
Hari berganti, kini keluarga Downson menantikan keturunan kedua mereka. Setelah kemarin bersama para kembar bermain. Denna mengalami kontraksi. Wanita itu segera dilarikan ke rumah sakit di milik Keluarga Dinata.
"Pembukaannya masih lima ya. Ibunya boleh jalan-jalan dulu," pinta sang dokter ketika memeriksa pembukaan mulut rahim.
"Nak, operasi cesar aja ya," pinta sang ibu mertua.
"Nggak Mom. Denna bisa kok lahir normal, sama seperti Liam dua tahun lalu," tolak Denna.
"Sayang, Mommy nggak mau kamu kesakitan seperti ini," ujar Clara khawatir.
Denna mengecup kening mertuanya. Eddie dan Gerard langsung pulang dari luar kota ketika mendengar Denna hendak melahirkan.
"Kalian pulang saja, aku tidak apa-apa," pinta Clara pada Maira dan suaminya.
"Iya Mi, Pi. Kalian pulang aja kasihan Grandpa di rumah sama Manya dan anak-anak," ujar Jovan. "Biar aku yang menemani mereka sampai Om Eddie dan Gerard datang."
"Oke, kami pulang. Jaga bibimu baik-baik ya," sahut Abraham menepuk bahu putranya.
Akhirnya Abraham pulang bersama istrinya, sedang Jovan menemani bibinya. Hingga matahari sudah naik. Eddie dan Gerard baru tiba, rupanya janin ingin ditunggui ayahnya.
Gerard masuk dengan baju OK. Denna sudah berjongkok menahan nyeri luar biasa. Lima jam kontraksi dan pembukaan yang masih saja lima. Gerard mendekat dan mengelus punggung istrinya.
"Mas ...," panggil Denna merintih kesakitan.
Gerard sedih melihat kesakitan istrinya. Ia mengusap terus punggung istrinya. Satu jam berlalu lalu barulah pembukaan sempurna, Denna merasakan mulut rahimnya panas.
"Sudah pembukaan sempurna, mulai atur nafas ya," pinta dokter.
Denna mulai mengatur napasnya. Kakinya sudah dibuka lebar, Gerard menemani istrinya memberikan kekuatan dan juga semangat.
Dua jam berlalu, seorang bayi cantik sudah berada di boksnya. Gerard mencium istrinya, mengucap terima kasih.
"Sayang ... terima kasih sayang,"
"Putri kita cantik," lanjutnya.
Denna tersenyum, bayinya baru saja lepas menyusui dan tengah tertidur. Tak lama Clara datang bersama cucu pertamanya.
"Mommy ... adet payi bana?" tanya Liam.
"Adek bayinya lagi bobo Baby," jawab kakeknya.
"Mawu sium!" pekik Liam hingga adiknya terbangun dan menangis.
"Baby," keluh Eddie.
Akhirnya Liam bisa mencium adik perempuannya. Bayi mau dua tahun itu senang bukan main.
"Hi, papy del," sapa Liam pada adiknya.
Bayi cantik itu terlelap kembali setelah menangis sebentar. Akhirnya Eddie membawa cucu pertamanya itu jalan-jalan, bayi itu bosan setelah beberapa lama.
"Apa kau sudah menyiapkan nama?" tanya Clara pada putranya.
"Aislin Artemishaa Downson. Artinya anak perempuan pertama dari Dewi Artemis," jawab Gerard bangga.
"Nama yang unik sekali," ujar Denna bahagia.
"Kau suka sayang?" Denna mengangguk.
Hanya butuh satu hari saja Denna berada di rumah sakit. Hari ini ia kembali pulang bersama bayi cantiknya.
Mansion Clara sudah penuh anak-anak, Maira dan suaminya juga ada di sana. Aislin sudah berada di tangan Maira, wanita itu menciuminya dengan gemas. Lagi-lagi terbesit hatinya memiliki anak.
"Sayang, berikan bayi itu padaku!" pinta Abraham.
Pria itu juga gemas dengan bayi cantik ini. Ia mencium dan memandangi bayi cantik itu.
"Sayang, kok aku jadi ingin punya anak lagi," bisiknya pada sang istri.
"Aku juga mau lagi," bisik Maira.
"Mami sama Papi bisik-bisik apa?" tanya Manya penasaran.
"Nggak ada sayang," bohong Maira.
Manya memicingkan mata. Sepuluh anak kembarnya sudah mengerumuni bayi cantik yang baru berumur satu hari itu.
