
Mansion Abraham kini penuh manusia. Pria itu menggelar pesta penyambutan dan perkenalan bayi perempuannya.
Setelah selama dua minggu berada di rumah sakit. Akhirnya Maira bisa keluar dengan bayinya. Karena sang ibu mesti melakukan kuretasi akibat adanya pembuahan di luar rahim.
“Mestinya janin ini kembar, tetapi karena berada di luar rahim. Makanya tak berkembang sempurna. Kami baru mengetahui kenapa Nyonya Dinata melahirkan secara cepat kemarin,” jelas dokter panjang lebar.
“Hebatnya janin yang tak berkembang ini justru menyelamatkan janin saudaranya dan juga ibunya. Bisa dibilang dia adalah pahlawan sesungguhnya,” lanjut sang dokter.
“Kenapa bisa begitu Dok?” tanya Abraham ta mengerti.
“Ini baru di dunia kedokteran. Bisa dibilang mukjizat dari Tuhan, Tuan,” jawab dokter tak bisa menjelaskan lebih rinci.
“Kemungkinan janin ini memang ingin keluar sendiri dan mendorong saudaranya hingga memudahkan persalinan,” lanjutnya.
Akhirnya Maira melakukan kuret untuk membersihkan rahimnya sekaligus memasang spiral. Usai perawatan barulah mereka pulang ke mansion. Hari ini semua kolega berkumpul untuk melihat putri bungsu dari keluarga Dinata.
“Perkenalkan ini anak ke dua kami yang bernama Maizah Almahyra Dinata,” ujar Abraham memperkenalkan nama putrinya.
“Wah, mirip kakeknya ya,” ujar salah satu kolega ketika melihat bayi cantik di gendongan Abraham.
“Bibitnya terlalu kuat,” seloroh Ramaputra.
Semua ikut tertawa mendengar selorohan pria itu. Ia juga tengah menantikan kelahiran putrinya, lengkap sudah kebahagiaan Ramaputra, ia mendapat tiga anak yang luar biasa. Sementara itu Leticia yang juga tengah mengandung dua anak sekaligus begitu santai.
“Wah ... pihat peyut Bante Bleti!” pekik Liam takjub.
Semua menoleh pada bayi itu dan juga perut Leticia. Tampak pergerakan begitu jelas di sana, semua nyaris terpekik ketakutan dan cemas, Rudi mengelus perut istrinya agr janinnya tenang. Amertha begitu khawatir dengan putri asuhnya itu begitu juga Renita dan Irham.
“Sayang,”
“Tidak apa-apa Mami, ini biasa,” kekeh Leticia santai.
Rupanya wanita itu menikmati semua momen kehamilannya, ia ingin kesakitan nya. menjadi hukuman baginya karena dulu pernah berbuat jahat.
“Itu kan sakit,” ujar Manya Khawatir.
‘Tidak sesakit kalian ketika aku yang membuat hal itu,” jawab Leticia.
“Sayang,” ujar Amertha sedih.
“Sudah, tidak apa-apa Mommy,” ujar Leticia menenangkan ibu susunya.
Manya mengusap perut Leticia, barulah dua janin itu tenang. Semua mengira jika bayi-bayi itu ingin diperhatikan jadi keduanya bergerak mencari perhatian.
“Balo mamat soye semuana!” sahut Liam pada mik.
Semua menoleh pada lima bayi dua tahun di sebuah sisi dekat televisi. Mereka pun akhirnya duduk dan siap menahan tawa dan menikmati pertunjukkaan yang disajikan oleh para perusuh kecil itu.
“Tami sepuah dlup ban yan beulnama ....”
“Dlup Solada Setalian!” pekik Liam, Reece, Aidan, Adelard dan Aqila bersamaan.
Semua penonton nyaris tersedak mendengar nama grup mereka. Seven A hanya menonton adik-adiknya, Anton ada di sana. Abraham meminta ayahnya mengundang sahabatnya itu. Mereka duduk sambil akan memberi tepuk tangan meriah pada lima adik dan om mereka.
“Pohon mamap halidin setalian, tami seupenalna teumalin inin sepat peusal, pati totat sintupaator eundat puat teyus tami eundat bawu sadhi selimpi peulsobaan,” sahut Aqila yang tak dimengerti semua tamu dia bicara apa.
“Biya, talna Papa Yayah Lelad eundat peumbeli tami zawaban balah peulpanyaan,” sahut Aidan kesal.
Makin bingung lah para tamu dengan apa yang mereka ucapkan. Hanya senyum lebar yang ditampilkan pada wajah para tamu. Irham sudah kaku mulutnya karena tak berhenti tersenyum. Lima bayi tengah berjoget riang di sana sambil bernyanyi.
“Doyan somblet ... doyan somblet ... sel ... sel!” Reece menggoyang pinggul berputar.
