran Italia-Jawa-Prancis itu bertubuh 178cm dengan bobot 70kg. Tubuhnya tegap dan bugar, walau ia adalah seorang player, tetapi ia tetap menjaga kebugaran tubuhnya. Ia juga mengkonsumsi makanan sehat. Makanya walau usianya sudah menjelang enam puluh tahun itu masih sehat dan gagah.
"Ferdy!" teriaknya.
"Saya tuan!' seorang pria datang dengan wajah sedikit bengap.
"Bagaimana, kenapa kau tak datang melapor!" teriaknya.
"Semua beres Boss, hanya saja mereka sialan minta tambahan," ujarnya berbohong. "Padahal saya sudah membayar mereka penuh sesuai perintah tuan."
"Lihat ini, mereka mengeroyok saya dan minta tambahan uang!" lanjutnya memperlihatkan muka lebamnya.
Roland mengangguk ia percaya dengan laporan bawahannya itu.
"Apa jadwalku hari ini?" tanyanya.
Ferdy langsung membuka tab di tangannya. Ia membacakan rutinitas sang atasan.
"Tuan Abraham mengundang kita makan siang di restauran baru miliknya, tuan," lapor Ferdy.
"Sialan ... makin besar saja usaha pria itu!" dumalnya kesal.
"Kita datang ke sana Ferdy. Pakai lah pakaian kau yang mewah, Kita tunjukkan kelas kita!" titah pria itu penuh jumawa.
"Selamat pagi tuan Roland, Tuan Ferdy!" sambut dua sekretaris mereka yang memakai baju ketat dan setengah transparan. Terlihat jelas areolanya yang hitam dan dengan pucuk mencuat keras. Kedua pria itu sangat senang dengan pemandangan itu.
"Kalian memang menggairahkan," ujarnya lalu meremas gundukan itu.
Roland hendak melepas kancing keduanya. Lalu memajukan mukanya setelah gundukan itu terlepas bebas. Menggigit pucuk keduanya.
"Tuan, meeting dengan divisi akan dimulai!" sahut Ferdy mengingatkan atasannya itu.
"Ck ... kau merusak kesenanganku saja!" gerutu pria itu..
Lalu ia dan asistennya itu pergi ke ruangan lain. Sementara dua sekretaris membenahi baju mereka dan memakai blaser dan menyusul tuannya.
Sementara di tempat lain. Jovan tengah mendandani putra dan putri kembarnya dengan pakaian formal. Bhizar, Abi, Syah dan Abraham sangat tampan dengan kemeja warna biru, hijau dan krem dipadu dengan obi dan dasi warna biru lalu dilapisi hem warna abu-abu selaras dengan celana kulotnya lalu terakhir sepatu kets warna hitam. Empat bayi kembar laki-laki itu sangat tampan.
Sedang bayi perempuan mengenakan kemeja warna pink, ungu dan jingga kerah berpita yang dimasukkan ke dalam rok kembang berwarna abu-abu, mereka juga sangat cantik dengan diakhiri sepatu kets warna hitam.
"Oh ... mereka tampan-tampan dan cantik-cantik sekali!" puji Amertha gemas.
Wanita itu suka sekali memfoto anak-anak dan mengirimkannya pada Leticia. Begitu juga hari ini, ia memfoto semua dan mengirimnya.
(Mommy ... kenapa mereka makin menggemaskan!) tulis Leticia.
Amertha tersenyum, ia hendak membalas pesan chat dari putrinya. Tetapi sang bayi laki-laki berulah dengan menarik gelas kopi milik kakeknya.
Ramaputra tiba-tiba berteriak hingga membuat semua anak terkejut dan menangis.
"Kenapa kau berteriak!" pekik Amertha kesal.
"Itu kopi panas mom!" sahut pria itu. Jovan menenangkan tujuh kembarnya itu. Manya datang dan langsung membawa mereka keluar ruangan.
"Baby, maafkan popa ya," ujarnya.
"Hiks ... hiks ... Biya popa ... hiks!"
Ramaputra mencium semuanya. Abraham tengah memeriksa keamanan.
"Apa kalian sudah siap?" tanyanya ketika Jovan mendatanginya.
"Sudah pi, bahkan istriku memakai celana panjang dan sepatu kets!" jawab Jovan.
Abraham mengangguk. Ia melihat di layar komputer layar kotak-kotak dua puluh kamera pengintai tengah beroperasi.
