
Mereka semua menuju dermaga. Seven A memanggul ransel berisi baju, begitu juga yang lainnya. Kedatangan mereka disambut oleh kapten kapal. Tentu semua mengenal siapa Aldebaran Rougher Dinata. Pebisnis tersukses, terlebih ada Ramaputra Artha, Irham Wijaya dan Eddie Downson. Ketiganya adalah pebisnis handal dengan kekayaan di atas rata-rata. Belum lagi anak-anaknya.
"Selamat datang Tuan Rougher Dinata!" sambut Kapten kapal.
Seorang gadis cantik memakaikannya kalung bunga. Aldebaran menundukkan kepala, Maira mencibir ayah mertuanya yang dikerling genit oleh gadis yang mengalunginya bunga.
"Daddy tuh," bisiknya pada suami sebal.
"Ssshh! Sudah jangan berisik!" bisik Abraham.
Semua diminta masuk dan memasuki sebuah ruangan paling besar dan mewah di kapal. Satu ruangan itu ada dua puluh kamar dengan kamar mandi masing-masing di dalam. Para bayi tentu diletakkan di kamar bersama para suster mereka seven A juga dibagi dua oleh Manya.
"Mereka masih kecil, jadi nggak masalah lah kalau jadi satu, terlebih mereka kan bersaudara," ujar Leticia.
"Tidak boleh. Walau mereka bersaudara, tetap saja mereka beda kelamin. Aku tak mau anak-anakku tau sesuatu yang seharusnya belum ia tahu!" sahut Manya tegas.
Leticia terdiam, ia pun setuju dengan pendapat mantan rivalnya itu. Ia juga akan memisahkan kamar tidur Baby Raiden dan Baby Raichia ketika sudah besar nanti.
Semuanya kini duduk di balkon. Sisi kapal dilindungi pagar fiber transparan yang tingginya sedada orang dewasa. Semua anak dijaga oleh suster mereka ketika kapal mulai perlahan berlayar.
Dot! Dot! Bunyi sirine kapal yang hendak lepas dari dermaga. Liam, Reece dan Triple A bersorak ketika melihat benda besar yang mereka tumpangi bisa mengapung di air.
"Wah ... tapal imi sasaib!"
"Sasaib?" semua bingung dan mencerna perkataan bayi mau empat tahun itu.
"Apa itu artinya ajaib?" tanya Jovan pada istrinya. .
"Sepertinya begitu," jawab Manya.
"Moma ... teunapa tapal seupesal imi pisa beldelat bitatas ain?" tanya Aqila pada Amertha.
"Karena benda ini dibuat seperti itu sayang," jawab wanita itu.
"Pidat pendeleum?" tanya Aqila memastikan.
"Tidak Baby,"
"Pana pumba-pumbana?" tanya Liam mencari salah satu hewan cerdas itu.
"Biasanya lumba-lumba datang ketika sore hari," sahut Bhizar.
"Kita nanti lihat itu di tengah sana Nak. Kata kapten tadi, ada beberapa lumba-lumba yang naik ke atas permukaan laut," ujar Aldebaran.
Benar saja, ketika di tengah perjalanan. Lika bisa melihat lumba-lumba itu.
"Itu dia lumba-lumbanya!" pekiknya.
Semua langsung menuju sisi kapal, hanya Aqila yang takut ke pinggir kapal, ia langsung memperingati semua saudaranya.
"Wawas banti tapalna milin peubelah woh!"
"Baby, nggak akan miring sayang,"
Aqila yang ada di gendongan Irham tampak memeluk keras pria itu. Akhirnya mereka ada di pinggir dan melihat lumba-lumba melompat di sisi kapal.
"Waaah ... itan!" pekik Aqila masih setia memeluk Irham dengan erat.
Lima jam mereka ada di laut. Kini kapal itu merapat di sebuah dermaga. Semua turun dan melanjutkan perjalanan ke pantai Senggigi Lombok. Laina dan Agil mengumpulkan banyak kerang.
"Buat apa sayang?" tanya Maira.
"Mau buat perhiasan Moma,"
"Kenapa nggak beli aja Baby. Itu ada di sekitar pasar banyak kan tadi kita lihat," ujar Amertha.
"Mahal Moma. Tadi Laina tanya harga satu kalung masa lima puluh ribu," jawab Laina sedikit kesal.
"Itu murah sayang. Kan ada seni, ada alat-alat yang digunakan belum lagi tenaga. Juga campuran kimia agar kerang terlihat mengkilat," jelas Amertha.
