THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
MASUK SEKOLAH



Seven A sudah rapi dengan seragamnya. Kali ini Reece dan Liam bersikeras untuk ikut mengantar mereka.


"Tlus pita eundat diajat?" tanya Aidan.


"Ya itut lah!' sahut Reece.


Akhirnya Maira dan Amertha ikut serta membawa bayi mereka masing-masing. Dengan menggunakan dua mobil. Akhirnya mereka sampai di sekolah. Abraham langsung merangkul Anton.


"Hai Sob!" sapanya.


"Hi juga!" Anton tersenyum.


"Woi ... tunggu!' Semua menoleh.


"Den!" pekik Abi dan Abhizar.


Kini mereka pun masuk kelas. Seperti biasa lima batita itu merayu guru agar ikut masuk.


"Bu dulu yan syantit .. Lees zanji talo batal piem,"


"Iya Bu Dulu. Atila judha eundat natal," rayu Aqila.


"Baiklah, duduknya sama kakak-kakak ya!" ujar guru tersenyum.


"Holeeee! Matasih Bu Dulu!" sorak Reece, Liam dan triple A.


Lima batita ikut belajar di kelas. Laina dan Nita merapatkan bangku agar Reece bisa duduk di tengah. Begitu juga Anton dan Syah bersama Aidan. Lalu Bhizar dan Abi bersama Aqila. Denta dan Abraham bersama Liam. Sedangkan Lika dan Agil bersama Adelard.


Mereka tenang duduk memperhatikan Bu Guru yang sedang mengajarkan pengetahuan umum. Hanya 45 menit pelajaran pun selesai. Semua anak-anak keluar kelas dengan berlari. Reece ingin ikut berlari tapi ditahan oleh Anton.


"Jangan dulu Om!"


"Nanti jatuh!' lanjutnya.


Akhirnya mereka keluar belakangan. Semua berlari menuju kantin karena diajak oleh Denta.


"Kita makan nasi uduk!" ajak Denta.


"Bayo!" pekik Reece semangat.


Amertha dan Maira mengikuti semua cucu dan anaknya. Denta termasuk anak dari orang berada.


"Nasi uduk biasa enam belas Bu, trus minta air kemasannya juga!" ujar bocah bongsor itu.


Maira sedikit malu, mestinya cucunya yang sering mentraktir teman-temannya. Tetapi, malah Denta lebih sering mentraktir. Manya tak pernah memberi uang jajan pada seven A. Ia takut anaknya jajan sembarangan.


"Jeng, sepertinya mulai besok kita kasih uang jajan untuk seven A deh,' bisik Maira.


"Iya, nggak usah banyak-banyak, 20.000,- cukup ya," sahut Amertha setuju.


"Wah nasi dudutna enat Ata' Penta. Matasih ya!" ujar Aqila memakan nasi uduk dengan lahap.


"Sama-sama Dik," sahut Denta sambil tersenyum.


Selesai makan, triple A, Reece dan Liam tak mau masuk lagi. Mereka mengaku bosan.


"Nggak masuk kelas lagi Nak?" tanya Bu guru ketika mau ke kelasnya.


"Eundat Bu Dulu. Pita posen," jawab Reece.


Tak butuh waktu lama. Bel pulang untuk anak kelas satu berbunyi. Ibu guru keluar dari kelas terlebih dulu. Seven A membagikan oleh-oleh pada seluruh kawan satu kelasnya. Semua begitu senang.


"Wah, makasih ya!' ujar Leo, salah satu kawan kelas seven A.


Mereka keluar sambil tertawa. Maira dan Amertha sudah menunggu dan akhirnya mereka pulang bersama. Seperti biasanya. Mereka mengantar Anton dan Nita terlebih dahulu.


"Makasih Nyonya!"


"Sama-sama sayang," ujar Amertha.


Dua bocah itu melambaikan tangan. Mobil bergerak. Barulah keduanya masuk rumah dan mengucap salam.


"Ayo, ganti baju!" titah Minah pada dua anaknya.


Sedang di tempat lain. Dua mobil sampai di halaman rumah Manya. Semua turun lalu masuk dalam rumah.


"Kami pulang!" pekik Abraham.


"Baby, sepatunya!" peringat Maira.


Abraham kembali dan membereskan sepatu ke raknya. Maira dan Amertha membantu cucu-cucunya berganti baju.


"Kami bisa sendiri Moma!" ujar Laina.


"Ah ... kalian sudah besar ternyata," ujar Maira kesal.


"Ih ... sayang!" Maira mencium gemas cucunya itu.


"Moma!" rengek Laina.