"Mama ... Elad bawu dedet payi don!' pinta bayi tampan itu.
"Nanti ya Baby. Tunggu kalian besar," ujar Manya.
"Peusalna pampai bana Mama?" tanya Aqila dengan mata bulat.
"Mama ... talo panti bunya payi ladhi Atila janan eundat pisayan ya," pintanya lirih.
"Oh Baby ... Mama pasti sayang sama kamu dan semua anak-anak Mama!" ujar Manya.
'Iya, jangan kuatil Baby, kakak juga akan ngalah jika kamu minta pelhatian Mama lebih," ujar Lika bijak.
Aqila memeluk ibunya, ia tak mau lepas dari rengkuhan ibunya. Sepertinya bayi cantik itu sedang cemburu dengan kehadiran bayi yang baru lahir.
"Atila dali padhi eundat disyium Moma," adunya.
"Oh sayang. Maafin Moma," ujar Clara.
Clara memang dari tadi belum mencium semua cucu keponakannya. Ia pun menciumi ten A, Reece dan juga Liam.
Akhirnya Aqila baru mau lepas dari pelukan ibunya. Bayi itu sudah bermain bersama saudaranya yang lain.
Maira dan lainnya menginap di mansion mewah itu. Downson adalah seorang pebisnis ternama, ia juga sama kaya dengan kakak iparnya. Terlebih ia kini merambah ke perhotelan dan juga rumah makan cepat saji.
"Kita akan mengadakan pesta selamatan dan juga memperkenalkan salah satu ahli waris keluarga Downson," ujar Eddie memaparkan rencananya.
"Kita buat di salah satu hotelmu saja," ujar Abraham memberi ide.
"Iya karena tema anak-anak kita sulap taman hotel menjadi arena bermain anak-anak," ujar Jovan menyumbangkan idenya.
"Ide brilian, aku setuju!" ujar Clara sepakat.
Sedang di taman belakang Liam, Reece dan triple A tengah bertanya dengan Seven A.
"Ata' teumalin tatana iput pomba pujuh lepasan?" tanya Liam.
"Iya butan eh bukan Kakak aja yang ikut. Om Lees sama tlipel A judha eh juga ikut," jawab Bhizar.
"Pomba pi mana Ata'?" tanya Liam sedih.
Bayi tampan itu tak boleh keluar oleh neneknya dengan berbagai alasan. Padahal ia melihat layar televisi di tempat para maid perlombaan yang begitu seru.
"Kakak ikut lomba gambal talo Om Lees ikut lomba pesyen sow," jawab Abi kini.
"Pepsen sow pa'a?" tanya Liam.
"Ipu woh ... yan dalan-dalan mutel-mutel pambil doyan-doyan bedhini!" jawab Aidan mempraktekannya.
"Pita papat ladiah woh!" lanjutnya memberitahu.
"Iam ... eundat poleh pama Moma," adunya sedih.
"Emangnya apa kata Moma?" tanya Laina.
"Janan, pisyana banat tuman, lame, banas, depu, totol!" jawab Liam mengingat semua kata-kata neneknya.
"Talo tamu catoh, syatit, peuldalah, Moma syedih," lanjutnya dengan mata menggenang.
"Kan kemalin udah itut lomba judha di lumah," sahut Syah menenangkan adiknya itu.
"Iya hadiahnya juga lebih besal dali hadiah yang ada di tujuh belasan itu," sahut Abraham.
"Pati Iam penenna itut pomba yan banat lolan ipu Ata'," ujar bayi tampan itu.
"Nanti saja kalo kamu udah besal, kamu bisa kok ikut lomba di sekolah kamu nanti," sahut Agil bijak.
"Oh ya Blaham, ngomong-ngomong. Kemalin hadiah yang dari Uyut belum kamu buka bungkusnya," ingat Lika.
"Itu bukan buat aku," jawab Abraham santai.
"Memang buat siapa?" tanya Abi ingin tau.
"Atuh Pahu puwat spasa tado ipu!" seru Reece.
Semua menoleh pada bayi itu. Reece menatap salah satu keponakannya itu.
"Basti puat Banton tan?" terkanya.
Lalu semua bayi menoleh pada Abraham. Balita itu hanya tersenyum lalu mengangguk membenarkan terkaan om kecilnya itu. Maira dan lainnya mendengar hal itu.
"Ah, cicitku memang luar biasa!" puji Aldebaran bangga.
Bersambung.
Bangga punya anak yang memiliki kepedulian pada teman-temannya yang kekurangan.
Next?