
Kalung berbentuk bulan sabit bewarna oren semu kuning di tengahnya ada bintang bewarna biru terang, jika kalung itu terkena sinar akan berkilau apalagi ditempat gelap akan terlihat bercahaya.
"Wah! Indah sekali. Cantik." ucap Hana tersenyum memegang kalung yang sudah ada di lehernya.
"Kamu nggak mau bilang terima kasih gitu." ucap Kevin.
"Terima kasih My Prince. Ini hadiah paling terindah yang pernah aku rasakan." ucap Hana membalikkan badanya lalu memeluk Kevin.
"Sama sama. Tapi kamu masih punya satu hukuman." ucap Kevin.
"Apalagi. Ini sudah kan." ujar Hana melepaskan pelukannya.
"Sesuai janji kamu harus tepati. Apapun yang aku suruh kamu harus melakukannya." ucap Kevin.
"Ya sudah apa. Aku akan melakukannya, asalkan jangan diluar batas." ucap Hana.
"Hmm. Apa yah! Cium aku sekarang, eitsss, nggak boleh nolak, nanti ada hukuman lain lagi." ucap Kevin.
"Memang tidak ada yang lain." ucap Hana.
"Tidak. Cepat lakukan." ucap Kevin mendekatkan wajahnya ke Hana.
"Oke. Tapi kamu pejamkan mata." pinta Hana.
Kevin menarik kedua tangan Hana melingkarkan ke lehernya kemudian memejamkan kedua matanya sedangkan ia sendiri melingkarkan tangannya ke pinggang Hana mesra.
"Apa harus seperti ini?" tanya Hana.
"Lakukan sekarang. Atau aku akan mencium ******* habis bibirmu." jawab Kevin.
Hana langsung menutup mulutnya dan menggeleng geleng kan kepalanya.
"Aku hitung sampai tiga. Satu, Dua." ucap Kevin Hana mengecup bibir Kevin dan kedua pipinya membuat Kevin membuka matanya karena tak menyangka kalau Hana mau melakukan nya.
"Wow. Kecupan yang sangat manis, tapi aku menyuruhmu cuma mencium pipiku saja, eeeh! nggak taunya lebih dari satu kecupan, kamu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan."ucapan Kevin menggoda Hana.
Sedangkan Hana diam saja menyembunyikan wajahnya yang merah seperti tomat dengan menolehkan ke arah lain.
"Kenapa diam saja. Kamu suka yah! Sama aku. Bilang aja tidak apa apa? aku berjanji akan terima kamu apa adanya." tanya Kevin mendekatkan wajahnya.
Sedangkan Hana memundurkan kepalanya ia hanya mengandalkan pegangan tangannya yang melingkar di leher Kevin.
"Ya. Aku tidak mungkin menyukaimu, anggap saja itu ucapan terimakasih dariku, apa belum cukup." ucap Hana gugup mempererat peganganya takut kalau ia terjatuh.
"Belum. Masih ada yang kurang, akui saja perasaanmu terhadapku, tenang saja seperti yang tadi ku bilang." ucap Kevin sedangkan Hana pegangan tangannya seperti akan terlepas dari Kevin.
"My Prince. Pinggang aku sakit, kalau posisi kita seperti ini terus." ucap Hana ia tak tahan lagi kemudian peganganya terlepas segera Kevin menangkap tubuh Hana.
Hana memejamkan mata sedangkan Kevin mengecup bibir Hana.
"Itu bonus ucapan ulang tahun kamu. Dan ingat hanya kamu orang yang beruntung bisa mendapat kecupan dariku, apa kamu mau lebih." ucap Kevin membuat Hana membulatkan matanya.
"Lepasin aku nggak. Aaaaa?" ucap Hana berontak mendorong tubuh Kevin sehingga mereka terpeleset karena tempatnya juga tidak rata mereka terjatuh berguling ke bawah dengan posisi berpelukan.
