THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
HADIAH 2



"Tuan?" Ramaputra menoleh.


Satu titik bening menetes. Hal itu membuat Manya ikutan menitikkan air mata, ia merasa sakit luar biasa ketika melihat pria itu sedih.


"Boleh saya bicara dengan anda dok?" pinta pria itu dengan suara nyaris berbisik.


Betapa tatapan memohon, kerapuhan dan putus asa ada di raut wajah tampan pria berusia lima puluh tujuh tahun itu. Manya mengangguk, ia membuka pintu ruang prakteknya.


Hatinya berdebar kencang ketika tubuh besar itu melewatinya.


"Silahkan duduk," pinta Manya.


Pria itu duduk di hadapannya. Ada degup jantung yang terdengar di ruang sepi itu. Tangan pria itu berkali-kali saling mengusap. Kegelisahan terlihat jelas dari sosok pria tersebut.


"Tenanglah tuan," ujar Manya memegang tangan sang pria.


Ramaputra terisak. Ia menangis tertahan. Sungguh ia ingin sekali memanggil wanita di depannya dengan sebutan "Putriku!".


"Tuan!" Manya ikut menangis. Ia sedih melihat pria itu seperti menanggung beban besar.


Wanita itu ingin sekali menghapus beban itu. Pria itu berusaha setengah mati menahan isakannya. Lalu perlahan ia menyerahkan amplop coklat berukuran besar.


"Tuan?"


"Aku harap anda membacanya dengan teliti dokter, aku mohon," pintanya lirih.


Manya membuka amplop coklat. Ia mengambil berkas di dalamnya. Perlahan, ia membaca semua berkas-berkas itu.


Sementara di ruangan perawatan. Amertha tengah menyuapi satu sendok kue tart. Dokter memperbolehkannya.


"Enak sayang?" Leticia mengangguk.


"Oh, Leti suka strawberry ya?" tanya Renita dengan hati yang sakit.


Wanita itu selalu kalah dengan Amertha. Ketika membuka mata, wanita itu yang dipanggil sang putri bukan dirinya.


"Wah, kebetulan sekali," ujar Irham dengan senyum.


"Kami punya kebun strawberry luas di kota kami, bahkan kami juga ada pabrik selainya," lanjutnya memberitahu.


Pria itu mengambil ponselnya. Ia mencari-cari sesuatu lalu ketika ketemu, ia menunjukkan pada Leticia sebuah kebun strawberry yang luas.


"Ini belum panen sayang, tapi sudah berbuah dan warnanya masih hijau," jelas pria itu.


"Wah ... luas sekali pa?" ujarnya lirih.


"Makanya cepat sembuh sayang, kau pasti ingin memetik buahnya kan?"


"Bareng mommy?"


"Iya sayang, kamu bisa ke sana dengan mommy dan daddy, gimana?" Leticia mengangguk lemah.


"Istirahatlah, sayang. Papa yang nanti menunggumu bersama mama. Kasihan mommy sudah tiga hari di sini. Boleh ya?"


Leticia kembali mengangguk. Gadis itu sepertinya menerima apapun yang terjadi pada dirinya.


Amertha mengecup kening Leticia. Berbisik jika ia sangat mencintai sang putri dan pamit sebentar.


Leticia menitik air mata. Ia bukan tak ingat apa yang terjadi sebelumnya. Bisikan sang ibu ketika ia tak sadarkan diri. Mengatakan dirinya punya dua ibu. Satu ibu yang menyusuinya dan satu lagi ibu yang melahirkan dirinya. Gadis itu sedih, kenapa bukan Amertha saja ibu yang melahirkan dan juga menyusuinya.


"Mama ...," panggilnya pelan.


Renita yang mendengarnya bahagia luar biasa. Wanita itu bergegas mendekati yang putri.


"Iya sayang," sahutnya.


"Kenapa bukan mama yang menyusui aku, tetapi mommy?" tanyanya.


Renita akhirnya menceritakan yang sesungguhnya terjadi. Wanita itu tak lagi ingin egois dan kehilangan anak gadisnya lagi, ia tak mau menjelekan Amertha.


"Ma ... kalau aku agak sehat. Boleh tidur di rumah mama?"


"Boleh sayang ... tentu boleh!" sahut wanita itu.


Leticia menangis, begitu juga Renita dan Irham. Akhirnya mereka bisa memanggil gadis itu dengan sebutan "Putriku,".


Sedang di mansion Abraham. Maira begitu gelisah. Menantunya belum pulang ia melihat jadwal operasi. Hari sudah menunjukkan waktu 17.55.. Para bayi sudah ribut dan mencari ibunya.


"Mama ... huuuu ... Mama ... tutu mama!" teriak Abi dan Syah.


