THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
KESEMBUHAN LETICIA



Amertha dan Renita bersama membantu putri mereka keluar dari kritis. Gadis itu kini sudah mulai therapy berjalan. Dokter sudah memeriksa tulang rusuk yang patah.


"Tak ada kendala. Semua tersambung dengan sempurna. Jadi tidak ada masalah kedepannya," jelas dokter.


"Tapi saran saya jangan terlalu berlebihan angkat beban dan bekerja terlalu keras," lanjutnya.


"Lalu apa rahim saya baik-baik saja?" tanya gadis itu tiba-tiba.


Dokter dan lainnya sampai menoleh pada Leticia, tak menyangka ada pertanyaan seperti itu.


"Tidak ada nona. Rahim anda baik-baik saja," jawab dokter yakin.


Leticia menghela napas panjang. Gadis itu lega mendengar jika rahimnya baik-baik saja. Gadis itu mulai terapi jalannya. Selama ia dirawat. Ia tak pernah sekalipun dijenguk oleh Jovan. Padahal pria itu kepala rumah sakit tempat ia berada.


Leticia sedih bukan main. Ia tahu jika ia bersalah pada pria yang masih ia cintai itu. Ia menyesal telah berencana ikut andil pembunuhan itu.


"Andai aku tak terhasut oleh Rendi, aku pasti masih disisinya dan mungkin kami menikah dan punya anak," khayalnya.


Penyesalan memang selalu datang di belakang hari. Gadis itu akhirnya menyerah kalah. Kalah akan. cinta yang sudah lama ia korbankan entah untuk apa.


Sedang di ruang prakteknya, Manya tengah memakan makanan yang dibuatkan oleh ibu kandungnya. Wanita itu senang sekali Amertha datang mengunjunginya setelah selesai therapy putrinya yang lain.


"Bagaimana keadaan Leti mom?" tanya wanita itu.


"Leticia baik sayang. Kemajuannya pesat sekali. Ibunya—Renita akan membawanya berobat di kota kelahirannya," jawab Amertha.


Wanita itu menyuapi putrinya dengan penuh kasih sayang. Kedua orang tua Jovan terkejut mendengar kenyataan yang terjadi pada menantunya itu. Mereka tak menyangka jika Manya adalah putri tunggal dari pebisnis nomor satu Ramaputra Artha.


Manya menatap wanita yang semakin lama semakin cantik ini. Ya, Amertha menjadi kelihatan cantik ketika menemukan putrinya. Wanita itu sangat bersemangat terlebih putri satunya lagi sudah sembuh.


"Mom, apa benar mommy sempat keguguran?" tanya Manya.


Amertha terdiam sesaat. Wanita itu mencoba cari tahu apa yang diketahui putrinya itu.


"Ya, mommy pernah keguguran, tapi itu lama sekali. sekitar sembilan belas tahun yang lalu," jawab wanita itu menjelaskan.


"Kenapa kau bertanya?" tanyanya kembali.


"Mommy nggak mau hamil lagi?"


"Manya ... jangan bercanda sayang. Sekarang usia mommy sudah lima puluh tahun!" sahut wanita itu membelalakkan mata tak terima.


"Mommy bisa kok hamil jika mau," Amertha menolak keras.


"Tidak. Mommy nggak mau hamil!"


Manya diam. Ia sangat menyayangkan sekali jika mommynya menolak hamil.


"Memang kenapa kau bertanya seperti itu sayang?" tanya Amertha bingung. "Kau ingin adik lagi? Ingat anakmu sudah tujuh!"


Manya terkekeh. Wanita itu memang ingin adik dari ibunya.


"Kau memiliki saudara sesusu, sayang," ujar Amertha mengingatkan.


Manya hanya diam saja. Ia tersenyum menanggapi perkataan ibunya itu. Amertha melihat jika ada yang disimpan oleh putrinya.


"Apa ... kenapa kau sepertinya tak bersemangat ketika tau memiliki saudara sesusu?" tanya wanita itu lagi.


Manya hanya menggeleng. Masa lalu itu ingin ia lupakan. Melupakan bagaimana Leticia pernah menguntit dan bahkan menyerangnya. Masa lalu jika suaminya dulu adalah kekasih Leticia.


"Tidak ada mom. Aku hanya sedikit lelah," Manya jujur untuk itu.


Kini keduanya keluar dari ruang praktek, Manya ada satu jadwal operasi. Wanita itu kini mengambil spesialis bedah. Jovan menyetujui selama anak-anak dan dirinya tak diabaikan oleh Manya.


