THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
KEJADIAN



Keinginan Maira, Amertha dan Renita untuk hamil lagi ternyata dikabulkan oleh Tuhan. Wanita-wanita lanjut usia tapi masih mendapat siklusnya itu kembali diberi kepercayaan.


"Apa, Mommy hamil?" pekik Leticia tak percaya.


Irham senang luar biasa. Pria itu menciumi sang istri di depan anak dan menantunya, sampai Renita malu bukan main.


"Sayang ... udah ih," sungutnya kesal.


Baik Rudi dan Leticia ikut bahagia melihatnya.


"Jadi aku bakalan punya adik?" Renita mengangguk.


"Sudah berapa bulan Mom?" tanya Rudi ikut senang.


"Sepuluh minggu," jawab Renita dengan rona di pipi.


"Jangan bilang Mommy mau punya anak gara-gara liat Reece?" terka Leticia.


"Iya, Daddy gemas melihat bayi tampan itu. Dia begitu bossy dan ... uuhhhh!" jawab Irham geregetan.


Leticia dan Rudi tertawa melihat ekspresi ayah mereka yang seperti gemas sendiri itu. Sementara di tempat lain Maira sudah membuang urinenya di sebuah wadah dan mencelupkan benda kecil di sana. Ia hanya tinggal menunggu hasil.


"Ahh!" desahnya kecewa.


Garis satu terlihat dengan jelas di sana. Ia pun membuang begitu saja benda pipih kecil itu ke tempat sampah dan air seninya ke closed.


"Mungkin memang sudah tak bisa lagi" ujarnya bermonolog.


Ia pun keluar dari kamar mandi. Abraham melihat ekspresi kekecewaan istrinya. Ia menghela napas panjang.


"Sayang,"


Ia mendekati sang istri dan memeluknya erat. Maira menangis di dada sang suami. Abraham menenangkan wanita yang telah menemani separuh hidupnya itu. Aldebaran yang melihat menantunya menangis langsung masuk.


"Apa yang kau lakukan pada istrimu?" tanyanya tak suka.


"Aku tak melakukan apa-apa!" jawab Abraham.


"Lalu kenapa dia menangis?!"


"Gagal lagi Daddy ... hiks," jawab Maira sambil sesenggukan.


"Apanya yang gagal?" tanya Aldebaran tak mengerti.


"Aku gagal hamil," cicit Maira lirih.


"Astaga, Nak ... ingat umur!" pekik Aldebaran kaget.


"Kau mau meninggalkan anakmu ketika masih usia belia?!" lanjutnya marah.


"Dad," rengek Maira.


"Sudah Nak. Cucumu sudah sepuluh," peringat Aldebaran lagi.


Maira akhirnya pasrah, perkataan ayah mertuanya benar. Ia sudah terlalu tua untuk kembali punya anak. Ia juga tak mau meninggal dunia ketika anaknya nanti masih kecil.


Sedangkan di mansion Ramaputra, Amertha terpekik kegirangan melihat hasil testpacknya yang ada dua garis begitu terang.


"Mom ... ada apa?" tanya Ramaputra panik.


Amertha keluar dari kamar mandi langsung memeluk sang suami lalu memagut bibirnya. Pria itu kaget mendapat serangan mendadak dari istrinya, ia pun membalas pagutan itu.


"Sayang ...," panggil Amertha dengan begitu gairah.


Reece memang tak pulang ke rumah, bayi bossy itu memilih menginap bersama semua keponakannya. Hal itu dimanfaatkan oleh Amertha.


"Sayang ...," wanita itu merengek.


Ramaputra langsung terbakar gairah. Ia selalu suka dengan cara sang istri membakar hasratnya. Ia mengambil ponselnya lalu menelepon Rudi.


"Rud, tangani semua. Aku tidak masuk hari ini!" ujarnya.


Amertha melangkah dengan begitu gemulai. Ia melepas kimono yang menutupi tubuhnya yang masih terawat itu. Ramaputra menatap lekat semua pergerakan sang istri. Ia pun melepas semua jas, kemeja dengan kasar lalu melemparnya sembarangan.


Amertha sudah tanpa sehelai benang. Ia duduk dengan pose yang begitu menggoda. Kakinya ia jenjangkan ke atas dan menekuk membelai kaki sebelahnya. Pandangan yang berkabut gairah, Amertha mengambil lipstik dan menorehkan di bibirnya. Gerakan itu begitu seksi. Ramaputra masih setia, kini ia juga membuka sabuknya dengan gerakan sensual. Hingga seluruhnya terpampang jelas.


Pagi hari di kamar Ramaputra terjadi kegiatan yang begitu membakar hasrat semua orang. Keduanya saling mencumbu, menggoda pasangan untuk memulai permainan inti.