"Jadi susah ya Moma, kalau buat sendiri?" tanya Laina.
"Iya sayang,"
"Padahal Laina pengen buat sendiri trus dijual ke temen-temen dengan harga murah,"
Amertha mengelus kepala cucunya. Otak bisnis sudah terpatri di kepala kecil mereka. Abraham pun sudah membeli beberapa baju dan souvernir dengan harga murah. Bocah itu pandai menawar.
"Ini berupa Om?"
"Seratus ribu tiga ya?" tawarnya.
"Nggak dapet Dik!" kekeh pedangan dengan wajah datar.
"Oh, ya udah deh,"
Abraham meninggalkan pedangang itu. Ia mendatangi toko lain. Ternyata harganya nyaris sama bahkan ada yang mahal.
"Kalau mau murah, mending ke pasar saja," ajak pemandu wisata. "Di sana memang sedikit kotor tapi harga bisa separuhnya namun memiliki kualitas sama dengan di sini," jelasnya.
Akhirnya mereka pun bergerak ke pasar. Rata-rata mereka belanja baju-baju, Bahkan Renita mendapat harta karun, seperti baju merek dhior yang masih bagus.
"Banyak turis menginap dan meninggalkan baju-baju mereka, rata-rata masih bagus dan layak pakai, Bu," jelas salah satu pedangang.
Abraham, Agil, Lika dan Laina mendapat banyak barang untuk dibagi sebagai oleh-oleh dan sebagian untuk dijual lagi.
"Baby, kamu nggak beli?" tanya Maira pada Bhizar, Abi dan Syah.
"Nggak Moma. Kami sudah punya rencana sendiri," jawab Abi yang diangguki Bhizar dan Syah.
Selesai berbelanja, mereka menuju restauran dan makan siang. Tak lama setelah mengabadikan di kamera ponsel mereka. Kini semuanya kembali ke kapal pesiar dan mengantarkan mereka kembali ke Bali.
Hari mulai petang mereka baru sampai di dermaga. Mereka pulang dalam keadaan lelah hingga menjelang malam, semua baru tiba di villa.
"Makanannya kalian pesan saja ya masing-masing," ujar Abraham. "Baru kita makan bersama.'
Semua mengangguk, usai membersihkan diri. Kini semuanya makan makanan yang mereka pesan.
"Mama mau bebek panggangnya," pinta Abi menyodorkan piringnya.
"Ini sayang," Leticia menaruh satu potong besar bebek bakar pada bocah itu.
"Makasih Ma!"
"Sama-sama," Leticia tersenyum, ia bahagia mendengar ucapan tulis dari Abi.
"Bhizar mau apa sayang?" tanyanya mulai akrab.
"Sudah Mama, makasih," jawab Bhizar sambil menggeleng.
"Atuh bawu yan ditusut-tusut!" Lees menunjuk sate seperti boss.
'Ini sayang," ujar Leticia gemas.
"Matasih!" angguk Reece.
Usai makan mereka sedikit berbincang. Setelah itu baru semua pergi tidur. Malam begitu tenang, ombak bergulung menghempas karang begitu keras terdengar.
Manya belum bisa tidur, badannya terlalu letih hingga matanya tak bisa memicing sama sekali. Wanita itu perlahan turun dari ranjangnya, membuka pintu kaca dan menutupnya sedikit ia menatap laut yang hitam.
Hamparan bintang bertaburan di langit. Benar-benar pemandangan yang sangat indah.
Sepasang lengan kekar memeluk perutnya yang rata. Sang suami menyelimuti mereka berdua.
"Kenapa di luar sayang?" tanya Jovan mengecup leher jenjang istrinya.
"Aku tidak bisa tidur sayang," jawab Manya.
"Kenapa kau tak bisa tidur?"
"Entah lah, padahal badanku letih semua," jawab wanita itu lagi.
Jovan sibuk memberi kecupan pada Manya, istrinya. Wanita itu membalikkan tubuh dan mengalungkan kedua lengannya di leher sang suami.
"Kau tau sayang ... setelah tujuh tahun pernikahan kita, aku masih tak percaya jika hidupku berubah drastis," ujar Manya.
"Tapi, ini lah yang terjadi sayang," ujar Jovan. "Bersyukur lah, Tuhan membayar semua penderitaanmu kemarin."
Manya mengangguk. Kini Jovan membawa tubuh istrinya ke kamar yang hangat, memadu cinta yang membuat keduanya mengerang nikmat dan tertidur lelap setelah dini hari.
Bersambung.
Akan ada pelangi setelah badai.
Next?