
Beberapa gaun pengantin dicoba oleh Demira, Manya dan Maira yang menemaninya. Demira yang sederhana menolak semua design baju yang disediakan.
"Nyonya pilih yang mana?" tanya pramuniaga kesal.
"Ada apa dengan nadamu?" tanya Maira marah.
Gadis itu menunduk, sudah nyaris dua jam tak satupun gaun dipilih oleh Demira. Wanita itu ingin gaun lebih sederhana tanpa rok mengembang tapi syar'i bukan tempelan.
"Ti—tidak ada Nyonya," sahut sang pramuniaga menunduk takut.
"Mana managermu!'
"Mami,"
"Sayang,"
Manya dan Demira menahan laju Maira yang mulai tersulut emosi.
"Kita pergi ke tempat lain!" tukas Maira lalu menggandeng calon ibu sambung dan juga menantunya.
Amertha memilih tidak ikut, ia menjaga semua anak dan cucunya bersama para suster dan Saskia.
Sedang Maira mengunjungi salah satu butik khusus busana muslim. Akhirnya Demira menemukan gaun pengantinnya. Sebuah semi kebaya dengan bahan brokat berwarna broken white dipadu rok sedikit mengembang berbahan batik megamendung dari sutera berwarna putih dan perak. Wanita itu tampak begitu anggun terlebih memakai hijab putih dan mahkota bunga melati.
"Anda cantik sekali Nyonya," puji pramuniaga begitu ramah.
Maira puas dengan pelayanan pramuniaga itu. Gadis itu begitu sabar menunjukkan banyak gaun yang sudah jadi. Tadinya Maira meminta seorang designer yang merancang gaun untuk ibu sambungnya itu. Tapi Demira langsung menolaknya.
"Mama cantik sekali," pujinya senang.
"Kau juga cantik sayang," balas Demira lembut dengan senyum indah.
"Aku Grandma?" tunjuk Manya pada diri sendiri.
"Kau juga cantik sayang," kekeh Demira.
Baik Maira dan Manya begitu manja pada perempuan itu. Bahkan pada Amertha, Demira sangat menyayangi perempuan itu.
Kini mereka telah mendapatkan gaun pengantin untuk Demira. Aldebaran telah mendapatkan setelan pengantinnya sendiri. Tuxedo dari bahan katun dengan kwalitas terbaik. Pria itu kini menanggalkan semua perhiasan yang melekat di tubuhnya. Kini mereka bertemu di salah satu toko perhiasan.
"Kau suka yang mana sayang?" tanya Aldebaran pada calon istrinya.
"Yang sederhana saja, Mas. Aku tidak suka terlalu mencolok," pinta wanita itu lembut dan rona merah di pipi.
Aldebaran tersenyum. Satu cincin bermata rubi kini tersemat di jari manis wanita cantik itu.
"Ini bagus Ma," ujar Maira. "Ambil ya?".
Demira mengangguk setuju. Setelah nyaris seluruh cincin ditolak olehnya karena batu permatanya yang terlalu besar.
Aldebaran memilih sebuah cincin dari perak bermata sama dengan istrinya. Usai membeli cincin kawin, mereka pun pulang. Demira ingin menikah di rumahnya. Ia tak mau menikah di gedung.
"Sayang, jika digedung rumahmu tidak terlalu kotor dan tak perlu repot membersihkannya," pinta Aldebaran.
Akhirnya Demira menurut. Ia mengerti banyaknya tamu undangan yang hadir karena sosok Aldebaran seorang pengusaha yang masih aktif. Belum lagi semua anak sambung dan menantu juga cucunya adalah pengusaha.
"Setelah ini kita adakan foto prewedding dan foto keluarga!" ujar Abraham memutuskan.
Demira mengikuti saja keinginan keluarga barunya itu. Wanita itu tak begitu memaksakan keinginannya. Bukankah dalam pernikahan tidak boleh ada yang egois? pikirnya.
Kini mereka pulang ke rumah Manya. Sebelum pulang mereka mengantar Demira terlebih dahulu. Pernikahan masih tiga bulan lagi. Surat undangan sudah dicetak, sekitar seribu undangan tersebar di antara para pebisnis yang kini mulai ribut, bahkan para wartawan mulai mencaritahu. Aldebaran telah memberi penjagaan ketat di rumah calon istrinya.
