
Di Taman Rumah Sakit
"Apa ayah saya sudah mendapatkan donor darah, lalu keadaannya bagaimana? Apa Ayah masih kritis." tanya Hana yang baru saja duduk.
"Satu satu Hana. Begini, Ayah kamu sekarang keadaannya sudah membaik, tadi sudah ada yang mau mendonorkan darahnya dengan sukarela." jawab Carlos.
"Syukurlah kalau begitu. Aku lega dengarnya." ucap.
"Setau aku. Ibu kamu juga sama golongan darah nya, kenapa dia nggak mau mendonorkan darahnya, alasannya sedang sakit." ucap Carlos.
"Ohh Itu. Dia bukan ibu kandungku." ucap Hana malas.
"Pantas saja. Ibu tiri, bagaimana bisa kamu punya ibu tiri macam dia." tanya Carlos.
"Namanya juga perebut lelaki orang. Sampai sampai dia menyingkirkan ibu kandungku sendiri." jawab Hana.
"Maksud kamu Hana. Apa dia sejahat itu, ceritanya bagaimana?" tanya Carlos.
"Intinya. Waktu itu Hana masih kecil kak, nggak tau apa apa, dia mengancam kalau dia akan menyakiti Ayahku, Ibu tiriku mendorong bunda dari atas lantai sampai meninggal, kebetulan aku ada disana tepatnya didepan mataku sendiri." jawab Hana meneteskan air mata.
"Lalu apa ada bukti." ucap Carlos.
"Sayangnya tidak ada." ucap Hana menggelengkan kepalanya.
"Pasti ibu tiri kamu menghilangkan semua bukti agar terbebas dari hukuman." ucap Carlos.
"Ya. Kurang lebih seperti itu." ucap Hana sedih.
"Sabar ya Hana." ucap Carlos menepuk pundak Hana pelan.
"Terima Kasih kak?" ucap Hana tersenyum padahal ia masih merasakan sedih dihatinya.
*
*
*
Sedangkan Kevin ia sengaja untuk menyusul Hana ke taman tapi tak menghampirinya tak sengaja mendengar pembicaraan Hana dan juga Carlos.
Kevin memilih ke Ruftop rumah sakit ia merenungkan pembicaraan yang baru saja ia dengar.
"Jadi mami yang menyebabkan ibu Hana meninggal, kenapa Hana tidak pernah bercerita padaku, apa dia nggak percaya denganku, kalau Hana tau aku anak dari pembunuh ibunya apa dia akan menerimaku." ucap Kevin menangis sampai tersedu sedu.
"Apa Hana sudah tau semuanya." ucap Kevin duduk menatap bulan purnama yang bersinar terang di langit dihiasi bintang bintang.
***
"My Prince. Apa kamu sudah selesai ganti baju." tanya Kevin ia mencarinya sampai ke kamar mandi tidak ada.
"Kok tidak ada ya." ucap Hana kemudian melangkah kan kakinya ke balkon tapi tak ada juga.
"Aduh! Dia ada dimana coba." ucap Hana khawatir.
"Aku telfon aja kali ya! Ohh iya Handphone Kevin ada di aku." ucap Hana.
Hana ingin menghubungi Alfian atau Kwak Hyun tapi ia tak jadi karena tiba tiba handphone Kevin bergetar ada panggilan masuk dari Alfian.
"Kak Al?" ucap Hana menyerngitkan dahinya lalu mengangkatnya.
~>> [[ Hallo? Bagaimana keadaan boss? besok mau aku bawakan makanan apa? Ooh iya Boss besok ada berkas yang harus ditandatangani juga.]] ucap Alfian.
~>> [[ Hallo kak? Ini Hana.]] jawab Hana.
~>> [[ Hana. Maaf saya kira Kevin, Dia ada dimana?]] tanya Alfian lagi.
~>> [[ Kevin sedang tidur kak. Nanti kalau dia bangun Hana sampaikan.]] jawab Hana berbohong.
