
Denta berdiri bersama seven A plus Anton dan Nita berhadapan dengan sepuluh anak kelas lima. Seven A hendak pergi ke kantin, Denta hendak mentraktir sahabatnya itu dan menyambut Nita sebagai bagian dari mereka.
"Hei anak kecil ... serahin uang kalian!" todong salah satu anak kelas lima.
Tubuh mereka hampir sama besar. Para suster tidak ikut karena percaya jika tidak ada apa-apa di sekolah ini.
"Mau apa kalian? Uang?" tanya Denta santai.
"Iya ... serahkan uang kalian!" bentak anak kelas lima.
Nita bertubuh kecil di antara semuanya menyelip dan langsung melapor pada guru.
"Kita nggak mau kasih!" sahut Abraham berani.
"Eh ... anak bule ... kamu itu penjajah. Kamu nggak berhak ada di sekolah ini!' sahut salah satu anak kelas lima.
"Siapa yang menjajah!" teriak Laina tak terima.
"Nenek moyang kalian tuh penjajah!" sahut anak kelas lima.
"Yang jajah Indonesia itu orang Belanda!" sahut Lika melipat tangannya di dada.
"Kami orang Indonesia!" lanjutnya.
"Mana ada orang Indonesia rambutnya bule sama matanya biru!" celetuk salah satu anak kelas lima.
"Karena ayah kami bermata seperti itu!" sahut Lika lagi.
"Halah ... banyak bicara!" sentak anak laki-laki yang sepertinya ketua mereka.
"Cepat serahin uangnya!"
"Nggak!" tolak Denta.
Anak kelas lima itu hendak merangsek menarik kerah Denta. Anak bongsor itu langsung memukul anak kelas lima hingga tersungkur ke lantai.
"Hey ... apa-apaan ini!' pekik pak guru datang bersama Nita.
Kini mereka semua ada di ruangan BP. Sepuluh anak kelas lima menunduk, seven A, Denta, Anton dan Nita tentu tak bersalah. Empat suster cukup terkejut ketika melihat seluruh anak digiring ke ruang BP.
"Seven A?"
"Kita nggak salah Suster. Mereka mau malak kita!" ujar Syah memberitahu.
Sepuluh anak dipanggil orang tuanya. Mereka langsung dimarahi. Terutama yang menjadi ketua mereka.
"Doni, Papa udah cape ngurus kamu ya. Papa nggak pernah nggak kasih kamu uang jajan!" teriak seorang pria begitu marah.
Sedang sang anak hanya menunduk dengan air mata. Pria itu menarik putranya, Wati sampai menegurnya.
"Jangan dipukul anaknya Pak! Itu nggak akan menyelesaikan masalahnya!'
"Jangan ikut campur kamu. Ini anak saya!" bentak pria itu.
"Saya akan ikut campur jika anda menggunakan kekerasan seperti itu!' bentak Wati.
Sang anak menangis, kurang kasih sayang sang ibu yang sudah memiliki keluarga baru tak peduli pada putranya.
Sang pria akhirnya menggendong putranya itu. Ia meminta maaf pada sang putra.
"Jangan nakal dong Nak. Papa mohon," pinta pria itu.
"Kamu sayang Papa kan?" bocah itu mengangguk.
"Jangan seperti tadi ya?" bocah itu mengangguk.
"Sekarang turun dan minta maaf sama adik-adik kelas kamu!" perintah pria itu.
Bocah itu turun dan meminta maaf pada Denta. Bekas pukulan Denta masih terlihat di pipinya.
"Aku juga minta maaf karena udah mukul kamu," sahut Denta menyesal.
"Iya, nggak apa-apa. Aku yang salah kok!" sahutnya mengaku.
Akhirnya yang lain pun minta maaf. Masalah selesai, mereka kembali ke kelas. Tak lama Seven A keluar kelas karena memang waktu pulang ke rumah mereka. Seperti biasa Anton dan Nita diantar dulu oleh Sidik.
Setelah mengantar dua anaknya baru ia mengantar anak majikannya ke rumah. Pria itu akan pulang setelah majikannya juga sudah ada di rumah.
"Mama ... tadi kita dipalak loh di sekolah!" adu Abi pada ibunya yang baru saja datang.
"Apa!?" pekik Jovan tak percaya.
"Iya Papa, kita tadi hampir kena palak. Denta langsung mukul anak kelas lima itu sampai jatuh!" lanjut Bhizar memberitahu.