Ramaputra memerah, ia nyaris saja memarahi siapa yang meracuni pikiran putranya itu. Tetapi ketika semua cucunya ikut bergoyang dan bernyanyi, ia pun urung marah, ternyata putrinya sendiri yang mengajari semua anak-anak lagu dangdut.
“Ck ... putriku,” keluhnya.
Leticia menahan tawa, ia pipis di popoknya. Memang wanita itu menggunakan popok instan untuk menahan air seni yang suka keluar, akibat penekanan dua bayi yang ada di perutnya. Lalu dia tiba-tiba mengejan.
Semua panik, lagu berhenti. Rudi langsung menenangkan istrinya, Manya segera menangani saudara sesusunya itu. Walau ia bukan lah dokter kandungan, tetapi ia paham bagaimana proses melahirkan.
“Rud bawa cepat istrimu ke rumah sakit!” pekik Abraham.
Rudi segera membopong istrinya dibantu oleh salah satu kolega. Irham dan Renita langsung mengikuti mereka. Suasana sedikit tegang tadi, tapi Aldebaran langsung meminta lima bayi kembali melanjutkan aksinya.
“Mamap Benpa ... tami pudah pidat pisa peulanzutan peultundutan ladhi,” tola Reece.
“Loh kenapa?” tanya Aldebaran tentu geregetan bagaimana cucunya itu sangat bossy sekali.
“Pida-pida ... semanat tami hilan peulsyama anin yan peulbembus,” jawab Reece sok puitis.
Aldebaran berdecak sebal. Para tamu akhirnya pulang ke rumah mereka masing-masing. Hadiah untuk Baby Maizah atau Baby Mai sangat banyak. Reece membuka semua kado untuk bayi kecil itu.
“Baby itukan untuk Baby Mai,” tegur Manya tak enak hati.
“Biarkan saja,” ujar Maira tak keberatan.
“Wah ... panyatan paju, pedat, binat selon, pama pabun bandi,” ujar Reece.
“Mama ... ipu padhi Panti Bleti eundat pa’a-pa’a tan?” tanya Aqila mengkhawatirkan kondisi wanita berperut besar tadi.
“Kita doakan Tante Leti biar persalinannya lancar yuk,” ajak Manya.
Mereka pun berdoa agar persalinan itu lancar, Amertha tidak boleh ikut oleh Manya, karena kandungannya yang juga rentan. Perkiraan melahirkan cesar sekita dua inggu lagi. Amertha pernah melahirkan cesar ketika Reece lahir, jadi dia tak masalah datang dua hari sebelum operasi cesar.
Malam tiba, anak-anak sudah tidur. Semua menanti kabar persalinan Leticia. Hingga Amertha menelepon suaminya. Ramaputra tadi menyusul semuanya setelah pesta meet Baby selesai. Sudah hampir empat jam mereka menunggu.
“Halo Mas, gimana?” tanya Amertha begitu cemas.
“Syukurlah ... janin yang terakhir baru keluar, mereka lama karena terlilit ari-ari dan bayi kedua tersangkut di panggul, jadi sedikit lama mengurusi keduanya,” jawab pria itu.
“Leticia juga baik-baik saja, mereka semua sehat!” lanjutnya dengan nada gembira.
Semua bernapas dengan lega. Akhirnya Leticia sudah menjadi seorang ibu dari dua bayi kembar.
“Bayinya sepasang kan?” tanya Maira.
“Iya bayinya sepasang,” jawab Ramaputra di seberang telepon.
Sementara di rumah sakit, kini giliran Renita yang mulas, ia juga mulai kontraksi. Semua kembali panik. Ramaputra tak jadi pulang karena menemani bawahannya itu. Renita dilarikan ke ruang persalinan, Irham menuntunnya. Para dokter tak bisa membuat operasi cesar karena pembukaan sudah sempurna dan pecah ketuban.
Selama dua jam Renita berjuang mati-matian, usianya yang sudah berumur membuat tenaganya cepat terkuras. Irham menyemangati istrinya yang sudah tak kuat.
“Ayo sayang ... jangan kalah dengan besanmu ... dia sudah melahirkan untuk yang ketiga kalinya!”
“Aaaarrrgghhh!” pekik Renita.
“ooeeek ... oooeeekkk!”
Suara tangis bayi pecah, semua mengucap syukur. Irham menangis dan menciumi istrinya. Renita tersenyum melihat putranya sehat dan tak kurang dari apapun. Kini tiga bayi ada dalam boks mereka masing-masing di ruangan berbeda.
“Akhirnya, Daddy punya penerus juga,” kekeh Rudi.
“Leticia tetap memegang kendali penuh di perusahaanku!” sahut pria itu melirik sebal pada menantunya.
Rudi mencebik kesal, ia memang ingin istrinya berhenti bekerja, tetapi perusahaan mertuanya memang butuh pemimpin, sedangkan Irham tak mau tau dan menyerahkan semua pada putrinya.
Bersambung.
Wah satu hari tiga bayi lahir ... tinggal Amertha nih.
Next?