
Anak-anak Aldebaran dan Ramaputra tengah bermain di halaman belakang mansion baru milik Aldebaran. Tita, Reece dan triple A ikut bermain bersama. Seven A akan datang bersama Liam dan Maizah serta Aislin.
"Daddy kapan beli rumah ini?" tanya Ramaputra.
"Sudah lama, tadinya Daddy mau jual lagi. Siapa sangka jika ternyata Daddy masih memiliki jodoh di usia tua begini," jawab pria gaek itu.
"Papa ... ada cacing!" Deni menarik cacing yang keluar dari tanah.
"Sayang ... letakkan lagi. Itu kotor!" sahut Aldebaran.
Deni meletakkan lagi cacing dalam pot besar.
"Ata', tot pidat pita punuh aja?" tanya Tita.
"Tidak sayang. Karena cacing itu bagus untuk menggemburkan tanah agar subur," jawab Deni.
"Subun pa'a Ata'?" tanya Tita lagi.
"Subur itu bisa membuat pohon dan padi subur sayang," jawab Deni lagi.
"Wah ... kalo gitu, cacing ini bisa taruh di kepala Pak Andi yang botak itu. Biar rambutnya tumbuh subur!' seloroh Wardi.
"Hush ... nggak boleh begitu!" peringat Deni. "Tidak baik mengatai orang lain!"
"Maaf Kak," ujar Wardi menyesal.
"Ya sudah ... kita main lagi yuk!' ajak Deni.
"Wayo ... atuh mawu sadhi sasin pial pemua pumbuh supul!' pekik Tita senang.
"Baby .. mending jadi petani saja. Karena tanpa petani tanah subur juga tak bisa berfungsi," ujar Deni menjelaskan.
"Betani?" Deni mengangguk.
"Petani itu yang menanam padi di sawah sayang. Dengan menanam padi maka semua orang pasti bisa makan," jelas Deni lagi.
"Bait lah ... Ita bawu zadhi betani!" angguk Tita merubah cita-citanya.
Tak lama Manya datang bersama seven A, Liam dan Aislin. Liam memang hanya ingin tinggal di mana ia suka. Karena kemarin ada rumah Manya, dua balita itu menginap di sana.
"Assalamualaikum!" Manya sudah mengubah cara salam masuk rumah.
"Wa'alaikumusalam!" sahut Demira dengan senyum lebar.
"Ayo masuk-masuk! Langsung cuci tangan semua ya ... kita makan siang!" ajak wanita itu.
Tak lama Maira dan Abraham datang bersama putri mereka Maizah yang cemberut.
"Moma ... Aiz pesot ninep pi lumah Benpa!" ujar bayi cantik itu.
"Iya sayang," sahut Maira mengalah.
"Ayo masuk sayang, kita makan bersama," ajak Demira.
Jovan dan Praja tak bisa datang. Mereka harus ke luar kota, Rudi juga bersama mereka. Semenjak ada Demira, wanita itu meminta Rudi selalu hadir karena bagian dari keluarga.
"Kenapa kau membiarkan putramu bekerja terlalu banyak Abe?" tanya Demira sedikit kesal.
"Maaf Mom, proyek ini sangat penting bagi kelangsungan hidup kita. Jadi aku memintanya terjun langsung!' jawab Abraham.
Demira akhirnya mengerti jika anak dan cucu dari suaminya adalah seorang pengusaha jadi harus bergerak cepat.
Kini mereka makan siang bersama. Liburan sebentar lagi datang. Aldebaran ingin mengajak mereka semua ke Ranch milik seven A.
"Aku juga mau ke sana Grandpa, kepalaku sedikit pusing akhir-akhir ini," keluh Manya.
"Kau tidak apa-apa kan sayang?" tanya Maira khawatir.
"Tidak Mom. Aku hanya lelah saja. Nanti aku mau ajukan cuti hamil," jawab Manya menenangkan ibu mertuanya.
"Ya sudah hari Jumat kita perginya, Sabtu anak-anak sudah libur," ujar Aldebaran.
"Kita ke gunung lagi uyut?' tanya Abraham kecil.
"Iya sayang," jawab Aldebaran.
"Horee!" seru semua anak.
Usai makan siang, mereka harus tidur siang. Sebuah keharusan yang tidak boleh dilanggar. Semua anak menurut, lalu pergi tidur siang.
"Kau juga istirahat sayang," suruh Demira pada Manya.
"Iya Grandma,"
Manya pun naik ke kamarnya. Di sana Aldebaran telah menyiapkan semua untuk keluarga.
"Sidik!" panggil pria itu .
"Saya Tuan," sahut Sidik sambil berjalan terbungkuk.
"Maaf Tuan," sahut pria itu.
"Besok bawa anak dan istrimu ikut serta!" perintah Aldebaran tak mau ditolak.
