
Abraham telah mengutarakan pada ayahnya untuk berulang tahun di rumah saja, bocah itu juga minta ijin untuk menghadiahkan semua mainan yang belum dibuka ketika ia ulang tahun dulu pada semua temannya.
"Papa bukan nggak boleh kamu kasih semua mainan kamu. Tapi kan semuanya beda sayang," ujar Jovan.
Perkataan Abi saudaranya dikatakan oleh sang ayah. Abraham merasa ia sudah banyak mainan dan tidak begitu butuh lagi. Tapi untuk membeli bingkisan, uang hasil yang ia kumpulkan belum cukup untuk membeli mainan yang sama bahkan jika keenam saudaranya ikut menyumbang.
"Sudah jangan pikirkan itu sayang. Serahkan semua Papa ya," ujar pria itu mengusap kepala sang anak.
Jovan begitu bangga pada semua anak-anak yang makin hari makin peduli pada sesama. Bahkan pria itu mendapat laporan jika ia membuat sebuah usaha bersama semua teman-teman sekelasnya yang tidak mampu.
"Hati kalian mirip Mama kalian. Hanya sifat over protektif saja yang tidak," gumamnya sambil terkekeh.
"Jadi anak-anak ingin ulang tahun mereka diselenggarakan di rumah?" tanya Aldebaran.
"Iya Grandpa. Katanya jauh lebih murah dan sisa uangnya bisa dibuat beli bingkisan," jawab Jovan.
Aldebaran tersenyum mendengar hal itu. Ia banyak belajar dari seluruh cicitnya itu. Manya telah mendidik anak-anak dengan penuh kasih dan peduli pada sesama.
"Kalau begitu buatlah di mansion di sana ada kolam renang dangkal, mereka bisa bermain dan berenang sampai puas," ujar pria itu memberi saran.
Jovan mengangguk setuju, Abraham pun tak keberatan sama sekali begitu juga Maira. Mereka akan menghias kolam itu dan membuat pesta kecil yang pastinya disukai anak-anak.
"Moma ... jangan ada badut ya," pinta Syah.
"Kenapa sayang, kamu takut?" Syah menggeleng.
"Bukan Syah, tapi beberapa teman takut sama badut. Waktu itu disekolah sebelum acara kemarin mendatangkan badut beberapa teman malah lari ketakutan sambil berteriak-teriak," jelasnya.
Maira mengangguk tanda mengerti, sebenarnya ia juga tak begitu suka badut. Entah kenapa, sosok Joker masuk dalam karakter badut itu.
Sementara Reece tengah bersantai sambil memandangi empat keponakannya itu. Dua adiknya bermain bersama Aislin, Denna datang membawa putranya yang mengamuk karena dibawa pulang kemarin.
"Mommy ... banti Iam eundat mawu pulan ya!' ujar bocah mau lima tahun itu.
"Sayang ... Mommy kan juga pengen Liam bobo sama Mommy," rengek Denna.
"Ah ... Mommy pohon!" ujar Liam melipat tangannya di dada.
"Kenapa bohong Baby?' tanya Manya usil.
"Liam hanya bicara asal Dok," sahut Denna langsung melotot pada putranya.
"Tuh tan ... Iam pasa piselototin!" protes bocah belum lima tahun itu.
"Baby ...," keluh Denna.
"Sayang, jangan pedulikan Mommymu, memang kenapa dia bohong?" tanya Manya makin penasaran.
"Tatanya bawu bobo ama Iam, pati Iam talo banun ipu di tamal Iam peundili Mama, eundat bipelut Mommy and Papa!" jawab Liam.
Manya berdecak, Denna hanya memberengut kesal pada putranya. Liam memang suka marah jika ia dibawa pulang. Jika tidur hanya di kamarnya saja, maka bocah itu memilih tidur bersama semua saudaranya.
"Enatan banun di lumah Mama, panyat solada," ujarnya masih kesal.
Aislin kini mengajak dua tantenya merangkak cepat. Tiga bayi itu seperti berlomba menuju sesuatu. Reece berteriak memanggil semua orang karena ia begitu khawatir jika tiga anak perempuan itu menuju guci-guci besar dan menjatuhkannya.
"Papa ... Mama!"
