THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PULANG LIBURAN



Jovan mabuk dan muntah-muntah setelah melakukan paralayang. Sudah lama pria itu tak menguji adrenalinnya. Sedang Gerard dan Praja terduduk lemas.


"Padahal Tuan besar-besar dan sehat?" ujar salah satu petugas paralayang bingung.


"Ini karena kami terlalu manja dan jarang latihan Pak," sahut Gerard membela diri.


Manya, Denna dan Saskia sangat kesal dengan para suaminya yang bersenang-senang sendiri.


"Sayang ... kamu tengah hamil!' ujar Praja pada sang istri yang ngambek.


"Ih ... nyebelin!" ketus Saskia.


Praja memeluk istrinya, pria itu sedikit lebih tenang dan bisa mengendalikan diri. Berbeda dengan Gerard terutama Jovan yang lemah tak berdaya ketika istrinya mengomeli pria itu.


"Papa sih!" gerutu Manya.


"Sayang ... aku sakit," rengek Jovan lemah.


Ingin sekali Manya membiarkan sang suami kepayahan sendiri. Tetapi melihat wajah pucat Jovan membuat ia tak tega. Akhirnya, Manya membimbing suaminya masuk villa.


"Itu lah akibatnya kalo main nyolong-nyolong!" dumal Aldebaran kesal.


"Grandpa," rengek Jovan lemah.


"Sudah, bawa suamimu ke kamar Manya!" perintah Maira yang juga kesal pada putranya yang sok jago itu.


"Mama ... Papa kenapa?" tanya Lika khawatir.


Semua anak cemas melihat para ayah mereka berwajah pucat dan lemas. Padahal tadi semua pria dewasa itu tidak apa-apa.


"Ini sayang, Papamu baru saja bermain nggak ngajak-ngajak, jadi ya gitu deh!" sahut Manya menjawab dengan kesal.


"Papa sulan Ma?" tanya Aislin.


"Iya Papa curang," jawab Manya.


"Pidat pait ... pidat pait!" geleng bayi cantik itu.


"Papa beumana pabis napain?" tanya Pram bingung.


"Habis terbang," jawab Denna.


"Ih ... tadi Laina mau terbang nggak boleh!' sahut Laina cemberut.


"Olah raga itu untuk usia tujuh belas tahun ke atas Baby," sahut Saskia.


"Hai ... kok malah ngobrol, bawa ke kamar semua!" perintah Demira.


Akhirnya, tiga pria berbaring di kamar mereka masing-masing. Manya membuat bubur untuk semuanya termasuk para pria.


"Moma ... kita mau main ya!' ujar Abraham kecil.


"Iya sayang!" sahut Maira.


Semua anak bermain tentu dijaga ketat oleh para pengawal. Semua senang dan bercanda.


"Ih ... kalo bisa main gobak sodor di sini," ujar Hilman.


"Iya ... lahannya kurang lebar ya, takut malah nyemplung ke jurang," sahut Anwar.


Sidik juga ikut mengawasi anak-anak, ia dan istri benar-benar bebas tugas di sana. Malahan para majikan melayani mereka.


"Mereka orang-orang baik ya Pak," puji Tinah.


"Iya, mereka memang orang baik," sahut Sidik.


Semua anak senang liburan di gunung. Mereka kaget ketika bangun sudah ada di kamar mereka masing-masing. Rupanya para pengawal yang membawa mereka semua ke kamar ketika malam datang.


Kabut turun udara semakin dingin terlebih gerimis kecil datang. Aldebaran tentu tak mau jika semua anak-anak jadi basah akibat air masuk ke tenda. Maka itu semua pengawal membawa anak-anak masuk ke kamar dengan cara menggendong mereka.


"Papa ini bukan asap kan?" tanya Seno takjub melihat kabut.


"Bukan sayang, itu namanya kabut," jawab Aldebaran.


"Paman ... lihat!' sahut Bhizar yang membuka lebar mulut agar kabut masuk.


"Eh ... kok nggak kek yang di film?" tanyanya bingung.


"Sayang, jika mau keluar asap, bukan memakan kabut. Tetapi udara dingin yang masuk dan keluar dari mulut atau hidung kita jadi berasap," jelas Manya.


"Oh ... aku kira, bisa kek di film-film," sahut Bhizar terkekeh.


Aislin, Tita, Pram dan Maiz ikut membuka mulut dan mencoba memasukkan kabut.


