THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
EGOIS



Tak terasa waktu begitu cepat berputar. Kehamilan Amertha sudah menginjak tujuh bulan. Para dokter untuk menyarankan janin harus segera dilahirkan.


"Saya mau bulannya penuh Dok!" pinta Amertha.


"Tapi, apa Nyonya tak masalah?" tanya Dokter khawatir.


"Jika dilihat dari berat dan juga kondisi, saya sarankan adalah melahirkan di usia sekarang," ujar Dokter.


"Sayang, kita ikut saran Dokter ya," pinta Ramaputra.


Amertha sedikit ragu. Ia sangat tau jika melahirkan secara prematur perkembangan bayi belum bagus walau bulan lahir tak masalah.


"Nanti, sayang. Aku ingin bertanya dengan putriku," ujar Amertha.


Dokter hanya bisa diam. Ia sudah menjelaskan apa yang mesti dilakukan oleh nyonya kaya raya ini. Amertha akan bertanya pada putrinya.


Ketika di rumah, wanita itu langsung menanyakan perihal kehamilannya.


"Kandungan Mommy baik-baik saja," jelas Manya ketika memeriksa semua detak jantung serta posisi janin.


"Mommy, yoga kehamilan aja ada banyak kan panduannya di internet atau datangin konsulat kehamilan," saran Manya.


"Ide bagus sayang, terlebih usia kandunganmu sudah menuju kelahiran," ujar Ramaputra.


Amertha mengangguk, seven A sibuk mengelus perut nenek mereka dan berbicara pada janin yang ada di dalam.


"Pom teusil, janan natal-natal ya," ujar Abraham.


"Pita, beunantitan Pom teusil," lanjutnya.


"Imi tayatna lati-lati," ujar Agil.


"Pasat?" tanya Syah tak percaya. "Pahu dali bana?"


"Atuh beunebat talo imi lati-lati!" jawab Agil bersikukuh.


"Atuh pilan imi beulempuan!" sahut Bhizar.


"Moma pa'a dedet payina puma syatu?" tanya Laina.


"Iya baby, hanya satu," jawab Amertha gemas.


"Yaah ... tat pisa yah buwa dedet payina?" tanyanya kecewa.


"Dikasihnya satu baby, kita harus bersyukur," sahut Ramaputra.


"Mama ... tapan pita te tebun pinatan?" tanya Lika mengalihkan pembicaraan.


"Baby, Mama masih sibuk," jawab Manya minta maaf.


"Mama pibut Mulu ... tapan syih eundat pibut na?" protes Laina lagi.


"Laina ... janan dithu ... beunelti ditit ... Mama ipu doptel yan banat bi putuh tan lolan," ujar Abi bijak.


"Pemanan pita eundat putuh Mama?" sengit Laina lalu bersidekap.


"Mama ipu putuh wuwan panyat Laina!" sahut Bhizar ketus.


"Pinta Papa Yayah aja ... peles tan?" sahut Laina makin ketus.


Amertha dan Ramaputra melirik putrinya yang hanya diam tak bisa membela diri. Ramaputra menggeleng, ia juga tak banyak waktu mengajak semua cucunya jalan-jalan.


"Atuh peutujuh syama Laina!" celetuk Lika.


"Pita judha putuh Mama, pasa pita syuluh nalah bulu!" lanjutnya ikutan protes.


"Baby," rajuk Manya meminta pengertian.


"Mama ... seutalan basti pilanna lada dedet payi yan besti bipeulatihan!" sahut Lika.


"Beulhatitan!" ralat Syah.


"Biya patsuna ipu!" sahut Lika.


"Oke, bagaimana jika minggu ini kita ke kebun binatang!" ajak Manya.


"Mama ... janan panat beulpanji talo pidat peulnah bipetati!" ketus Alaina.


Amertha terkekeh mendengar protes cucu-cucu cantiknya itu. Ia menatap sang suami.


"Hmmm ... kalau besok mau nggak jalan-jalan ke Taman Safari Bogor!" ajak pria itu.


"Itu jauh Daddy," larang Manya.


"Pa'a-pa'a jauh ... pa'a-pa'a jauh ... dilalan imi ... banti neulepotin, banti pusahin ... talo pita eundat poleh temana-bana pilan laja Mama!" protes Alaina kesal bukan main dengan ibunya itu.


Netra jernihnya sudah berkaca-kaca.


"Ditalo aja pita bi lemali bipajan!" lanjutnya ketus.


