
"Honey. Darimana saja kamu, Pergi tanpa pamit." tanya Lee Tae Yeong mengekor di belakang Hana.
"Kamu ini bisa tidak berhenti membuntutiku." jawab Hana kesal.
"Tidak. Sebelum kamu jelaskan." ucap Lee Tae Yeong.
"Oke. Kita duduk dulu, capek aku." ucap Hana mengambil air minum di kulkas dan memakan apel merah lalu duduk dipinggir Lee Tae Yeong.
"Sekarang jelaskan." ucap Lee Tae Yeong.
Kemudian Hana menjelaskan dari awal bertemu dengan Kevin sampai sekarang tapi Hana tidak bilang kalau mau menikah dengan Kevin.
"Jadi begitu ceritanya." ucap Lee Tae Yeong manggut manggut.
"Ya. Kurang lebih seperti itu." ucap Hana asyik memakan apel.
"Kamu tinggal berdua saja sama dia. Apa tidak takut terjadi apa apa antara kalian berdua?" tanya Lee Tae Yeong.
"Terjadi apa. Kami berteman jadi saling menjaga satu sama lain." jawab Hana santai.
"Maksudnya. Kamu apa kamu tidak suka padanya?" tanya Lee Tae Yeong lagi.
"Suka. Hmm, Mungkin?" jawab Hana.
"Tuh kan. Berarti kamu mencintai dia." ucap Lee Tae Yeong.
"Sok tau. Tidak juga." ucap Hana.
"Aku tidak yakin." ucap Lee Tae Yeong menatap Hana curiga.
"Apa sih kamu. Aku sama dia cuma teman, nggak lebih." ucap Hana menyembunyikan wajahnya tak mau Lee Tae Yeong melihatnya karena pipinya sudah merah seperti tomat.
"Ohh iya. Aku baru ingat kamu itukan tipe orang yang susah untuk jatuh cinta, jadi tidak mungkin secepat itu kamu mencintainya." ucap Lee Tae Yeong.
"Itu kamu tau." ucap Hana.
"Kamu mau kemana?" tanya Lee Tae Yeong.
"Mandi." jawab Hana sudah berlari ke tangga.
"Bener kamu sama dia hanya berteman..Atau kalian teman tapi mesra." teriak Lee Tae Yeong.
"Kamu berani bicara lagi. Aku akan pukul kamu dari sini." jawab Hana yang sudah diatas didepan kamarnya.
"Coba aja. Kalau berani sini." ucap Lee Tae Yeong tiba tiba sebuah sandal melayang ke wajahnya.
"Honey?" teriak Lee Tae Yeong kesal.
"Wajahku yang tampan ini. Telah ternoda sandal ini." seru Lee Tae Yeong kesal.
SedangkanHana yang sudah ada di dalam kamarnya tertawa puas karena sudah mengerjai sahabatnya.
"Rasain tuh! Makan tu sandal. Haa...Haa...Haa." ucap Hana kemudian tertawa senang.
Setelah satu jam kemudian Hana turun menggunakan gaun rajut ketat berwarna cream tanpa lengan dengan membawa jaket kulit hitam diatas perut saja.
Dan rambutnya dikucir bagian pinggirnya saja di belakangnya dibiarkan terurai.
Lee Tae Yeong yang melihat Hana berpakaian seperti itu merasa heran karena jarang kalau Hana mau memakai pakaian ketat kalau bukan ada urusan penting.
"Honey. Mau kemana kamu rapi sekali." tanya Lee Tae Yeong.
"Ada urusan sebentar." jawab Hana.
"Urusan apa?" tanya Lee Tae Yeong.
"Kerjaan biasa. Ada klien yang mau bertemu denganku siang ini." jawab Hana.
"Dengan pakaian seperti ini. Kamu terlihat lebih cantik dari biasanya." ucap Lee Tae Yeong memuji.
"Berarti sebelumnya aku tidak cantik gitu." ucap Hana cemberut.
"Tidak. Bukan begitu." ucap Lee Tae Yeong.
"Aku hanya bercanda. Santai kali." ucap Hana.