Semua anak kembali bermain di taman belakang. Manya datang membawa makanan dari luar. Kali ini anak-anak dimanjakan dengan makanan mie ayam dan pangsit goreng.


"Mama ... padhi Ata' Penta telatil pita nasi pudut!" lapor Aidan semangat.


"Oh ya?" sahut wanita itu.


"Iya Ma, Denta itu sering banget traktir kita jajan di kantin, makan nasi uduk, kadang makan batagor. Semua beli di kantin nggak pernah di luar," sahut Abraham.


"Terus bekal kalian yang makan siapa?" tanya Manya.


"Kita kasih ke pengemis, Ma. Minta tolong sama Bu Kantin bekal kita dibungkusin gitu," jawab Syah.


"Benar Manya. Mama sendiri sampai malu. Mestinya, mereka yang lebih sering mentraktir temannya jajan," ujar Maira.


"Nggak perlu malu. Ada banyak kan teman-teman dia yang nggak jajan dan malah nggak bawa bekal," tukas Manya.


"Besok-besok, jika ditraktir lagi. Bekal kalian berikan ke teman yang nggak jajan saja ya," lanjutnya.


"Iya Ma," sahut seven A kompak.


Maira dan Amertha mencebik kesal. Manya benar-benar tidak membiasakan putra dan putrinya jajan sembarangan. Bahkan untuk berganti mentraktir jajan saja tidak.


"Setidaknya mereka gantian mentraktir Denta jajan," ujar Amertha.


"Besok kalian bawa makanan untuk Denta ya sayang. Bilang dari Mama," ujar Manya mematahkan perkataan ibunya.


Seven A mengangguk. Amertha dan Maira kesal dengan wanita itu. Kini anak-anak sudah tidur siang. Jovan tak ikut pulang, ia keluar kota bersama Praja.


"Kamu jadi orang jangan pelit sama uang Manya!" tegur sang ibu.


'Iya, kesannya kamu kikir sekali dengan anak-anak mu. Lagi pula mereka kan sudah besar, beri saja mereka jajan!" sahut Maira.


"Mom, Mi ... apa masih ingat dengan kejadian seven A dan Denta dipalak oleh Dino?" dua wanita itu langsung diam.


"Bagaimana jika kita bawa anak-anak untuk latihan bela diri. Aku dengar Denta juga berlatih," ujar Maira.


"Jangan bilang kau tak setuju Manya. Kau ingin anak-anakmu kau ikat seumur hidupmu!" sahut Amertha ketus.


Wanita itu melihat putrinya hendak menolak tawaran mertuanya itu. Tentu Amertha kesal dengan sikap overprotektif dari Manya.


"Ma, mereka terlalu kecil,"


"Manya ... lama-lama aku pukuli kau yang keras kepala seperti ini!" sentak Maira kesal.


"Mi ...," rengek wanita itu.


"Jangan berpikir kau bisa melindungi mereka seumur hidup. Mereka jadi tak tahu apa-apa karena kau sekap seumur hidup mereka!" cibir Amertha ketus.


Manya terdiam, ia masih berpikir jika dirinya masih bisa melindungi semua anak-anaknya. Padahal ia bekerja, makanya Manya mengurung semua anaknya di rumah.


"Mami akan daftarkan mereka bela diri!" putus Maira tak bisa dibantah.


"Aku setuju! Reece juga aku daftarkan!" ujar Amertha.


Manya mengalah. Ia memang harus melonggarkan dirinya. Seven A sudah besar, terlebih ia kini mulai program hamil. Tentu ia akan sibuk dengan urusan bayi yang baru lahir tahun depan.


Sore menjelang, Jovan datang dengan wajah lelah. Manya langsung menyambutnya dan membawa pria itu ke kamarnya. Ramaputra menyuruh Praja langsung pulang.


"Kau juga lelah. Pulanglah Praj!"


"Terima kasih Tuan!"


Praja menaiki mobilnya dan menuju huniannya. Di sana istri dan putranya menunggu.


Usai makan malam mereka bercengkrama. Seven A belajar dan memasukkan buku pelajarannya untuk esok hari.


"Jadi Mami akan mendaftarkan anak-anak untuk ikut bela diri?" tanya Jovan.


"Iya, selain bekal itu bagus untuk mereka. Mereka jadi lebih disiplin dalam kehidupan keseharian. Kan dulu kamu juga Mami masukin Dojo seusia mereka," jawab Maira.


Jovan mengangguk setuju. Pria itu mendukung rencana ibunya. Manya kalah suara, kali ini tak ada yang membela ibu super over protektif itu.


Bersambung.


Ah ... Manya ...


Next?