
Permintaan Ramaputra membuat pria itu ingin tenggelam di gunung es. Ia tak percaya jika atasannya itu meminta kesediaannya menikahi gadis lain.
"Tuan, saya menolak!" jawab Rudi tegas.
"Maaf Rudi, jika kau memang ingin membalas jasa. Kau harus menurut kali ini!" ujar Ramaputra tegas.
"Tuan!"
"Cukup Rudi. Jika kau menolak, silahkan tinggalkan perusahaan ini!" tekan Ramaputra.
"Jangan sepelekan aku Rudi. Selama ini kau memang yang menangani semua perusahaan. Tetapi aku adalah pion utama di sini!" lanjut pria itu begitu arogan.
Rudi terdiam, pria itu memang selama ini hanyalah bayang-bayang Artha. Ia tak memiliki apapun tanpa Artha. Bahkan jika ia berdiri sendiri, tak ada yang mengenal Rudi Hardiansyah, yang mereka kenal adalah Rudi Artha.
"Ternyata, aku bukan siapa-siapa tanpa Tuan Artha," gumamnya lirih.
Pria itu mengambil ponselnya satu nomor yang ia kenali. Ia menekan dan melakukan sambungan telepon. Berkali-kali, ia menelpon gadis pujaannya. Tetapi sepertinya Leticia enggan mengangkat te;epon dari pria itu.
“Sayang ... angkatlah jika kau mencintaiku!’ pinta Rudi setengah putus asa.
Sedang di tempat lain. Leticia bergeming dengan bunyi teleponnya. Bukan ia tak tau siapa yang menelepon, lagu khusus memang sengaja dipasang untuk pria pujaannya itu.
“Ku ingin saat ini engkau ada di sini ...,” sebuah lagu dari Admesh. Jika lagu itu tentang ibu maka di pikiran Leticia menginginkan sosok yang meneleponnya ada di sisinya saat ini. Air mata gadis itu tak berhenti mengalir.
Baru saja sang ayah menekan gadis itu lagi. Ia harus bersiap dengan pernikahan bisnis yang Irham ciptakan dengan salah satu koleganya. Gadis itu melihat harapan besar dari sang ayah pada keputusannya. Leticia harus membuang cintanya.
“Aku mencintaimu ... sungguh aku sangat mencintaimu,” ujarnya tergugu. “Tapi cintaku lebih untuk keutuhan rumah tangga ayah dan ibuku.”
“Maafkan aku sayang ... maafkan aku,” ujarnya lirih.
“Jika Tuhan memberi kesempatan aku mengulang hidup, aku akan mengejarmu dan menjadi istrimu hingga tujuh kehidupaan di dunia dan menjadi istrimu selamanya di akhirat!” sumpahnya.
Sementara itu Rudi yang tak mendapat respon dari gadis pujaannya. Pria itu menelepon ayah sang gadis. Ia mencoba sekali lagi meminta pria itu membuka jalan untuknya bersanding dengan Leticia. Sayang, pria itu malah membentak dirinya ketika sambungan diangkat.
“Jangan meneleponku anak sialan!”
“Saya mencintai putri anda Tuan!” teriak Rudi putus asa.
“Jangan mimpi!” ketus Irham memutus sambungan telepon.
Rudi menatap layar ponselnya yang sudah gelap, ia benar-benar putus asa. Untuk menelepon Amertha atau Renita, ia ragu akan berhasil. Namun segala cara ia lakukan agar cintanya terwujud.
Pertama ia menelepon Amertha, sepuluh kali ia melakukan panggilan sepuluh kali panggilan itu ditolak, bahkan ketika melakukan panggilan terakhir, nomor yang dihubungi tidak aktif.
Rudi masih menekan kesabarannya, pria itu menelepon wanita kedua, ibu dari Leticia. Hal sama terjadi, tetapi pada panggilan ke lima, Irham yang mengangkat panggilan itu dan kembali memakinya.
"Jangan hubungi istriku!"
Rudi benar-benar merasa putus asa. Ia benar-benar tak bisa memperjuangkan cintanya.
"Leticia ... Leticia ... hiks ... hiks!"
Rudi menangis tersedu. Pria itu kalah telak karena cintanya berakhir begitu saja. Ponselnya berdering, nama sang atasan ada di layar. Pria itu sebisa mungkin menenangkan dirinya.
"Rud, aku harap kau sudah memutuskan. Sekarang katakan apa keputusanmu?" tanya Ramaputra di seberang telepon.
"Baik Tuan. Saya setuju!" jawab Rudi.
"Bagus. Siapkan dirimu, kau langsung menikah minggu ini!" ujar Ramaputra.
"A-apa?"
"Kenapa ... kau keberatan?" tanya sang atasan gusar di seberang telepon.
