
Abraham sedikit sedih, kemarin ia mengajak Anton untuk ikut berlibur bersamanya, tapi sahabatnya itu menolak. Sang ayah membawa Anton dan Nita ke kampung halaman sang ayah angkat. Sidik mengatakan ingin mengenalkan putra dan putrinya di kampung halaman.
"Ah ... pastinya Anton memilih pergi bersama ayah dan ibunya," gumamnya pelan.
"Kau melamun apa?" tanya Syah.
"Pasti Anton!" terka Bhizar.
"Iya, kok tau?" tanya Abraham.
"Ya tau lah. Kita juga pengennya Anton ikut kita. Tapi Pak Sidik juga punya acara lain," sahut Syah.
Abraham mengangguk. Ia kembali berlarian. Celana panjangnya sudah basah dan kotor akibat pasir dan air laut.
"Tuan jangan jauh-jauh, cukup dipinggir pantai saja!" peringat salah satu pengawal.
"Om Reece malah agak ke tengah!" tunjuk Abi.
"Tuan Reece kan digendong sama pengawal," jawab pengawal itu.
"Kita gendong dong!' sahut Syah merentangkan tangan.
Akhirnya seven A sedikit ke tengah bersama para pengawal. Manya berteriak untuk semuanya masuk dan istirahat walau sebentar.
"Mama ... peubental ladhi!" tolak Aidan.
"Sebentar lagi pasang sayang!"
Pengawal membawa paksa semua anak ke dalam villa. Reece mengamuk pada pengawal hingga membuat Ramaputra memperingatkan keras putranya itu.
"Reece!"
Batita itu langsung diam. Ia menyembunyikan wajahnya ke leher sang pengawal yang tadi dipukulinya. Ia memang takut jika ayahnya sudah marah. Manya tak akan membela adiknya jika memang salah.
"Sayang," panggil Amertha.
"Jangan membelanya Mom!' tukas Ramaputra tegas.
Mendengar ayahnya yang begitu keras, membuat Reece menangis pilu. Tentu tangisan ini membuat bayi lain ikut menangis. Begitu juga Liam dan triple A. Ramaputra mengambil paksa putranya yang sedikit menolak dari pelukan sang bodyguard. Pria itu membawa masuk Reece ke dalam kamar.
"Baby lihat Daddy!"
"Huuuu ... uuu ... hiks ... hiks!" tangis batita itu begitu sedih.
Ramaputra sangat bersalah, tetapi kelakuan putranya tadi sudah diambang batas. Ia tak suka jika Reece jadi pembangkang dan keras kepala.
"Reece dengar Daddy ya Nak. Reece tidak boleh kasar seperti tadi mengerti?" tekan pria itu.
Reece menangis tapi mengangguk. Kepalanya setia berada di ceruk leher ayahnya. Ramaputra tak tega, ia mengelus punggung Reece dan menciumnya dengan lembut. Tak butuh waktu lama batita itu tertidur dalam pelukan Ramaputra.
"Ah ... kau memang manja!" keluhnya.
Amertha masuk dan melihat suaminya mengganti baju putra mereka. Ia mendekat dan mencium suaminya.
"Kau terlalu galak tadi. Untung semua anak diluar bisa ditenangkan," ujarnya.
"Aku harus tegas sayang, dia terlalu manja pada semuanya. Aku yakin habis ini aku dimarahi oleh Irham dan Daddy!" sahut pria itu.
Amertha tersenyum, benar perkataan suaminya. Ia sempat mendengar Irham mendumal pada Ramaputra.
"Aku pukul dia kalau sampai memukuli anakku!" ancam Irham.
Amertha tersenyum tipis, semua memang memanjakan Reece terlalu berlebihan bahkan menuruti perkataan batita itu.
"Mungkin karena Reece bayi pertama di usia para istri yang sudah punya anak besar," gumamnya berpendapat.
Semua memilih beristirahat sebentar. Malam datang, bintang bertabur cantik. Mereka tengah membuat barbeque di halaman luas.
"Wah ... pintannya banat baneut!" tunjuk Aqila.
"Ada lagunya kan Dik," sahut Agil.
"Gimana itu?" pancingnya agar sang adik bernyanyi.
"Pu dandan lamit benuh pintan peulabuhan ... beultelap-pelip, pelumpama pintan pelyan ... lada pebuah beubih telan ... pahayaya ... pitulah pintantu pintan pelsola yan pindah salu!"
