
Wati terdiam mendengar lamaran dadakan. Itu ia menatap lekat pria yang sepertinya putus asa dan lelah.
"Anda bukan suka dengan saya. Tapi hanya ingin ibu untuk putra anda!" sahut Wati begitu tegas.
Pria itu menatap gadis yang berpakaian perawat yang memandangnya penuh kemarahan. Ia memang sangat tau caranya salah.
"Tapi saya sungguh suka kamu!" ujar pria itu.
Wati berdecak kesal. Ia menatap sinis pria yang mengatakan suka padanya.
"Bagaimana bisa anda menyukai saya. Kita baru bertemu, bahkan kenal juga tidak!" sungut gadis itu marah.
"Kalau begitu ayo kenalan!" ajak sang pria.
"Nama saya Djaya Suherman, usia tiga puluh tahun. Duda cerai anak satu nama anak Hendi Permana Suherman!" ujar sang pria memperkenalkan diri.
Tangan yang terjulur ditatap lama oleh Wati. Entah dorongan dari mana ia menyambut uluran tangan itu.
"Ehem ... nama saya Rahmawati, usia dua puluh lima, single," sahutnya dengan rona merah di pipi.
Djaya tersenyum, ia makin tertarik dengan gadis yang memakai seragam itu.
"Kamu udah lama jadi Baby sitter?" tanya Djaya.
"Siapa yang Baby Sitter?" tanya Wati.
"Loh. bukannya itu kerjamu?" Wati menggeleng.
"Saya perawat, tapi bertugas merawat dan mengasuh seperti Babysiter," jawab Wati.
"Oh ... maaf, aku tidak tau," sahut Djaya menyesal.
"Tidak masalah," sahut Wati santai.
"Jadi bagaimana?" tanya pria itu lagi.
"Apanya yang bagaimana?" tanya Wati.
"Soal kamu jadi istriku, mau nggak?"
Wati memalingkan muka. Gadis itu menunggu bel istirahat datang dan ia terselamatkan dengan semuanya dan tatapan Djaya yang membuat hatinya berdebar.
"Rahma," panggilnya.
"Saya Wati!"
"Rahmawati!" gadis itu pun menoleh.
"Aku memang tak bisa menjanjikanmu apapun, tetapi percaya lah. Rumah, mobil dan tabungan masa depan aku menjaminnya hingga anak-anak kita lahir nantinya!" ujar Djaya meyakinkan gadis di depannya.
Pria itu dengan berani meraih tangan Wati dan menggenggamnya. Rona merah langsung menyeruak di pipi sang gadis. Ia berusaha menarik tangannya, tetapi genggaman Djaya terlalu kuat.
"Pak," pintanya.
"Tidak sayang," ujar sang pria yang membuat Wati makin malu.
"Ini sekolah," peringat sang gadis. "Malu diliatin anak-anak!"
"Makanya nikah yuk, biar nggak malu," ajak pria itu dengan senyum lebar.
Djaya makin yakin dengan perasaannya. Hanya butuh lima menit saja, ia memastikan diri jatuh hati pada seorang gadis yang sedang menunggui anak majikannya itu.
"Anak bapak pasti nggak setuju," ujar Wati lemah.
"Kata siapa. Justru dia paling vokal untuk memintamu jadi ibunya," jawab Djaya tegas.
Bel istirahat berbunyi, anak-anak pun keluar dari kelas. Barulah genggaman Djaya terlepas. Seven A menatap pria yang duduk di sebelah susternya.
"Sus, Om ini siapa?" tanya Lika.
Baru Wati hendak membuka mulut. Djaya langsung menjawabnya.
"Om calon suami suster Wati sayang!"
"Wah ... bener gitu Sus?" tanya Lika dengan mata berbinar.
Bhizar, Abi, Syah, Laina, Agil, Abraham bertepuk tangan mendengar suster mereka sudah memiliki pasangan.
"Horee ... akhirnya Suster Wati bebas dari jomblo!"
Wati malu bukan main, ia ingin sekali menjauh dari pria itu tetapi tubuhnya berkhianat, terlebih Hendi, putra dari Djaya langsung menempel pada Wati.
"Pa, bener kan udah minta Suster ini jadi Mama aku?" tanyanya sambil bergelayut manja.
Seven A sudah masuk ke kelasnya. Jam istirahat anak kelas satu tentu berbeda dengan anak kelas lima SD.
"Tanyalah ... dari tadi suster nggak jawab," ujar Djaya.
"Tapi kalau nggak mau ya, Hendi tetap nggak nakal kok!" lanjutnya.
