
"Aduh kenapa dia terlihat tampan sekali. Aku bahkan telah mencintaimu, walaupun Kevin sampai kapanpun tidak akan pernah mencintaiku." ucap Hana dalam hatinya merasa sedih.
"Cantik. Tapi tingkah nya seperti anak kecil, aku bahkan sebentar lagi akan menikahinya, apa aku tega meninggalkan nya setelah ia benar benar mencintaiku, apa aku sejahat itu." batin Kevin merasa bimbang.
"Tuan. Semuanya sudah siap." ucap bibik yanti kepada Kevin.
Kevin dan Hana kaget dan melepaskan pelukan masing masing.
"Ini rumah bukan lapangan. Kenapa harus lari lari seperti anak kecil saja." ucap Kevin melepaskan pelukannya dari Hana.
"Terima kasih. Lain kali aku akan lebih berhati hati." ucap Hana menatap Kevin canggung.
"Oke. Ayo kita makan, saya sudah sangat lapar " ucap Kevin dingin tanpa menatap Hana yang berdiri di dekatnya.
Hana memilih duduk disebelah Kevin karena ia sebenarnya ingin selalu dekat dengannya.
"Mau aku ambilkan." ucap Hana tersenyum tapi tak di perdulikan Kevin.
"Tidak perlu. Saya bisa sendiri." ucap Kevin tanpa tersenyum sedikitpun menahan tangan Hana yang ingin mengambilkan makanan untuk nya.
"Baiklah." ucap Hana memilih mengambil makanan nya sendiri.
"Hana." panggil Kevin.
"Hmm. Kenapa?" jawab Hana yang sedang mengunyah makanannya.
"Apa kamu ingin bekerja?" ucap Kevin.
"Bekerja. Pasti aku mau, aku pengen punya penghasilan sendiri." ucap Hana antusias.
"Kalau begitu kamu mau. Bekerja diperusahanku." ucap Kevin menawarkan.
"Sebagai apa? tapi jangan jadi OG Ya! Apa kata temanku nanti. Mantan Ratu kampus menjadi tukang bersih bersih." ucap Hana.
"Ratu kampus. Orang seperti kamu bisa mendapat gelar itu, apakah kamu sedang berkhayal." ucap Kevin tak percaya menggeleng geleng kan kepalanya.
"Aku ini cantik dan imut. Tetapi aku dulu memanfaatkan mereka buat kepentinganku sendiri, terpaksa." ucap Hana keceplosan mengangkat bahunya acuh.
"Hebat banget kamu. Cantik cantik jadi tukang palak dasar preman." ucap Kevin menjewer kuping Hana hingga memerah.
"Kevin. Lepas sakit tau." pinta Hana berusaha melepaskannya tapi Kevin tak memperdulikan.
"Makanya jadi orang jangan nakal. Kamu itu perempuan kelakuanmu sangat tidak berakhlak." ucap Kevin melepaskan tangannya.
"Tadi aku bilang apa?. TERPAKSA" ucap Hana mengejanya mengusap telinganya yang merah akibat dijewer Kevin.
"Pasti buat kesenangan kamu sendiri. Atau uang jajan yang diberikan oleh orang tuamu kurang." ucap Kevin menyeringai.
"Hish. No, itu karena mereka tidak pernah memberiku uang saku, jadi mau gak mau, aku harus malakin orang yang mengemis cinta dariku." ucap Hana kesal.
"Berapa mantan pacar kamu?" tanya Kevin memajukan wajahnya ke wajah Hana sehingga ia memundurkan badannya agar sedikit lebih jauh darinya.
"Emm. Berapa ya? Mungkin dua puluh lebih yang aku ingat, kalau yang lain, aku tidak ingat." ucap Hana menghitung dengan jarinya.
"What? Crazy. Benar benar kamu ya suka mempermainkan perasaan laki laki. Apa tidak takut kualat nantinya." ucap Kevin tak percaya.