~>> [[ Iya Hana. Kamu sendiri belum tidur.]] ucap Alfian.
~>> [[ Belum kak. Sebentar lagi, ini juga belum malam masih jam 7 malam.]] ucap Hana tak sengaja melihat kearah langit ia juga ingin melihat bulan lebih leluasa.
~>> [[ Kak Al?, Maaf Hana tutup telponnya ya, mau ke toilet soalnya.]] ucap Hana.
~>> [[ iya nggak apa apa? Good night Hana.]] ucap Alfian sebelum menutup teleponnya.
Hana buru buru mengambil selimut untuk digunakannya di Ruftop.
"Kevin. Semoga dia ada disana juga." ucap Hana celingukan memastikan tidak ada orang disekitarnya.
Sampai disana ia langsung menemukan Kevin yang sedang duduk memangku tangannya dan menundukkan kepalanya kebawah.
Kevin tiba tiba ada yang menyelimuti tubuhnya dari belakang sampai terbangun dari tidurnya.
"BABY. Sejak kapan kamu ada di sini." tanya Kevin mendonggakan kepala ke Hana.
"Hmm. Baru lima menit yang lalu." jawab Hana tersenyum manis.
"Ini selimut kamu bawa." ucap Kevin.
"Iya?" ucap Hana.
"Sini. Kenapa berdiri terus, nanti pinggang kamu lepas." ajak Kevin membuat Hana tersenyum.
"Ada ada saja kamu ini." ucap Hana ia duduk disebelah Kevin menyenderkan kepala Hana kebahunya dan menarik selimutnya jadi satu selimut untuk berdua.
*
*
*
Dirumah Sakit Ayah Hana Dirawat
Lee Yoo Joon adalah Ayah Hana berasal dari negara Korea dan Eropa ia sudah lama tak bertemu dengan ibunya sekaligus nenek Hana.
Sosok yang tampan dan keren walaupun diusia yang menginjak empat puluh lima tahun ia menikah dengan ibu kandung Hana pada usia masih usia muda mereka mempunyai anak empat tahun kemudian.
Satu tahun sebelumnya Ayah Hana selingkuh dengan ibu kandung Kevin setelah enam tahun ibu Hana meninggal jatuh dari tangga, polisi mengira kalau ibu Hana jatuh karena penyakit.
"Sayang. Kamu sudah sadar." ucap seseorang disampingnya adalah istrinya dan juga anaknya.
"Apa Hana ada disini?" tanya Lee Yoo Joon pada istrinya.
"Anak nakal itu. Sudah pergi dari rumah, nggak pernah pulang juga, kenapa kamu masih peduli dengannya, dia juga nggak pernah peduli denganmu, budah beberapa bulan anak nakal itu tidak pulang, dasar anak tidak tau diri." ucap Mi Kyong Seok.
"Sudahlah. Dia juga anak kandungku, alaupun dia bukan anak penurut." ucap Lee Yoo Joon.
"Kamu ini. Apa tidak sayang lagi sama aku dan anak kita." tanya Mi Kyong Seok pura pura cemberut.
"Mami. Biarkan Ayah istirahat dulu, jangan terlalu menekannya." ucap Sun Hee Jieun adik tiri Hana.
"Jieun. Mami keluar dulu mau beli makanan buat kita." ucap Mi Kyong Seok kemudian pergi.
"Ayah boleh minta tolong sama kamu." ucap Lee Yoo Joon pada anaknya.
*
*
*
Di Ruftop rumah sakit di mana Hana dan Kevin dirawat
"My Prince. Aku cari kamu ternyata ada disini." ucap Hana bergelanyut mesra di lengan Kevin.
"Kamu benar. Melihat bulan bisa menghilangkan kesedihan walaupun hanya sementara." ucap Kevin.
"Hmm. Setiap kesedihan pasti ada kebahagiaan suatu hari nanti." ucap Hana tersenyum melihat kearah langit.
*
*
*
BERSAMBUNG