
Jovan, Seven A mampu memecahkan sandi milik Tuan Lavinsky Roun!" pekik Praja lagi.
"Lavinsky pemilik perusahaan Rusian Corp?" tanya Lektor.
"Iya. Keenam pria kini merubungi seven A. Ketujuh anak kembar itu semua penuh coretan. Bima yang gemas menciumi para bayi.
"Lihat, bukankah ini adalah proposal kerjasama sebelum kau kecelakaan itu?" ujar Hasan..
"Ini sudah lama sekali, perusahaan Lavinsky Roun sudah menutup kesempatan kerjasama itu," keluh Gerard melihat tanggal kadaluarsa kerjasama.
"Ya ... sayang memang. Tapi apa salahnya jika kita mencoba menerobos perusahaan itu dengan sandi yang ia buat?"
Praja memberi saran yang membuat semua pria langsung semangat.
"Bukankah pembukuan perusahaan itu selalu buruk?" tanya Bima mengingat sesuatu.
"Ah ... kemarin wakil direkturnya minta maaf pada pemenang tender atas kesalahan input data!" ingat Bernhard.
"Ya, benar berita itu membuat saham perusahaan Rusia itu turun drastis. Tuan Roun hampir mendapat pinalti dari badan hukum perusahaan jika saja ia tak segera menyelesaikan semua data," sahut Lektor.
"Tuan, saya sudah membuat proposal perusahaan kita harus cari tempat untuk perusahaan baru ini!" ujar Praja, ia melihat ponselnya.
Para bayi menguap. Mereka tidur siang di unit bersama Jovan dan Gerard. Sedang yang lain bertugas mencari tempat dan langsung melengkapi dengan ATK sesuai prosedural perusahaan pada umumnya.
Praja mulai membuka banyak lowongan kerja yang langsung diisi oleh banyak pelamar. Jovan meminta fresh graduate untuk bekerja dengannya dan yang berpengalaman pada bidang management juga CEO perusahaan. Jovan sebagai direktur utama perusahaan itu.
Gedung sudah dibeli. Hasil penjualan penthouse menjadi modal mereka membuka perusahaan baru. Beberapa karyawan diseleksi khusus oleh Hasan, Bima, Lektor dan Bernhard. Terkadang diseleksi langsung oleh Jovan dan Gerard sendiri.
Kini sudah dua bulan perusahaan SavedAcounting milik lima sahabat itu berdiri dengan nama perusahaan Biffriends SavedAcounting.
"Apa benar kau mengundang Nona Diablo untuk datang di peresmian perusahaan?' tanya Abraham, sang ayah.
"Benar yah, aku meminta persetujuan dari Nona Bariana Putri Diablo untuk memiliki perusahaan sama dengan milik mendiang Tuan Black Dougher Young!'
Abraham merinding mendengar nama itu. Seorang pebisnis ternama, semua keturunannya genius dan sebagian berada di Eropa menjadi raja bisnis mengikuti jejak mendiang uyut mereka.
"Nona Diablo akan datang bersama tunangannya, Pi," ujar Praja memberitahu.
Aldebaran datang dan langsung bertanya perihal kedatangan salah satu putri pebisnis ternama.
"Iya grandpa, Bariana berhasil aku undang untuk datang ke sini dengan tunangannya," jawab Jovan.
"Ah, dia sudah bertunangan?" Jovan mengangguk.
"Dengan siapa?"
Jovan berbisik pada ayahnya. Aldebaran kesal bukan main.
"Kenapa kau malah berbisik!" teriaknya kencang.
Abraham berbisik pada ayahnya. Pria itu pun seperti terkejut lalu menggeleng tak percaya.
"Dengan pria muda itu?" Abraham dan Jovan mengangguk.
"Astaga ... mereka benar-benar hanya melingkar di sana!" sahutnya sambil menggeleng.
"Tuan ... perusahaan belum dibuka Tuan Lavinsky Roun sudah ingin bekerjasama untuk mendata semua akunting errornya!" Praja berteriak senang.
"Apa katamu?" tanya Abraham kaget.
"Iya tuan, ini lihat sendiri!' ujar Praja menunjukan pesan yang dikirim asisten pribadi Lavinsky Roun.
"Beliau akan datang besok ke perusahaan Biffriends pukul 10.45.!" ujar Praja memberitahu.
Jovan tersenyum penuh arti. Ia akan menyodorkan kertas yang dicoret oleh tujuh kembarnya.
"Siapkan seven A ketika pembukaan besok!" titah Jovan.
"Apa Manya setuju?" tanya Aldebaran.
"Dia pasti setuju," ujar Jovan.
