
Ten A, Liam dan Reece berada di salah satu Dojo bela diri karate. Mereka duduk sambil melihat beberapa anak kecil memakai seragam khusus olahraga karate tengah melakukan pemanasan, yakni berlari memutari matras.
"Hayah!" pekik salah satu anak hendak mematahkan satu papan kayu dengan kaki kecilnya.
"Good ... more harder!" suruh pelatihnya.
"Hayah!"
Pluk! Dua kaki berusaha menginjak papan. Sayang papan itu sama sekali tak bergerak. Hingga ketika pelatih memegang ujung papan dan meminta kembali anak didiknya mematahkan papan dengan kaki. Pria itu membantu mematahkan papan itu.
Prak! Papan terbelah jadi dua bagian. Semua bertepuk tangan takjub, sedang bocah berusia tiga tahun itu langsung senang bukan main.
"Eh ... pemanan poleh tayat dithu?" tanya Reece tak percaya.
"Butan ipu pama saza bohon ya?" lanjutnya.
"Muntin Pat dulu na puat dithu pial bulidna senen," sahut Aidan menanggapi.
"Ya eundat poleh tayat dithu. Talo meman eundat pisa beustina tasih papan yan seuditit pipis!" sahut Reece memberi asumsi.
"Ya pisa zadhi pial selselai!" sahut Liam kini.
"Anak-anak, ayo sini!"
Jovan dan Gerard yang mendaftarkan seluruh anak mereka untuk berlatih di sini. Ten A, Reece dan Liam berkenalan dengan sosok pria tua.
"Ini dulu pelatih Papa, panggil Senshei Idrus!' titah Jovan.
"Simpei Sidrus?" tanya Triple A, Liam dan Reece.
Jovan menepuk dahi, pria itu lupa jika anak dan adik iparnya masih belum bisa bicara benar.
"Halo anak-anak. Kalian bisa memanggilku dengan Kakek!" pinta pria beruban itu.
"Tatet!" angguk triple A.
"Ah ... anak-anak mu belum bisa bicara lancar ya?" tanya pria tua itu.
"Spasa pilan tami eundat pisa nomon lansar?!" tanya Reece tak suka diremehkan.
"Kalian masih pakai bahasa planet. Nanti belajar bahasa yang benar ya, baru bisa berlatih di sini!" canda pria itu.
Jovan merasa tersinggung, ia paling tak suka jika ada yang merendahkan semua anak dan juga adik iparnya. Gerard juga tak suka, baru saja ia hendak mendamprat pria tua itu tapi langsung didahului Reece.
"Tami eundat pasalah pidat peulajan bi syini!' sahut batita itu santai.
"Pa'a yan badhus ... peulum pa'a-pa'a pudah pohon pama nanat didit na!' lanjutnya mencibir.
"Biya ... pasa nanat teusil pi syuluh batahin papan pati yan batahin duluna puma selolah-lolah nanat ipu yan batahin papan!" sahut Liam panjang lebar.
"Ipu beumpodohan!" lanjutnya.
Hanya ten A yang tenang, mereka tidak terlalu berminat dengan beladiri ini.
"Pa ... tempat lain aja yuk!" ajak Bhizar sudah tidak nyaman.
"Oke!" sahut Jovan menuruti putranya.
"Eh ... mau kemana?" tanya pria tua itu.
"Mencari perguruan lain!" jawab Gerard tegas dan menatap pria itu tajam.
"Eh ... Tuan!" panggil pria tua itu.
Sayang, mereka sudah tak nyaman. Terlebih tadi putranya mengajak ke tempat lain. Beberapa pria yang masih memakai baju seragam karate mencoba membujuk.
"Tuan,"
"Maaf ... anak-anak saya sudah tidak nyaman!" tekan Jovan.
Pria itu menaiki mobil, Praja ada di sana dan langsung menjalankan mobil mini bus dan membawa kendaraan itu pergi dari sana.
Setelah berputar-putar tak tentu arah. Praja membawa laju kendaraan itu ke sebuah bangunan dengan bertulisan Pondok Perguruan Pencak Silat Bambu Kuning.
"Mau coba di sini?' tanya Praja.
"Tempatnya memang jauh, tapi asri dan sangat bagus," lanjutnya.
