
Pagi menjelang, semua anak mencari empat orang dewasa lainnya.
"Papa yayah, Pom bemana pemua?" tanya Ailika sambil mengedarkan pandangan.
"Mereka sudah pulang tadi subuh baby," jawab Jovan.
"Tot eundat munduin Lita pulu?" tanyanya sedih.
"Maaf sayang, semua om termasuk papa yayah Gerard harus bekerja mendadak," jelas Jovan.
Sedang Abi tengah merangkak dan berkeliling rumah. Ia sampai di dapur, para maid hanya menghindari tubuh kecil yang merangkak di sela-sela kaki mereka, hingga sampai kamar salah satu maid yang terbuka. Bayi itu masuk dan melihat penampakan kamar yang rapi. Abi kembali merangkak masuk, kemudian berdiri dan berjalan dengan berjinjit. Ia melihat foto yang tertempel di dinding tempat tidur bagian bawah. Bayi itu naik dan ingin melihat dengan jelas foto siapa yang terpajang di sana.
"Tot lada dambal papa yayah?" gumamnya.
Bayi itu merobeknya hingga gambar itu terlepas dari dinding. Belum ada yang sadar jika Abi masuk ke kamar tanpa permisi. Bayi itu membawa robekan kertas ke ruang makan di mana ayah dan ibunya duduk dan menikmati sarapan mereka.
"Abi dari mana?" tanya Leni yang sedari tadi mencari salah satu bayi.
"Dali taman baid ... bustel!' jawab bayi itu.
"Apa itu di tanganmu baby?" tanya Jovan melihat kertas di tangan bayinya.
"Imi dambal ...."
"Tidak!!" seru salah satu maid tiba-tiba berlari dan merebut kertas yang dipegang bayi itu.
Kejadian begitu cepat, Leni yang berdiri agak jauh dan Jovan yang tengah duduk. Abi terjatuh karena tarikan kertas dan dorongan dari maid itu.
"Ck!" gadis itu berdecak kesal. Foto pria idamannya rusak.
"Pa'a yan tamu latutan baid?!" seru Bhizar marah.
Jovan yang memang sedikit terkejut langsung sadar. Pria itu berdiri dan menarik kertas yang ada di tangan maid itu.
"Apa yang kau lakukan dengan fotoku?" tanyanya penuh geram.
Abi dan lainnya disingkirkan dari sana oleh empat suster. Manya menenangkan suaminya.
"Mas," peringatnya.
"Apa yang kau lakukan dengan gambar wajahku ini sialan!" teriak Jovan marah luar biasa.
Maid itu tertunduk diam. Sedang yang lain berhamburan keluar dapur demi melihat apa yang terjadi. Jovan melangkah menuju kamar pembantunya itu. Tak ada berani yang bergerak selain Manya yang masih penasaran dengan semuanya.
Jovan melihat dengan jelas bekas tempelan kertas gambar dirinya di dinding kamar pembantunya. Pria itu marah luar biasa. Ingin ia cabik-cabik tubuh wanita yang kini bersimpuh di hadapannya.
"Tuan ... maafkan saya tuan ... hiks ... hiks!"
"Tidak ada maaf, kau kupecat!" tegas Jovan mengusir pembantunya.
"Jijik aku mengetahui dirimu yang berfantasi mesum tentangku!" ucapnya jijik.
"Mana ponselmu!" pinta pria itu.
Maid itu tau apa yang akan dilakukan pria itu. Maid mesum itu menggeleng menolak memberikan ponselnya. Manya yang sudah paham dengan apa yang terjadi ikut gusar dan langsung mengambil tas ia yakin ponsel maid itu ada di dalamnya.
"Ini mas," ujarnya, "Ponselnya terkunci."
Dengan kasar Jovan mengambil dan membanting benda pipih itu hingga hancur berantakan.
"Ponselku ... huuuuu ... uuu!" teriak maid itu.
"Keluar kau sebelum aku memenjarakan mu!" ancam Jovan.
"Bagi yang ingin solidaritas, silahkan kalian ikut angkat kaki dari rumah ini!" tekanya.
"Mang Udjo!" teriaknya memanggil tukang kebun.
"Saya tuan!" sosok pria bertubuh tegap datang.
"Pastikan dia pergi dari rumah ini!" titah Jovan.
Maid itu pergi dengan derai air mata setengah menyesal dan setengah kesal. Menyesal karena ia berfantasi mesum tentang tuannya dan ketahuan lalu kesal karena salah satu bayi membongkar semuanya.
