
"Hei. BABY, dimana senyumanmu." pinta Kevin terus saja cemberut diperjalanan mengantarkan ke bandara. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Hana tersenyum kaku. "Hemm! kita sudah sampai. Ayo keluar, aku antar kamu kedalam." ajaknya membuka pintu mobilnya terlebih dahulu kemudian memakai kaca mata hitamnya.
"Honey. How are you?" tanya seseorang dari belakang Hana yang mendengarnya reflek langsung menoleh ke sumber suara.
Senyum merekah di bibirnya. "Kak Tae Yeong?" panggil Hana berlari kearahnya.
"BABY? hati hati. Sudah aku bilang tunggu didalam kenapa dia keluar, bikin mood ancur saja." gerutu Kevin kesal melihatnya.
Gino ikut keluar membawakan koper berjalan beriringan di samping bossnya. "Tuan. Bantuin kenapa? berat nih!" ucapnya berjalan kedua tangannya membawa koper didalamnya bukan hanya ada sedikit baju. Tapi juga oleh oleh untuk diberikan ke tetangganya nanti karena ia sudah janji.
"Apa? itu kan ada rodanya. Tinggal diseret apa susahnya." ujar Kevin.
"Lagian apa isi didalamnya. Atau jangan jangan ini bom, seram sekali Tuan." ucap Gino mendapat tatapan tajam dari Kevin.
Lee Tae Yeong melepas kangen dengan memeluk Hana yang membuat Kevin dibakar api cemburu didalam hatinya.
"Tuan. Dia siapa? kenapa main asal peluk isttimu, apa anda tidak cemburu." tanya Gino menyenggol bahu Kevin.
Kevin sengaja berdiri di samping Lee Tae Yeong dan Hana dekat dengan maksud agar pelukan mereka dilepaskan.
"Bagaimana? enak tidak. Rasanya memeluk istri orang." tanya Kevin melirik keduanya.
"Enak sekali. Apalagi dia wanita tercantik di dunia ini." jawab Lee Tae Yeong santai.
Hana menahan tubuh Kevin mengusap dadanya agar tidak marah terhadapnya. "My Prince?"
Setelah cukup lama berpamitan Kevin dan juga Lee Tae Yeong berangkat menggunakan pesawat pribadi.
Hana memutuskan untuk tinggal dirumah suaminya dari pada rumah mewah miliknya yang jauh lebih besar.
"Mama. Papa? sejak kapan kalian ada disini." gumam Hana pada mertua nya menghambur memeluknya.
"Bagaimana kabar mu Nak. Kandungan kamu sehat." tanya Fadly ketika Hana melepas pelukannya.
Hana tersenyum mempersilahkan mereka duduk."Baik mah. Pah? kan, kandunganku juga sehat." jawab Hana mengusap perutnya.
Sinta mengamati penampilan menantunya yang terbilang nyentrik seperti bukan wanita hamil memakai baju dan celana jeans ketat.
"Emm...! Mama sama Papa mau makan atau minum apa?" tanya Hana melihat mereka bergantian.
"Tteteokbokki. Sepertinya." ujar Fadly berhenti karena lengannya di senggol oleh istrinya.
Sinta menatap suaminya tajam matanya memberi kode agar tidak merepotkan menantunya.
"Mama sendiri lagi pengen makan apa? biar sekalian Hana buatkan." tanya Hana menempatkan minuman didepan mertuanya.
"Apa saja sayang. Yang penting enak." jawab Sinta diangguki menantunya.
Drettt Drettt Drettt....
Benda pipih hitam bergetar diatas sofa Sinta penasaran ia langsung mengecek ponsel milik menantunya.
Awalnya Suaminya melarang tapi ia penasaran karena sudah beberapa kali panggilan tidak ada jawaban dari sang pemiliknya.
"Handphone aku mana yah!" gumam Hana di dapur merogoh di celana jeans nya ia baru mengingat kalau ketinggalan di sofa dan lupa mengunci layarnya.