"Sebenarnya takut. Tapi bagaimana lagi, karena aku butuh uang untuk kehidupanku sehari hari, orang tuaku tidak pernah memberiku uang, hanya memberiku makan itupun kalau ingat." ucap Hana.
"Ayahku bekerja diluar kota. Dia jarang pulang cuma sesekali, bahkan sekedar menyapaku saja tidak mau, mungkin karena ulah ibu tiriku, gak tau nenek sihir itu bilang apa sama ayahku, sehingga dia sangat begitu membenciku." ucap Hana dengan mata berkaca kaca ia tak mau menunjukan kesedihannya didepan orang lain termasuk Kevin.
"Ibu kandungmu dimana?" tanya Kevin membuat Hana menatapnya sedih.
"Beliau sudah tidak ada. Meninggalkan untuk selamanya." jawab Hana tak terasa air matanya menetes begitu saja tanpa ia sadari.
"Apa ucapanku membuatmu bersedih. Maaf aku tidak bermaksud." ucap Kevin lalu mengusap air mata di pipi Hana dengan lembut.
"Tak apa apa." ucap Hana mengusap sisa air matanya dan tersenyum getir.
"Sebenarnya kita senasib. Bedanya kamu merasakan kasih sayang dari orang tuamu, walaupun hanya sebentar, sedangkan aku." batin Kevin.
"Kita ke taman yuk!" ajak Kevin menarik tangan Hana.
"Mau apa?" tanya Hana bingung.
"Sudah ikut saja. Jangan banyak tanya, nanti kamu tau sendiri." ucap Kevin merangkul bahu Hana dan mendorong nya kedepan.
Sesampainya disana Hana merasa aneh selama tinggal dirumah Kevin tak pernah menginjakkan kakinya di taman.
"Sejak kapan disini ada taman." ucap Hana melihat sekelilingnya ada banyak bunga bermekaran walaupun di malam hari.
Terletak diujung sana ada kolam berisi Bunga Teratai berwarna merah mageta pekat mengapung tinggi diatas air kolam dan sangat banyak.
"Wow Bunga Lily Air. Ternyata aku bisa melihat nya langsung, selama ini cuma lihat digambar saja." ucap Hana berlari mendekati kolam berisi Bunga Teratai yang sedang mekar.
"Hey! sudah ku bilang jangan lari lari." ucap Kevin mengikuti Hana dari belakang.
"Ikan Koi. Kamu memeliharanya juga, ini sangat cantik dan pastinya sangat mahal." ucap Hana kagum.
"Kau menyukainya." ucap Kevin mendekati Hana.
Diatas kolam terdapat jembatan kecil yang bisa dilewati orang yang sengaja Kevin buat untuk mempercantik taman nya dan diatasnya ada lampu kerlap kerlip menghiasi jembatan itu.
Dan di taman sebelah kanan terdapat bunga mawar berbagai jenis warnanya ditata rapi bahkan ada Bunga Mawar Juliet yang sangat mahal harganya membuat Hana semakin terpukau dibuatnya berjalan melewati jembatan.
"Bunga Mawar Juliet. Ini pasti sangat mahal." ucap Hana menghirupnya tapi tak berani memegangnya karena banyak durinya.
"Aku pikir perempuan sepertimu tidak menyukai bunga." ucap Kevin berdiri disamping Hana yang telah asyik sendiri.
"Siapa bilang. Aku sangat menyukainya, apalagi bunga mawar merah." ucap Hana bergantian berjalan mendekatinya.
"Kenapa mawar merah?" tanya Kevin mengerutkan kening nya ia pikir akan memilih bunga yang paling mahal.
"Aku tidak tau. Mungkin karena dulu sering dikasih bunga oleh seseorang diwaktu kecil, tapi aku sendiri sudah lupa dan tak mengingat nya." ucap Hana mengingat hanya ada bayangan saja tidak terlihat wajah nya karena ingatan dimasa kecilnya hilang akibat kecelakaan yang menyebabkan ia koma.
•
•
•
Bersambung***