"Saya ... tidak mengenalnya, " cicit Rudi tak berdaya.
"Kau akan mengenalnya setelah menikah!" putus Ramaputra.
Sambungan telepon berhenti. Rudi seperti tak memiliki nyawa, pria itu mendudukkan dirinya di lantai. Ia menyandarkan punggungnya di tembok. Menatap plafon ruangan Presdir. Suatu saat ruangan ini bukan lagi miliknya ketika Reece dewasa nanti.
"Leticia ... aku mencintaimu," gumamnya.
"Sayang, Rudi tadi mencoba meneleponku," ujarnya.
"Lalu?"
"Aku tak menjawabnya. Aku memilih mematikan ponselku," jawab wanita itu.
"Maaf, sayang. Aku harus menekan Rudi. Aku harap kau mau menolongku," pinta pria itu.
"Kasihan anak itu. Ia sepertinya terpukul. Ia begitulah mencintai putri kita," ujar wanita itu lagi.
"Aku tau, tapi ini adalah yang terbaik," ujar Ramaputra dengan nada menyesal.
Persiapan pernikahan Rudi memang tidak terendus. Ramaputra menutupinya dengan sangat baik, pria itu sendiri yang menangani dan menyiapkan semuanya.
"Semua data sudah dikirim, tanggal pernikahan sudah ditetapkan. Tinggal baju pengantin!" ujar pria di seberang telepon.
"Yang biasa namun elegan!" sahut Ramaputra.
"Istriku sudah memilihnya, gaun sutra rancangan designer ternama," ujar pria itu. "Dia baru saja selesai fitting gaunnya!"
"Aku sudah menerima baju pengantin prianya. Rudi baru saja mengepaskannya, dia terlihat sangat gagah walau wajahnya ... kacau sekali!" ujar Ramaputra.
"Aku tak peduli, yang penting putriku bahagia!" tekan pria di ujung telepon.
Sambungan terhenti. Ramaputra menghela napas besar. Pesta pernikahan ini memang sengaja tak diekspos ke media. Koleganya ingin ketika pesta besarnya saja baru diumumkan.
"Aku harap telah memberikan keputusan yang benar," monolog Ramaputra.
Rudi seperti mayat hidup. Tak ada sinar kebahagiaan dari wajahnya menyambut pernikahan yang tinggal menghitung hari.
"Tersenyum lah Rudi!" titah Ramaputra. "Jangan membuatku malu!"
Rudi seperti robot yang mengikuti perintah tuannya. Ia tersenyum walau dipaksakan. Pria itu benar-benar dibunuh karakternya.
Hari yang dinantikan tiba. Ramaputra mengajak Jovan dan asistennya untuk ikut dalam hari bersejarah bagi Rudi. Hal itu membuat Jovan dan Praja terkejut bukan main.
"Memangnya Rudi menikah dengan siapa Dad?" tanya Jovan.
"Salah satu kolega Daddy," jawab Ramaputra santai.
Praja melihat bagaimana Rudi begitu tersiksa. Ia memang sangat tampan dengan balutan formal yang mewah namun elegan. Rudi juga sangat tampan walau wajah dingin dan tanpa ekspresi diperlihatkan oleh pria itu.
"Rud, yang sabar ya," ujar Praja iba.
Rudi tak menanggapi. Mereka meluncur ke lokasi, Semua benar-benar dipersiapkan bahkan para wartawan yang hadir terkejut dengan pesta dadakan dua pengusaha terkenal ini.
"Ayo turun!" titah Ramaputra.
Rudi turun dengan balutan formal warna putih, semua berdecak kagum akan ketampanan pria itu. Ramaputra lagi-lagi menekan bawahannya untuk tersenyum.
"Lunakkan hatimu. tersenyum lah!" bisik pria itu.
Rudi menarik sudut bibirnya terpaksa. Pria itu berjalan begitu lambat ke tempat di mana ada kursi di sana. Rudi tak melihat sama sekali siapa yang ada di sana pikirannya kosong.
"Duduk lah!" pinta Ramaputra.
Rudi masih tak sadar akan sekelilingnya, pria itu seperti hewan yang patuh atas perintah tuannya.
"Jabat tanganmu pada walimu, Nak!" pinta penghulu.
Ramaputra membantu Rudi mengangkat tangan dan bersalaman dengan wali dari pengantin wanita.
"Apa sudah siap!" Ramaputra mengangguk.
"Ananda Rudi Hardiansyah, aku nikahkan dan kawinkan kamu dengan putri kandungku, Leticia Renina Wijaya dengan mas kawin satu set perhiasan berlian dan uang senilai satu juta dolar di bayar tunai!"
bersambung.
next?