THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
NGIDAM MANGGA MUDA



Jovan pergi ke kantor dengan Praja. Semenjak ia mengalami kehamilan simpatik, ia jadi manja bahkan dengan Praja yang notabene adalah paman angkatnya.


"Paman, mau mangga,' rengeknya.


Praja hanya menghela napas panjang. Pria itu harus memutar mobil dan melewati mall. Tapi dalam perjalanan Jovan meminta Praja untuk berhenti.


"Stop!" teriaknya.


Praja menepikan mobil. Jovan langsung turun dan pergi menuju sebuah rumah yang ada pohon mangga. Buah berkulit hijau itu begitu banyak menggelantung di dahan. Jovan sampai mengusap liurnya berkali-kali.


Pria dengan setelan mewah mendongakkan kepala melihat setumpuk mangga yang menggantung. Pemilik rumah keluar. Seorang pria paru baya menatap Jovan yang memandang buahnya penuh minat.


"Pak, Bapak mau mangga?" tanyanya.


Jovan tentu mengangguk antusias. Pria baik hati itu lalu mengambil galah. Ia mencolok satu rimbun mangga yang sepertinya sudah matang.


"Saya cari yang asem Pak!" pinta Jovan setengah merengek.


Pria itu mengangguk, lalu kembali mencolok rimbunan mangga yang mengkal, cocok untuk orang ngidam.


Jovan mengusap lagi liurnya. Pria itu membawa Jovan ke rumahnya. Praja mengikuti mereka. Keduanya duduk di teras. Pria itu keluar dengan satu bungkus mangga dan mangga mengkal yang telah dikupas ditaruh di piring.


Jovan memakannya dengan lahap. Pria itu dan Praja sampai harus menahan ngilu karena yang dimakan Jovan benar-benar asam.


"Astaga, Jov!"


"Enak tau!" sahut Jovan kembali mengigit potongan mangga.


Satu piring mangga habis. Jovan pergi setelah mengucap terima kasih. Praja membayar buah itu ketika pria memberikan satu bungkus mangga.


"Tidak perlu Nak, dulu Bapak juga begitu ketika istri Bapak mengandung," tolak pria itu.


"Makasih ya Pak," sahut Praja dengan senyum ramah dan menerima mangga dari pria itu.


Sedang di rumah, anak-anak sedang bermain. Denna kembali datang bersama putra dan putrinya. Ia juga tengah melakukan program hamil, kali ini wanita itu ingin anak kembar.


"Jadi kamu sedang program hamil kembar?" Denna mengangguk.


"Aislin dan Liam sudah besar dan tak mau dianggap bayi lagi," jawabnya setengah mengeluh.


Manya terkekeh, ia setuju. Triple A juga tidak mau dianggap bayi bahkan ketika mereka masih menyusu.


"Mama ... Ais au matan sulos!" pinta bayi itu.


"Aiz uhda Mama, Ita judha mawu!" ujar Maiz dan ditanggapi anggukan oleh Tita.


"Siap, biar Mommy yang buatkan ya," ujar Denna.


"Masak bareng Mom," pinta Laina.


"Laina mau bisa masak kue," lanjutnya.


Denna mulai menyiapkan semua bahan. Anak-anak sudah duduk rapi di karpet. Mereka diberi mangkok berisi tepung. Hanya seven A yang serius belajar memasak. Sedang yang lain kini sudah penuh dengan tepung, bahkan Manya dan Saskia juga tak luput dari tepung.


"Mama ... antit!" puji Pram.


"Mama pate sistip!"


Tita menoreh selai strawberry, Saskia hanya pasrah. Pram bertepuk tangan. Manya juga didandani oleh Tita.


"Ata' Lees badhus tan?" tanya Tita.


"Wah ... Mama tenapa eh kenapa jadi kek donat tepung?" goda Reece.


"Mama kulang bedat eh bedaknya!' Aqila menoreh tepung di muka Saskia.


Para balita tertawa melihat rupa ibunya. Karena pembuatan churros itu sangat cepat. Makanan. itu sudah terhidang bersama selai coklatnya.


Sedang di ruang kerja, Jovan begitu bersemangat. Pria itu menyelesaikan semua berkas yang menumpuk akibat ia tidur sampai siang kemarin. Tino sebagai sekretaris baru Jovan juga begitu cekatan dan sigap. Sedang Praja dibantu sekretaris dan juga asisten pribadinya. Kini pria itu memiliki ruangan sendiri.


