
Sebuah panggung besar telah disiapkan. Kursi-kursi diletakkan secara berjejer begitu juga meja-meja. Aldebaran hadir sebagai pemberi donor atas acara yang akan diselenggarakan sekolah ini. Seorang yang membebaskan banyak anak tidak mampu membayar iuran yang memberatkan mereka.
"Selamat pagi anak-anak!' sahut kepala sekolah.
"Selamat pagi Pak!" anak-anak membalas sapa kepala sekolah.
"Pertama-tama saya ucapkan selamat datang dan terima kasih pada Bapak Aldebaran Dinata yang telah menjadi donatur acara ini, beri tepuk tangan pada Bapak Dinata!"
Semua anak bertepuk tangan. Pria bermata hazel itu berdiri dan melambai pada semua anak. Seven A begitu antusias melihat uyut mereka ada di sana. Lily hanya menatap pintu berharap ayah atau ibunya datang. Ia dan beberapa temannya mempersembahkan sebuah pertunjukan tari.
"Nak, kamu tidak apa-apa?" tanya sang guru ketika melihat Lily sedih.
Mata jernih sang anak murid mampu menembus mata hati guru. Tampak kesedihan mendalam dari sorot matanya.
"Lily nggak apa-apa Bu," jawabnya lirih.
Guru tau jika kedua orang tua anak muridnya itu sangat sibuk. Semua urusan, bibi atau asisten rumah tangganya yang menjadi wali dari Lily.
"Sudah, sekarang yang kamu pikirkan adalah tanggung jawab kamu untuk mempersembahkan pertunjukan tari yang terbaik, oke?" Lily mengangguk.
Walau sangat ingin ayah atau ibunya datang ke sekolah, ia akan senang sekali. Bibi Surti duduk di barisan tengah. Wanita itu akan merekam persembahan nona mudanya.
"Sekarang mari kita nikmati persembahan dari anak-anak kita. Yang pertama, sebuah atraksi seni pencak silat yang akan diperagakan oleh anak-anak kelas satu A dan kelas tiga B!"
Anton, Abraham, Denta dan Abi menuju tengah panggung bersama tiga kakak kelas mereka. Keenam anak itu memperagakan gerakan pencak silat. Reece, Liam dan triple A heboh mengikuti gerakan seven A di bawah panggung.
Kepala sekolah tertawa melihat tingkah lima balita itu.
"Tahun depan mereka baru sekolah TK nol kecil Pak," ujar Aldebaran.
Manya bersama suaminya. Pria itu merekam aksi salah satu putranya dengan kamera ponsel miliknya.
"Beri tepuk tangan yang meriah!" seru pembawa acara.
Semua bertepuk tangan meriah termasuk lima balita di bawah panggung. Kepala sekolah menyuruh lima anak itu untuk naik panggung membiarkan mereka membuat kehebohan di sana.
"Biarkan mereka!" titah pak kepala sekolah.
Pembawa acara membiarkan mereka berbuat sesukanya. Jika ada yang menari mereka ikut menari, ada yang menyanyi mereka ikut bernyanyi.
"Sekarang penampilan tari modern bertema kupu-kupu, persembahan dari anak-anak kelas satu A!"
Reece, Liam dan triple A tampaknya sudah lelah, mereka memilih turun panggung dan duduk bersama Manya dan Jovan.
Lily ada ditengah panggung sendiri, sebuah musik instrumen indah mengalun. Lily mengepak-ngepakkan tangan yang diikat kain warna-warni sebagai sayap kupu-kupu. Lalu lima temannya pun muncul dan ikut menari. Sebuah persembahan indah ditampilkan. Walau berakhir sedih karena kupu-kupu mati.
Semua bertepuk tangan meriah sambil berdiri, enam anak berdiri dengan senyum lebar. Lily senang dapat mempersembahkan penampilan yang terbaik.
Riuh tepuk tangan mendadak jadi riuh, karena salah seorang anak tak lagi bangkit dari lantai panggung.
"Lily!" pekik gurunya.
Bi Surti berteriak memanggil nama nona mudanya. Semua mendadak panik. Kepala sekolah menenangkan anak-anak yang mulai menangis.