Sedang di rumah Manya. Kehebohan pun terjadi pada keluarga besar yang anaknya masih kecil-kecil itu.


"Mama ... Lees bawu pup!" teriak Reece.


"Mama, Elald nompol pi tasul!" adu Aqila.


"Mama ... huuaaa!" pekik Adelard yang celananya basah.


"Ma, kaos kaki Papa mana?"


"Ma ... buku gambar Lika dicoret sama Syah!" adu Lika akan kenakalan saudaranya.


"Mama ... Mama ... Mama!" seru Aidan dan Bhizar bersamaan.


Manya hanya bisa menghela napas panjang. Ia membersihkan Reece terlebih dahulu sebelum bayi itu membuka sendiri popoknya dan membuang pesesnya ke lantai. Lalu ia membersihkan Adelard yang ngompol. Ternyata popoknya tembus. Ia mengambil sepatu Abi yang ada di kolong kursi. Menemukan kaos kaki suaminya di sana.


"Baby Syah?!" peringat Manya.


Semua suster bukan tak ikut membantu. Tetapi, anak-anak memang begitu. Mereka tetap memanggil sang ibu untuk mengurusnya.


Akhirnya semua anak-anak sudah rapi. Manya sendiri masih memakai piyama, ia belum sempat mandi padahal hari ini ia ada jadwal operasi.


"Ma ... sarapan Papa mana?"


"Ma, Abi nggak mau roti!"


"Ma, Lees mawu yan panzan-panzan tayat teumalin balna butih ipu Ma!"


"Ma ... selainya yang strawberry mana?"


Manya kembali mengambilkan nasi goreng di piring suaminya dan Abi. Lalu mengolesi selai strawberry pada roti Lika, memberi spaghetti di piring adiknya juga pada semua anak lainnya.


"Jangan lupa habiskan susu kalian!" titahnya.


"Iya Mama!" sahut semua kompak.


Akhirnya anak-anak berangkat, Manya harus cepat mandi dan berpakaian rapi. Ia langsung menyambar tas kerja dan juga ponsel di atas nakas. Ia harus cepat.


"Ma ... cepat sayang!" teriak Jovan.


"Iya ... Pa!" sahut Manya.


Ia memakai sepatunya dan langsung masuk mobil begitu juga sang suami. Akhirnya kendaraan roda empat itu pun berlalu dari halaman rumah itu. Manya pergi tanpa sarapan dan menyisir rambut.


Di sekolah, Reece, Adelard, Aqila dan Aidan menunggui seven A yang tengah belajar. Pada suster membawa mereka ikut ke sekolah karena ibunya belum datang.


"Pita bain yut!" ajak Reece.


Empat bayi menuju ayunan dan bergantian bermain di sana. Dua suster mengawasi mereka. Hingga jam istirahat datang, semua anak berhamburan keluar.


"Eh ... kalian nggak boleh main!" seru salah satu anak pada triple A dan Reece.


"Spasa tamu lalan-lalan pita bain!" sentak Reece galak.


"Eh ... kamu sok jagoan ya anak kecil!" ledek anak yang sama kecilnya dengan Reece.


"Hei!' tegur Saskia.


Empat anak yang menantang Reece mundur. Mereka pun seperti hendak menangis, padahal tidak di apa-apain.


"Eh ... kamu apain anak saya?!" teriak salah satu ibu.


Ibu bertubuh tambun itu mendorong keras Saskia. Beruntung ada Wati di belakang tubuh Saskia jadi tak ada kejadian yang mengerikan.


"Emang saya apain anak ibu?!" sahut Saskia mulai panas.


"Eh ... babu itu nggak usah banyak mulut ya!" hina wanita itu.


"Hei ... ibu yang terhormat, saya babu tapi punya pendidikan dan adab!" serang Saskia balik.


"Kamu kira saya nggak berpendidikan apa!" teriak ibu itu tersindir.


"Bukan saya yang ngomong ya ... Ibu sendiri yang ngaku!" sahut Saskia meledek.


Ibu itu tak terima, ia hendak menyerang Saskia jika saja tak diteriaki oleh kepala sekolah.


"Berhenti semua!"


Ibu itu berhenti dengan tangan di atas hendak menyerang Saskia. Kepala sekolah mendekati.


"Apa kalian nggak ingat umur?!" bentaknya.


"Lihat anak-anak kalian malah ketakutan sendiri!' tunjuknya pada semua anak yang berpelukan satu dengan lainnya.


Triple A dan Reece langsung diambil alih oleh suster lainnya. Sedang yang lain ditangani oleh ibu mereka sendiri.


Akhirnya semua pulang tanpa ada beban apapun.


bersambung.


next?