Untung saja tempatnya hanya rumput hijau tidak ada pohon atau batu hanya karena tidak rata dan terlalu licin akhirnya mereka terjatuh.
Mereka saling menatap satu sama lain Hana berada di bawah sedangkan Kevin ada diatas dengan posisi berpelukan cukup lamanya sehingga Hana tersadar karena ada rasa nyeri di punggungnya.
"Aduh! Pinggang aku sakit. Rasanya ingin terlepas." ucap Hana mengaduh kesakitan Kevin menyadari itu langsung bangun membantu Hana duduk.
"Aaah! aku tidak bisa bangun. Ini sakit banget, gara gara kamu pinggang aku jadi keseleo." ucap Hana malah menarik tangan Kevin sehingga bibir mereka tidak sengaja bersentuhan lagi.
"Bisa bisanya kamu cari kesempatan dalam kesempitan. Bukannya ditolong malah modus." ucap Hana.
"Siapa yang modus. Kamu sendiri yang menarik tanganku, jadi kotor kan badanku dan ini sobek sampai lecet juga tanganku." ucap Kevin memperlihatkan lengan bajunya.
"What? Kamu tidak memikirkan aku gitu. Bantuin atau apa? Heran deh! jadi cowo tidak peka banget, Aaah!" ucap Hana mengaduh kesakitan hingga mengeluarkan air matanya.
"Tadi aku bantu. Kamu bilang modus, mau kamu apa?" tanya Kevin.
Hana seperti kehabisan tenaga hanya bisa memejamkan kedua matanya.
Kevin melihatnya segera mengangkat tubuh Hana dalam dekapannya membawanya pulang ke Villa.
Sesampainya disana sudah ada Alfian dan juga dokter Kwak Hyun menghampiri Kevin yang terlihat lemas karena jalan menuju ke Villa cukup jauh ia kelelahan.
"Kevin. Hana kenapa lagi, kamu juga kenapa berantakan sekali." tanya Alfian menghampiri nya.
"Bawel. Cepat tolong bawa Hana ke kamar." titah Kevin dengan segera Alfian mengambil alih tubuh Hana yang lemas begitupun Kevin.
Tidak lama kemudian Kevin tak sadarkan diri hingga jatuh tapi ditahan oleh Kwak Hyun.
"Mereka ini kenapa?" tanya Kwak Hyun.
"Sudah. Kita bawa saja mereka ke kamarnya." ucap Alfian.
"Kevin mau menolongku sampai seperti itu. Sikapmu terlalu kasar padaku, sekarang aku sudah menjadi istrinya, sudah seharusnya nurut sama suami, nanti aku dianggap istri yang durhaka bagaimana?" ucap Hana dalam hatinya.
"Aduh kak Al? Pelan pelan. Sakit tau." ucap Hana.
"Iya Hana. Ini juga sudah sangat pelan, aku kira kamu pingsan seperti Kevin." ucap Alfian.
"Pingsan. Terus Kevin ada dimana?" tanya Hana karena ia tadi memejamkan mata jadi ia tidak terlalu fokus.
"Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Kevin dibawa Kwak Hyun kesini, lama banget sih dia?" ujar Alfian keluar kamar.
"Gitu aja lama. Laki laki atau bukan kamu." ucap Alfian mengambil alih lalu memapahnya.
"Berat tau. Kamu pikir berjalan dari bawah sampai keatas gampang apa?" gerutu Kwak Hyun dibelakangnya Alfian.
"Kenapa diam saja. Cepat periksa mereka." ucap Alfian.
"Sebenar aku ambil peralatan dulu." ucap Kwak Hyun berlari keluar kamar.
"Nggak pakai lama." teriak Alfian.
Lima menit kemudian Kwak Hyun datang membawa peralatan dengan nafas yang terengah engah karena berlari.
"Lama banget. Kamu tidak lihat Hana, sudah kesakitan seperti itu." ucap Alfian.
"Iya. Aku tau." ucap Kwak Hyun menghampiri Hana terlebih dahulu.
•
•
•
*Bersambung*