
Seven A kini kembali bersekolah, mereka duduk di kursi mereka. Anton dan Nita sudah datang lalu tak lama Denta. Mereka langsung mengobrol.
"Guys," panggil Denta.
"Penghasilan sudah ditransfer ya," lapornya.
"Iya ... kok makin banyak sih?" tanya Agil bingung.
"Mama bikinin kita yutup jadi kita tambah dapat uang dari sana," jawab Denta.
"Nih uang kita banyak. Ada rencana buat disumbang nggak?" tanya Abraham.
"Gimana kita beli tanah terus dibangun masjid udah itu kita wakafkan?" saran Anton.
"Wah ide bagus itu!" seru Abi antusias.
"Nanti aku tanya Mama deh," ujar Denta juga setuju.
"Udah jangan ngomongin hasil, nanti kita disemprot lagi sama guru," lerai Syah.
Mereka duduk di bangku mereka masing-masing. Tak lama guru datang dan mereka pun fokus belajar.
Hingga bel istirahat berbunyi. Semua teman yang ikut dalam perusahaan Seven A berkumpul di kantin. Denta begitu dominan, kecerdasan bocah itu sangat membantu semua anak yang masih polos dalam segala hal termasuk seven A. Bedanya Seven A cepat belajar.
"Eh ... bagaimana kita merekrut beberapa anak yang dulu tinggal di tempatku?" usul Angga.
"Boleh, kata Mama juga kita kekurangan staf," jelas Denta.
"Tapi kan nggak mungkin kita yang nyari," sahut Abi.
"Bapakku akan nyari anak-anak yang dipaksa kerja sama bapak ibunya,'' jawab Dwi.
"Boleh deh. Tapi jangan asal milih ya ... karena nggak semua orang tua kayak orang tua kita," peringat Laina.
"Oke ... Bapak pasti tau," jawab Dwi meyakinkan.
Makanan datang, kali ini memang seven A tidak membawa bekal mereka. Manya membiarkan mereka jajan asal itu makanan dari kantin.
"Misi," dua anak perempuan mendatangi kelompok itu.
"Ya?" sahut Denta.
"Eum ... kalian yang punya perusahaan itu ya?" tanya salah satu bocah perempuan yang seusia mereka.
"Bisa dibilang begitu, memang kenapa?" tanya Lika.
"Boleh kami gabung nggak?" tanya bocah perempuan itu lirih.
"Aku Lina kelas dua SD sedang ini Wiwi kelas satu D. Kami bisa kerja nggak di tempat kalian?" tanya Lina.
Kriuk! Bunyi perut terdengar. Semua menoleh pada asal suara. Wiwi menunduk malu, ia memang belum makan bahkan dari kemarin.
"Kamu sudah makan?" keduanya menggeleng lemah.
"Ya udah sini makan dulu!" ajak Agil lalu berdiri dan mengajak mereka duduk.
Dua nasi uduk dan dua minuman sudah terhidang. Wiwi gemetar ketika menyuap makanan itu begitu juga Lina.
"Memang orang tua kalian di mana?" tanya Denta.
"Orang tua kami pengasong, Wiwi tetangga aku di gubuk dekat pembuangan akhir sampah," jawab Lina.
"Udah jangan tanya-tanya mulu, biar mereka makan," ujar Abraham.
Makanan habis Lina dan Wiwi mengucap terima kasih.
"Kalian bisa sekolah di sini apa dapat beasiswa?" Lina mengangguk.
"Hanya kami berdua yang sekolah dari tempat kumuh yang tak mungkin orang tinggal di sana," jawab Wiwi pada akhirnya.
"Kami sekolah dan mengajarkan anak-anak yang juga mengais rejeki sama seperti orang tua mereka," lanjutnya.
"Kenapa nggak pulang kampung saja?" tanya Abraham.
"Kami tidak tau, kami lahir dan besar di sana," jawab Lina kini.
"Memang ada berapa orang dan anak di sana?" tanya Syah.
"Ada dua puluh kepala keluarga hidup di sana," jawab Lina.
"Mandi kalian di mana? Di sana pasti nggak ada air bersih," tanya Abi.
"Ada toilet umum, kami harus ke sana dan bayar sekitar lima ribu rupiah untuk kegiatan mandi cuci kakus," jawab Lina.
Bel masuk berbunyi, mereka akan bertemu kembali ketika pulang sekolah nanti.