"Baby tenang sayang. Di jalan macet jadi Mama kejebak!" sahut Maira menenangkan cucu-cucunya.


"Spasa ipu bacet!" isak Bhizar.


"Pita bampelin mama aja yut!" ajak Lika dengan bibir dicebikkan.


"Nanat spasa syih ipu bacet?" tanya Syah kesal.


"Moma ... hiks ... hiks ... putun aja ipu lolan pua na bacet ... hiks ... hiks!"


Maira menggaruk kepalanya. Ia bingung harus apa. Akhirnya wanita itu mengajak bermain tebak-tebakan. Situasi dapat dikendalikan oleh wanita itu.


Sedang Jovan yang sudah selesai dari tadi berdiri di depan pintu istrinya di sana ada tangisan pilu terjadi. Jovan langsung masuk dan memeluk istrinya.


"Sayang ... tenangkan dirimu!" pintanya.


"Mas ... ternyata aku punya ayah mas ... hiks ... hiks!"


Jovan tak menyangka, jika ternyata Ramaputra yang diaku oleh Leticia sebagai ayah kandungnya ternyata bukan. Mereka tertukar dan ketahuan setelah nyaris tiga puluh tahun berlalu. Ramaputra juga menangis. Ia meminta maaf pada anak perempuannya karena tak bisa menjaganya juga ibunya.


"Maafkan saya ... hiks ... hiks ... saya tak bisa menjagamu ... nak,"


"Daddy ... daddy!"


Manya merentangkan tangannya. Ramaputra langsung memeluk putrinya erat. Amertha baru sampai dan melihat kejadian itu sempat mematung. Wanita itu masih tak percaya apa yang ia lihat.


"Sayang?" panggilnya.


Ramaputra mengurai pelukannya. Ia menoleh, air mata pria itu menandakan jika semua sudah terungkap.


"Sayang, ini mommy mu," ujar pria itu.


Manya dan Amertha saling tatap. Dua wanita yang sering bertemu. Jovan sibuk mengelus punggung istrinya. Amertha merentangkan tangannya.


"Putriku?!"


"Mommy ... benar kau adalah mommy ku?" Amertha mengangguk dengan linangan air mata.


Keduanya berpelukan dan menangis. Amertha menciumi wajah anak perempuannya. Sedang Ramaputra memeluk Jovan.


"Nak perkenalkan, aku mertuamu," ujarnya.


Jovan mengangguk. Kepalanya agak pusing. Ia sedikit takut dengan sebuah hubungan masa lalu tentang kedekatannya dengan putri lain pria itu.


Namun Jovan meyakinkan sesuatu jika bukan dia yang salah. Tapi Leticia yang salah, bahkan gadis itu berusaha melenyapkan nyawanya.


"Maaf mom, dad. Kami harus pulang, kasihan anak-anak pasti kini tengah menangis," ujar Manya pamit.


"Boleh kami ikut," pinta Amertha.


"Tapi, bagaimana dengan Leticia mom?" tanya Manya khawatir.


"Dia sudah ada ibunya nak," jawab wanita itu.


"Mom ... jangan egois. Mommy harus sering bersamanya, yang dia tau mommy adalah ibunya," ujar Manya mengingatkan.


"Manya benar mom. Kita tak boleh egois, Leti lebih butuh kita, nanti kita bisa menyambangi orang tua Jovan setelah semuanya membaik," ujar Ramaputra bijak.


Manya dan Jovan berpamitan. Amertha begitu berat melepas putrinya pergi.


"Sayang ... kenapa kita terlambat menemukan putri kita, dia sudah jadi milik orang lain!" ujarnya tak terima.


"Sudah lah sayang ... jangan menyalahkan keadaan terus!" pinta Ramaputra.


"Kita harus bersyukur Manya menerima kita sebagai orang tuanya. Beruntung Aprilia tewas dan tak mencuci otak anak perempuan kita!" ujarnya lagi.


Amertha akhirnya mengerti. Semua kejadian pasti sudah ada yang mengatur.


Mereka kembali ke ruang perawatan Leticia. Gadis itu bahagia melihat kedua orang tuanya kembali dan tak meninggalkan dirinya seperti yang sudah-sudah.


Manya sampai mansion Keluarga suaminya. Wanita itu disambut meriah oleh tujuh anak kembar beserta kedua mertuanya.


"Happy birthday sayang!"


"Mama ... Bana di bacet bipawa eundat?!" seru Abi marah.


"Hah ... apa?" Manya tak mengerti.


"Biya Mama ... tata moma padhi mama bena bacet, mama pijebat!" seru Lika berkacak pinggang.


"Mama ... mau tutu lasa bisan mama!" teriak Syah merangkak mendekati ibunya.


Bersambung.


akhirnya....


next?