Langkahnya berhenti disaat Sinta terkejut melihat sebuah foto tentang dirinya berkelahi dengan para mafia.
Tak butuh waktu lama makanan sudah tersaji di meja makan.
"Mah. Pah? makanan sudah siap." seru Hana menuangkan minuman ke dalam gelas.
Sinta terperangah melihatnya disana ada banyak sajian makanan diatas meja begitu menggugah selera. "Wow. Cepat sekali, seperti sulap." pujinya mencicipi kimchi rasanya sungguh nikmat dipisah nya.
"Pantas saja Kevin betah dirumah. Ternyata ini rahasianya." ujar Fadly membuat sang menantu merasa malu.
Pasalnya setiap Hana ingin memasak untuk suaminya selalu di larang dengan alasan kecapean, berat badan bisa turun, terjadi apa apa sama bayi dikandungnya dan lain sebagainya.
"My Prince. Baru juga ditinggal sebentar, rasanya kangen sekali, semoga urusan disana cepat selesai, setelah itu kita berdua bisa berkumpul kembali." ucap Hana dalam hatinya galau.
"Sayang. Ada apa? kok melamun, kamu pasti kangen sama suamimu, tenang saja dia akan baik baik disana." ujar Sinta mengusap bahu menantunya.
Mama mertuanya memang selalu mengerti tentang dirinya. Bahkan apa yang ia pikirkan bisa tau, tanpa harus bercerita terlebih dahulu padanya.
PERUSAHAAN PRATAMA
"Hey! tunggu apalagi ayo!" ajak nya kepada temannya berdiam diri di dalam mobil.
"Kemana? dan buat apa aku menyamar perusahaan sendiri." menatap lelaki sampingnya tajam.
"Kamu mau rencana kita berhasil. Hah! cepat keluar." ujarnya kesal.
Mobil yang di tumpangi nya digoyang goyangkan agar ajakannya berhasil.
"Iya. Aku keluar, dasar keong." umpatnya.
"Keong? apa itu. Siapa dia?" tanya Tae Yeong bingung.
Kevin mencari sebuah gambar di internet, setelah ketemu ia berikan padanya.
"That is you." jawab Kevin memperlihatkan.
Seketika Lee Tae Yeong merasa geli, baru pertama kali ia melihatnya. "Disgusting. Jauhkan dariku, kau samakan aku dengan hewan menggelikan itu." pekiknya tubuhnya merinding membayangkan nya.
"Kenapa? kau takut. Hmm...! tenang saja nanti akan kucarikan untukmu, okay!" ucap Kevin menahan tawanya.
"Berhenti membahas itu. Menyebalkan sekali, sekarang yang paling penting kita jalankan rencana." tegas Lee.
"Siap boss?" ucap Kevin berdiri tegak memberi hormat.
Terdengar dari kejauhan ada suara rusuh dari arah dalam. Kerumunan orang orang mengelilingi seorang wanita hamil muda menangis di hadapan lelaki bahkan bersimpuh di kakinya meminta pertanggung jawaban darinya.
"Tuan. Apa benar anda telah menghamili nya?" tanya salah satu pegawai pria kini mendapat tatapan tajam dari atasannya.
"Kau menuduhku. Saya tidak pernah mengenal atau bahkan bersetubuh dengannya, siapa kau beraninya menuduhku melakukan hal sekeji itu, sudah bosan kerja disini." gertak nya terhadap bawahannya mencengkeram kerah bajunya.
Brukkk....
"Maaf Tuan. T-tolong jangan pecat saya, bagaimana nasib keluargaku nanti." pegawai itu terdorong tubuhnya hingga terjatuh begitu kerasnya.
"Kau pikir saya peduli. Hmm...!" ujarnya terhadap pegawai itu ia pergi begitu saja kemudian memberi kode ke bodyguard untuk mengusir mereka.
BERSAMBUNG