Semua berlari, Jovan, Gerard dan Praja langsung mengambil tiga bayi cantik yang hendak berdiri dengan bertumpu pada salah satu guci.
"Baby!" Praja mencium adiknya Maizah.
Bayi itu berteriak dan menangis, Praja tak peduli. Lebih baik dibanding bayi cantik itu jatuh bersama guci besar itu.
"Ayo kalian juga bobo siang!' perintah Manya.
Seven A dan lainnya menurut. Mereka pun masuk kamar dan tidur. Para orang tua hanya bisa mengelus dada melihat tingkah semua anak mereka.
Hari yang dinantikan tiba. Ulang tahun seven A yang ke tujuh tahun. Mansion Abraham dihias, anak-anak datang disambut oleh semua maid yang memakai seragam pink. Ada keenganan dari anak-anak itu, padahal ini adalah kedua kalinya mereka datang ke rumah mirip istana yang megah itu.
Semua saling bergandengan tangan dan takut menyentuh barang-barang yang terlihat mahal. Denta, Lily dan beberapa anak yang mampu sudah biasa melihat barang-barang mewah itu. Mereka juga punya di mansion mereka.
"Selamat datang anak-anak!' sambut Manya dengan senyum indah.
Orang tua Denta, Lily dan juga beberapa diantaranya ikut serta. Mereka menemani anak-anak mereka dengan membawa kado sederhana. Anton dan Nita juga datang bersama Sidik, ibu mereka bersama beberapa ibu lainnya membantu di mansion atas permintaan Manya.
"Ayo silahkan duduk ya," suruh wanita itu.
Mereka pun duduk dan mulai menikmati pesta. Acara dimulai, semua senang bahkan tak segan bermain di kolam renang.
"Ayo ganti bajunya, pada bawa pakaian mandi kan?"
"Bawa Tante!" seru semua anak antusias.
Anak perempuan digiring oleh maid di kamar yang berbeda dengan anak laki-laki. Mereka semua pun masuk dalam kolam yang ada beberapa maid ikut menceburkan diri membantu mereka yang takut.
Kue ulang tahun sudah dipotong, lagu ulang tahun sudah dinyanyikan. Reece, Liam dan triple A tergelak bermain bersama Anton, Denta dan seven A.
Tak ada perbedaan. Satu jam mereka bermain air. Manya menyudahi permainan itu karena bibir semua anak sudah mulai membiru karena kedinginan.
"Ayo sudah dulu ya,"
Semua menurut dan mandi di kamar yang tadi dibantu oleh para maid. Usai bebersih kini semua anak minum teh jahe yang menghangatkan perut dan tubuh mereka. Para orang tua menyisir rambut. Dinda menciumi putrinya dan salah satu teman gadis kecil itu. Bahkan Ray ikut membantu menyisir rambut anak laki-laki.
Acara selesai semua pulang membawa bingkisan cantik dari pemilik acara. Lily yang memang tidak pernah merayakan ulang tahunnya sangat senang mendapat hadiah indah.
"Terima kasih ya," ujar gadis kecil itu.
"Sama-sama, sehat terus ya Lily!" ujar Lika.
"Tentu, ada Mami dan Papi. Pasti aku sehat!" ujar Lily lalu menatap kedua orang tuanya.
Ray dan Dinda belajar banyak dari semua orang tua. Mereka kebanyakan dari kalangan tak mampu, ayah mereka juga bekerja jauh lebih keras dari Ray. tetapi semuanya bisa membagi waktu untuk anak tercinta.
Mansion Abraham kembali sepi. Tak ada acara karaoke Reece, balita itu juga tak keberatan sama sekali. Mereka sibuk membuka kado untuk seven A.
"Loh ... kok dibuka kadonya?" tanya Gerard.
"Pita banya pantuin Papa!" jawab Reece.
"Nanti malam Papa Bernhard, Vektor, Bima, dan Hasan datang loh," ujar Jovan.
"Nggak istirahat dulu, untuk ngamen?" lanjutnya bertanya.
"Oh ... paitlah talo beudithu!" ujar Reece semangat mendengar empat pria kaya itu datang.
"Atuh atan banat duwit ladhi!" seru Reece.
Bersambung.
Atur aja Reece.
Next?