"Dad, kita ganti pengawal kita dari SavedLived," ujar Abraham.
"Sudah Nak. Daddy sudah menukar mereka dua minggu lalu setelah kontrak selesai. Daddy langsung mengontrak mereka selama sepuluh tahun!" jawab Aldebaran.
"Tiga mimggu lagi kita adakan foto prewedding, kita sudah mempunyai seragam bukan?' tanya Maira.
Manya mengangguk. Tadi mereka juga membeli banyak pakaian langsung jadi untuk seragam. Untuk semua anak-anak juga dibelikan.
"Anak-anak!" panggil Amertha.
"Kita cobain baju ya," ajaknya yang langsung disambut antusias oleh Tita, Pram dan Maiz.
"Paju paluna badhus setali Moma?" ujar Maiz sambil berputar dan memegangi ujung roknya.
"Kau yang cantik sayang," ujar Maira mencium putrinya.
Tita juga sibuk berputar hingga nyaris jatuh jika saja Abi tak menahan laju tante kecilnya itu.
"Hati-hati Aunty kecil!" peringat Abi.
"Pas semua Ma?" Amertha mengangguk.
"Bagaimana Leticia, Raiden, Raichia? Apa sudah sampai baju-bajunya?" tanya Manya.
Manya tidak melupakan perempuan yang pernah disusui oleh ibunya itu. Amertha mengangguk, ia memperlihatkan baju yang telah dicoba oleh semuanya.
"Ih ... Raichia lucu amat pakai rok!" seru Manya gemas.
"Iya, lucu. Entah kenapa Leti membiarkan putrinya bar-bar seperti itu, sampai Reiden kalah," dumal Amertha kesal.
Manya terkekeh, walau Agil tomboy tapi anak gadisnya itu tidak bar-bar. Agil termasuk kalem. Sedang Laina dan Lika malah sangat manis dan begitu feminim sama dengan adiknya Aqila.
Aldebaran memilih beberapa catering terbaik untuk makanan di pesta pernikahannya nanti. Ia bertanya pada calon istrinya.
"Apa kau punya langganan sayang?" tanya pria itu.
"Di restoran AA saja Mas, di sana makanannya enak dan lengkap. Dari makanan Indonesia dan juga makanan western," jawab Demira di sambungan telepon.
"Aku merindukanmu sayang," aku Aldebaran jujur.
"Sabar ya Mas. Jangan terlalu berlebihan mencintaiku, Allah itu pencemburu," peringat Demira.
Aldebaran tersentuh, tak pernah ia merasa setenang ini mendengarkan perkataan istrinya. Ia diajari bagaimana beristighfar, mengucap syukur dengan hamdalah. Hidupnya yang jauh dari agama perlahan mulai mendekati sang maha pencipta.
"Terima nasihatnya sayang," ujar pria itu lalu mengucap salam sebelum menutup sambungan teleponnya.
Hampir setiap malam, pria itu bermunajat pada sang khalik untuk kelancaran semuanya. Tetapi, di satu titik ia sadar jika ia tak boleh memaksa apa yang telah menjadi kehendak-Nya.
"Ya Allah di mana Engkau adalah sesembahanku, aku bermunajat untuk kebaikanku, namun jika apa yang kau tetapkan adalah yang terbaik untukku, aku ikhlas ya Allah!" ujarnya tergugu.
Pria tua itu menangis dalam sujudnya. Aldebaran baru merasakan betapa ia begitu berpasrah. Ia membedakan hidupnya jauh lebih tenang dengan menanggalkan semua masalah dunia dan menyerahkannya pada sang pencipta.
Di tempat lain, Demira melakukan hal yang sama. Wanita itu juga bermunajat memohon kelancaran. Ia juga pasrah dengan semua ketentuan yang telah digariskan oleh sang pencipta.
"Sebaik-baiknya usaha manusia. KetetapanMu adalah yang terbaik untukku Ya Allah ... hanya pada-Mu aku berserah, hanya pada-Mu aku pasrahkan segalanya," ujarnya lirih.
Dua doa mencoba mengetuk pintu langit. Berharap terijabah dan mendapat ridho-Nya. Sebaik-baiknya doa adalah mereka yang berpasrah dalam ketetapan sang maha kuasa.
QS. Al-Ahzab Ayat 38
"(Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah Allah pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku,"
bersambung.
Next?