"Mama ... ini kenalin Lina dan Wiwi. Anak baru yang mau gabung di sini," ujar Denta memperkenalkan teman barunya.
"Halo sayang," sapa Dania pada dua anak gadis yang terlihat sangat kurus dan berseragam kumal.
"Halo Tante!" Dania sedikit menjauhkan wajahnya.
Baik Lina dan Wiwik benar-benar memiliki bau yang tak sedap. Bahkan gigi mereka terdapat karies yang membuat gigi mereka hitam dan berlubang. Rambut kasar dan kulit hitam dan busikan.
"Kalian mandi yuk!" ajak Dania.
Dania sendiri yang memandikan mereka dengan benar. Wanita itu sampai menitikkan air mata melihat banyak kutu di rambut mereka hingga menimbulkan luka.
"Tante sakit!" keluh Wiwi ketika dikeramas oleh Dania.
"Sabar sayang, kepalamu penuh luka," terang Dania.
Setelah bersih dan wangi, Dania juga memberikan baju yang layak pakai. Keduanya diminta bersikat gigi.
"Kita ke klinik ya," ajaknya.
"Tapi kita nggak sakit Tante," tolak Wiwi.
"Kalian sakit sayang," ujar Dania sedih.
"Seven A mau pulang dulu ya Tante!' pamit Seven A.
"Iya sayang, hati-hati di jalan ya," ujar Dania.
Seven A pulang bersama Pak Sidik. Beberapa pengawal mengikuti mereka. Dania mengajak Wiwi dan Lina ke klinik di sebelah studio milik anak-anak.
"Kami nggak mau disuntik!" keduanya menangis ketika melihat dokter.
Dania dan para suster menenangkan mereka berdua. Setelah berhasil dibujuk sedemikian rupa akhirnya mereka melakukan perawatan gigi. Dokter menambal gigi yang berlubang dan membersihkan semua karies yang ada.
Sementara di tempat lain Seven A sudah sampai rumah. Mereka mengucap salam sebelum masuk rumah. Para suster membenahi sepatu-sepatu yang bergeletakan.
"Ata'!" pekik Aislin.
"Baby ... kamu di sini?" seru seven A senang.
Liam dan Reece juga ada menyambut mereka. Ternyata hari ini rumah Manya jadi tempat makan siang.
Tak lama hunian sederhana dua lantai itu penuh dengan anak-anak. Semua ribut dan saling bertukar cerita.
"Iya Paman, tadi kasihan loh teman Abraham ampe gemetaran pas makan,"
"Wah ... kasihan Lina dan Wiwi. Pasti banyak anak yang kek mereka," sahut Nina.
"Mama ... kami mau bangun masjid dari gaji kami apa boleh?" tanya Bhizar mengingat rencana mereka.
"Tentu sayang, itu ide yang bagus!" sahut Manya antusias.
"Wah ide siapa itu? Kok aku nggak kepikiran ke sana ya?" tanya Aldebaran.
"Dwi yang punya ide Uyut," jawab Abraham.
"Kalian memang luar biasa, punya pikiran untuk membangun rumah ibadah," puji Abraham senang.
"Papa seven A punya uang dari mana?" tanya Anwar.
"Oh kami memang punya usaha dari jualan paket mandi sekarang berkembang, bahkan kami udah punya kanal yutup sendiri," jawab Abi bangga.
"Wah ... hebat. Kita boleh gabung nggak?" tanya Alisa.
"Baby ... Papa masih bisa memberi makan kalian hingga besar!" larang Aldebaran.
"Pa ... nggak boleh begitu," peringat Maira.
"Mereka tentu ingin mandiri," lanjutnya.
"Sayang ... maaf, bukan aku ingin memaksimalkan kehendak. Tapi aku mengambil mereka untuk melanjutkan semua usahaku. Kau tau Abraham begitu kerepotan begitu juga Praja dan Jovan," ujar Aldebaran.
"Baik Papa ... kami nurut apa kata Papa," lerai Azlan menengahi perdebatan antar orang dewasa.
"Maaf sayang Papa sedikit egois. Tapi memang itu tujuan Papa mengambil kalian," jelas Aldebaran.
"Iya Papa, kami mengerti ... malah kami berterima kasih karena nanti besar kami tidak perlu berpikir untuk mencari pekerjaan," ujar Anwar menenangkan ayah angkatnya.
Bersambung.
Next?