Seleb Intertainment

Seleb Intertainment
98. Gagal



"Kamu harus bertanggung jawab." ucap Kevin ia masih menempelkan tangan Hana di perut six pack nya.


Hana menyerngitkan dahinya tak mengerti apa yang di ucapkan oleh Kevin.


"Polos banget deh istriku ini. Kali ini kamu tidak akan lepas dariku." ucap Kevin.


Seperti biasa Kevin membuka baju Hana ini kesempatan untuk melakukan apa yang ia inginkan selama ini bersamanya.


"Aku mencintaimu BABY. Bolehkah aku mengambil mahkotamu, membiarkan juniorku masuk ke dalam sana." ucap Kevin.


"Boleh. Silahkan masuk, aku juga mencintaimu." ucap Hana tersenyum mengangguk pada Kevin.


Kali ini Kevin tidak mendapat penolakan dari Hana tapi sayangnya ditengah aksinya ia berhenti karena bisikan dari Hana.


"Tunggu dulu. Apa kamu yakin?" bisikHana di telinga Kevin ia menahan tangan Kevin yang tidak sabar ingin membuka kain yang menutupi mahkota Hana.


"Maksud kamu. Aku sangat yakin, jangan bilang kamu berubah pikiran, tadi kamu sendiri yang mengizinkanku." ucap Kevin tetap ingin membukanya tapi lagi lagi tangannya ditahan oleh Hana.


"Aku lagi datang bulan." ucap Hana ia menahan tawanya melihat ekpresi Kevin yang sangat kesal.


"Jangan bercanda deh! Ini tanggung tau." ucap Kevin.


"Sorry. Kalau kamu tidak percaya, mau aku perlihatkan." ucap Hana.


"Kamu ihhh! Ngerjain suamimu. Kapan kamu selesai datang bulan?" tanya Kevin kesal.


"Hmm. Kapan ya kira kira?" jawab Hana semakin membuat Kevin kesal.


"BABY. Serius dong! jangan bercanda lagi." ucap Kevin ia benar benar ingin marah tapi nggak bisa karena memang wanita setiap bulan pasti datang bulan.


"Hmm. Satu." ucap Hana sudah dipotong oleh Kevin.


"Satu hari lagi. Berarti besok kita bisa melakukannya." ucap Kevin senang.


"Hei. Bukan satu hari lagi, sapi satu minggu." ucap Hana membuat Kevin langsung beranjak turun dari kasur ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


"My Prince. Kamu marah?" tanya Hana ia melilitkan selimut berjalan di depan kamar mandi.


Tidak ada jawaban dari Kevin Hana malah tertawa melihat tingkah suaminya seperti anak kecil yang ngambek minta dibelikan permen.


"My Prince. Cepat dong mandinya, gerah ini, sebentar lagi aku ada meeting." teriak Hana menggedor pintu kamar mandi dengan keras.


Kevin keluar menyelonong melewati Hana dengan muka datarnya tanpa menjawab ataupun menoleh padahal Hana sedang menyapanya.


"Dia beneran marah. Apa aku keterlaluan, bagaimana cara membujuknya coba, aduh! nambahin pusing aja deh!" ucap Hana didalam kamar mandi.


"My Prince. Tunggu, jangan pergi dulu." panggil Hana dengan berlari buru buru untuk mengejar Kevin yang langkahnya lebih cepat darinya.


Kevin turun disusul Hana yang ada dibelakangnya ia menuruni tangga sedangkan Kevin keluar dari lift dengan setelan jas dan juga kaca mata hitamnya Hana ingin meraih tangan Kevin tapi ia tali sepatunya malah tak sengaja diinjak oleh kaki sebelahnya.


Sehingga Hana tak bisa menjaga keseimbangan ia akhirnya terjatuh sampai kepalanya mengenai lantai begitu keras sampai terdengar oleh Kevin yang tak jauh darinya.


Dukkkkkk


"Aduh! Kenapa pakai acara jatuh sih! sakit banget badan aku, pusing banget kepalaku." ucap Hana ia memegang kepalanya dan juga sikutnya yang memerah karena terkena benturan juga.


Kevin menoleh mendapati Hana sudah terjatuh ke lantai ia segera berlari menghampirinya dan segera menolongnya.


"BABY. Kamu ceroboh banget, sudah aku bilang jangan berlari lari, makanya kalau jalan pakai mata bukan cuma kaki saja." omel Kevin ia membantu tapi Hana menolaknya.


"Aku bisa sendiri. Sudah sana pergi, orang jatuh bukannya bantuin, malah marah marah." ucap Hana kesal.


"Turunin nggak. My Prince?" ucap Hana memukul pelan dada Kevin.


"Diam. Atau aku jatuhkan kamu." ancam Kevin menatap Hana tajam.


Kevin membaringkan Hana di sofa ia mengambil bantal untuk menyangga tengkuk dan punggung Hana.


Kevin berlari ke dapur mengambil handuk dan es batu untuk mengompres memar Hana.


Hana mengambil ponselnya ia terkejut melihat dahinya benjol dan merah ia berteriak sangat keras sehingga penjaga yang para penjaga diluar datang menghampiri Hana.


"Nona Hana. Apa yang terjadi, kami mendengar teriakan." tanya kepala penjaga dan juga empat anak buahnya.


"Bukan apa apa? Kalian kembali bekerja saja. I'm Fine, maaf mengganggu." ucap Hana dengan senyum dipaksakan.


"Tidak apa apa Nona. Kalau begitu kami permisi pergi dulu." ucap kepala penjaga tersebut membungkukkan badannya dan dijawab anggukan oleh Hana.


"Dahiku. Hari ini kan ada meeting, bisa ditertawakan sama klien nanti." gerutu Hana sebal.


Kevin berjalan kearah Hana ia membawa mangkuk berisi es batu yang sudah dibalut handuk kecil.


"Baringkan badanmu." titah Kevin pada Hana.


"Nggak mau. Aku pergi saja." ucap Hana menyelonong pergi.


"BABY. Cepat kembali ke sini." titah Kevin.


Hana malah pergi begitu saja tanpa mendengar apa yang di ucapkan oleh Kevin.


Kevin membopong Hana layaknya karung beras ia letakkan di bahu memegangnya dengan satu tangannya.


Hana berontak minta diturunkan ia menghentakaan kedua kaki dan tangannya memukul punggung Kevin.


Kevin membawa Hana ke kamar mereka ia kemudian melemparkan tubuh Hana ke kasur.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Hana dengan kesal.


"Diam disini. Jangan kemana mana." bentak Kevin mengarahkan tunjuk ke depan wajah Hana.


Tak butuh waktu lama Kevin kembali lagi membawa mangkuk berisi es batu ia letakkan di nakas ia mulai mengompres dahi Hana dengan hati hati.


"My Prince. Apa kamu masih marah sama aku. Maaf." ucap Hana ia menatap Kevin lekat.


"Tidak aku hanya kesal. Kamu ini bukan remaja lagi, kendalikan rasa amarah, rubah sikapmu agar lebih dewasa." ucap Kevin ia tersenyum menatap Hana kemudian mencium bibir Hana sekilas.


"Baiklah. Aku akan mencobanya, hmm! kamu mau menerima permintaan maaf dariku." ucap Hana.


"Ada syaratnya." ucap Kevin sedangkan Hana menyerngitkan dahinya seakan bertanya.


"Kamu biarkan benih cinta kita tumbuh didalam rahimmu." ucap Kevin membuat Hana tercengang.


Hana hanya terdiam ia sendiri memang sebenarnya belum siap





BERSAMBUNG ♡♡♡