"Anaknya diajarin ngomong dong!"
"Loh anak saya bisa ngomong kok, memang sih pakai bahasa mereka sendiri," sahut Manya santai.
"Pusing saya kalau anak bicara bahasa itu! Kan bagus kalau mereka bisa bahasa seperti kita-kita!" sahut wanita itu.
"Ya itu anak Nyonya saja yang begitu. Anak saya tidak!" sahut Manya tegas.
Wanita itu memang tak mengajari anak-anak untuk berbicara lancar. Ia berpikir, biarkan anak memiliki dunianya sendiri dengan bahasanya sendiri. Sebagai orang tua, harusnya mengerti apa perkataan bayi-bayi mereka.
"Nyanyi lagi sayang!" suara Renita membuyarkan lamunan Manya.
"Banyi pa'a ladhi Moma?" tanya Aqila.
"Bintang kecil!" sahut Denna.
"Payal bulu!" sahut Reece menengadahkan tangannya.
"Eh ... Reece!" tegur Manya.
"Mama ... penamen talau banyi ipu bipayal ... basa mawu denel delatisan!" sahut adik Manya yang begitu cerdas itu.
Renita memilih mencium Reece dengan gemas sampai batita itu protes, tapi sejurus kemudian, Reece tergelak karena digelitiki oleh wanita itu.
"Ayo nyanyi lagi!" ajak Praja.
Para bayi dipangku oleh ayah dan ibu mereka kecuali Ten A, Reece dan Liam. Liam dengan antusias menciptakan lagu sendiri.
"Tetita atuh beupihat lanit ... tupandan pintan yan beultepalan bi lamit yan pitam!"
"Pilu Iam ... bana ada lanit balna pitam;" protes Aqila.
"Tan seutalan lanitna pitam butan pilu?" sahut Liam tentu benar.
"Oh piya ya. Talo lanit pilu peulalti budah sian!" sahut Aqila membenarkan.
Usai makan barbeque mereka semua masuk karena angin sudah mulai kencang. Deru ombak terdengar, di kamar pasangan suami istri bergelut dengan panas di ranjang mereka. Sedang para bayi tentu bersama suster mereka.
"Aaahhhh!" lenguh Praja ketika menabur benih di rahim istrinya.
Pria itu ambruk di sisi sang istri dengan napas terengah dan keringat yang membasahi tubuh mereka. Saskia memeluk sang suami erat, keduanya berciuman.
"Sayang," panggil Praja dengan suara serak.
Saskia kini memimpin percintaan panas. Keduanya memang ingin segera mendapat anak lagi, walau bayi mereka baru enam bulan.
Pagi menjelang. Anak-anak sudah ribut dengan pantai. Manya menyuruh mereka sarapan terlebih dahulu.
Usai sarapan anak-anak langsung memakai baju renang mereka. Aqila memakai bikini warna pink. Ia digendong oleh ayahnya yang tiba-tiba posesif.
"Papa Yayah pi simi banat itan?" tanya Aqila dengan suara kecilnya.
"Adanya di tengah laut sana Baby," jawab pria itu menaruh bayi cantiknya di atas pasir.
Ombak bergulung menghempaskan tubuh mungil. Bukannya menangis. Aqila malah tertawa senang. Semua anak mengikuti gaya pria itu. Di belakang mereka para ayah dan bodyguard ikut duduk. Aldebaran sudah menyewa banana boat. Seven A tentu paling antusias. Tinggi dan berat badan mereka mencukupi untuk ikut permainan ekstrim itu.
"Benpa ... itut ... huuaaa!" pekik Liam dan Reece ingin ikut.
"Belum bisa Babies. Kalian belum cukup umur!" ujar Gerard.
Aidan dan Adelard santai saja, keduanya malah membangun istana pasir dibantu para bodyguard. Gerard mengalihkan dua batita itu.
"Kita bangun istana jauh lebih besar dari mereka!" ajaknya.
Akhirnya perhatian Reece dan Liam teralihkan. Mereka membangun istana pasir. Aldebaran memilih laut yang lebih dangkal untuk menceburkan dirinya dan tujuh cucu kembarnya itu. Seven A tentu mahir berenang, terlebih ada empat bodyguard yang ikut naik banana boat menjaga mereka.
bersambung.
ah ... senangnya.
next?