THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PERNIKAHAN



Bernhard sangat tampan dengan tuxedonya. Ia berdiri gagah menanti mempelai wanitanya. Di sana sang ibu sudah berkali-kali menghapus air matanya. Jovan, Lektor, Hasan, Bima dan Gerard menjadi pengiring pria tampak berdiri di kejauhan. Mereka semua tampan-tampan dan gagah.


Lana masuk digandeng oleh Joe. Kecantikan seorang wanita yang telah diambil kegadisannya itu berjalan dengan mata menggenang.


"Baiklah, apa ada yang keberatan dengan pernikahan ini?" tanya pendeta.


Tak ada yang bersuara, acara pemberkatan pernikahan pun dilakukan dua manusia berdiri menghadap pendeta. Berbagai doa-doa suci diucapkan untuk pengantin. Sumpah pernikahan diucapkan oleh kedua mempelai.


"Kalian telah menjadi suami istri, silahkan cium istrimu!" sahut pendeta.


Bernhard membuka layer yang menutupi kepala Lana. Pria itu tersenyum ketika melihat kecantikan istrinya. Ia pun mencium bibir wanita yang telah menjadi seorang istri itu.


"Selamat ya sayang," sang ibu mertua.


"Makasih Ma," ujar Lana.


Kini keduanya berada di pelaminan. Pesta besar dan sangat meriah. Banyak kaum hawa yang iri dengan keberuntungan Lana, terlebih mereka yang tau trek record gadis itu.


"Dia kan seorang player, kok bisa-bisanya dapat Bernhard?" bisik-bisik para gadis yang menatap sinis sosok wanita yang tengah tersenyum bahagia itu.


"Namanya juga pernikahan bisnis, lihat saja. Bisnis Lana telah berkembang pesat hanya dalam beberapa bulan. Jika bukan karena dukungan dari Bernhard, siapa lagi?" tuduh salah satu tanpa bukti.


Pesta tetap berjalan meriah walau banyak mata dan cibiran sinis dilayangkan pada Lana Adriani.


"Kenapa mereka menatapku begitu?" tanya Lana berbisik pada suaminya.


"Biarkan mereka, yang penting adalah aku mencintaimu!" jawab Bernhard dengan tatapan memuja.


Lana terpana melihat tatapan suaminya. Ia tak menyangka pria yang dulu menolak pernikahan bisnis dengannya kini bersanding dan memandangnya dengan penuh cinta.


Sedang di sebuah ruang vvip tampak tujuh batita berdiskusi. Mereka ingin mempersembahkan lagu untuk sepasang pengantin.


"Pa'a lencanamu Plaham?" tanya Bhizar.


"Peubelti piasana, banyi," jawab Abraham santai.


"Hmm ... pide yan badhus ... pa'a pita peulbanyi peubelti piasana?"


"Badhaibana talo pita atapela?" ujar Syah memberi saran.


"Banyi yan busitna dali pulut ipu?" tanya Abi meyakini pemahamannya.


"Biya ipu!" sahut Syah.


"Pati tan pita eundat pisa nada sualana ... do, le, mi na," sahut Agil yang memang buta tangga nada.


"Piya judha syih," ujar Syah sambil menggaruk kepalanya.


"Pita panya Dedet payi paja," usul Lika.


"Lita ... pita dudut pi tulsyi ... dali padhi eundat lada yan beulhatitan pita, Mama juma sibut pama dedet payi,"


Mereka semua menatap ibu dan ayah mereka yang tengah mengurusi triple A yang memang rewel. Sedang pada suster tengah bercengkrama dengan kekasih mereka masing-masing. Hasan dengan Neni, Bima dengan Leni, Praja dengan Saskia, Lektor dengan Retta. Hanya Rudi yang duduk seperti nyamuk di antara mereka. Sedang Denna bersama mertua, suami juga putra mereka.


"Ah ... pita tulun laja dali tulsyi telus binta Pom Ludli yan dudut peubelti lolan ilan!" tunjuk Abrahan.


Semua mengangguk. Mereka membuka kait yang mengikat mereka. Karena para batita sering melihat bagaimana para suster mengait dan membuka ikatan di kursi. Syah lebih dulu bisa membuka kaitannya.


"Pisa pidat?" tanyanya pada tujuh saudaranya.


Abraham, Abi dan Bhizar bisa membukanya, tinggal Agil, Laina dan Lika saja yang kesulitan.