Bhizar berjalan santai dengan semua saudaranya. Tujuh bayi itu dikawal oleh dua puluh pria dewasa dan empat suster yang memakai celana panjang juga.
Blitz menyala, semua menutup matanya dan berjalan. Para suster hanya berjaga saja agar tak terjadi tabrakan karena para bayi berjalan dengan mata tertutup.
Hingga ketika Abi keserimpet kakinya sendiri dan hendak jatuh. Semua pengawal langsung memegangi bayi tampan itu.
"Atuh pidat pa'a-pa'a!" ujarnya.
Ia kembali berjalan di ikuti semua saudaranya. Kehadiran para bayi yang langsung disorot menjadi tranding di layar kaca.
"Seven Dinata's!" hanya tag line itu mampu menembus saham menjadi naik 20%. Harga saham tertinggi dan menjadikan perusahaan Dinata naik peringkat.
Ronald belum mengetahuinya. Ia masih sibuk dengan meeting para divisi yang tengah melaporkan harga saham yang tak pernah tembus 2% saja.
"Kenapa kalian bertanya pada ku kenapa harga saham tak pernah tembus dua persen?!" sentaknya.
Semua diam.
"Apa kerja kalian selama ini!" lanjutnya lagi lalu menggebrak meja hingga semua orang terlonjak kaget.
Ferdy yang melihat pergerakan saham sangat terkejut dengan kenaikan saham milik rival tuannya itu. Ia memilih tak melaporkan hal itu ketimbang nanti dia dihajar karena tak berhasil mengerjakan tugas terlebih pria itu tau kenapa saham itu naik.
"Sialan, ternyata dua pria itu berbohong!" makinya kesal dalam hati.
"Berapa harga saham Dinata!?" tanya Ronald.
Ferdy pura-pura mengecek perubahan data saham sebelum beberapa menit sebelum pergerakan yang tiba-tiba naik.
"Bergerak stabil di angka sama dengan kita tuan!" lapornya.
Beberapa orang mengernyit dengan laporan Ferdy. Mereka juga memegang ponsel yang melihat pergerakan saham. Tentu kebohongan Ferdy langsung ketahuan.
Beberapa di antaranya saling lirik pada Ferdy. Namun sebisa mungkin lirikan itu normal. Pria itu mengkodekan dengan jarinya membentuk o.
Semua mengerti tanda itu dan memilih mengikuti kebohongan dari asisten atasannya itu.
'Berbohong demi pekerjaan dan karir langgeng, tak masalah,' moto dadakan mereka.
Ronald mengangguk tanda puas. Masalah harga sahamnya tak tembus dua persen tak masalah selama rivalnya juga tak melebihi sahamnya.
Waktu gala lunch akan segera dimulai. Beberapa kolega sudah datang dari berbagai perusahaan. Semua disapa langsung oleh dua pengusaha ternama, Dinata dan Artha lalu di sebelah mereka berdiri istri-istri yang begitu cantik dan juga kaya raya semenjak mereka gadis. Amertha adalah owner produk kecantikan yang ternama dan juga beberapa hotel berbintang. Sedang Maira memiliki dua kapal pesiar hadiah dari mendiang kakeknya. Dari kapal pesiar itu Maira mengumpulkan pundi-pundi uang dan membangun banyak restauran dan taman wisata.
Ronald turun dari mobil mewah miliknya. Ferdy membuka pintu untuknya. Kedua pria itu memang tampan dan gagah, berjalan dengan dagu terangkat dan berjalan angkuh.
"Perkenalkan ini besanku, Ramaputra Artha,"
Ronald menelan saliva kasar begitu juga Ferdy. Keduanya nyaris pucat berhadapan pria itu. Tetapi netranya bertemu dengan netra seorang wanita, cinta pertama pria itu.
"Hai, Mai," sapanya lembut.
Maira hanya tersenyum tipis, lalu pandangan pria itu beralih pada Amertha yang anggun. Ia langsung terpana.
"Tuan!" bisik Ferdy memperingati atasannya.
Keduanya akhirnya masuk. Acara berlangsung. Semua menikmati dengan bercengkrama beberapa deal dan kerjasama terjadi. Hingga ....
"Saudara-saudara sekalian mari kita sambut tujuh keturunan Dinata!"
Semua menoleh, tujuh bayi kembar berjalan di panggung dan menatap para pengunjung. Ronald membelalak sempurna hingga nyaris keluar dari sarangnya.
"Ferdy ... sialan kau!" teriaknya dan membuat semua orang menoleh padanya.
bersambung.
Wak waw ...
next?