Lily langsung dilarikan ke rumah sakit. Manya dan Jovan langsung meminta para suster untuk menangani seven A. Aldebaran juga langsung membawa semua cicitnya pergi bersamanya.
Di rumah sakit Lily langsung ditangani oleh dokter atas perintah Manya. Rumah sakit milik keluarga Dinata memang dekat dengan sekolah dan perkantoran.
"Bi ... lebih baik Bibi menghubungi orang tua Lily!' pinta guru pada bibi yang selalu menunggu Lily.
Perempuan paru baya itu mengangguk. Sedang Lily bingung, kenapa semua orang tak melihat keberadaannya, gadis kecil itu menatap bibi yang kini tengah menghubungi kedua orang tuanya.
"Bi!" panggilnya.
Surti tak mendengar panggilan itu. Wanita itu terus mencoba menghubungi salah satu majikannya. Perlahan Lily masuk ke area di mana para dokter keluar masuk. Ia bisa masuk dan menatap tubuh kecil yang kini tengah ditangani.
"Lily!" panggil Laina.
"Nak, Lily sedang tidur, kita pulang yuk!" ajak buyutnya.
"Nggak Uyut, Lily duduk di situ!" tunjuk Laina di ujung ranjang dekat kaki bocah yang terbaring.
Surti menangis mendengar itu. Sudah lebih dari seratus kali ia menelepon ayah maupun ibu dari nonanya. Tapi tak satupun yang mengangkat bahkan ketika telepon yang ke seratus satu ponsel itu dialihkan. Surti pasrah, dokter memanggilnya.
"Orang tua pasien!"
"Saya Dok!" ujar wanita itu sigap.
"Bisa ikut kami!" ajak dokter, wanita itu mengangguk.
Aldebaran penasaran, ia ingin tau apa yang terjadi tapi seven A ada ditangannya para guru juga menunggu, kepala sekolah memutuskan untuk memulangkan semua murid.
"Kita pulang yuk!" ajak Jovan yang baru saja datang dari kantor Manya istrinya.
Seven A digandeng, Laina menatap Lily yang duduk memandangi tubuh yang adalah dirinya. Guru pun satu persatu pulang, hanya tinggal wali kelas saja yang menunggu kabar dari salah satu muridnya.
Surti keluar dengan mata basah. Wali kelas langsung menghampirinya, suasana rumah sakit sedikit lengang karena para guru dan murid yang ikut sudah pergi.
"Bi ... gimana Lily?" tanyanya penuh kekhawatiran.
"Non Lily koma, Bu guru," jawab Surti menahan isaknya.
"Innalilahi, Lily sakit apa Bik?" tanya Bu Guru tak percaya.
"Kata dokter, ada sel darah putih yang menyerang titik saraf tengah pada otaknya hingga membuat Non Lily koma," jawab Surti.
"Apa sudah hubungi orang tuanya?" Surti mengangguk.
"Alhamdulillah, apa mereka langsung akan datang?" Surti menggeleng.
"Saya memang menghubungi tuan dan nyonya saya. Tapi dipanggilan ke seratus satu, panggilan saya dialihkan," jelasnya lirih.
Wali kelas menutup mulut dengan tangannya. Wanita itu setengah tak percaya pada apa yang ia dengar. Ibu guru tampak geram.
"Apa Lily bisa sembuh?" tanya Bu guru lagi.
"Dokter bilang, kesempatan hidupnya lima puluh, lima puluh," jawab Surti lagi.
"Ya Allah!" sahut Bu guru dengan suara tercekat.
"Ibu pulang saja, Lily adalah tanggung jawab saya," ujar Bi Surti meminta guru untuk pulang.
"Kabari semua perkembangan Lily ya Bi," pinta wanita itu.
Surti mengangguk lemah. Ia menatap ibu guru baik itu. Ia pun masuk ke ruangan di mana nona mudanya dirawat.
"Non ... tidur saja Non, yang nyenyak. Biar ketika Tuan dan Nyonya pulang sadar, kalau Non belum pulang," ujarnya sambil mengelus kepala Lily.
Lily hanya terdiam, air matanya menetes. Bahkan ketika nyawanya sedang diujung tanduk, Mami dan Papinya tak kunjung datang.
"Mami ... Papi ... Lily pergi ya,"
Bersambung.
.....
next?