"Pini woh butana!" ujar Abraham memberitahu.


Klik! Kaitan terbuka. Semua turun dari kursi tanpa ada yang memperhatikan mereka. Ketujuh balita pemberani itu tampak mendekati Rudi.


"Pom Luldi!" panggil Abraham.


Rudi yang hanya jadi patung di sana terkejut dengan kedatangan para bayi.


"Babies, kalian bisa turun dari kursi?"


"Pisa don!" sahut Abraham bangga.


"Pita banyi yut Pom!" ajak Agil.


"Mau ke panggung?" seven A mengangguk.


"Seubenelna syih pita posen banyi telus, pati bawu pa'a ladhi?" sahut Syah malas.


"Hmmm ... kalau bosan jangan dipaksa, nanti hasilnya nggak bagus," ujar Rudi.


"Beunel judha syih," timpal Abraham.


"Badhaibana talo pita bain dlama!" tiba-tiba Agil mendapat ide.


"Akil ... pita halus beulatih lama talo bawu pain dlama!" sahut Syah menolak ide saudaranya itu.


"Hapisna pa'a don?" tanya Agil setengah putus asa.


"Udah, kita main aja dramanya. Siapa yang jadi pembawa ceritanya?" tanya Rudi.


"Atuh aja deh!" ujar Abraham unjuk diri.


"Yuk kita ke panggung!" ajaknya.


Tujuh batita bergerak. Rudi meminta mereka bergandengan tangan. Manusia begitu banyak, ia tak mau sampai anak-anak ini hilang dari pandangannya.


"Ayo gandengan, jangan lepas!" teriak Rudi yang mengawasi dari belakang.


Pria itu memilih jalan pinggir yang sedikit orang lalu lalang. Akhirnya semua naik panggung. Rudi menjelaskan pada pembawa acara agar anak-anak dibebaskan melakukan apapun di atas panggung.


"Selamat siang para hadirin sekalian, kita kedatangan bintang tamu khusus di panggung!" sahut pembawa acara.


'Ini mereka Seven A, tepuk tangan meriah!"


Para tamu menoleh. Ada yang tau ada juga yang tidak kiprah para perusuh menggemaskan di atas panggung. Semua yang tau langsung maju ke depan panggung dan ingin menyaksikan apa yang akan dilakukan tujuh bayi kembar identik itu.


"Balo mamat syian!" sahut Abraham membuka acara.


"Selamat siang!" sahut para pebisnis muda.


"Tali imi pita eundat banyi!" ujar Abraham menjelaskan.


Terdengar helaan kecewa dari penonton dadakan. Sedang Lana yang duduk di kursi pelaminan tampak bingung dengan apa yang terjadi.


"Sayang ... ada apa di panggung?" tanyanya.


"Perusuh beraksi," jawab Bernhard dengan senyum lebar.


"Para tamu undangan disuruh untuk langsung menikmati hidangan Tampak di panggung berdiri tujuh batita montok dan menggemaskan.


"Astaga, anak-anak siapa itu?!" seru ibu dari Bernhard.


"Anaknya Dinata, ma!" jawab Bernhard.


"Semuanya?" tanya wanita itu tak percaya. Bernhard mengangguk membenarkan.


"Pita atan beumpelsempahtan pebuah dlama tolosal ... pendetal dunun syatit!"


Semua nyaris terbahak mendengar judul drama yang dibawakan. Para pemusik sudah diarahkan oleh Rudi, mereka harus mengikuti apa yang dilakukan seven A.


"Bada jaman bahulu tala ... biduplah seolan pendetal yan pampan dan dadah. Pendetal ipu padhina pidat pahu talo pia syatit ...."


Syah muncul berjalan dengan langkah gontai. Semua tertawa dan bertepuk tangan melihat gaya Syah yang begitu mendalami perannya.


Sedang di ruang VIP para suster kaget melihat tujuh bayi hilang dari kursi mereka. Manya panik, tapi tidak dengan Jovan.


"Aku tau di mana mereka," ujar pria itu ketika istrinya panik.


"Di mana!?" tanya Manya gusar.


"Di panggung sedang merusuh!" jawab Jovan.


Maira dan Abraham langsung keluar ruangan dan melihat apa benar jika tujuh cucunya tengah melakukan atraksi di atas panggung.


"Astaga ... itu cucu-cucu kita!" ujar Maira tak percaya.


bersambung.


lah ... kan udah biasa Moma!


next?