"Baik Tuan," sahut Sidik menurut.
Aldebaran tiba-tiba memeluk Sidik. Ia justru banyak belajar dari supir cucunya itu.
"Kau tau Sidik. Aku mengangkat anak-anak ini karena terinspirasi dari dirimu," ujarnya. "Terima kasih!"
"Sama-sama Tuan," sahut Sidik haru.
"Sudah jangan sungkan lagi dengan kami Pak!" sahut Abraham.
Hati Sidik menghangat. Pria itu memang menjauhkan diri dari keluarga kaya raya itu. Sidik bekerja secara profesional. Padahal Manya sering sekali meminta pria itu membawa anak dan istrinya.
"Atau Tinah suruh bekerja dengan kita saja!" ide Maira.
"Maaf Tuan, Nyonya. Bukan saya menolak, istri saya sudah terlalu tua untuk bekerja. Istri saya hanya bantu-bantu tetangga saja yang memerlukan," tolak Sidik langsung..
"Ah ... baik lah Pak. Kami menghargai keputusanmu," ujar Ramaputra kini.
Maira pun tak mengatakan apa-apa lagi. Amertha memilih pergi tidur siang dan masuk ke kamarnya. Maira pun akhirnya memilih istirahat.
"Kami ke kantor dulu Dad. Kau tak mau ikut?' ajak Abraham.
"Tidak ... kau uruslah sendiri!" tolak Aldebaran langsung.
Abraham mencebik kesal. Pria itu selalu kewalahan, ia ingin semua adiknya cepat besar dan menggantikan dirinya.
"Sudah lah besan. Kita biarkan Daddy bercinta dengan Mommy!" seloroh Ramaputra langsung merangkul besannya itu.
Sidik membungkuk hormat pada Aldebaran. Pria itu menjadi supir Abraham jika Seven A tidak sekolah.
Aldebaran tersenyum saja mendengar perkataan dari Ramaputra. Ia menoleh pada istrinya yang sibuk meminta maid menyiapkan makanan untuk semua anak di sore hari. Maid yang berjumlah dua puluh tiga orang dan delapan tukang kebun. Ada seratus pengawal yang disewa Aldebaran untuk menjaga mansionnya. Beberapa di antaranya bertugas mengecek semua sisi mansion.
"Sayang!' panggilnya pada sang istri.
Demira menoleh dengan senyum indah. Wanita itu menyambangi suaminya.
"Ada apa sayang?" sahutnya.
"Ayo istirahat!' ajak Aldebaran pada istrinya.
"Kalian boleh istirahat juga," ujar Demira pada para maid.
"Terima kasih Nyonya!" sahut para maid membungkuk hormat.
Aldebaran membawa istrinya ke tempat peraduan mereka. Pria itu mencium bibir istrinya dengan lembut. Keduanya pun larut dalam gelora cinta di bawah selimut.
Sore menjelang, anak-anak sudah ribut bermain. Seto membawa permainan yang harus menguras otak dan tenaga yakni gobak sodor.
"Wah ... jadi mainnya harus mendobrak gawang ya Paman?' tanya triple A.
"Iya, satu kotak tidak boleh diisi lebih dari tiga orang, tergantung jumlah pemain," jelas Seto.
"Oke ... kita main!"
Seven A pernah memainkan ini ketika taman kanak-kanak waktu itu. Denta yang melawan mereka, tim Denta kalah telak. Triple A masuk tim kakak mereka, begitu juga Reece dan Liam.
"Eh ... boleh digores nggak sih?" tanya Dery.
"Ini rumput sintetis yang harganya satu lembar dua belas juta!" cicitnya.
"Gores saja tidak apa-apa!" sahut seven A mengambil kayu panjang.
Abraham, Abi dan Bhizar menggores rumput mahal itu dengan garis panjang beberapa bagian dan membentuk kotak-kotak.
"Ini tiang hukuman bagi yang kena. Jika Kapten yang kena maka tim kalah dan dapat dua poin untuk penjaga!" terang Dery.
Tim Ten A yang berjaga. Liam menjadi penjaga garis depan sedang Abi penjaga garis belakang, lini tengah di isi oleh Laina dan Agil sedang lini kanan di isi oleh Reece dan Syah sedang lini kiri diisi oleh Abraham dan Laina.
"Mulai!" seru Dita yang menjadi wasit.
"Bayo Ata' penanat!" seru Pram.
Semuar berteriak, para orang tua membiarkan anak-anak bermain sepuas mereka.
"Dad, Abraham merusak rumput mahalmu," sahut Abraham terkekeh.
"Biar saja. Nanti biar tukang kebun yang bereskan!" sahut Aldebaran tak masalah.
Bersambung.
Ayo terus main!
Next?