"Aku kerja mommy, sampai jumpa besok," ujar wanita itu.


"Iya sayang," sahut Amertha tersenyum manis.


Amertha menuju ruang rawat putrinya yang lain. Besok, gadis itu akan ikut bersama ibunya—Renita.


"Mommy, apa kau akan merindukan aku?" cicit Leticia.


"Tentu sayang, kenapa kau bertanya seperti itu?" ujar Amertha sedih.


Leticia mengangguk keduanya saling memeluk, Ramaputra juga ada di sana. Ia akan terus memantau putrinya itu.


"Kau tau kan mata-mataku banyak?" Leticia mengangguk.


Sedang Rudi hanya menatap nanar gadis yang dari dulu hingga sekarang ia cintai dalam diam. Pria itu baru tau jika nona muda bukan lah putri kandung atasannya. Kini mereka pulang ke mension Ramaputra. Gadis itu sudah diperbolehkan pulang.


Ketika menuju lobby. Leticia yang didorong oleh kursi roda oleh ayahnya — Irham. Melihat Jovan yang sedang berjalan menuju lift. Wajah pria itu yang dingin dan datar. Jovan hanya mengangguk saja pada semua karyawan atau staf medis yang menyapanya.


Leticia ingin berteriak memanggilnya. Tapi, belum sempat ia panggil. Pria pujaannya itu sudah masuk lift. Leticia yakin jika pria yang ia klaim kekasihnya itu melihat dirinya.


"Sa—yang ...."


Lirih ucapan Leticia memanggil pria pujaannya itu. Pintu tertutup, tak ada sedikit pun niat Jovan untuk sekedar menatap kembali tatapan gadis itu. Pria itu tetap datar dan dingin.


Leticia sedih melihatnya. Tangannya yang nyaris ia angkat, ia letakan kembali ke pangkuan pahanya.


"Kau lihat siapa sayang?" tanya Irham yang melihat tatapan putrinya.


"Bukan siapa-siapa papa," jawabnya lirih.


Kursi roda Leticia terus bergerak dan kemudian masuk mobil mewah. Lalu semua masuk mobil dan perlahan bergerak meninggalkan rumah sakit.


Sedang di dalam lift hanya keheningan terjadi. Praja yang berada di sisi pria itu juga enggan membahas dengan apa yang ia lihat barusan.


Pintu lift terbuka. Jovan akan kembali ke ruangannya dan mengerjakan semua berkas yang sudah dirapikan kembali.


Usai membereskan semua kekacauan yang ditinggalkannya mantan kepala rumah sakit terdahulu. Pria itu akhirnya bernapas dengan lega. Tasya yang sedari tadi memperhatikan atasannya berinisiatif.


"Tuan, anda sepertinya lelah, apa butuh kopi?" tawarnya penuh perhatian.


"Tidak, terima kasih!" tolak pria itu cepat.


"Praja, kapan jadwal operasi istriku selesai?" tanya Jovan.


"Sekitar setengah jam lagi tuan!' jawab Praja sambil melihat jam tangan merk Fossil di lengan kanannya.


"Baiklah, aku ke ruangannya. Kau pulang saja Praja!" titah pria itu.


Praja membungkuk hormat. Jovan berdiri dan berjalan. Tasya bersungut dalam hatinya. Ia memiliki rencana besar untuk mendapatkan pria pujaannya itu.


"Aku pasti mendapatkan mu tuanku," gumamnya tersenyum penuh rencana.


"Tasya!' panggil kepala staf.


"Eh ya?!"


"Ini surat kepindahanmu ke daerah C!"


Gadis itu terkejut dengan surat pemindahan dirinya.


"Tapi kenapa saya dipindah, apa salah saya?" tanyanya.


"Di daerah C, kami kekurangan karyawan. Kamu cukup berkompeten jadi kami memutuskan untuk menempatkan mu di daerah C," ujar kepala staf.


"Kalau saya menolak?" tanya Tasya.


"Kamu dipecat," jawab kepala staf enteng.


Rumah sakit terbesar ini berada di tiga daerah. Daerah C merupakan daerah rumah sakit anak-anak dan ibu hamil. Jaraknya cukup jauh sekitar dua kilometer.


Mau tak mau Tasya mengambil tasnya. Ia tentu tak mau jadi pengangguran dengan biaya hidup yang mahal di jaman sekarang. Gadis itu memilih menurut untuk pindah.


"Jodoh tak akan kemana ... tuanku, aku pasti datang kepelukanmu," doanya penuh harap.


bersambung.


et dah Tasya !


next?