Pria itu mempersiapkan tujuh anak kembarnya sedini mungkin. Keturunan masih menjadi momok nomor satu untuk meningkatkan saham perusahaan. Jovan akan belajar dari sebuah keluarga besar sosok pebisnis yang sangat terkenal. Keluarga Pratama, Dougher Young, Triatmodjo juga Starlight.
"Jika hanya dengan banyaknya keturunan bisa menguasai hampir seluruh bisnis. Maka ketujuh anakku juga bisa!" tekadnya.
Jovan dan lima sahabatnya dikejar-kejar wartawan demi mendapat informasi itu. Begitu juga Manya, padahal ia tak tau menahu tentang semua bisnis suaminya.
Jovan kembali mengajak tujuh anak kembarnya. Gerard tak bisa ikut karena persiapan pernikahannya, tapi ia akan ikut ketika pembukaan lusa nanti. Praja, Lektor, Bima, Bernhard dan Hasan duduk di sana sebagai kepala managerial seluruh divisi perusahaan. Jovan membawa empat suster untuk menemani seven A.
"Tuan Rougher Dinata!" sapa Lavinsky Roun.
"Tuan Lavinsky Roun!" sambut Jovan.
Keduanya berjabatan. Lalu Lavinsky memperkenalkan asisten pribadinya, begitu juga memperkenalkan lima sahabatnya.
"Mereka menjabat sebagai kepala seluruh divisi perusahaan tuan!"
Lavinsky mengangguk dengan senyum lebar. Pria itu tak mau basa-basi, ia bertanya apakah sistemnya sama dengan perusahaan besar yang ia dengar selama ini.
"Benar tuan, sistem kami sama, bahkan beberapa diantaranya adalah staf ahli langsung dari PT Tridhoyo SavedAcounting," jelas Jovan.
Lavinsky puas dan sangat lega. Selama ini dia sudah lebih seratus kali memecat tim akunting nya yang sangat ceroboh dan tak bisa menunjukkan kesalahannya hingga data error.
"Oh iya tuan. Ada satu yang ingin saya serahkan pada tuan!' ujar Jovan.
Praja memberikan map hijau di atas meja. Lavinsky penasaran, pria itu membukanya. Perlahan keningnya berkerut, lalu dua matanya membulat tak percaya.
"Kau ... kau bisa memecahkan sandi ini?!" tanyanya tak percaya.
"Sebenarnya bukan saya, tuan. Tapi tujuh anak kembar saya," jawab Jovan bangga.
"Berapa?'
"Tujuh anak kembar saya," ulang Jovan.
"Babies!" panggilnya.
"Papa yayah!" pekik Lika, Abraham dan Laina.
Jovan mengerutkan kening. Latihannya adalah semua menyahuti panggilannya. Ia menoleh.
Tiga bayi yang mirip datang dengan empengnya. Lavinsky berbinar melihatnya, sedang empat lainnya tengah asik meminum susu dari botolnya.
"Babies!" panggil Jovan lagi.
"Peulbental papa yayah ... tami seudan zibut!" sahut Bhizar lalu mengedot susunya lagi.
"Papa yayah ... janan dandutin Pijal, Api, Syah pan Agil ... meuleta syedan beunitmati tutu lasa pospeli, banas pama landul!' sahut Abraham pada ayahnya.
Lavinsky tertawa mendengar bahasa aneh yang keluar dari mulut bayi itu. Pria itu lalu memanggil tiga bayi itu.
"Hei ... kemari, aku punya permen!" rayunya.
Asisten pribadi pria itu meletakan permen di tangan atasannya. Laina, Lika dan Abraham menatap ayah mereka.
"Ambil baby jangan lupa ucapakan terima kasih," ujar Jovan.
Ketiga bayi itu mendekati. Laina langsung menatap netra berbeda dari ayahnya. Lavinsky bermata biru, berwajah tampan, dan memiliki berewok di dagunya.
"Wah ... lada lambut pi syini!' ujarnya takjub lalu membelai janggut Lavinsky.
"Wah ... biya ...!" seru Lika juga takjub.
"Bijal, Adil, Syah, Api ... pihat pimi ... lada bambut butan bi pepala woh!"
Keempat bayi lain langsung penasaran. Sedang baik Jovan dan lainnya membiarkan para bayi penasaran dengan janggut Lavinsky.
"Papa yayah ... pa'a pita pisya bunya bambut beupelti Om Savinsi?"
Lavinsky tertawa namanya berubah di mulut para bayi. Ia akhirnya meminta Jovan membawa perjanjian kerjasama baru tentang sandi yang bisa dipecahkan oleh Seven A.
bersambung.
wah ... Bariana mau datang?
next?