"Terus?" tanya Manya kini.
"Ya kita semua ke ruang BP deh. Sepuluh anak dipanggil semua orang tuanya!" jawab Laina.
"Damai ... kita damai,' timpal Syah.
"Hebat juga Denta bisa mukul anak yang lebih besar dari dia sampai jatuh," sahut Jovan kagum.
"Iya Pa! Kata Denta sih dia belajar beladiri taekwondo gitu," sahut Laina memberitahu.
"Pa, kita juga belajar bela diri dong!" pinta Abraham.
"Kalian masih kecil!" sahut Amertha kurang setuju.
"Denta juga masih kecil!" Abraham menyahuti neneknya.
"Baby," peringat Manya.
Abraham pun diam. Jovan tak memperdulikan itu. Ia akan mengajari sendiri seluruh anaknya beladiri.
"Papa yang akan mengajari kalian!"
"Papa Lees judha pawu pelajan pelalidi!" sahut Reece ikut-ikutan.
"Boleh," sahut Jovan.
Amertha tak dapat mengatakan apapun. Maira hanya diam saja, ia membiarkan semua keturunannya melakukan apapun selama itu baik dan benar.
Pagi menjelang, semua kembali sibuk. Anak-anak ribut, ada yang mencari sepatunya, ada yang mencari bukunya, tasnya, dasinya dan lain sebagainya.
"Ma ... mana dasi papa?"
"Ma ... Bhizarnya nih ... narik kepangan Lika!" pekik Lika.
"Mama Lees mawu pup!"
"Mama Baby Mai nompol!" adu Adelard.
"Mama ... Mama!" pekik Aqila ketika diganggu saudara kembarnya, Aidan.
Manya hanya menghela napas panjang. Maira dan Amertha menikmati keributan itu, keduanya memilih mengurusi suami masing-masing.
"Babies," keluh Manya lelah.
"Maaf sayang," ujar Jovan lalu mengecup pipi istrinya.
"Mama ... Lees mawu pup!" pekik Reece.
Suster yang menjaga Reece membujuk bayi tampan itu agar mau dibersihkan olehnya.
"Sama suster aja ya,"
"Mawu Mama!" teriaknya.
"Baby, mau ya ...," ajak suster hingga diberi hadiah lemparan botol oleh Reece.
"Mawu Mama!" pekik bayi itu galak.
Manya akhirnya turun tangan membersihkan adiknya. Setelah mengurus Reece, baru lah ia menuju dapur dan melihat apa sarapan dan bekal untuk putra dan putrinya sudah lengkap.
"Apa sudah semua Bik?" tanya Manya.
"Sudah Nyonya," jawab salah satu maid.
Manya memeriksa semua kotak bekal. Bukan ia tak percaya, tapi ia benar-benar memastikan jika makanan itu ada di tempatnya.
Setelah melayani anak dan suaminya sarapan. Manya bergegas naik ke atas dan mandi. Ia turun anak-anak sudah pergi ke sekolah.
"Ayo cepat Ma!" teriak Jovan.
Manya memakai sepatunya buru-buru. Ia mengecup ayah ibu dan kedua mertuanya lalu ketiga anak kembar juga ketiga adiknya.
"Pergi dulu ya!"
"Hati-hati Mama, Papa Yayah, Popa!" ujar Aqila melambaikan tangannya.
Sedang di sekolah, anak-anak duduk di kursinya masing-masing. Empat suster menunggui seven A dengan kotak bekal mereka masing-masing. Seorang pria mendekati Wati.
"Pagi Sus!" sapanya.
Wati dan lainnya menoleh. Wati mengerutkan keningnya. Pria kemarin yang ia tegur karena memukul anaknya.
"Pagi juga Pak. Nungguin anaknya?"
"Iya nih. Kebetulan saya masuk kerjanya sore," jawab pria itu.
Wati mengangguk. Tiga rekannya sengaja memberi ruang pada temannya itu. Mereka melihat jika pria itu hendak melakukan pendekatan pada Wati.
"Sus, menurutmu duda itu gimana?" tanya pria itu berani.
"Memangnya kenapa dengan duda?" tanya Wati bingung.
"Saya duda," jawab pria itu.
"Trus?' tanya Wati tak mengerti.
"Saya suka sama kamu. Mau nggak jadi istri saya?!" tembak pria itu langsung.
bersambung.
Weeeh... langsung tembak.
next?