"Baby," tegur Ramaputra.


Seven A mulai malas. Mereka akhirnya beranjak dan meninggalkan para orang dewasa di sana. Mereka anak-anak, hidup hanya di rumah bersama para suster, hanya beberapa kali mereka keluar rumah setelah itu tak pernah lagi terutama ketika para bayi lahir.


"Manya, jangan kurung anak-anak, mereka juga butuh hiburan," ujar Amertha.


Manya memang tak pernah mengajak anak-anak jalan-jalan. Selain karena kesibukan, tetapi memang jumlah mereka yang sangat banyak dan pastinya menyulitkan semua orang.


"Aku bukan nggak mau ajak mereka jalan-jalan. Mereka banyak sekali, terlebih semuanya super kepo," ujar wanita itu.


"Memang, tapi itu sudah resiko sayang," ujar Ramaputra.


"Tuh, lihat ... mereka jadi ngambek kan?" ujar pria itu menunjuk kembar tujuh yang duduk diam termenung.


Manya merasa bersalah, namun ketakutannya sebagai ibu terlebih sikapnya yang tak ingin merepotkan orang banyak. Wanita itu bersikukuh jika hal yang dilakukannya adalah benar.


"Jangan egois Nak. Benar kata Baby Laina, jika tak boleh mereka kemanapun, panjang saja di lemari kaca," sahut Amertha mulai kesal dengan putrinya.


"Tak peduli, besok aku bawa mereka ke Taman Safari!" tukas Ramaputra tak mau kompromi.


"Dad!" rajuk Manya.


"Cukup Manya ... aku tak tega melihat cucu-cucu ku kau rantai seperti hewan peliharaan!" ketus Ramaputra.


Manya diam. Kedua orang tua kandungnya itu kini sudah pulang. Ia mendekati tujuh anak kembarnya dengan makanan yang baru saja ia buat.


Benar kata ayahnya tadi, jika semuanya kini melakukan aksi mogok bicara. Mereka tetap memakan kue buatan ibu mereka.


"Matasih tuena Ma," ujar Bhizar malas.


"Baby ... jangan begitu," tegur Leni.


"Mamap nanat teusil beman pelalu palah!" ketus Bhizar.


Leni diam dan melirik wanita yang kini sedih. Manya tau ia salah, entah dari mana sikap egoisnya datang. Ia mau semua anak menuruti kata-katanya.


"Kalau nggak mau, besok Mama nggak usah masak buat kalian ya," ujarnya.


"Biya Mama ... Mama. tan pelalu beunal," sahut Abraham.


"Baby ... Mama nggak suka ya kalian melawan seperti ini!" tukas Manya mengeraskan suaranya.


Ketujuh batita itu menatap ibunya. Mata mereka mulai berkaca-kaca. Baru kali ini sang ibu memarahi mereka. Manya sedikit terkejut dengan nada suaranya yang keras.


"Mamapin pita Mama ... pita bemua banji eundat atan matal ladhi pan eundat atan pinta balan-palan ladhi!" ujar Bhizar meminta maaf.


"Biya Mama, mamapin pita ya!" kini Abi juga meminta maaf.


Tujuh bayi meminta maaf dan hal itu membuat Manya menangis. Ia begitu merasa bersalah, tetapi ia ingin semua anak menuruti keinginannya. Ia ingin ketujuh anaknya bisa diatur dengan mudah.


"Iya sayang ... Mama maafin," ujar Manya benar-benar egois.


'Maafin Mama sayang. Mama egois karena memang ingin yang terbaik untuk kalian, Mama nggak mau terjadi apa-apa pada kalian,' gumamnya dalam hati.


Seven A kembali cerita, mulut mereka tak berhenti mengoceh. Manya tersenyum mendengarnya. Tak lama Jovan pulang dari luar kota.


"Papa Yayah pulan!" pekik Agil dan Lika melompat kegirangan.


"Papa Yayah ... Papa Yayah padhi Lita bampil pipis bi selana woh!" adu Lika.


"Loh kenapa mau pipis di celana?" tanya Jovan dengan senyum lebar.


"Lita pitil basih pate popot banti pocon," kekeh Lita.


Jovan terkikik geli mendengar perkataan salah satu putrinya itu. Ia mencium gemas semuanya.


Manya tersenyum, lalu senyum itu pudar ketika melihat Lika buru-buru menghapus air matanya.


"Baby ....?"


bersambung.


Manya ... tega kamu!


next?