Mereka turun, Reece yang selalu antusias sudah berjalan lebih dulu dan melihat anak-anak kecil berlatih.
"Wah ... delatanna badhus!" puji batita itu.
"Atuh judha itut!" pekik Liam tak mau kalah diikuti triple A.
"Sini Nak," ujar pria itu.
Sambutan ramah dan terbuka, membuat anak-anak betah. Sesekali, pria itu membenahi letak kaki Reece, Liam dan triple A.
"Satit Pat!' keluh Aqila.
"Kalau sakit berhenti dulu!' perintah sang guru.
Jovan, Praja dan Gerard mendatangi pria itu bersama seven A. Tampaknya, Bhizar dan yang lain juga ingin berlatih di sana.
"Jadi mau belajar silat di sini?" tanya pria itu dengan logat khas Banten nya.
"Iya Abah, setelah nyari beberapa perguruan, semua anak-anak tidak nyaman. Malah di sini mereka langsung latihan," jawab Jovan.
"Bayar perbulan seikhlasnya, tapi khusus seragamnya beli di koperasi ya," ujar pria itu.
"Baik Abah," sahut Jovan.
Seven A diukur tubuhnya, lalu diberi seragam yang sesuai tubuh mereka. Triple A, Liam dan Reece juga mau didaftarkan.
"Pak ... tolong sabar ya, ngelatih mereka. terutama Reece," pinta pria itu pada pelatih.
"Mereka sedikit manja, tapi saya yakinkan jika mereka akan belajar dengan cepat," lanjutnya.
"Oh tak masalah itu!' sahut pria itu.
"Papa tati Atila syatit!' rengek batita cantik itu manja.
"Ini baru pertama latihan sayang, nanti kalian terbiasa kok!' ujar Gerard.
Akhirnya mereka pulang usai makan di salah satu restoran. Sampai rumah anak-anak sudah tidur di mobil. Para pengawal membantu tuannya menggendong semua anak ke kamar mereka. Memang para suster tidak ikut. Kini Amertha meminta para suster menjaga semua cucu ketika berangkat sekolah saja.
"Jadi latihan di Dojo mana?" tanya Maira.
"Mereka nggak latihan di Dojo Mi," jawab Gerard.
"Loh kok nggak di Dojo?"
"Mereka nggak nyaman, terlebih mantan pelatih Jovan dulu mengatai cara bicara anak-anak,"
"Iya, Mi ... Jovan akhirnya mendaftarkan mereka di perguruan silat di kampung. Jaraknya lumayan jauh dari sini. Tapi anak-anak suka dan Reece langsung latihan di sana tadi!"
Manya hanya diam, kali ini dia memang harus merelakan putra dan putrinya mandiri dan berlatih disiplin.
Malam tiba, semua sudah tidur lagi. Sepertinya anak-anak kelelahan setelah berlatih sebentar.
"Kasihan ... kalian pasti lelah," ujar Manya menciumi semua anak dan juga adiknya.
Liam kembali menginap, batita itu benar-benar memposisikan dirinya sebagai anak Manya dan Jovan.
"Kau harus membiasakannya sayang!" ujar Jovan pada istrinya.
"Apa salah seorang ibu memanjakan semua anaknya?" tanya Manya pada sang suami.
"Tidak, tapi jangan berlebihan sayang. Apa kau mau mereka tidak bisa apa-apa. Terlebih mereka tambah lama tambah besar," jawab Jovan.
"Oh ya, bagaimana hasilnya?" pria itu mengelus perut rata istrinya.
"Belum sayang," jawab Manya sedih.
'Ah ... sudah tidak apa-apa, anak kita juga sudah banyak," ujar Jovan menyemangati istrinya.
Sedang di apartemen Gerard, Denna hanya bisa pasrah ketika suaminya pulang tak membawa serta putra mereka pulang. Aislin sudah tidur dari tadi.
"Apa dia benar-benar tak mau pulang sayang?" tanya Denna.
"Iya, aku sampai dipukuli oleh anak kita yang pemarah itu," jawab Gerard sambil mengeluh.
"Ah ... memang di sana ia banyak teman untuk mengobrol sesuka hatinya," sahut Denna.
Bersambung.
Begitulah ...
Next?