"Mana manggaku?" tanya Jovan pada Praja.


"Mangga?" Praja lupa.


"Iya tadi kamu kan dikasih mangga sama bapak tadi!" jawab Jovan kesal.


"Oh, biar aku suruh Dede mengambilnya, tadi aku taruh di mobil,"


Dede sekretaris Praja mengambil mangga dalam mobil. Karena terlalu lama dalam mobil membuat mangga itu jadi matang.


"Mateng tapi pasti asem kan dikarbit dalam mobil," jelas Praja.


"San, kau kupas dan taruh piring!" titah Praja pada sekretariatnya.


Wanita itu melaksanakan apa yang diperintahkan tuannya. Praja juga menyuruh Toni memesan makan siang.


"Kau harus makan dulu, Jov!" peringatnya.


Tak lama mangga tersedia. Jovan mencocolnya dengan garam. Praja lagi-lagi mengernyit dahi karena ngilu. Pria itu pun mencobanya.


"Eh ... enak," ujarnya.


Praja mengambil satu potong lagi hingga membuat Jovan marah. Pria itu menarik piring dan ia taruh dalam pangkuannya.


"Ih ... pelit!" sungut Praja kesal.


Tak terasa sore menjelang, mereka pulang dengan perut mulas. Jovan dan Praja datang dengan wajah lemas, keduanya buang air besar berkali-kali.


"Kalian kenapa?" tanya Denna bingung.


Gerard sampai memapah keduanya yang lemas. Manya mengambilkan air putih.


"Kebanyakan makan mangga muda, sampe mules," terang Jovan.


Gerard sampai geleng-geleng kepala. Pria itu tak menginginkan hal sama terjadi pada dirinya.


"Mudah-mudahan, ketika Denna hamil lagi nanti, aku nggak keikutan kek kalian!" doanya penuh harap.


"Kenapa?" tanya Jovan, "nggak sanggup ya?"


Diledek seperti itu membuat Gerard cemberut. Pria itu memang tak akan sanggup jika merasakan kehamilan simpatik seperti yang dialami oleh Jovan, saudara misannya.


Manya memberikan obat anti diare pada keduanya. Praja pulang bersama istrinya begitu juga Gerard. Liam tidak mau ikut begitu juga Aislin. Gerard membiarkan kedua anaknya menginap di rumah Manya.


"Sayang, perutku sakit!" keluh Jovan sampai merintih kesakitan.


"Ini nggak masalah sayang, sebentar lagi juga baikan kok," ujar Manya.


Wanita itu mengusap perut suaminya hingga terlelap. Manya mengecup kening sang suami, sungguh ia tak tega melihat penderitaan Jovan yang tengah mengalami Couvade Syndrome.


"Terima kasih telah mengurangi bebanku dengan kehamilan ini," ujar Manya lirih.


Wanita itu mengusap pipi suaminya. Bibirnya mengecup lama bibir Jovan, perlahan wanita itu pun terlelap.


Beberapa jam kemudian, terdengar suara muntah di kamar mandi. Manya bangkit dari ranjang mengunjungi suami yang kini terduduk lemas di lantai kamar mandi.


"Sayang," panggil Manya sedih.


Wanita itu memapah sang suami ke tempat tidur. Hari baru saja menginjak pukul 02.30 dini hari.


"Apa kau minum obat mualnya tadi?" Jovan menggeleng.


"Aku saja lupa kutaruh di mana obat itu," sahut Jovan dengan wajah pucat.


Manya mengusap peluh di dahi sang suami. Jovan tiba-tiba ingin makan mangga muda lagi. Pria itu menelepon Praja.


"Sayang kau menelepon siapa?" tanya Manya.


Telepon Praja sepertinya di mode bisu. Jovan memaki panjang pendek. Pria itu tiba-tiba kembali mual, ia berlari ke wastafel dan muntah. Hanya cairan bening yang sangat pahit.


Manya memberikan minyak theraphy pada suaminya. Jovan sedikit tenang, wanita itu juga mengusap tengkuk dan punggung suaminya dengan minyak kayu putih. Jovan baru bisa tenang. Pria itu duduk di pinggir ranjang.


"Sayang, ke pasar yuk!" ajaknya.


"Ngapain?"


"Nyari mangga muda!"


Jovan mengambil jaket dan dompet. Pria itu juga menyampaikan jaket tebal pada istrinya. Keduanya pun pergi ke pasar di dini hari untuk mendapat mangga muda.


Bersambung.


Et dah ... Jovan.


Next?