"Sayang, jangan. Kabut itu tidak sehat, karena merupakan Kabut muncul ketika air menguap, kemudian menjadi titik-titik air dan memadat. Kabut terdiri dari uap air, maka dari itu kabut akan terasa sangat lembab. Selain air, kabut juga mengandung unsur polutan lainnya seperti debu, asap, atau bahkan garam jika kabut terjadi di dekat laut. Berdasarkan tingkat kelembaban dan suhunya, kabut bisa muncul dan hilang secara tiba-tiba!" jelas Denna.


"Mommy selewet!" protes Aislin putrinya.


Denna berdecak, sedang Saskia dan Manya tersenyum lebar mendengarnya. Kini mereka bersiap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Leni, Tuti, Dina dan April melirik para bodyguard yang memang sangat-sangat tampan. Mereka nyaris tak fokus bekerja akibat ketampanan para pengawal yang baru saja direkrut oleh Aldebaran itu. Sidik, Tinah dan dua anaknya juga senang berada di gunung.


"Ibu jadi lebih segar loh Pak," ujar sang istri pada suaminya.


"Alhamdulillah jika sesak ibu sembuh akibat udara sejuk mungkin ya," sahut Sidik.


"Kamu senang Le, Nduk?" tanyanya pada dua anaknya.


Nita dan Anton mengangguk antusias. Mereka senang karena berkumpul dengan saudara lainnya.


Kini mereka pulang ke rumah masing-masing dengan menaiki tiga bus yang membawa mereka ke hunian mereka masing-masing.


"Kita kembali besok ya," ujar Aldebaran.


"Iya Dad," sahut Abraham dan Ramaputra.


Butuh waktu dua puluh lima menit mereka sampai ke hunian mereka. Manya membantu semua anak turun dari bus. Semua anak membawa ransel pakaian mereka masing-masing.


"Nyonya Tuan, kami langsung pamit ya," ujar Sidik.


"Loh, sebentar Pak!' sahut Manya. "Masuk dulu. Pamali langsung pulang!"


Sebuah perintah yang tak bisa ditolak. Sidik memang membatasi diri untuk tidak terlalu dekat dengan majikannya. Ia takut memanfaatkan kebaikan keluarga itu.


"Istirahat dulu di sini Pak. Jangan langsung pulang dalam keadaan lelah, terlebih Bapak naik motor bonceng banyak orang," ujar Manya.


"Ayo istirahat di sini!' perintah Manya membuka kamar tamu.


Sepasang suami istri itu sangat sungkan masuk ruangan mewah itu. Tetapi melihat kedua anak mereka yang juga kelelahan akhirnya Sidik dan Tinah masuk kamar dan beristirahat bersama dua anaknya.


"Setelah minum teh sore baru boleh pulang ya," ujar Manya.


"Makasih Nyonya," sahut Sidik dengan haru.


Akhirnya sore pun datang. Setelah minum teh, Sidik membawa pulang anak dan istrinya tetapi tidak menggunakan motor, melainkan mobil. Rangga, pengawal baru diminta Manya mengantar keluarga kecil itu pulang.


"Makasih ya Ma," ujar Abraham memeluk ibunya.


"Makasih untuk apa sayang?" tanya Manya.


"Karena udah baik sama Anton dan Nita," jawab bocah tampan itu.


Manya memeluk putranya. Berkat kebaikan seven A dan kepedulian mereka lah membuat Manya kembali pada cita-cita sebelumnya.


"Mama malah berterima kasih padamu sayang," ujarnya tulus.


"Karena kalian Mama belajar untuk menjadi manusia yang sesungguhnya," lanjutnya.


Malam pun tiba, Manya dan Jovan mencium semua anak-anak. Walau kini tanpa Reece dan Liam kadang ada Tita juga Maiz bahkan Aislin ikut bergabung bahkan Pram.


"Aku merindukan anak-anakku yang lain," keluh wanita itu.


"Sayang, masih ada dua di sini," ujar Jovan mengingatkan sambil mengelus perut istrinya.


"Mas," panggilnya mesra pada sang suami.


Melihat kabut gairah di mata istrinya membuat Jovan tersenyum lebar. Kini keduanya sudah bergelut di ranjang dalam penyatuan cinta.


Bersambung.


Ah ... othor masih polos 🤪😅🤭