"Mau ku antar kamu." tawar Lee Tae Yeong.
"Aku ada hadiah buatmu." ucap Lee Tae Yeong.
"Hadiah apa?" tanya Hana penasaran.
"Itu ada dihalaman." ucap Lee Tae Yeong menunjukkan.
"Wah! Ini keren sekali. Benar buat aku." ucap Hana mengusap mobil sport berwarna merah kesukaan Hana.
"Iyalah buat kamu. Apa saja akan kuberikan untukmu asal kau bahagia." ucap Lee Tae Yeong.
Hana memeluk Lee Tae Yeong senang.
"Thanks." ucap Hana menyodorkan tangannya ke Lee Tae Yeong.
"Sama Sama. Honey?" ucap Lee Tae Yeong membalas pelukannya.
"Kuncinya mana?" tanya Hana.
"Ini. Kamu nyetirnya hati hati, jangan ceroboh." ucap Lee Tae Yeong memberikan kuncinya ke Hana.
"Siap boss." ucap Hana memasuki mobil barunya.
"Aku pergi dulu. Nanti aku balik kesini lagi. Bye?" ucap Hana melambaikan tangannya karena sudah menancap gas nya keluar rumah Lee Tae Yeong.
"Gadis itu. Dari dulu memang tidak berubah, masih cantik dan imut." ucap Lee Tae Yeong berjalan masuk ke dalam mobilnya kembali lagi ke kantor dengan asistennya yang menunggu di dalam mobilnya.
Sesampainya di tempat tujuan Hana memarkirkan mobil barunya di halaman Cafe yang luas.
Para lelaki berdecak kagum. Dengan Hana yang cantik, imut ditambah lagi mobil barunya menambah kesan buat lelaki melihatnya ingin memiliki nya tidak lupa ia memakai kacamata hitam riasan yang glamour.
"Selamat siang Nona Muda?" ucap pelayan lelaki tersenyum.
"Siang. Bagaimana? Apa ada masalah diCafe? Sepertinya Cafe ini sangat ramai." ucap Hana melihat sekelilingnya karena banyak orang yang melihatnya.
"Seperti biasa Nona. Cafe selalu ramai pengunjung." ucap pelayan itu.
"Kalau begitu aku mau meeting di Ruftop. Apa sudah kamu kosong kan?" tanya Hana membuka kacamata nya.
"Sesuai perintah Nona. Tadi ada orang yang memaksa mau menyewa tempat ini, tapi ingin sekali di Ruftop, jadi saya tidak berani karena Nona mau menempatinya." jawab pelayan itu.
"Siapa dia. Apa kamu mengenalnya?" tanya Hana.
"Tidak Nona. Sepertinya dia anak buahnya, katanya boss nya sendiri yang akan kesini, mungkin sebentar lagi datang." jawab pelayan laki laki bernama Tomi.
"Kenapa kamu tidak menawarkan ruang VIP yang ada dekat Ruftop kan hanya jarak satu lantai saja dan itu juga ada diatas." saran Hana.
"Tetap tidak mau Nona. Dia sangat keras kepala, katanya ada meeting penting dan klien nya minta di Ruftop Cafe ini." jawab Tomi.
"Hmm. Ya sudah kamu atur saja nanti kalo dia datang suruh ke atas saja." ucap Hana.
"Bagaimana dengan Nona?" tanya Tomi.
"Saya tetap meeting di Ruftop. Kamu bagi dua saja." ucap Hana.
"Baik Nona?" ucap Tomi.
Hana menaiki lift menuju ke Ruftop dengan klien nya.
"Bagaimana apa bisa?" tanya Kevin yang masih menyamar seperti biasa karena tempatnya sangat ramai.
"Bisa Tuan.Tapi tempatnya dibagi dua dengan pemilik Cafe ini." ucap Tomi sopan.
Kevin menyetujuinya ke atas diantar oleh Tomi.
"Silahkan Tuan." ucap Tomi.
"Hana. Sedang apa dia disini." gumam Kevin melihat Hana sedang serius dengan dua orang laki laki.
•
•
•
*Bersambung*