Wati menatap mata yang begitu memohon padanya. Tampak jika sang anak sangat merindukan sosok seorang ibu yang menyayanginya. Wati tersentuh, entah kenapa timbul rasa kasih sayang yang besar pada bocah laki-laki yang kini memohon padanya itu.
"Suster mungkin bisa jadi ibu yang jahat loh," ujar Wati.
"Nggak ... kalau jahat pasti karena Hendi yang nakal! Jadi Mama pasti marah sama Hendi!" sahut bocah lelaki itu yakin.
"Ma ... mau ya jadi Mamanya Hendi," pintanya lagi.
Ada satu titik bening jatuh dari sudut mata bocah itu. Betapa ia benar-benar menginginkan seorang ibu dan pilihannya jatuh pada perempuan yang membelanya kemarin.
Wati menoleh pada tiga rekannya. Leni mengusap lengan teman seprofesinya itu.
"Kau pikirkan masak-masak, Rahma. Menikah itu sekali seumur hidup," ujarnya memberi pendapat.
"Boleh pikir dulu?" pinta Wati pada Hendi.
Bocah itu pun mundur, ia menjauhkan dirinya dari Wati. Hal itu membuat Wati gelisah, tiba-tiba ia takut jika Hendi pergi dari sisinya.
"Jangan begitu!" tiba-tiba ia menarik tubuh sang bocah kedalam dekapannya.
"Jangan menjauh dari Mama," pintanya lirih.
"Mama ... hiks ... Mama ... hiks!" isak Hendi dalam pelukan Wati.
Djaya menatap keduanya dengan perasaan yang membuncah. Antara bahagia dan haru bersamaan. Dari semua wanita yang ia dekati sang putra selalu menolaknya. Trauma ketika ditinggal sang ibu membuat Hendi menjadi sosok nakal seperti kemarin.
"Jadi kamu mau jadi istri dan ibu dari putraku?" tanya Djaya meyakinkan lagi.
"Iya Pak ... saya mau!" jawab Wati.
"Alhamdulillah ya Allah!" pekik Djaya langsung memeluk keduanya. Tak sadar ia mengecup pipi Wati dan Hendi bergantian.
"Pak!" tegur Wati malu bukan main.
"Ah ... maaf, aku kelepasan," kekeh Djaya tak peduli.
Ketika pulang keduanya pun bertukar nomor telepon. Djaya akan menghubunginya, pria itu masih menunggu putranya pulang.
"Salam untuk Hendi ya Pak," pamit Wati.
"Hanya Hendi saja?" Wati mengernyit bingung.
"Aku?" lanjut Hendi.
"Memang Bapak kenapa?" tanya Wati.
"Jangan panggil Bapak dong sayang. Kita kan sekarang pacaran," protes pria itu.
Wati malu, ia tak menjawab protes sang pria yang baru saja ia terima lamarannya itu.
"Rahmawati, aku cinta kamu!" teriak Djaya begitu kuat hingga semua orang menatapnya.
Wati sudah naik dalam mobil. Gadis itu mendengar ungkapan sang pria untuknya. Sidik dan Minah tersenyum melihat betapa merahnya muka Wati.
"Saya rasa Pak Djaya orang baik Sus. Jarang loh ada pria yang begitu berani menyatakan cintanya di depan umum seperti itu," ujar pria itu sambil menyetir.
"Cieee ... Suster Wati udah nggak jomblo!" ledek Laina.
"Baby," protes Wati malu.
"Udah, terima aja Sus. Dari pada nyesel loh!" timpal Sidik.
Wati hanya tertunduk malu. Sementara itu Djaya duduk menunggu putranya pulang. Banyak pasang mata menatapnya dengan senyum lebar karena perkataannya tadi.
"Wah ... apa bisa viral ya?" gumamnya.
"Biar lah ... orang aku emang cinta beneran kok!" lanjutnya bermonolog dan tak peduli.
Pria itu akan datang lagi besok ke sekolah untuk menunggui putranya. Djaya sengaja mengambil kerja malam, agar bisa mengambil hati seorang gadis yang berhasil mencuri perhatiannya dan juga putranya.
"Sungguh aneh tapi nyata ... tak kan terlupa. Kisah kasih di sekolah dengan si dia. Tiada masa paling indah masa-masa di sekolah ...."
Djaya menyanyikan pelan sebuah tembang lawas milik Obie Mesakh. Ia tersenyum sendirian sekarang, beralih tatapan pada pilar sekolah yang kebetulan ada semut merah berbaris di sana.
"Pas ... amat sih!" kekehnya pelan.
Bersambung.
Kisah kasih di sekolah dengan si diaaa ,🎤🎤
next?