"Jika ada yang habis ini sengaja mengunci pintu ...!" tekan pria itu lagi sambil menatap para maid yang tersisa.
Semua menunduk mereka tentu tidak tau jika salah satu rekannya nekat menjadikan sang majikan objek fantasi mesumnya.
"Fatu, pua, pita ... pima .... eeuuummm ... lempat ... pujuh ... beupuluh ... holeee!" teriak Abraham setelah merasa ia berhasil menghitung dengan benar.
Manya menggeleng dan tersenyum. Ia menatap suaminya yang masih menahan amarahnya. Wajah pria itu masih memerah karena kesal luar biasa. Ia tak mau mendatangi ketujuh kembarnya dengan muka yang seperti itu.
"Sayang," panggil Manya mesra.
"Jangan marah lagi, aku takut," cicitnya lirih.
Jovan menatap lekat netra istrinya. Ia lalu memeluknya dan memberikan sebuah ciuman mesra di kening sang istri.
"Jangan khawatir sayang, aku tak akan marah, terima kasih telah menenangkan diriku," ujarnya lembut.
Manya lega. Kini keduanya mendatangi tujuh anak kembarnya dan mendengarkan hitungan mereka.
"Coba Lika berhitung," pinta Jovan dengan senyum lebar.
"Zatu, buwa, pida , pepat, bima, menam, bujuh ... eeeummm ...," Lika lupa kelanjutan hurufnya, ia berpikir keras.
"Lalapan, lembilan, peluluh!' lanjut Syah lalu bertepuk tangan sendiri.
"Syah pica!" sahutnya senang.
Hal itu membuat Lika menangis. Ia tak rela hitungannya direbut oleh saudaranya itu.
"Syah ... matal ... huuuwwaaaa!"
Jovan terkekeh dan langsung menenangkan salah satu putrinya itu. Sedang yang lain sudah bosan berhitung.
"Bustel ... yan pain don peulajanna!" pinta Agil.
"Oke ... sekarang nama buah ya!" ajak Leni dan tanggapi antusias para bayi, Lika sudah ceria kembali.
Jovan begitu bahagia mendengar celotehan lucu semua anaknya. Manya yang memang tak mau kehilangan semua momen tentang seven A, merekam semua kegiatan mereka. Maka itu Jovan bisa melihat bagaimana pertama kali putra dan putrinya lahir di dunia. Ketujuh bayi itu begitu kecil dan rapuh. Jovan sampai menangis melihatnya begitu juga ayah dan ibunya. Sedang Aldebaran sangat takjub akan kehadiran cicitnya yang langsung banyak itu.
"Pasti kau melewatinya dengan penuh perjuangan saat itu sayang?" sahut Jovan. "Tanpa aku di sisimu, pasti berat."
"Mau tak mau harus dijalani mas. Mereka adalah napasku ketika kau tak ada, aku nyaris depresi ketika kau pergi begitu saja, padahal hari itu aku baru mengetahui jika diriku sudah mengandung," jelas Manya panjang lebar mengingat masa lalu.
"Maafkan aku sayang ... maafkan aku ... waktu itu ...."
"Sudah lupakanlah, jangan ingat lagi ya," pinta Manya dengan senyum indah membingkai di wajahnya.
Jovan merangkul istrinya lalu memberikan kecupan mesra di keningnya. Hingga kegiatan romantis itu terhenti akibat perdebatan ketujuh anak mereka.
"Bini jeyut Pijal!" seru Abraham protes.
"Butan!" sanggah Bhizar.
"Jeyut balnana bunin!" lanjutnya bersikeras.
"Imi jeyut buyut yan syuta dipuat masat syama mama!" jelas Abraham.
"Panya mama talo eundat beulpaya!" sahutnya menantang.
Bhizar menarik buku yang menampilkan buah jeruk purut. Ia yakin jika buah itu bukan jeruk.
"Mama imi butan jeyut tan?" tanyanya serius.
Jovan tertawa lirih melihat mimik putranya. Manya menjelaskan hati-hati pada putranya yang memiliki tempramen keras itu.
"Ini memang jeruk, tapi bukan buat yang di makan. Jeruk ini hanya sebagai pelengkap aroma dan rasa,"
"Tuh ... pan peutul tata atuh!' sahut Abraham sok.
"Oh ... oteh ... beulain jeyut imi pasih lada ladhi pidat?" tanya Bhizar.
"Ada jeruk limau, jeruk Bali dan jeruk Mandarin ... lalu jenis jeruk lainnya," jawab Manya.
Bersambung.
Abi punya cerita ... Syah bilang delapan jadi lalapan 🤦
next?